Google+

Santi parwa 333

Santi Parwa Bab 333

Śānti Parva merupakan kitab kedua belas dari Mahābhārata dan termasuk bagian terpanjang dalam keseluruhan epos. Parva ini dimulai setelah berakhirnya perang besar Kurukṣetra, ketika kemenangan Pāṇḍava justru diikuti oleh duka, penyesalan, dan pertanyaan mendalam mengenai hakikat dharma. Yudhiṣṭhira, yang kini menjadi raja, merasa terbebani oleh kehancuran yang ditimbulkan perang dan meragukan kelayakannya untuk memerintah.

Dalam keadaan demikian, para ṛṣi dan tokoh bijaksana mengarahkan Yudhiṣṭhira kepada Bhīṣma, kakek agung Kuru yang masih hidup di atas ranjang panah (śaratalpa). Menjelang akhir hayatnya, Bhīṣma menyampaikan ajaran yang sangat luas mengenai pemerintahan, etika, hukum, filsafat, spiritualitas, yajña, mokṣa, serta berbagai tradisi dan pengetahuan Veda. Karena itu, Śānti Parva tidak hanya menjadi penutup perang Kurukṣetra, tetapi juga menjadi salah satu sumber filsafat dan teologi terpenting dalam Mahābhārata.

Secara umum, Śānti Parva dibagi menjadi tiga bagian besar, yaitu Rājadharma Parva (ajaran tentang tugas dan kewajiban raja), Āpaddharma Parva (ajaran tentang dharma dalam keadaan darurat), dan Mokṣadharma Parva (ajaran mengenai pembebasan spiritual, hakikat ātman, Brahman, yoga, serta jalan menuju mokṣa). Melalui dialog-dialog yang mendalam, parva ini berupaya menjawab pertanyaan mendasar tentang bagaimana manusia seharusnya hidup, bertindak, memimpin, berkorban, dan mencapai tujuan tertinggi kehidupan.

Bab yang dibahas dalam kajian ini berada dalam rangkaian Mokṣadharma Parva, yang menguraikan asal-usul dan makna Pitṛ-yajña (persembahan kepada leluhur). Melalui dialog antara Yudhiṣṭhira, Nārada, dan Nara-Nārāyaṇa, dijelaskan bahwa penghormatan kepada para leluhur bukan sekadar tradisi keluarga, melainkan bagian dari tatanan kosmis yang berakar pada kehendak dan tindakan Nārāyaṇa sendiri. Narasi ini juga menjelaskan asal-usul tiga piṇḍa, kedudukan para Pitṛ, serta hubungan antara pemujaan leluhur dengan pemujaan kepada Tuhan sebagai sumber dan tujuan seluruh makhluk. Dengan demikian, bab ini memberikan landasan teologis dan filosofis yang penting bagi pemahaman tradisi śrāddha dan Pitṛ-yajña dalam warisan Dharmaśāstra dan Purāṇa.

Mahabharata 13.333.1-25

vaiśaṃpāyana uvāca: kasya cit tv atha kālasya nāradaḥ parameṣṭhijaḥ, daivaṃ kṛtvā yathānyāyaṃ pitryaṃ cakre tataḥ param"Setelah beberapa waktu berlalu, Nārada, putra Parameṣṭhin (Brahmā), setelah terlebih dahulu melaksanakan upacara untuk para dewa sesuai tata cara yang benar, kemudian melaksanakan upacara untuk para leluhur (pitṛ)." (MB 12.333.1)

tatas taṃ vacanaṃ prāha jyeṣṭho dharmātmajaḥ prabhuḥ, ka ijyate dvijaśreṣṭha daive pitrye ca kalpite"Maka Yudhiṣṭhira, putra Dharma yang tertua dan penguasa itu, berkata kepadanya: 'Wahai brahmana terbaik, siapakah yang sesungguhnya dipuja dalam upacara untuk para dewa dan para leluhur itu?'" (MB 12.333.2)

tvayā matimatāṃ śreṣṭha tan me śaṃsa yathāgamam, kim etat kriyate karma phalaṃ cāsya kim iṣyate"'Wahai yang terbaik di antara orang-orang bijaksana, jelaskanlah kepadaku sesuai ajaran suci. Mengapa ritual ini dilakukan, dan buah apakah yang diharapkan darinya?'" (MB 12.333.3)

nārada uvāca: tvayaitat kathitaṃ pūrvaṃ daivaṃ kartavyam ity api, daivataṃ ca paro yajñaḥ paramātmā sanātanaḥNārada berkata: "Hal ini telah pernah engkau dengar sebelumnya, bahwa pemujaan kepada para dewa memang harus dilakukan. Dan sesungguhnya objek tertinggi dari yajña para dewa adalah Paramātman yang kekal abadi." (MB 12.333.4)

tatas tadbhāvito nityaṃ yaje vaikuṇṭham avyayam, tasmāc ca prasṛtaḥ pūrvaṃ brahmā lokapitāmahaḥ"Oleh karena itu aku senantiasa memuja Vaikuṇṭha Yang Tak Musnah. Dari-Nya pada awal penciptaan lahirlah Brahmā, leluhur agung seluruh dunia." (MB 12.333.5)

mama vai pitaraṃ prītaḥ parameṣṭhy apy ajījanat, ahaṃ saṃkalpajas tasya putraḥ prathamakalpitaḥ"Dengan berkenan kepada ayahku, Parameṣṭhin (Brahmā), Bhagavān melahirkannya. Aku sendiri adalah putra pertama yang lahir dari kehendaknya (saṅkalpa)." (MB 12.333.6)

yajāmy ahaṃ pitṝn sādho nārāyaṇavidhau kṛte, evaṃ sa eva bhagavān pitā mātā pitāmahaḥ, ijyate pitṛyajñeṣu mayā nityaṃ jagatpatiḥ"Wahai orang saleh, ketika aku melaksanakan ritual bagi para leluhur menurut tata cara Nārāyaṇa, sesungguhnya Bhagavān itulah yang dipuja. Dialah ayah, ibu, dan kakek moyang. Dalam yajña untuk para leluhur, aku senantiasa memuja Penguasa Alam Semesta." (MB 12.333.7)

śrutiś cāpy aparā deva putrān hi pitaro 'yajan, vedaśrutiḥ praṇaṣṭā ca punar adhyāpitā sutaiḥ, tatas te mantradāḥ putrāḥ pitṛtvam upapedire"Ada pula ajaran śruti yang lain, wahai dewa. Dahulu para leluhur memuja anak-anak mereka. Ketika pengetahuan Veda hilang, ia diajarkan kembali oleh para putra. Karena menjadi pemberi mantra kepada ayah mereka, para putra itu memperoleh kedudukan sebagai 'leluhur'." (MB 12.333.8)

nūnaṃ puraitad viditaṃ yuvayor bhāvitātmanoḥ, putrāś ca pitaraś caiva parasparam apūjayan"Tentulah hal ini dahulu telah diketahui oleh kalian berdua yang jiwanya telah dimurnikan: bahwa anak dan leluhur saling menghormati dan saling memuja." (MN 12.333.9)

trīn piṇḍān nyasya vai pṛthvyāṃ pūrvaṃ dattvā kuśān iti, kathaṃ tu piṇḍasaṃjñāṃ te pitaro lebhire purā"Setelah meletakkan tiga piṇḍa di atas tanah dan terlebih dahulu menaruh rumput kuśa, bagaimana para leluhur dahulu memperoleh sebutan 'piṇḍa'?" (MB 12.333.10)

naranārāyaṇāv ūcatuḥ, imāṃ hi dharaṇīṃ pūrvaṃ naṣṭāṃ sāgaramekhalām, govinda ujjahārāśu vārāhaṃ rūpam āśritaḥNara dan Nārāyaṇa berkata: "Dahulu bumi yang dikelilingi samudra tenggelam dan hilang. Govinda segera mengangkatnya dengan mengambil wujud Varāha (Babi Hutan Ilahi)." (MB 12.333.11)

sthāpayitvā tu dharaṇīṃ sve sthāne puruṣottamaḥ, jalakardamaliptāṅgo lokakāryārtham udyataḥ"Setelah menempatkan bumi kembali pada tempatnya, Puruṣottama berdiri dengan tubuh yang masih diliputi lumpur dan air, sambil melaksanakan tugas bagi dunia." (MB 12.333.12)

prāpte cāhnikakāle sa madhyaṃdinagate ravau, daṃṣṭrāvilagnān mṛtpiṇḍān vidhūya sahasā prabhuḥ, sthāpayām āsa vai pṛthvyāṃ kuśān āstīrya nārada"Ketika tiba waktu ritual harian dan matahari telah mencapai tengah hari, Sang Bhagavān mengguncangkan gumpalan-gumpalan tanah yang melekat pada taring-Nya. Setelah menghamparkan rumput kuśa di atas bumi, wahai Nārada..." (MB 12.333.13)

sa teṣv ātmānam uddiśya pitryaṃ cakre yathāvidhi, saṃkalpayitvā trīn piṇḍān svenaiva vidhinā prabhuḥ"...Beliau kemudian melaksanakan ritual bagi para leluhur dengan menjadikan diri-Nya sendiri sebagai tujuan persembahan, membentuk tiga piṇḍa menurut tata cara yang ditetapkan-Nya sendiri." (MB 12.333.14)

ātmagātroṣmasaṃbhūtaiḥ snehagarbhais tilair api, prokṣyāpavargaṃ deveśaḥ prāṅmukhaḥ kṛtavān svayam"Dengan wijen yang mengandung unsur kelembutan dan kehangatan yang berasal dari tubuh-Nya sendiri, Penguasa para dewa itu memercikinya sambil menghadap ke timur demi tujuan pembebasan." (12.333.15)

maryādāsthāpanārthaṃ ca tato vacanam uktavān, ahaṃ hi pitaraḥ sraṣṭum udyato lokakṛt svayam"Untuk menetapkan aturan dan tradisi yang benar, Beliau lalu berkata: 'Aku sendiri, sebagai Pencipta dunia, hendak menciptakan para leluhur.'" (MB 12.333.16)

tasya cintayataḥ sadyaḥ pitṛkāryavidhiṃ param, daṃṣṭrābhyāṃ pravinirdhūtā mamaite dakṣiṇāṃ diśam, āśritā dharaṇīṃ piṇḍās tasmāt pitara eva te"Ketika sedang memikirkan tata cara tertinggi bagi ritual leluhur, gumpalan-gumpalan tanah yang terguncang dari kedua taring-Ku jatuh ke arah selatan dan bertumpu pada bumi. Karena itu, mereka itulah para leluhur." (MB 12.333.17)

trayo mūrtivihīnā vai piṇḍamūrtidharās tv ime, bhavantu pitaro loke mayā sṛṣṭāḥ sanātanāḥ"'Walaupun tidak memiliki bentuk jasmani, ketiga piṇḍa ini akan menjadi perwujudan para leluhur. Mereka akan menjadi para Pitṛ yang kekal, yang Aku ciptakan bagi dunia.'" (MB 12.333.18)

pitā pitāmahaś caiva tathaiva prapitāmahaḥ, aham evātra vijñeyas triṣu piṇḍeṣu saṃsthitaḥ"'Ayah, kakek, dan buyut—ketahuilah bahwa Aku sendiri hadir dalam ketiga piṇḍa tersebut.'" (MB 12.333.19)

nāsti matto 'dhikaḥ kaś cit ko vābhyarcyo mayā svayam, ko vā mama pitā loke aham eva pitāmahaḥ"'Tidak ada yang lebih tinggi daripada Aku. Siapakah yang layak dipuja oleh-Ku? Siapakah ayah-Ku di dunia ini? Aku sendiri adalah Pitāmaha (Kakek Agung).'" (MB 12.333.20)

pitāmahapitā caiva aham evātra kāraṇam, ity evam uktvā vacanaṃ devadevo vṛṣākapiḥ"'Aku sendiri adalah ayah maupun ayah dari para leluhur; Akulah sebab utama semuanya.'" (MB 12.333.21)

varāhaparvate vipra dattvā piṇḍān savistarān, ātmānaṃ pūjayitvaiva tatraivādarśanaṃ gataḥ"Di Gunung Varāha, wahai brahmana, setelah mempersembahkan piṇḍa secara lengkap dan memuja diri-Nya sendiri, Beliau menghilang dari pandangan." (MB 12.333.22)

etadarthaṃ śubhamate pitaraḥ piṇḍasaṃjñitāḥ, labhante satataṃ pūjāṃ vṛṣākapivaco yathā"Itulah sebabnya, wahai yang berbudi luhur, para Pitṛ dikenal dengan nama 'piṇḍa'. Mereka senantiasa menerima pemujaan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Vṛṣākapi." (MB 12.333.23)

ye yajanti pitṝn devān gurūṃś caivātithīṃs tathā, gāś caiva dvijamukhyāṃś ca pṛthivīṃ mātaraṃ tathā, karmaṇā manasā vācā viṣṇum eva yajanti te"Mereka yang memuja para leluhur, para dewa, guru-guru, para tamu, sapi-sapi, brahmana-brahmana utama, dan juga bumi sebagai ibu, melalui perbuatan, pikiran, dan ucapan—sesungguhnya memuja Viṣṇu semata." (MB 12.333.24)

antargataḥ sa bhagavān sarvasattvaśarīragaḥ, samaḥ sarveṣu bhūteṣu īśvaraḥ sukhaduḥkhayoḥ, mahān mahātmā sarvātmā nārāyaṇa iti śrutaḥ"Sebab Bhagavān itu berdiam di dalam semua makhluk, hadir dalam tubuh seluruh makhluk hidup. Ia sama terhadap semua makhluk, Penguasa suka dan duka. Yang Agung, Mahātma, Jiwa Segala Jiwa—Dialah yang dalam śruti disebut Nārāyaṇa." (MB 12.333.25)

Berdasarkan uraian dalam Mahābhārata Śānti Parva 12.333.1–25, dapat dipahami bahwa Pitṛ-yajña bukanlah sekadar ritual penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal, melainkan bagian dari tatanan dharma yang berakar langsung pada kehendak Tuhan. Melalui penjelasan Nārada serta kisah Nārāyaṇa dalam wujud Varāha, dijelaskan bahwa konsep para Pitṛ dan persembahan piṇḍa memiliki asal-usul ilahi. Tiga piṇḍa yang dipersembahkan dalam ritual leluhur melambangkan tiga generasi utama leluhur—ayah, kakek, dan buyut—namun pada saat yang sama Nārāyaṇa menyatakan bahwa Ia sendiri berdiam dalam ketiga piṇḍa tersebut sebagai sumber, penopang, dan tujuan seluruh keberadaan.

Bab ini juga menegaskan bahwa hubungan antara anak dan leluhur bersifat timbal balik. Para leluhur menghormati keturunannya, dan para keturunan menghormati para leluhurnya, sehingga tercipta kesinambungan dharma antargenerasi. Dalam konteks ini, Pitṛ-yajña bukan hanya tindakan mengenang masa lalu, melainkan juga pengakuan terhadap rantai kehidupan yang menghubungkan manusia dengan leluhur, para ṛṣi, dan akhirnya dengan Tuhan sendiri.

Ajaran yang paling menonjol dalam bagian ini adalah penegasan bahwa seluruh bentuk pemujaan yang dilakukan dengan benar pada akhirnya tertuju kepada satu realitas tertinggi. Pemujaan kepada para dewa, para leluhur, guru, tamu, sapi, kaum brahmana, maupun bumi sebagai ibu, sesungguhnya merupakan bentuk pemujaan kepada Viṣṇu atau Nārāyaṇa yang bersemayam di dalam semua makhluk. Karena itu, Pitṛ-yajña tidak dipandang sebagai pemujaan yang terpisah dari pemujaan kepada Tuhan, melainkan sebagai salah satu jalan untuk menghormati manifestasi-Nya dalam tatanan kehidupan dan garis keturunan manusia.

Dengan demikian, inti ajaran bab ini adalah bahwa penghormatan kepada leluhur memperoleh makna tertingginya ketika dipahami sebagai bagian dari penghormatan kepada Tuhan Yang Mahatinggi, yang merupakan ayah, ibu, leluhur, serta jiwa dari seluruh makhluk. Melalui pemahaman ini, Pitṛ-yajña tidak hanya menjadi kewajiban ritual, tetapi juga sarana untuk menyadari kesatuan seluruh kehidupan di bawah naungan Nārāyaṇa, Sang Mahātma dan Sarvātmā yang hadir di dalam segala sesuatu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar