Ajaran Veda: Hakekat Visvarupa
membedah pemahaman Hare Krishna
Viśvarūpa, atau Wujud Kosmik Ilahi, adalah penglihatan akan totalitas penciptaan; oleh pikiran yang telah melampaui batasan ruang dan waktu.
Namun, ada ketidaktahuan sang penyaksi (Arjuna) sebagai Ego, yang melihat.
Ini lebih merupakan persepsi ilahi, daripada penglihatan fisik.
Hal ini penting karena Gītā sendiri tidak menggambarkan Viśvarūpa sebagai objek biasa yang dapat ditangkap oleh indra manusia. Sebelum penglihatan itu diberikan, Arjuna terlebih dahulu meminta agar dapat melihat bentuk universal tersebut. Kṛṣṇa kemudian menyatakan bahwa penglihatan biasa tidak memadai. Karena itu, persoalan Viśvarūpa sejak awal bukan sekadar “apa yang dilihat mata?”, tetapi “dengan kesadaran apa realitas itu dapat disaksikan?”Di sinilah transendensi Brahman menjadi titik penting.
Brahman, sebagai Diri Tertinggi, tidak terbatas dan melampaui semua dualitas, atribut, bahasa, serta pemikiran manusia. Bahasa dan pikiran bekerja dengan cara membatasi: sesuatu diberi nama, bentuk, ciri, kemudian dijadikan objek pengetahuan. Brahman tidak dapat diperlakukan seperti itu.
Taittirīya Upaniṣad menyatakan:
yato vāco nivartanteaprāpya manasā saha |ānandaṃ brahmaṇo vidvānna bibheti kutaścaneti ||“Dari-Nya kata-kata berbalik, bersama dengan pikiran, karena tidak dapat mencapainya. Setelah mengetahui ānanda Brahman, seseorang tidak takut kepada apa pun.” - Taittirīya Upaniṣad 2.4.1 / 2.9.1
Karena itu, ketika dikatakan bahwa Brahman tidak dapat dicapai oleh vāc dan manas, bukan berarti Brahman tidak dapat diketahui sama sekali. Maksudnya, Brahman tidak dapat dijadikan objek pengetahuan sebagaimana benda-benda lain. Brahman adalah dasar dari subjek dan objek itu sendiri.
Inilah alasan mengapa brahma-jijñāsā tidak berhenti pada pencarian sebuah bentuk ilahi. Taittirīya Upaniṣad bahkan mengajukan pertanyaan fundamental:
yato vā imāni bhūtāni jāyante |yena jātāni jīvanti |yat prayanty abhisaṃviśanti |tad vijijñāsasva | tad brahma ||“Dari mana semua makhluk ini lahir, oleh apa yang telah lahir hidup, dan ke dalam apa mereka masuk kembali ketika berangkat—hendaknya engkau menyelidiki itu. Itulah Brahman.” - Taittirīya Upaniṣad 3.1.1
Jadi pertanyaan filsafatnya bukan sekadar “siapakah sosok yang memiliki bentuk universal?”, melainkan:
Apakah bentuk universal itu merupakan Brahman pada hakikat tertinggi, ataukah manifestasi Brahman yang masih berada dalam wilayah nama-rūpa?
Di sinilah Viśvarūpa harus dibaca secara hati-hati.
Cahaya Seribu Matahari: Metafora, Bukan Matahari Fisik
Dalam Bhagavad Gītā 11.12 terdapat perumpamaan yang sangat terkenal:
divi sūrya-sahasrasyabhaved yugapad utthitā |yadi bhāḥ sadṛśī sā syādbhāsas tasya mahātmanaḥ ||“Jika di langit cahaya seribu matahari terbit secara serentak, mungkin cahaya itu menyerupai cahaya dari Yang Agung tersebut.” - Bhagavad Gītā 11.12
Perhatikan kata sadṛśī—“menyerupai”.
Gītā tidak mengatakan:
“Cahaya itu adalah seribu matahari.”
Juga tidak mengatakan bahwa Arjuna sedang menyaksikan fenomena astronomis literal.
Seribu matahari hanyalah perbandingan ekstrem untuk menunjukkan sesuatu yang melampaui ukuran pengalaman biasa.
Karena itu, “cahaya” di sini tidak boleh direduksi menjadi kecerahan fisik. Ia menunjuk kepada tejas, kemegahan, daya, pengetahuan, dan kehadiran kosmik Īśvara.
Hal tersebut memiliki paralel kuat dalam Upaniṣad.
Muṇḍaka Upaniṣad menyatakan:
hiraṇmaye pare kośe virajaṃ brahma niṣkalam |tac chubhraṃ jyotiṣāṃ jyotis tad yad ātmavido viduḥ ||“Dalam selubung tertinggi yang bercahaya keemasan terdapat Brahman yang murni, tanpa noda, tanpa bagian; Ia adalah cahaya dari segala cahaya, demikianlah yang diketahui oleh para pengetahu Ātman.” - Muṇḍaka Upaniṣad 2.2.9
Lalu:
na tatra sūryo bhāti na candratārakaṃnemā vidyuto bhānti kuto'yam agniḥ |tam eva bhāntam anubhāti sarvaṃtasya bhāsā sarvam idaṃ vibhāti ||“Di sana matahari tidak bersinar, demikian pula bulan dan bintang-bintang; kilat pun tidak bersinar, apalagi api ini. Hanya Dia yang bercahaya; segala sesuatu mengikuti cahaya-Nya. Oleh cahaya-Nya segala sesuatu di sini bercahaya.” - Muṇḍaka Upaniṣad 2.2.10
Katha Upaniṣad memberikan formulasi yang hampir identik:
na tatra sūryo bhāti na candratārakaṃnemā vidyuto bhānti kuto'yam agniḥ |tam eva bhāntam anu bhāti sarvaṃtasya bhāsā sarvam idaṃ vibhāti ||“Di sana matahari tidak bersinar, begitu pula bulan dan bintang-bintang; kilat pun tidak bersinar, apalagi api ini. Hanya Dia yang bercahaya; segala sesuatu bercahaya mengikuti-Nya. Oleh cahaya-Nya segala sesuatu ini bercahaya.” - Katha Upaniṣad 5.15
Maka terdapat sebuah garis filosofis yang sangat kuat:
Viśvarūpa → cahaya kosmik → jyotiṣāṃ jyotiḥ → cahaya segala cahaya → Brahman sebagai dasar kesadaran.
Dengan demikian, cahaya Viśvarūpa bukan sekadar cahaya yang dilihat oleh mata. Ia merupakan simbol pencerahan pengetahuan: kesadaran bahwa segala bentuk memperoleh keberadaannya dari suatu dasar yang lebih fundamental daripada bentuk itu sendiri.
Seluruh Jagat dalam Satu Tubuh
Setelah perumpamaan seribu matahari, Gītā langsung memberikan keterangan yang lebih penting:
tatraikasthaṃ jagat kṛtsnaṃpravibhaktam anekadhā |apaśyad deva-devasyaśarīre pāṇḍavas tadā ||“Di sana, seluruh jagat, berada dalam satu tempat, terbagi dalam beraneka bentuk; Pāṇḍava saat itu melihatnya dalam tubuh Deva-deva.” - Bhagavad Gītā 11.13
Ini adalah salah satu kalimat paling penting dalam seluruh pembahasan Viśvarūpa:
eka-stham — satu tempat.
Tetapi sekaligus:
pravibhaktam anekadhā — terbagi dalam banyak bentuk.
Di sini kita menemukan dua tingkat pembacaan:
Banyak pada tingkat nāma-rūpa; satu pada tingkat substratum.
Keberagaman tidak perlu disangkal. Yang disangkal oleh Advaita bukan keberadaan pengalaman empiris sebagai pengalaman, tetapi anggapan bahwa keberagaman itu memiliki eksistensi independen dari substratumnya.
Perhiasan dapat berjumlah ribuan, tetapi semuanya tetap emas.
Gelombang tampak banyak, tetapi semuanya air.
Bentuk tampak berbeda, tetapi keberadaannya tidak berdiri sendiri.
Upaniṣad Sudah Mengatakan Hal yang Sama
Muṇḍaka Upaniṣad bahkan menyatakan secara langsung:
brahmaivedam amṛtaṃ purastādbrahma paścād brahma dakṣiṇataś cottareṇa |adhaś cordhvaṃ ca prasṛtaṃ brahmaivedaṃviśvam idaṃ variṣṭham ||“Brahman yang abadi ini berada di depan; Brahman di belakang; Brahman di selatan dan di utara; di bawah dan di atas. Semua ini, seluruh jagat ini, adalah Brahman yang tertinggi.” - Muṇḍaka Upaniṣad 2.2.11
Pernyataannya adalah: viśvam idaṃ brahma - Seluruh jagat ini adalah Brahman.
Satu Diri, Banyak Bentuk
Katha Upaniṣad memberikan kunci yang luar biasa kuat untuk membaca Viśvarūpa:
agnir yathaiko bhuvanaṃ praviṣṭorūpaṃ rūpaṃ pratirūpo babhūva |ekas tathā sarvabhūtāntarātmārūpaṃ rūpaṃ pratirūpo bahiś ca ||“Sebagaimana api yang satu, setelah memasuki dunia, menjadi serupa dengan setiap bentuk; demikian pula satu Ātman yang berada di dalam semua makhluk menjadi serupa dengan setiap bentuk dan juga berada di luar.” - Katha Upaniṣad 5.9
eko vaśī sarvabhūtāntarātmāekaṃ rūpaṃ bahudhā yaḥ karoti |tam ātmasthaṃ ye 'nupaśyanti dhīrāsteṣāṃ sukhaṃ śāśvataṃ netareṣām ||“Yang satu, penguasa, Diri batin semua makhluk, menjadikan satu bentuk menjadi banyak. Mereka yang melihat-Nya bersemayam dalam Ātman memperoleh kebahagiaan abadi; bukan yang lain.” - Katha Upaniṣad 5.12
Ekaṃ rūpaṃ bahudhā yaḥ karoti: “Yang satu menjadikan satu bentuk tampak dalam banyak bentuk.”
Jadi pluralitas bentuk tidak otomatis berarti pluralitas Realitas Absolut.
Viśvarūpa sebagai Kesadaran Kosmik
Śvetāśvatara Upaniṣad memperluas gambaran ini:
eko devaḥ sarvabhūteṣu gūḍhaḥsarvavyāpī sarvabhūtāntarātmā |karmādhyakṣaḥ sarvabhūtādhivāsaḥsākṣī cetā kevalo nirguṇaś ca ||“Satu Deva tersembunyi dalam semua makhluk, meliputi segala sesuatu, menjadi Diri batin semua makhluk; pengawas karma, kediaman semua makhluk, saksi, kesadaran, tunggal dan nirguṇa.” - Śvetāśvatara Upaniṣad 6.11
sarvavyāpī — meliputi segala sesuatu.sarvabhūtāntarātmā — Diri batin semua makhluk.sākṣī — saksi.cetā — kesadaran.kevalaḥ — tunggal.nirguṇaḥ — tanpa guṇa.
Ini membuat pembacaan Viśvarūpa menjadi jauh lebih dalam.
Yang tampak sebagai “ribuan wajah” bukan berarti terdapat ribuan Realitas Absolut.
Yang tampak sebagai banyak kesadaran bukan berarti terdapat banyak sumber kesadaran yang independen.
Satu kesadaran hadir sebagai saksi dalam keberagaman pengalaman.
Dari Banyak Bentuk Kembali kepada Yang Tanpa Bentuk
Di sinilah kesalahan terbesar terjadi apabila Viśvarūpa langsung disamakan dengan Brahman Nirguṇa.
Viśvarūpa masih merupakan rūpa.
Bahkan Gītā sendiri menyebutnya:
rūpaṃ mahat te bahu-vaktra-netraṃmahā-bāho bahu-bāhūru-pādam |bahūdaraṃ bahu-daṃṣṭrā-karālaṃdṛṣṭvā lokāḥ pravyathitās tathāham ||“Melihat bentuk-Mu yang agung, dengan banyak wajah dan mata, wahai Mahābāhu, dengan banyak lengan, paha dan kaki, banyak perut dan taring yang mengerikan, dunia-dunia terguncang, demikian pula aku.” - Bhagavad Gītā 11.23
Karena itu, dari perspektif Advaita, kita harus membedakan:
Brahman Nirguṇa → tidak dapat dibatasi oleh bentuk.
Īśvara → Brahman dipahami dalam hubungan dengan Māyā dan jagat.
Viśvarūpa → manifestasi kosmik Īśvara sebagai totalitas nāma-rūpa.
Dengan demikian, Viśvarūpa bukan “Brahman terakhir yang memiliki tubuh raksasa”.
Justru sebaliknya:
Viśvarūpa adalah batas ekstrem dari apa yang masih dapat divisualisasikan sebagai bentuk.
Bahkan Gītā Sendiri Membuka Jalan ke Yang Tak Berbentuk
Gītā kemudian mengatakan:
ye tv akṣaram anirdeśyamavyaktaṃ paryupāsate |sarvatra-gam acintyaṃ cakūṭastham acalaṃ dhruvam ||“Namun mereka yang menghayati Yang Tak Binasa, tak dapat didefinisikan, tak termanifestasi, hadir di mana-mana, tak terpikirkan, tetap, tak bergerak dan teguh...” - Bhagavad Gītā 12.3
anirdeśyam — tidak dapat didefinisikan.
avyaktam — tidak termanifestasi.
acintyam — tidak dapat dipikirkan.
Ini persis berada dalam horizon:
yato vāco nivartanteaprāpya manasā saha.
Dengan demikian, Viśvarūpa adalah visi kosmik, sedangkan Brahman Nirguṇa adalah Realitas yang tidak dapat direduksi menjadi visi apa pun.
Mengapa Arjuna Ketakutan?
Kemudian Arjuna mengalami sesuatu yang sangat penting secara psikologis dan filosofis.
tataḥ sa vismayāviṣṭo hṛṣṭa-romā dhanañjayaḥpraṇamya śirasā devaṃ kṛtāñjalir abhāṣata ||“Kemudian Dhanañjaya dipenuhi keheranan, bulu romanya berdiri; setelah menundukkan kepala kepada Deva dengan tangan terkatup, ia berbicara.” - Bhagavad Gītā 11.14
Mengapa?
Karena ego individual terbiasa memandang realitas secara fragmentaris.
Aku di sini.
Dunia di sana.
Aku subjek.
Dunia objek.
Aku melihat alam.
Alam yang kulihat bukan aku.
Tetapi Viśvarūpa menghancurkan batas itu.
Arjuna tidak lagi melihat alam semesta sebagai kumpulan objek yang berdiri di luar dirinya.
Ia melihat totalitas.
Ego sebagai Penyaksi yang Terbatas
Biasanya kita melihat dunia dalam fragmen-fragmen—sebagai sesuatu yang diperoleh secara bawaan dan juga sebagai ciptaan perseptif. Sebagai ciptaan perseptif, yang muncul dari ketidaktahuan akan Diri, seseorang mengalami perbedaan dalam—orang, peristiwa, objek, kegembiraan, dan kesedihan.
Tetapi ketika pikiran dimurnikan dan terbenam dalam pengetahuan non-dual dan diberkati oleh penglihatan ilahi, ia melihat satu kecerdasan universal yang bersinar melalui semua bentuk.
Di sini Katha Upaniṣad kembali memberikan analogi yang sangat tajam:
sūryo yathā sarvalokasya cakṣurna lipyate cākṣuṣair bāhyadoṣaiḥ |ekas tathā sarvabhūtāntarātmāna lipyate lokaduḥkhena bāhyaḥ ||“Sebagaimana matahari, mata seluruh dunia, tidak tercemar oleh cacat eksternal mata; demikian pula satu Ātman yang berada dalam semua makhluk tidak tercemar oleh penderitaan dunia, karena Ia melampauinya.” - Katha Upaniṣad 5.11
Tubuh berubah.
Pikiran berubah.
Emosi berubah.
Persepsi berubah.
Jagat berubah.
Tetapi prinsip kesadaran yang menyaksikan perubahan tidak berubah bersama objeknya.
Cahaya Viśvarūpa adalah Cahaya Kesadaran
Gītā kemudian memberikan jembatan yang sangat indah:
yat āditya-gataṃ tejojagad bhāsayate 'khilam |yat candramasi yat cāgnautat tejo viddhi māmakam ||“Cahaya yang berada pada matahari dan menerangi seluruh jagat, yang berada pada bulan dan pada api—ketahuilah cahaya itu sebagai cahaya-Ku.” - Bhagavad Gītā 15.12
bukan sekadar “cahaya di matahari”, tetapi “cahaya dari segala cahaya”.
tac chubhraṃ jyotiṣāṃ jyotis“Ia adalah cahaya dari segala cahaya.” - Muṇḍaka Upaniṣad 2.2.9
Maka cahaya Viśvarūpa dapat dibaca sebagai simbol bahwa segala sesuatu yang tampak memperoleh kemampuan untuk tampak karena suatu prinsip kesadaran yang lebih fundamental.
Totalitas yang Tidak Terbatas oleh Persepsi Manusia
Persepsi fragmentaris yang diperoleh secara bawaan dari masing-masing jiwa hanyalah sebagian kecil dari totalitas, namun seseorang merasa puas dan lengkap; karena itulah yang paling sesuai untuk kelangsungan hidupnya.
Pikiran dan indrianya dapat menerima masukan sebanyak yang sesuai dengan kapasitas evolusionernya. Dalam totalitas spektrum elektromagnetik—sinar gamma, sinar-X, ultraviolet, spektrum visual, inframerah, gelombang mikro, dan gelombang radio—manusia hanya menerima sebagian kecil dari keseluruhan fenomena elektromagnetik.
Hal yang sama berlaku pada kemampuan persepsi sensorik lainnya.
Maka, pengalaman manusia sehari-hari bukanlah totalitas realitas.
Kita mengalami representasi realitas.
Viśvarūpa secara simbolis meruntuhkan batas representasi itu.
Ketika dengan karunia, pikiran terbatas seorang pencari yang belum selaras dengan Diri non-dual diberikan totalitas pengalaman kosmik, seseorang akan diliputi keberlimpahan, seperti cangkir yang dituang air lautan.
Bukan karena laut berubah menjadi cangkir.
Tetapi karena kapasitas cangkir tidak cukup untuk menampung laut.
Demikian pula problemnya bukan pada Brahman.
Problemnya adalah keterbatasan instrumen persepsi.
Ekā-stham: Banyak tetapi Satu
Di sana, dalam “tubuh” Īśvara Yang Maha Agung, Arjuna melihat seluruh alam semesta—bergerak dan tidak bergerak, kasar dan halus, ilahi dan duniawi—berkumpul di satu tempat (ekastham), namun terbagi dalam banyak bentuk (pravibhaktam anekadhā).
Inilah inti metafisika Viśvarūpa: satu substratum, banyak penampakan.
Dalam begitu banyaknya tampilan ciptaan, hanya ada satu substratum.
Perhiasan mungkin banyak dalam penampilan dan fungsinya—namun esensinya hanyalah emas.
Demikian pula gelombang dapat dinamai berbeda, tetapi hakikat airnya satu.
Ini bukan berarti Advaita menyangkal pengalaman keberagaman.
Advaita hanya menanyakan:
Apakah keberagaman memiliki eksistensi absolut yang berdiri sendiri?
Jika tidak, maka keberagaman berada pada tingkat nāma-rūpa, sedangkan substratum berada pada tingkat realitas yang lebih fundamental.
Puruṣa Sūkta: Jejak Veda yang Lebih Tua
Gagasan bahwa seluruh keberadaan berada dalam Puruṣa bukanlah gagasan yang baru muncul dalam Gītā.
Ṛgveda telah menyatakan:
puruṣa evedaṃ sarvaṃyad bhūtaṃ yac ca bhavyam |utāmṛtatvasyeśānoyad annenātirohati ||“Puruṣa sungguh adalah semua ini—apa yang telah ada dan apa yang akan ada. Ia adalah penguasa keabadian, dan Ia juga hadir dalam apa yang terselubung oleh makanan.” - Ṛgveda 10.90.2
etāvān asya mahimāato jyāyāṃś ca pūruṣaḥ |pādo 'sya viśvā bhūtānitripād asyāmṛtaṃ divi ||“Demikianlah kebesaran-Nya; namun Puruṣa lebih besar daripada itu. Semua makhluk adalah satu bagian dari-Nya, sedangkan tiga bagian-Nya adalah yang abadi di alam transenden.” - Ṛgveda 10.90.3
tripād ūrdhva ud ait puruṣaḥpādo 'syehābhavat punaḥ |tato viśvaṅ vy akrāmatsāśanānaśane abhi ||“Tiga bagian Puruṣa menjulang ke atas; satu bagian-Nya kembali menjadi alam ini. Dari sana Ia meluas ke seluruh penjuru, meliputi yang makan maupun yang tidak makan.” - Ṛgveda 10.90.4
manifestasi kosmik tidak harus identik dengan keseluruhan hakikat Puruṣa.
Ada perbedaan antara mahimā yang termanifestasi dan Puruṣa yang melampauinya.
Viśvarūpa Bukan Akhir dari Penyelidikan
Ini titik paling penting.
Jika seseorang berkata: “Viśvarūpa adalah Brahman Nirguṇa sepenuhnya.”
Maka pertanyaan filosofisnya:
Bagaimana mungkin sesuatu yang masih disebut rūpa—bahkan digambarkan dengan wajah, mata, lengan, kaki, perut dan taring—identik tanpa sisa dengan Brahman yang menurut Upaniṣad tidak dapat dijangkau vāṇī dan manas?
Śaṅkara memberikan kerangka yang sangat jelas. Dalam pembahasannya atas Brahma-sūtra, ia menjelaskan:
yato vāco nivartante |aprāpya manasā saha
dan menjelaskan Brahman sebagai: vāṅmanasātītam yakni yang berada melampaui jangkauan kata dan pikiran.
Jadi:
Viśvarūpa adalah manifestasi totalitas.
Brahman adalah dasar yang bahkan melampaui totalitas sebagai objek pengalaman.
Ketakutan Arjuna adalah Runtuhnya Perspektif Ego
Mengagumkan karena mengungkapkan bahwa segala sesuatu berada dalam esensi Yang Maha Agung.
Menakutkan karena ledakan pengalaman indriawi yang luar biasa—penglihatan akan ribuan matahari, banyak wajah, banyak mata, banyak lengan, serta proses kelahiran dan kehancuran—membuat kesadaran egoistik yang terbatas tampak sangat kecil dan tidak berarti.
Arjuna tidak lagi menjadi pusat alam semesta.
Ia melihat dirinya sebagai bagian kecil dari suatu totalitas yang jauh melampaui identitas individualnya.
Itulah sebabnya ia berkata:
etac chrutvā vacanaṃ keśavasya kṛtāñjalir vepamānaḥ kirīṭīnamaskṛtvā bhūya evāha kṛṣṇaṃ sa-gadgadaṃ bhīta-bhītaḥ praṇamya ||“Setelah mendengar ucapan Keśava, Arjuna, dengan tangan terkatup, gemetar; setelah bersujud, ia kembali berbicara kepada Kṛṣṇa dengan suara terbata, sangat ketakutan.” - Bhagavad Gītā 11.35
Ia adalah pengalaman yang menghancurkan pusat gravitasi ego.
Dari Viśvarūpa Kembali kepada Brahman
Dan di sini kita sampai pada inti Advaita.
Śvetāśvatara Upaniṣad mengatakan:
sa viśvakṛd viśvavid ātmayonir jñaḥkālakālo guṇī sarvavidyaḥ |pradhānakṣetrajñapatir guṇeśaḥsaṃsāramokṣasthitibandhahetuḥ ||“Ia adalah pembuat jagat, mengetahui jagat, sumber diri-Nya sendiri, mengetahui, waktu bagi waktu, penguasa guṇa; penguasa Pradhāna dan Kṣetrajña, penguasa guṇa, sebab keberlangsungan, ikatan saṃsāra, dan pembebasan.” - Śvetāśvatara Upaniṣad 6.16
Ia bergerak kepada:
niṣkalaṃ niṣkriyaṃ śāntaṃniravadyaṃ nirañjanam |amṛtasya paraṃ setuṃdagdhendhanam ivānalam ||“Tanpa bagian, tanpa aktivitas, damai, tanpa cela, tanpa noda; jembatan tertinggi menuju keabadian, seperti api yang telah menghabiskan bahan bakarnya.” - Śvetāśvatara Upaniṣad 6.19
Viśvarūpa → Īśvara → kosmos → saksi → Ātman → Brahman.
Semakin dalam penyelidikan, semakin bentuk ditinggalkan.
Ketika Semua Makhluk Menjadi Ātman
Ada sloka-sloka serupa tentang transendensi absolut dan immanensi Yang Mahatinggi.
Īśā Upaniṣad 6 menyatakan:
yas tu sarvāṇi bhūtānyātmany evānupaśyati |sarvabhūteṣu cātmānaṃtato na vijugupsate ||“Dia yang melihat semua makhluk hanya dalam Ātman, dan Ātman dalam semua makhluk, tidak menjauhkan diri dari apa pun.” - Īśā Upaniṣad 6
yasmin sarvāṇi bhūtānyātmaivābhūd vijānataḥ |tatra ko mohaḥ kaḥ śokaekatvam anupaśyataḥ ||“Bagi orang yang mengetahui dan bagi siapa semua makhluk telah menjadi Ātman semata, kebingungan apa dan kesedihan apa yang tersisa bagi dia yang melihat kesatuan?” - Īśā Upaniṣad 7
bukan sekadar melihat Tuhan yang sangat besar,
melainkan melihat bahwa seluruh perbedaan yang sebelumnya dianggap terpisah berada dalam satu dasar keberadaan.
Viśvarūpa dan Advaita
Dengan demikian, Viśvarūpa bukan sekadar “Kṛṣṇa berubah menjadi tubuh raksasa”.
Pembacaan seperti itu terlalu dangkal.
Viśvarūpa adalah simbol dan pengalaman kosmik mengenai totalitas nāma-rūpa dalam Īśvara.
Arjuna melihat:
yang lahir dan yang mati,
yang bergerak dan tidak bergerak,
yang terang dan gelap,
yang indah dan mengerikan,
penciptaan dan penghancuran,
dewa dan manusia,
masa lalu dan masa depan,
semuanya dalam satu kesatuan kosmik.
Namun Advaita tidak berhenti di sana.
Karena bahkan Viśvarūpa masih merupakan rūpa.
Di balik seluruh rūpa ada arūpa.
Di balik seluruh nama ada yang tak bernama.
Di balik seluruh objek ada saksi.
Di balik seluruh manifestasi ada Brahman.
Dan Brahman tidak dapat ditangkap sebagai objek karena Ia adalah dasar dari subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui.
Maka rantai filosofisnya menjadi:
Viśvarūpa → anekadhā - banyak bentukeka-stham → satu substratum - satu dasarsarvabhūtāntarātmā → satu Ātman dalam semua
jyotiṣāṃ jyotiḥ → cahaya dari segala cahaya
akṣara → yang tak binasa
anirdeśyam → tak dapat didefinisikan
avyaktam → tak termanifestasi
nirguṇa → melampaui guṇa
Brahman → bukan objek penglihatan, melainkan Realitas yang menjadi dasar seluruh pengalaman.
Karena itu, Viśvarūpa bukan akhir dari perjalanan menuju Brahman. Viśvarūpa justru merupakan jembatan yang membawa kesadaran dari keberagaman menuju kesatuan, dari bentuk menuju substratum, dari objek menuju saksi, dan akhirnya dari Īśvara sebagai objek kontemplasi menuju Brahman sebagai hakikat Ātman.
Dan di titik itu, pertanyaan terakhir bukan lagi: “Di mana Tuhan?”
Melainkan: “Siapakah penyaksi yang melihat seluruh Viśvarūpa itu?”
Sebab selama masih ada: “Aku melihat Tuhan,”
masih terdapat dua: aku — dan Tuhan.
Tetapi ketika pengetahuan mencapai puncaknya, pertanyaan itu sendiri runtuh.
Yang tersisa adalah kesadaran — prajñānam brahma.
Om. Rahayu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar