Google+

Ajaran Veda: Kṛṣṇa, Nārāyaṇa dan Parabrahman

 Ajaran Veda: KṛṢṆA, NĀRĀYAṆA DAN PARABRAHMAN

Menjawab Klaim Hare Krishna

Artikel ini merupakan kelanjutan dari rangkaian bedah narasi “AJARAN VEDA” yang telah kami bahas sebelumnya ("Ajaran Veda: Benarkah Vyasa hanya mengenal Sri Krishna sebagai seorang Avatara Visnu dan bukan sebagai Tuhan Yang Maha Esa?"). Narasi tersebut disebarkan melalui akun Facebook Ajaran Veda, yang dalam berbagai unggahannya memuat pandangan dan penafsiran keagamaan yang dikaitkan dengan ajaran Veda dan tradisi Hare Krishna. Dalam salah satu unggahannya, para Prabhu dan Dasa dari komunitas tersebut menyampaikan sebuah narasi berjudul BENARKAH RSI VYASA HANYA MENGENAL SRI KRISHNA SEBAGAI SEORANG AVATARA WISNU DAN BUKAN SEBAGAI TUHAN YANG MAHA ESA?.

Narasi tersebut sebenarnya telah kami bedah secara bertahap pada pembahasan-pembahasan sebelumnya. Namun, agar pembaca yang baru mengikuti kajian ini tidak kehilangan konteks, narasi tersebut akan kami tampilkan dan uraikan kembali. Pengulangan ini bukan sekadar untuk mengulang pembahasan lama, melainkan untuk memperkaya perspektif pembaca dalam melihat bagaimana sebuah klaim keagamaan dibangun, ditafsirkan, dan kemudian dikaitkan dengan ajaran Veda.

Melalui pembahasan ini, kami berusaha menghadirkan kaca mata pembanding bagi pembaca. Setiap klaim akan ditempatkan berhadapan dengan sumber teks yang relevan, konteks ajarannya, serta struktur logika yang digunakan untuk menarik kesimpulan. Dengan demikian, pembaca dapat membedakan antara teks Veda, tafsir Hare Krishna, dan kesimpulan teologis yang lahir dari tafsir tersebut.

Tujuan pembahasan ini bukan untuk menyerang pribadi para Prabhu, Dasa, maupun umat Hare Krishna, melainkan untuk menguji narasi yang mereka sebarkan secara terbuka. Jika sebuah klaim memang memiliki dasar tekstual yang kuat, maka ia layak dipertahankan dengan bukti. Sebaliknya, jika terdapat kekeliruan pemahaman, kekeliruan konteks, atau lompatan logika, maka hal tersebut juga perlu diluruskan secara terbuka. Dengan cara inilah pembaca memperoleh informasi pembanding dan dapat menilai sendiri sejauh mana sebuah narasi benar-benar merepresentasikan ajaran Veda.

Antara Krsna, Narayana dan Parambrahman

Membongkar Lompatan Teologi Gaudiya atas Nama Vyāsa

Narasi Hare Kṛṣṇa tersebut sebenarnya mengandung sebagian kebenaran yang tidak perlu kita bantah. Bhagavad Gītā memang menampilkan Kṛṣṇa dalam kedudukan yang sangat tinggi. Bahkan Arjuna berkata:

paraṃ brahma paraṃ dhāma pavitraṃ paramaṃ bhavān
puruṣaṃ śāśvataṃ divyam ādi-devam ajaṃ vibhum
āhus tvām ṛṣayaḥ sarve devarṣir nāradas tathā
asito devalo vyāsaḥ svayaṃ caiva bravīṣi me
(Bhagavad Gītā 10.12–13)

“Engkau adalah Brahman tertinggi, kediaman tertinggi, kesucian tertinggi; Puruṣa yang kekal, ilahi, dewa asal, tidak lahir dan meliputi segalanya. Semua ṛṣi menyatakan Engkau demikian; demikian pula Nārada, Asita, Devala, Vyāsa, dan Engkau sendiri mengatakannya kepadaku.”

Jadi tidak tepat jika seseorang mengatakan bahwa Bhagavad Gītā sama sekali tidak mengenal Kṛṣṇa sebagai Brahman tertinggi. Teksnya terlalu jelas untuk disangkal. Tetapi justru di sini kita harus berhenti sejenak dan membedakan antara apa yang benar-benar dikatakan teks dengan kesimpulan sektarian yang kemudian ditarik dari teks tersebut.

Perhatikan struktur gramatikalnya. Yang berbicara dalam 10.12–13 adalah Arjuna. Arjuna mengatakan bahwa para ṛṣi—termasuk Vyāsa—telah menyatakan Kṛṣṇa demikian. Jadi secara filologis kita dapat mengatakan bahwa Bhagavad Gītā merepresentasikan Kṛṣṇa sebagai paraṃ brahma dan memasukkan Vyāsa ke dalam daftar otoritas yang disebut Arjuna. Tetapi mengatakan “Vyāsa sendiri secara langsung menyatakan seluruh doktrin Gaudiya melalui Arjuna” adalah klaim yang berbeda dan membutuhkan pembuktian tersendiri. Bahkan bhāṣya Śaṅkara yang ada dalam korpus membaca ayat ini secara serius: Kṛṣṇa disebut paraṃ brahma, “Brahman tertinggi”, dan Arjuna menyebut Vyāsa sebagai salah satu yang mengajarkan demikian.



1. Gītā memang memberi Kṛṣṇa kedudukan tertinggi

Lebih jauh, Kṛṣṇa sendiri berkata:

ahaṃ sarvasya prabhavo mattaḥ sarvaṃ pravartate
iti matvā bhajante māṃ budhā bhāva-samanvitāḥ
(Bhagavad Gītā 10.8)

“Aku adalah asal dari segala sesuatu; dari-Ku segala sesuatu berlangsung. Setelah mengetahui demikian, orang-orang bijak memuja Aku dengan penuh penghayatan.”

Ini adalah pernyataan yang sangat kuat. Tidak perlu dipelintir dan tidak perlu dikecilkan.

Tetapi pertanyaan filosofis berikutnya justru lebih penting:

Apakah “Kṛṣṇa adalah asal segala sesuatu” otomatis berarti “semua teks Veda harus menerima sistem Gaudiya bahwa Nārāyaṇa dan Viṣṇu adalah ekspansi ontologis Kṛṣṇa”?

Tidak otomatis.

Sebab sebuah teks dapat menyatakan kedudukan absolut suatu manifestasi ilahi dalam konteks teologisnya, sementara teks lain menjelaskan realitas absolut menggunakan terminologi berbeda. Untuk menentukan hubungan keseluruhan, kita harus membaca Gītā bersama Mahābhārata, Upaniṣad dan Vedānta, bukan mengambil satu jalur Purāṇik lalu menjadikannya satu-satunya hermeneutika.



2. Justru Mahābhārata memberikan problem langsung

Sekarang kita masuk pada ayat yang paling merepotkan bagi narasi HK.

Mahābhārata 1.61.90 menyatakan:

yas tu nārāyaṇo nāma devadevaḥ sanātanaḥ
tasyāṃśo mānuṣeṣv āsīd vāsudevaḥ pratāpavān

“Dia yang bernama Nārāyaṇa, Tuhan para dewa yang abadi; Vāsudeva yang perkasa adalah aṃśa-Nya yang lahir di antara manusia.”

Ini bukan interpretasi kita.

Ini bukan komentar ISKCON.

Ini adalah teks Mahābhārata yang tersimpan dalam korpus kita.

Dan struktur kalimatnya sangat jelas:

Nārāyaṇa → tasyāṃśa → Vāsudeva.

Artinya, apabila kita menggunakan ayat ini sebagai bukti tekstual, maka relasi yang digambarkan justru:

Nārāyaṇa adalah sumber; Vāsudeva/Kṛṣṇa adalah aṃśa.

Ini bertentangan langsung dengan klaim HK yang ingin menjadikan:

Kṛṣṇa → sumber Nārāyaṇa.

Maka ada persoalan yang tidak boleh disembunyikan:

Teks Mahābhārata dalam korpus kita tidak memberikan satu arah hierarki yang dapat dengan mudah dipaksakan menjadi formula Gaudiya.



3. Bahkan konteks Mahābhārata menghubungkan Kṛṣṇa dengan Nārāyaṇa

Korpus kita juga menyimpan:

naranārāyaṇau devau samājagmatur āhavam

“Dua dewa, Nara dan Nārāyaṇa, datang ke medan pertempuran.”
(Mahābhārata 1.17.18)

Dan:

yadāśrauṣaṃ naranārāyaṇau tau
kṛṣṇārjunau vadato nāradasya...

yang mengidentifikasi Kṛṣṇa dan Arjuna dengan Nara–Nārāyaṇa dalam tradisi Mahābhārata.

Jadi relasi teologis Mahābhārata bukan sesederhana:

“Kṛṣṇa adalah tokoh yang kemudian diketahui sebagai Tuhan.”

Kṛṣṇa sejak awal ditempatkan dalam jaringan konsep Nara–Nārāyaṇa, Hari, Vāsudeva dan Puruṣa.

Karena itu kita harus berhati-hati ketika seseorang datang membawa satu formula:

kṛṣṇas tu bhagavān svayam

lalu mengklaim bahwa seluruh struktur Mahābhārata sejak awal harus dibaca hanya melalui satu doktrin hierarkis.



4. Bhāgavata 1.3.28 memang kuat—tetapi jangan dipalsukan menjadi seluruh Veda

Sekarang kita berikan kepada mereka teks terkuatnya.

Bhāgavata Purāṇa 1.3.28:

ete cāṃśa-kalāḥ puṃsaḥ
kṛṣṇas tu bhagavān svayam

“Semua yang telah disebutkan merupakan aṃśa atau kalā dari Puruṣa; tetapi Kṛṣṇa adalah Bhagavān sendiri.”

Teks ini memang sangat kuat bagi teologi Kṛṣṇa-supremasi.

Maka kita tidak perlu berkata:

“Bhāgavata tidak pernah menyebut Kṛṣṇa Bhagavān.”

Itu salah.

Yang harus kita katakan:

“Bhāgavata memang memberikan formulasi Kṛṣṇa sebagai Bhagavān svayam. Tetapi dari satu formulasi Purāṇik itu tidak otomatis mengikuti bahwa seluruh Śruti dan seluruh Vedānta harus ditafsirkan melalui sistem ontologi Gaudiya.”

Itu perbedaan antara mengakui teks dan mengakui interpretasi sektarian terhadap seluruh korpus.



5. Ada masalah metodologis ketika “Vyāsa” dijadikan stempel semua kesimpulan

Narasi HK berulang kali menggunakan kalimat:

“R̥ṣi Vyāsa mengajarkan…”

Kita harus bertanya:

Apakah semua suara yang muncul dalam teks Mahābhārata otomatis merupakan suara pribadi Vyāsa?

Tidak.

Mahābhārata adalah teks berlapis dengan banyak pembicara:

  • Kṛṣṇa,
  • Arjuna,
  • Bhīṣma,
  • Yudhiṣṭhira,
  • Nārada,
  • Vaiśaṃpāyana,
  • Sañjaya,
  • dan lainnya.

Karena itu:

ucapan tokoh ≠ otomatis pendapat langsung pengarang.

Dalam Gītā, Arjuna berkata:

vyāsaḥ svayaṃ caiva bravīṣi me

“Vyāsa juga telah menyatakan demikian kepadaku.”

Ini adalah bukti bahwa tradisi tekstual Gītā mengaitkan Vyāsa dengan pengakuan terhadap Kṛṣṇa.

Tetapi secara akademik, kalimat tersebut tidak boleh diperluas menjadi:

“Setiap doktrin Gaudiya yang berkembang kemudian adalah pendapat pribadi Vyāsa.”

Itu adalah anachronistic theological attribution.



6. Yang lebih penting: Śruti tidak dimulai dengan nama Kṛṣṇa

Sekarang kita naik satu tingkat.

Upaniṣad dalam korpus kita mengarahkan pencarian realitas tertinggi kepada Sat, Brahman dan Ātman.

Chāndogya Upaniṣad 6.2.1—yang juga dikutip dalam bhāṣya Brahmasūtra Śaṅkara—berbunyi:

sadeva somyedamagra āsīd ekam evādvitīyam

“Pada awalnya, wahai Somya, hanya Sat yang ada—satu, tanpa kedua.”

Perhatikan apa yang tidak dikatakan:

“Pada awalnya Kṛṣṇa ada dan Viṣṇu belum ada.”

Tidak.

Bahasanya adalah:

ekam eva advitīyam — satu tanpa kedua.

Maka ketika membangun metafisika tertinggi, kita harus memperhitungkan Brahman yang advitīya, bukan hanya menyusun hierarki nama-nama personal dari Purāṇa.



7. “Tat tvam asi” membawa pembacaan kepada Ātman

Chāndogya Upaniṣad 6.8.7:

sa ya eṣo 'ṇimaitad ātmyam idaṃ sarvam
tat satyam
sa ātmā
tat tvam asi śvetaketo

“Yang halus itu adalah hakikat seluruh ini; itulah kebenaran; itulah Ātman; tat tvam asi, engkau adalah Itu, Śvetaketu.”

Dan formula yang sama kembali:

sa ātmā
tat tvam asi śvetaketo

dalam 6.9.4.

Di sini pusat metafisikanya bukan sekadar:

“Sembahlah pribadi X sebagai sumber semua pribadi.”

Arah penyelidikannya adalah:

Apa hakikat Ātman? Apa hakikat Sat? Apa hubungan Ātman dengan realitas tunggal itu?

Inilah wilayah yang kemudian menjadi pusat Vedānta.



8. “Brahman” tidak boleh direduksi menjadi nama sektarian

Brahmasūtra Śaṅkara dalam korpus kita menjelaskan:

athāto brahmajijñāsā
(Brahmasūtra 1.1.1)

“Sekarang, oleh karena itu, penyelidikan terhadap Brahman.”

Kemudian ia menjelaskan bahwa Brahman adalah realitas yang hendak diketahui dan bahwa persoalan utama Vedānta adalah menentukan hakikat Brahman berdasarkan śruti dan penalaran yang sesuai.

Ini penting karena perdebatan kita bukan:

Kṛṣṇa vs bukan Kṛṣṇa.

Melainkan:

Apa status metafisik Kṛṣṇa dalam keseluruhan struktur Brahman–Ātman–Īśvara menurut Vedānta?

Advaita menjawabnya berbeda dari Gaudiya.



9. Śaṅkara tidak menyangkal Kṛṣṇa

Ini harus menjadi salah satu pukulan utama kita.

Karena lawan sering membuat karikatur:

“Advaita menolak Kṛṣṇa sebagai Tuhan.”

Korpus kita justru menunjukkan bahwa Śaṅkara memahami Gītā secara sangat serius.

Dalam bhāṣya Gītā, ayat:

paraṃ brahma paraṃ dhāma...

ditafsirkan sebagai Kṛṣṇa sebagai paraṃ brahma.

Jadi posisi Advaita bukan:

“Kṛṣṇa bukan Brahman.”

Melainkan:

“Kṛṣṇa dapat dipahami sebagai paraṃ brahma dalam Gītā, tetapi hakikat Brahman tidak boleh dibatasi oleh konstruksi ontologis sektarian tertentu.”

Ini jauh lebih kuat.



10. Bahkan Mahābhārata memberikan bahasa “Brahman” yang melampaui nama

Dalam korpus terdapat:

tvattaḥ pravartate kālas
tvayi kālaś ca līyate
kālākhyaḥ puruṣākhyaś ca
brahmākhyaś ca tvam eva hi
(Mahābhārata 13.16.17)

“Dari-Mu waktu bergerak, dan kepada-Mu waktu kembali; Engkau adalah yang disebut Kāla, Puruṣa, dan Brahman.”

Ini menunjukkan fleksibilitas besar bahasa teologis Mahābhārata.

Realitas tertinggi dibicarakan melalui:

  • Kāla,
  • Puruṣa,
  • Brahman.

Maka jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa satu istilah personal otomatis menghapus seluruh spektrum istilah metafisik tersebut.



11. Śruti bahkan memiliki formula identitas Rudra–Viṣṇu

Sekarang kita masuk ke Atharvaśiras Upaniṣad.

yo vai rudraḥ sa bhagavān
yaś ca viṣṇus
tasmai vai namonamaḥ
(Atharvaśiras Upaniṣad 3)

“Rudra yang adalah Bhagavān dan yang adalah Viṣṇu—kepada-Nya penghormatan berulang-ulang.”

Bukan hanya Viṣṇu.

Teks yang sama melanjutkan:

yo vai rudraḥ sa bhagavān
yaś ca brahmā
tasmai vai namonamaḥ

“Rudra yang adalah Bhagavān dan yang adalah Brahmā—kepada-Nya penghormatan berulang-ulang.”

Lalu formula yang sama diterapkan kepada:

  • Skanda,
  • Indra,
  • Agni,
  • Vāyu,
  • Sūrya,
  • Soma,

dan seterusnya.

Kita tidak perlu membaliknya menjadi “Rudra lebih tinggi daripada Kṛṣṇa.”

Itu sama salahnya.

Poinnya adalah:

Śruti/Upaniṣad menggunakan bahasa identifikasi ilahi yang tidak cocok direduksi menjadi permainan hierarki sektarian sederhana.

 


12. Jadi apa yang sebenarnya bisa dibuktikan?

Sekarang mari kita pisahkan empat proposisi.

PROPOSISI A

“Kṛṣṇa adalah Bhagavān.”

Didukung kuat.

Bhāgavata 1.3.28: kṛṣṇas tu bhagavān svayam.

Dan Gītā 10.12 menyebut Kṛṣṇa: paraṃ brahma.

PROPOSISI B

“Kṛṣṇa dipandang sebagai realitas tertinggi dalam Bhagavad Gītā.”

Didukung sangat kuat.

ahaṃ sarvasya prabhavo... (BG 10.8)

dan:

paraṃ brahma paraṃ dhāma... (BG 10.12)

PROPOSISI C

“Vyāsa dikaitkan oleh Gītā dengan pengakuan tersebut.”

Didukung.

vyāsaḥ svayaṃ caiva bravīṣi me (BG 10.13)

PROPOSISI D

“Karena itu seluruh Veda mengajarkan bahwa Kṛṣṇa adalah sumber ontologis Nārāyaṇa dan Viṣṇu.”

Ini tidak otomatis terbukti.

Bahkan korpus Mahābhārata kita memiliki:

yas tu nārāyaṇo nāma devadevaḥ sanātanaḥ, tasyāṃśo mānuṣeṣv āsīd vāsudevaḥ pratāpavān (MB 1.61.90)

yang secara tekstual justru menggambarkan Vāsudeva sebagai aṃśa Nārāyaṇa.

 


13. Jadi siapa yang sebenarnya melakukan “pembegalan śāstra”?

Di sinilah kita harus hati-hati.

Jangan menuduh:

HK memalsukan Gītā.

Itu terlalu luas dan tidak akurat.

Yang lebih tepat:

Narasi tersebut mengambil teks-teks yang memang meninggikan Kṛṣṇa, lalu menyatukannya dengan interpretasi teologis Gaudiya dan menyajikannya seolah-olah tidak ada alternatif hermeneutis dalam Vedānta.

Itulah yang perlu dikritik.

Sebab sastra kita sendiri menunjukkan setidaknya tiga lapisan:

  • Gītā: Kṛṣṇa = paraṃ brahma.
  • Mahābhārata tertentu: Nārāyaṇa → aṃśa → Vāsudeva.
  • Upaniṣad: Sat = ekam eva advitīyam; Ātman = tat; Brahman sebagai realitas yang menjadi objek jijñāsā.

Maka hubungan ketiganya tidak boleh dipaksa menjadi satu formula Gaudiya tanpa argumentasi tambahan.



14. Di sinilah Advaita masuk

Advaita tidak perlu menyerang Kṛṣṇa.

Justru kita katakan:

Kṛṣṇa adalah paraṃ brahma sebagaimana dinyatakan Gītā.

Tetapi kemudian kita bertanya:

Apakah Brahman mempunyai batas ontologis berupa satu persona historis tertentu?

Śruti berkata:

ekam evādvitīyam.

“Satu tanpa kedua.”

Dan:

tat tvam asi.

“Engkau adalah Itu.”

Maka dalam pembacaan Advaita, nama dan rupa merupakan cara manifestasi/pendekatan terhadap realitas, sedangkan pengetahuan tertinggi diarahkan kepada realisasi Brahman sebagai hakikat Ātman.

Dengan demikian:

Kṛṣṇa tidak diturunkan dari kedudukan ilahi; justru konsep Kṛṣṇa ditempatkan dalam horizon Brahman yang lebih fundamental.

 


15. Ini membuat counter jauh lebih kuat

Karena jika kita mengatakan:

“Kṛṣṇa bukan Tuhan.”

mereka cukup mengutip:

paraṃ brahma paraṃ dhāma...

dan kita kalah secara tekstual.

Tetapi jika kita mengatakan:

“Ya, Gītā menyebut Kṛṣṇa paraṃ brahma. Sekarang buktikan bahwa itu identik dengan seluruh sistem Gaudiya tentang Svayam Bhagavān sebagai sumber ontologis Nārāyaṇa.”

mereka harus membuktikan lebih banyak.

Kemudian kita keluarkan:

MB 1.61.90 - tasyāṃśo mānuṣeṣv āsīd vāsudevaḥ

Vāsudeva sebagai aṃśa Nārāyaṇa.

Lalu:

ChU 6.2.1 - ekam evādvitīyam (Satu tanpa kedua).

Lalu:

ChU 6.8.7 - tat tvam asi (Engkau adalah Itu).

Lalu:

Atharvaśiras 3 - yo vai rudraḥ sa bhagavān yaś ca viṣṇus (Rudra dan Viṣṇu diidentifikasi dalam formula Bhagavān).

Dan akhirnya:

Śaṅkara menerima Kṛṣṇa sebagai para-brahman dalam Gītā.

Maka serangan mereka terhadap Advaita kehilangan sasaran.



Kesimpulan

Pernyataan:

“R̥ṣi Vyāsa hanya mengenal Kṛṣṇa sebagai avatāra biasa dan tidak mengenalnya sebagai Tuhan”

memang terlalu lemah dan tidak sesuai dengan beberapa teks dalam korpus.

Gītā jelas memberikan Kṛṣṇa status:

paraṃ brahma,
puruṣaṃ śāśvatam,
ādi-devam,
dan Kṛṣṇa sendiri berkata:

ahaṃ sarvasya prabhavaḥ.

Jadi kita tidak perlu mempertahankan tesis bahwa “Vyāsa hanya mengenal Kṛṣṇa sebagai manusia biasa.”

Itu bukan counter yang kuat.

Counter yang lebih akademik adalah:

Yang harus dibantah bukan keilahian Kṛṣṇa, melainkan klaim bahwa pengakuan terhadap Kṛṣṇa sebagai paraṃ brahma otomatis membuktikan seluruh konstruksi ontologi Gaudiya.

Sebab korpus Mahābhārata juga menyimpan:

yas tu nārāyaṇo nāma devadevaḥ sanātanaḥ
tasyāṃśo mānuṣeṣv āsīd vāsudevaḥ pratāpavān
(MB 1.61.90)

yang secara tekstual menampilkan Vāsudeva sebagai aṃśa Nārāyaṇa.

Sementara Upaniṣad menggeser persoalan kepada realitas yang lebih fundamental:

sadeva somyedamagra āsīd ekam evādvitīyam
(ChU 6.2.1)

“Pada awalnya hanya Sat yang ada, satu tanpa kedua.”

dan:

sa ātmā — tat tvam asi śvetaketo
(ChU 6.8.7)

“Itulah Ātman; engkau adalah Itu.”

Maka posisi Advaita yang paling kuat bukan:

“Kṛṣṇa bukan Tuhan.”

melainkan:

“Kṛṣṇa dapat diakui sebagai paraṃ brahma dalam Bhagavad Gītā; tetapi dari sini tidak mengikuti bahwa interpretasi Gaudiya tentang Kṛṣṇa sebagai sumber ontologis Nārāyaṇa dan Viṣṇu adalah satu-satunya pembacaan Veda. Bahkan Mahābhārata dalam korpus ini memuat teks yang menyatakan Vāsudeva sebagai aṃśa Nārāyaṇa, sedangkan Upaniṣad mengarahkan pencarian terakhir kepada Brahman yang advitīya dan Ātman.”

Itulah titik patahnya narasi HK.

Bukan dengan menyangkal Kṛṣṇa.

Tetapi dengan memaksa mereka membuktikan lompatan yang selama ini mereka sembunyikan:

Gītā → Kṛṣṇa = paraṃ brahma → Bhāgavata → kṛṣṇas tu bhagavān svayam → lalu tiba-tiba → seluruh Veda = ontologi Gaudiya.

Mata rantai terakhir itulah yang tidak otomatis diberikan oleh teks.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar