Santi Parwa Bab 332
Bab ini melanjutkan dialog antara Nara-Nārāyaṇa dan Nārada setelah Nārada memperoleh anugerah melihat Bhagavān secara langsung. Melalui penjelasan mereka, dijelaskan kedudukan Nārāyaṇa sebagai sumber seluruh unsur alam, jalan spiritual menuju pembebasan, serta pentingnya tapa, pengendalian diri, dan pengabdian tunggal kepada Vāsudeva. Ajaran ini menegaskan bahwa seluruh alam semesta berasal dari Tuhan dan pada akhirnya kembali kepada-Nya.
Mahabharata 12.332.1-26
naranārāyaṇāv ūcatuḥ, dhanyo 'sy anugṛhīto 'si yat te dṛṣṭaḥ svayaṃ prabhuḥ, na hi taṃ dṛṣṭavān kaś cit padmayonir api svayam—"Kamu sungguh beruntung dan telah memperoleh anugerah, karena Tuhan sendiri telah menampakkan diri kepadamu. Sesungguhnya tidak seorang pun pernah melihat-Nya, bahkan Padmayoni (Brahmā) sendiri pun tidak." (MB 12.332.1)
avyaktayonir bhagavān durdarśaḥ puruṣottamaḥ, nāradaitad dhi te satyaṃ vacanaṃ samudāhṛtam—"Bhagavān, asal-usul yang tak termanifestasikan (avyaktayoni), Puruṣottama, sangat sulit untuk dilihat. Wahai Nārada, apa yang kami katakan kepadamu ini adalah benar." (MB 12.332.2)
nāsya bhaktaiḥ priyataro loke kaś cana vidyate, tataḥ svayaṃ darśitavān svam ātmānaṃ dvijottama—"Tidak ada seorang pun di dunia ini yang lebih dicintai-Nya daripada para bhakta-Nya. Oleh sebab itu, wahai brahmana terbaik, Ia sendiri memperlihatkan hakikat diri-Nya kepadamu." (MB 12.332.3)
tapo hi tapyatas tasya yat sthānaṃ paramātmanaḥ, na tat saṃprāpnute kaś cid ṛte hy āvāṃ dvijottama—"Tempat kediaman Paramātman yang dicapai melalui tapa yang agung itu tidak dapat dicapai oleh siapa pun, kecuali kami berdua, wahai brahmana terbaik." (MB 12.332.4)
yā hi sūryasahasrasya samastasya bhaved dyutiḥ, sthānasya sā bhavet tasya svayaṃ tena virājatā—"Cahaya yang terpancar dari tempat itu setara dengan sinar seribu matahari yang bersinar bersamaan, bahkan bersinar karena kemuliaan-Nya sendiri." (MB 12.332.5)
tasmād uttiṣṭhate vipra devād viśvabhuvaḥ pateḥ, kṣamā kṣamāvatāṃ śreṣṭha yayā bhūmis tu yujyate—"Dari Tuhan, Penguasa dan Pencipta alam semesta itu, muncul sifat keteguhan (kṣamā), wahai brahmana; sifat yang menyebabkan bumi memiliki daya menopang dan kestabilannya." (MB 12.332.6)
tasmāc cottiṣṭhate devāt sarvabhūtahito rasaḥ, āpo yena hi yujyante dravatvaṃ prāpnuvanti ca—"Dari Tuhan itu pula muncul sari kehidupan yang bermanfaat bagi seluruh makhluk, yang menyebabkan air memperoleh sifat cairnya." (MB 12.332.7)
tasmād eva samudbhūtaṃ tejo rūpaguṇātmakam, yena sma yujyate sūryas tato lokān virājate—"Dari-Nya pula lahir tejas (api atau cahaya) yang memiliki sifat bentuk dan warna; karena itulah matahari bersinar dan menerangi dunia." (MB 12.332.8)
tasmād devāt samudbhūtaḥ sparśas tu puruṣottamāt, yena sma yujyate vāyus tato lokān vivāty asau—"Dari Puruṣottama itu pula lahir unsur sentuhan; karena itulah angin memperoleh sifatnya dan bergerak menyapu dunia." (MB 12.332.9)
tasmāc cottiṣṭhate śabdaḥ sarvalokeśvarāt prabhoḥ, ākāśaṃ yujyate yena tatas tiṣṭhaty asaṃvṛtam—"Dari Penguasa seluruh alam itu muncul suara; karena itulah ruang (ākāśa) memperoleh sifatnya dan tetap terbentang tanpa penghalang." (MB 12.332.10)
tasmāc cottiṣṭhate devāt sarvabhūtagataṃ manaḥ, candramā yena saṃyuktaḥ prakāśaguṇadhāraṇaḥ—"Dari Tuhan itu pula muncul pikiran yang berdiam dalam seluruh makhluk; dengannya bulan memperoleh sifat menerangi." (MB 12.332.11)
ṣaḍbhūtotpādakaṃ nāma tat sthānaṃ vedasaṃjñitam, vidyāsahāyo yatrāste bhagavān havyakavyabhuk—"Tempat yang menjadi sumber enam unsur ini dikenal dalam Veda. Di sanalah Bhagavān, penerima persembahan para dewa dan leluhur, bersemayam bersama pengetahuan suci." (MB 12.332.12)
12.332.13 ye hi niṣkalmaṣā loke puṇyapāpavivarjitāḥ, teṣāṃ vai kṣemam adhvānaṃ gacchatāṃ dvijasattama, sarvalokatamohantā ādityo dvāram ucyate—"Mereka yang bebas dari noda, yang telah melampaui pahala maupun dosa, ketika menempuh jalan keselamatan, wahai brahmana utama, matahari yang melenyapkan kegelapan seluruh dunia disebut sebagai gerbang mereka." (MB 12.332.13)
jvālāmālī mahātejā yenedaṃ dhāryate jagat—"Matahari itu berkalungkan nyala api dan bercahaya agung, yang menopang seluruh alam semesta." (MB 12.332.13*)
ādityadagdhasarvāṅgā adṛśyāḥ kena cit kva cit, paramāṇubhūtā bhūtvā tu taṃ devaṃ praviśanty uta—"Setelah seluruh bagian diri mereka dibakar oleh matahari itu, mereka menjadi tak terlihat oleh siapa pun. Menjadi halus bagaikan atom, mereka memasuki Tuhan tersebut." (MB 12.332.14)
tasmād api vinirmuktā aniruddhatanau sthitāḥ, manobhūtās tato bhūyaḥ pradyumnaṃ praviśanty uta—"Setelah terbebas dari keadaan itu, mereka berdiam dalam wujud Aniruddha. Menjadi bersifat pikiran, mereka selanjutnya memasuki Pradyumna." (12.332.15)
pradyumnāc cāpi nirmuktā jīvaṃ saṃkarṣaṇaṃ tathā, viśanti viprapravarāḥ sāṃkhyā bhāgavataiḥ saha—"Setelah melampaui Pradyumna, para brahmana utama bersama para Sāṃkhya dan Bhāgavata memasuki Saṅkarṣaṇa, prinsip Jīva." (MB 12.332.16)
tatas traiguṇyahīnās te paramātmānam añjasā, praviśanti dvijaśreṣṭha kṣetrajñaṃ nirguṇātmakam, sarvāvāsaṃ vāsudevaṃ kṣetrajñaṃ viddhi tattvataḥ—"Kemudian, setelah terbebas dari tiga guṇa, mereka dengan mudah memasuki Paramātman, Sang Kṣetrajña yang nirguṇa. Ketahuilah bahwa Vāsudeva, tempat berdiam segala sesuatu, itulah Kṣetrajña yang sesungguhnya." (MB 12.332.17)
samāhitamanaskāś ca niyatāḥ saṃyatendriyāḥ, ekāntabhāvopagatā vāsudevaṃ viśanti te—"Mereka yang pikirannya terpusat, hidup terkendali, menaklukkan indria-indrianya, dan memiliki pengabdian tunggal, memasuki Vāsudeva." (MB 12.332.18)
āvām api ca dharmasya gṛhe jātau dvijottama, ramyāṃ viśālām āśritya tapa ugraṃ samāsthitau—"Kami berdua juga lahir di rumah Dharma, wahai brahmana terbaik. Dengan menetap di tempat yang indah dan luas, kami menjalani tapa yang sangat berat." (MB 12.332.19)
ye tu tasyaiva devasya prādurbhāvāḥ surapriyāḥ, bhaviṣyanti trilokasthās teṣāṃ svastīty ato dvija—"Adapun manifestasi-manifestasi Tuhan itu yang dicintai para dewa dan kelak akan muncul di ketiga dunia, semoga kesejahteraan menyertai mereka, wahai brahmana." (MB 12.332.20)
vidhinā svena yuktābhyāṃ yathāpūrvaṃ dvijottama, āsthitābhyāṃ sarvakṛcchraṃ vrataṃ samyak tad uttamam—"Dengan mengikuti tata cara yang benar sebagaimana dahulu, kami berdua menjalankan dengan sempurna vrata Sarvakṛcchra yang luhur itu." (MB 12.332.21)
svārthena vidhinā yuktaḥ sarvakṛcchravrate sthitaḥ—"Dengan mengikuti tata cara yang tepat demi tujuan yang benar, seseorang hendaknya tetap teguh dalam vrata Sarvakṛcchra." (MB 12.332.21*)
āvābhyām api dṛṣṭas tvaṃ śvetadvīpe tapodhana, samāgato bhagavatā saṃjalpaṃ kṛtavān yathā—"Engkau sendiri juga telah melihat kami berdua di Śvetadvīpa, wahai pemilik kekayaan tapa, ketika engkau bertemu Bhagavān dan berbincang dengan-Nya." (MB 12.332.22)
sarvaṃ hi nau saṃviditaṃ trailokye sacarācare, yad bhaviṣyati vṛttaṃ vā vartate vā śubhāśubham—"Segala sesuatu yang bergerak maupun tidak bergerak di ketiga dunia, apa yang telah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan terjadi, baik maupun buruk, semuanya diketahui oleh kami." (MB 12.332.23)
sarvaṃ sa te kathitavān devadevo mahāmune—"Dan seluruh hal itu telah dijelaskan kepadamu oleh Devadeva sendiri, wahai Mahāmuni." (MB 12.332.23*)
vaiśaṃpāyana uvāca: etac chrutvā tayor vākyaṃ tapasy ugre 'bhyavartata, nāradaḥ prāñjalir bhūtvā nārāyaṇaparāyaṇaḥ—Vaiśampāyana berkata: "Setelah mendengar perkataan mereka, Nārada yang mengabdikan diri kepada Nārāyaṇa menjalankan tapa yang sangat berat dengan kedua tangannya terkatup hormat." (MB 12.332.24)
jajāpa vidhivan mantrān nārāyaṇagatān bahūn, divyaṃ varṣasahasraṃ hi naranārāyaṇāśrame—"Ia mengucapkan banyak mantra yang ditujukan kepada Nārāyaṇa sesuai tata cara yang benar, dan tinggal selama seribu tahun ilahi di āśrama Nara dan Nārāyaṇa." (MB 12.332.25)
avasat sa mahātejā nārado bhagavān ṛṣiḥ, tam evābhyarcayan devaṃ naranārāyaṇau ca tau—"Sang ṛṣi agung Nārada yang penuh kemuliaan itu tinggal di sana, senantiasa memuja Tuhan yang sama, serta menghormati Nara dan Nārāyaṇa." (MB 12.332.26)
Bab ini menegaskan kedudukan tertinggi Nārāyaṇa sebagai sumber, penopang, dan tujuan akhir seluruh alam semesta. Melalui penjelasan Nara dan Nārāyaṇa kepada Nārada, dijelaskan bahwa bahkan Brahmā yang lahir dari padma tidak dengan mudah dapat menyaksikan hakikat sejati Bhagavān. Penglihatan langsung terhadap Tuhan bukanlah hasil semata-mata dari pengetahuan atau kedudukan, melainkan anugerah yang diberikan kepada bhakta yang dicintai-Nya. Karena itulah Nārada dinyatakan sebagai sosok yang sangat beruntung, sebab Bhagavān sendiri berkenan memperlihatkan diri-Nya kepadanya.
Ajaran berikutnya menguraikan suatu kosmologi yang menempatkan seluruh unsur alam sebagai emanasi dari Tuhan. Dari-Nya muncul bumi beserta sifat keteguhannya, air beserta sifat cairnya, api dengan cahaya dan bentuknya, angin dengan sentuhannya, ruang dengan sifat suaranya, serta pikiran yang berhubungan dengan bulan. Dengan demikian, seluruh unsur penyusun alam semesta dipahami bukan sebagai realitas yang berdiri sendiri, melainkan sebagai manifestasi yang bergantung pada Puruṣottama. Alam semesta memperoleh keberadaan dan fungsinya karena berakar pada realitas ilahi yang melampaui semuanya.
Bab ini juga menjelaskan jalan spiritual menuju pembebasan. Mereka yang telah terbebas dari noda kebajikan maupun dosa, melewati gerbang Āditya dan secara bertahap mencapai tingkat-tingkat eksistensi yang lebih halus. Setelah melampaui berbagai manifestasi kosmis seperti Aniruddha, Pradyumna, dan Saṅkarṣaṇa, para yogi dan bhāgavata yang telah melampaui tiga guṇa akhirnya memasuki Vāsudeva, Kṣetrajña yang nirguṇa dan menjadi tempat berdiam seluruh makhluk. Di sini pembebasan digambarkan bukan sebagai perjalanan menuju suatu tempat tertentu, melainkan sebagai penyatuan kesadaran dengan realitas tertinggi yang menjadi dasar seluruh keberadaan.
Lebih lanjut, Nara dan Nārāyaṇa menjelaskan bahwa pencapaian tersebut hanya mungkin bagi mereka yang memiliki pikiran yang terpusat, indria yang terkendali, disiplin hidup yang mantap, serta pengabdian yang tunggal kepada Vāsudeva. Pengendalian diri, tapa, dan keteguhan spiritual bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mengarahkan kesadaran kepada Tuhan yang menjadi tujuan tertinggi segala pencarian.
Bab ini ditutup dengan teladan Nārada sendiri. Setelah mendengar ajaran tersebut, ia menetap di āśrama Nara-Nārāyaṇa selama seribu tahun ilahi, melakukan tapa, mengucapkan mantra-mantra yang ditujukan kepada Nārāyaṇa, dan senantiasa memuja Bhagavān. Dengan demikian, keseluruhan bab ini mengajarkan bahwa asal-usul alam semesta, jalan pembebasan, disiplin spiritual, dan tujuan akhir kehidupan semuanya bermuara pada satu realitas yang sama, yaitu Nārāyaṇa, Puruṣottama, Sarvāvāsa, dan Kṣetrajña yang meliputi serta melampaui seluruh jagat raya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar