Google+

Ajaran veda: Krishna bukan Tuhan tetapi Avatara

Ajaran veda: Krishna bukan Tuhan tetapi Avatara

Narasi ini disusun untuk meluruskan cara pandang yang menempatkan Śrī Kṛṣṇa sebagai Tuhan Yang Mahatinggi dengan menjadikan Bhagavad Gītā sebagai dasar pembenarannya, padahal pesan-pesan filosofis yang disampaikan Kṛṣṇa dalam Gītā tidak dapat dilepaskan dari horizon ajaran Upaniṣad yang lebih luas. Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah Kṛṣṇa memiliki sifat ilahi, melainkan siapa yang berbicara, apa hakikat ajaran yang disampaikan, dan kepada siapa sesungguhnya ajaran tersebut menunjuk.

Melalui pembacaan yang lebih kritis terhadap Gītā dan jejak Upaniṣadik yang melatarinya, narasi ini berupaya menunjukkan bahwa menjadikan setiap pernyataan Kṛṣṇa sebagai deklarasi bahwa Kṛṣṇa adalah Tuhan dapat menghasilkan lompatan logika teologis. Terlebih ketika ayat-ayat Gītā dibaca secara terpisah dari konsep Brahman, Ātman, Puruṣa, dan Yang Mahatinggi yang telah menjadi pokok penyelidikan Upaniṣad. Dengan demikian, materi ini tidak bertujuan merendahkan Kṛṣṇa, tetapi justru mengajak pembaca mengembalikan pesan Kṛṣṇa kepada konteks filsafat yang ia ajarkan sendiri, lalu menguji apakah kesimpulan teologi Hare Krishna benar-benar mengikuti pesan tersebut atau merupakan hasil interpretasi yang datang kemudian.

Krishna Kepribadian Tuhan

KṚṢṆA BUKAN TUHAN, TAPI AVATĀRA

Ada satu pertanyaan yang seharusnya diajukan terlebih dahulu sebelum seseorang mengatakan Krishna adalah Tuhan:

Krishna yang mana?

Apakah yang dimaksud adalah Kṛṣṇa sebagai tokoh dalam Mahābhārata? Kṛṣṇa sebagai Vāsudeva? Kṛṣṇa sebagai avatāra Nārāyaṇa? Kṛṣṇa sebagai “Aku” dalam Bhagavad Gītā? Ataukah Kṛṣṇa sebagaimana dikembangkan kemudian dalam teologi Bhāgavata Purāṇa sebagai Svayaṃ Bhagavān?

Pertanyaan ini penting karena kelima pengertian tersebut tidak boleh langsung disamakan.

Dan bila kita mulai dari kitab yang menjadi induk Bhagavad Gītā, yaitu Mahābhārata, justru kita menemukan sebuah keterangan yang sangat menarik:

yas tu nārāyaṇo nāma devadevaḥ sanātanaḥ
tasyāṃśo mānuṣeṣv āsīd vāsudevaḥ pratāpavān 

“Dia yang bernama Nārāyaṇa, Devadeva yang abadi, memiliki aṃśa yang hadir di antara manusia sebagai Vāsudeva yang perkasa.” - Mahābhārata 1.61.90

Perhatikan kata yang justru paling sering dilewati: tasyāṃśaḥ - aṃśa-Nya.

Kalimat tersebut membangun hubungan:

Nārāyaṇa → aṃśa → Vāsudeva.

Jadi, dalam narasi Mahābhārata, Kṛṣṇa sebagai Vāsudeva hadir di dunia manusia dalam hubungan aṃśa dengan Nārāyaṇa.

Bahkan sebelumnya Mahābhārata menggunakan bahasa:

avatartuṃ mahīṃ svargād aṃśataḥ sahitaiḥ suraiḥ - MB 1.59.1

yang menggambarkan Nārāyaṇa bersama para dewa turun ke bumi dengan aṃśa.

Dengan demikian, dari Mahābhārata sendiri kita telah memperoleh sebuah kerangka yang sangat penting:

avatāra berkaitan dengan manifestasi/aṃśa ilahi.

Bukan otomatis:

avatāra = Brahman Absolut yang berubah menjadi tubuh manusia.

Dan di sinilah persoalan menjadi menarik ketika kita masuk ke Bhagavad Gītā.



KRISHNA DALAM GĪTĀ BERBICARA SEBAGAI ĀTMAN

Ada satu ayat yang hampir selalu dijadikan dasar untuk mengatakan:

“Kṛṣṇa adalah Tuhan, karena Kṛṣṇa berkata dirinya Ātman.”

Ayat itu adalah:

aham ātmā guḍākeśa sarva-bhūtāśaya-sthitaḥ
aham ādiś ca madhyaṃ ca bhūtānām anta eva ca

“Aku adalah Ātman, wahai Guḍākeśa, yang berada dalam batin semua makhluk; Aku adalah awal, tengah, dan akhir makhluk-makhluk.” - Bhagavad Gītā 10.20

Sekilas memang tampak sederhana: Krishna = Ātman = Tuhan.

Tetapi berhenti di sana justru merupakan kesalahan pembacaan.

Sebab ayat 10.20 berada dalam pembahasan ātma-vibhūti.

Sebelumnya Kṛṣṇa berkata:

hanta te kathayiṣyāmi divyā hy ātma-vibhūtayaḥ
prādhānyataḥ kuru-śreṣṭha nāsty anto vistarasya me

“Akan Kukatakan kepadamu vibhūti-vibhūti ilahi-Ku, secara utama; tidak ada akhir dari keluasan-Ku.” - BG 10.19

Jadi “aham ātmā” muncul dalam konteks penjelasan vibhūti.

Dan setelah itu Kṛṣṇa berkali-kali berkata:

ādityānām ahaṃ viṣṇuḥ - “Di antara para Āditya Aku adalah Viṣṇu.”

Lalu:

rudrāṇāṃ śaṃkaraś cāsmi - “Di antara para Rudra Aku adalah Śaṅkara.”

Dan:

vṛṣṇīnāṃ vāsudevo ’smi
pāṇḍavānāṃ dhanaṃjayaḥ
munīnām apy ahaṃ vyāsaḥ

“Di antara Vṛṣṇi Aku adalah Vāsudeva; di antara Pāṇḍava Aku adalah Dhanañjaya; di antara para muni Aku adalah Vyāsa.” - BG 10.37

Ini membuat kita harus berhati-hati.

Kalau setiap: aham X asmi

berarti: “persona Krishna secara literal identik dengan X,”

maka kita akan dipaksa mengatakan:

Kṛṣṇa = Vāsudeva
Kṛṣṇa = Arjuna
Kṛṣṇa = Vyāsa
Kṛṣṇa = Śaṅkara.

Padahal konteksnya bukan demikian.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa vibhūti—manifestasi keutamaan ilahi.

Maka aham ātmā tidak boleh begitu saja diubah menjadi “tubuh Kṛṣṇa adalah Brahman.”

Justru kata-kata berikutnya sangat penting:

sarva-bhūtāśaya-sthitaḥ - “Aku berada dalam batin semua makhluk.”

Ini bukan klaim bahwa Ātman hanya berada dalam tubuh Kṛṣṇa.



GĪTĀ SENDIRI MEMPERLUAS “AKU” KE SEMUA KṢETRA

Kṛṣṇa mengatakan:

kṣetrajñaṃ cāpi māṃ viddhi sarva-kṣetreṣu bhārata
kṣetra-kṣetrajñayor jñānaṃ yat taj jñānaṃ mataṃ mama

“Ketahuilah pula Aku sebagai Kṣetrajña dalam semua kṣetra, wahai Bhārata.” - BG 13.2

Kata yang sangat penting sarva-kṣetreṣudalam semua kṣetra.

Jadi “Aku” yang sedang dibicarakan Gītā bukan sekadar persona biologis yang dibatasi oleh satu tubuh.

Śaṅkara dalam bhāṣyanya bahkan menjelaskan mām dalam ayat tersebut sebagai:

parameśvaram asaṃsāriṇam - Parameśvara yang tidak berada dalam saṃsāra.

Dengan demikian, pembacaan Advaita memberikan pembedaan:

Kṛṣṇa sebagai personal dalam Itihāsa

dan

“Aku” sebagai Parameśvara/Kṣetrajña/Ātman universal.

 


LALU APA ARTINYA “KRISHNA ADALAH TUHAN”?

Di sinilah kita harus mulai membedakan istilah.

Jika yang dimaksud:

Krishna adalah manifestasi Īśvara dan avatāra ilahi,

maka hal itu mempunyai dasar kuat dalam Mahābhārata.

Tetapi jika yang dimaksud:

tubuh dan persona Kṛṣṇa secara eksklusif adalah keseluruhan Brahman Absolut,

maka klaim itu memerlukan pembuktian lebih lanjut.

Sebab Mahābhārata memberikan:

tasyāṃśo mānuṣeṣv āsīd vāsudevaḥVāsudeva sebagai aṃśa Nārāyaṇa.

Sedangkan Gītā memberikan:

aham ātmā... sarva-bhūtāśaya-sthitaḥAku adalah Ātman yang berada dalam batin semua makhluk.

Maka kita memperoleh sebuah struktur yang jauh lebih masuk akal:

Nārāyaṇa → aṃśa → Vāsudeva/Kṛṣṇa → avatāra dalam dunia manusia.

Sementara:

Ātman → hadir dalam semua makhluk.

Kedua kategori tersebut tidak boleh dicampur.



LALU BAGAIMANA DENGAN “SVAYAṂ BHAGAVĀN”?

Di sini kita harus lebih disiplin lagi.

Formula:

kṛṣṇas tu bhagavān svayam adalah formula teologi Bhāgavata Purāṇa.

Ini bukan formula Bhagavad Gītā.

Karena itu tidak tepat apabila seseorang mengambil kesimpulan dari Bhāgavata Purāṇa lalu memasukkannya begitu saja ke dalam setiap ayat Gītā.

Apalagi Bhagavad Gītā adalah bagian dari Bhīṣma Parva Mahābhārata.

Maka secara metodologis kita harus membaca:

Mahābhārata → Bhīṣma Parva → Bhagavad Gītā

terlebih dahulu.

Baru setelah itu kita bandingkan dengan perkembangan teologi Purāṇik.

Dengan cara ini kita tidak sedang mengatakan: “Bhāgavata salah.” Tidak.

Kita hanya mengatakan:

“Jangan gunakan kesimpulan teologi Bhāgavata untuk menggantikan konteks asli Bhagavad Gītā dalam Mahābhārata.”

 


MAKA KRISHNA BUKAN SEKADAR MANUSIA

Di titik ini juga harus jelas: mengatakan Kṛṣṇa bukan Tuhan tidak berarti mengatakan:

“Kṛṣṇa hanyalah manusia biasa.”

Mahābhārata sendiri menyebut Kṛṣṇa dalam relasi Nara-Nārāyaṇa dan sebagai aṃśa Nārāyaṇa.

Jadi posisi yang lebih tepat adalah:

Kṛṣṇa adalah avatāra/aṃśa ilahi.

Namun:

avatāra tidak otomatis berarti Brahman Absolut menjadi tubuh.

Dan justru di sinilah pertanyaan berikutnya menjadi tidak terelakkan:

Kalau avatāra benar-benar adalah Tuhan yang menjelma menjadi tubuh, apakah definisi tersebut sesuai dengan karakteristik Tuhan yang diberikan oleh Yajurveda dan Upaniṣad?

Pertanyaan itu tidak bisa dijawab hanya dengan mengutip Purāṇa.

Kita harus kembali kepada Śruti. Dan dari sinilah pembahasan berikutnya dimulai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar