Google+
Tampilkan postingan dengan label Catur Wangsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catur Wangsa. Tampilkan semua postingan

Sejarah Lahirnya Sistem Kasta

Sejarah Lahirnya Sistem Kasta

Buku pelajaran sejarah untuk kelas XB terbitan Viva Pakarindo, Klaten Jawa Tengah pada halaman 38 menulis sebagai berikut :
Di India, sistem kasta lahir dan berkembang bersamaan dengan munculnya agama Hindu. Ketika agama dan Kebudayaan Hindu mulai berkembang di Indonesia, sistem kasta tidak berlaku mutlak seperti di India. Masyarakat Hindu Indonesia mengenal sistem kasta dalam ajaran agamanya, tetapi tidak menerapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menyesuaikan sistem kasta dengan keadaan masyarakat Indonesia.
Dalam penyusunan materi buku sejarah tersebut, penulis menggunakan sumber literatur yang sesuai dengan kulikulum KTSP 2006 diantaranya dari :

  • Wawasan Sejarah 1 Indonesia dan Dunia Kelas X SMA dan MA, dengan pengarang Shodiq Mustafa, Terbitan Tiga serangkai, Solo, 2007...halaman 96
  • Mandiri (Mengasah Kemampuan Diri) Sejarah SMA/MA Kelas X, pengarang Leo Agung dan Dwi Ari Listiyani, Terbitan Erlangga, Jakarta, 2009..halaman 60


Sampai saat ini masih banyak buku buku yang memuat informasi menyesatkan tentang agama Hindu, disengaja atau tidak, buku tersebut terus dicetak berulang-ulang, referensi yang dipakai juga yang menyesatkan agama Hindu, sehingga saling dukung dan kompak, sementara sumber-sumber resmi dari penulis-penulis Hindu terpelajar tidak pernah dipakai sebagai bahan referensi.

Catur Warna Strata Sosial dalam Agama Hindu

Catur Warna Status Sosial dalam Agama Hindu

Dalam Lontar Wrhaspati Tattwa dijelaskan: 
Paramasiwa kesadarannya mulai tersentuh oleh Maya; ketika itu ia mulai terpengaruh oleh sakti, guna, dan swabhawa yang merupakan hukum kemahakuasaan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Dalam keadaan begini ia diberi gelar Sadasiwa. Ia memiliki kekuatan untuk memenuhi segala kehendaknya yang disimpulkan sebagai bunga teratai (padma) yang merupakan stana-Nya. Dengan sakti, guna, dan swabawa-Nya ia aktif dengan segala ciptaan-ciptaan-Nya, karena itu ia disebut Saguna Brahman. Dalam menciptakan manusia ia tidak membeda-bedakan derajat manusia.
Dalam agama Hindu, istilah Kasta dalam weda tidaklah dikenal, tetapi yang ada adalah Warna (Sanskerta: वर्ण; varṇa). Akar kata Warna berasal dari bahasa Sanskerta vrn yang berarti "memilih (sebuah kelompok)".


Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang, serta kwalitas kerja yang dimiliki sebagai akibat pendidikan, pengembangan bakat yang tumbuh dari dalam dirinya dan ditopang oleh ketangguhan mentalnya dalam menghadapi suatu pekerjaan. Empat golongan yang kemudian terkenal dengan istilah Catur Warna itu ialah: Brahmana, Ksatrya, Wesya, dan Sudra.
Caturwarnyam maya srishtam Guna karma wibhagasah, Tasya kartaram api mam Vidhdhy akartaram avyayam (Bhagavad-Gita IV.13)
Artinya :
Catur Warna adalah ciptaan-Ku menurut pembagian kwalitas kerja, Meskipun aku sebagai penciptanya, ketahuilah aku mengatasi gerak dan perubahan
Dalam ajaran agama Hindu, status seseorang didapat sesuai dengan pekerjaannya. Dalam konsep tersebut diuraikan bahwa meskipun seseorang lahir dalam keluarga Sudra ataupun Waisya, apabila ia menekuni bidang kerohanian sehingga menjadi pendeta, maka ia berhak menyandang status Brahmana (rohaniwan). Jadi, status seseorang tidak didapat semenjak dia lahir melainkan didapat setelah ia menekuni suatu profesi atau ahli dalam suatu bidang tertentu.