Google+
Tampilkan postingan dengan label Bandesa Mas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandesa Mas. Tampilkan semua postingan

Sekilas tentang Desa Adat Beluangan Perean Kangin, Kecamatan Baturiti Tabanan

Sekilas tentang Desa Adat Beluangan Perean Kangin, Kecamatan Baturiti Tabanan

Kata “BELUANGAN” bagi warga masyarakat Banjar Adat Beluangan belum ada persamaan pengertian mengenai asal mula dari kata tersebut. Asal mula kata ini begitu penting diketahui karena ada kemungkinan memiliki nilai-nilai sejarah dan makna spiritual yang sangat berguna bagi kita generasi penerus Banjar Adat Beluangan.

Karena sampai saat ini tidak ada atau belum ditemukan buku-buku atau lontar-lontar yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan “ BELUANGAN”, disini penulis mencoba berusdaha mengungkap dari sudut pandang lain mengenai asal kata “BELUANGAN”. Mudah-mudahan bisa memberi tambahan wawasan bagi warga semua, untuk nantinya bisa ikut bersama-sama mengungkap kebenaran yang terkandung atau menyertai kata tersebut, sehingga dijadikan nama sebuah banjar oleh nenek moyang kita, dimana di tempat ini kita terlahir dan di tempat ini kita pula akan menutup mata dan menghembuskan napas untuk menghadap kepada kebenaran yang tertinggi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Bandesa Gde Selat Diangkat Menjadi Anglurah di Padanglwih

Bandesa Gde Selat Diangkat Menjadi Anglurah di Padanglwih

Raja Pamecutan Maharaja Sakti akan menyelenggarakan yajna yaitu Karya Agung dengan ulama sucinya (lauk pauk utama) terdiri dari berbagai macam-macam binatang hutan, antara lain harimau, landak, kelesih, kera, rusa dan lain-lainnya. Untuk mendapatkan binatang ini, tentu harus ditugaskan seorang pemburu yang ahli dan betul-betul mempunyai keberanian luar biasa. Maklum, ia tentu harus menjelajah hutan belantara yang belum pernah dijamah orang.

Tatkala Maharaja Cakti sedang memikirkan siapa gerangan yang ditugaskan berburu binatang-binatang yang sangat berbahaya itu, maka beliau teringat pada Gde Selat keturunan I Gusti Pasek Gelgel di Banjar Pegatepan, Desa Gelgel, Klungkung, yang baru seminggu mengabdikan diri kepada Raja Badung. Lalu tugas itupun diemban Gde Selat. Dengan diiringi 20 orang, sesudah memohon izin kepada Maharaja Sakti Pemecutan, Gde Selat lalu berangkat dengan membawa perbekalan cukup untuk sebulan. Mereka terus masuk kedalam hutan yang amat lebat di daerah Jembrana. Hanya dalam tempo 10 hari, Gde Selat beserta rombongan berhasil menangkap binatang-binatang hutan yang akan dijadikan lauk pauk pada karya agung. Lalu mereka kembali ke Badung dan menyerahkan binatang-binatang itu kepada Raja Maharaja Cakti. Dengan demikianlah dapat yajna karya agung tersebut diselenggarakan Raja Maharaja Cakti.

Oleh karena Gde Selat dianggap berjasa, lalu ia diangkat menjadi Anglurah Padanglwih atau Padanglambih bagian barat. Selanjutnya Gde Selat bergelar I Gusti Gde Selat.
Sedang Padanglwih bagian timur sudah diperintahkan oleh I Gusti Agung Lanang Dawan. 

Kemudian I Gusti Gde Selat berputra dua orang laki-laki yaitu:
  • I Gusti Wayahan Bandesa Mas, dan
  • I Gusti Nengah Bandesa Mas.