Google+
Tampilkan postingan dengan label Catur Warna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catur Warna. Tampilkan semua postingan

Kapan seseorang layak disebut Brahmana, Ksatria, Weisya dan Sudra?

Kapan seseorang layak disebut Brahmana, Ksatria, Weisya dan Sudra?

bicara tentang kelayakan sebutan untuk seseorang, kita harus memahami dulu apa profesi dari orang tersebut. karena dalam ajaran hindu, orang yang bisa disebut Brahmana, Ksatria, Weisya ataupun Sudra itu berkaitan dengan Catur Warna, yang merupakan pembagian tugas daam kehidupannya. lebih tepatnya catur warna merupakan empat profesi manusia. 

Menurut ajaran hindu (weda) dalam membangun sebuah daerah atau bahkan sebuah negara harus ada pembagian tugas jelas dan tegas antara penyebar pengetahuan atau tempat semua orang belajar, siapa yang memimpin  negara ini serta pendukung kebijakannya, siapa yang menggerakkan roda perekonomian serta pendukung negara ini dan siapa yang diberikan perindungan serta diberikan manfaat atas semuanya. karena itu dalam negara ada 4 profesi besar diantaranya: profesi pendidik, profesi penyelenggara negara, profesi ekonom dan pemberi apangan kerja serta profesi karyawan atau tenaga kerja.


sebenarnya apa itu profesi?

Profesi adalah kata serapan dari sebuah kata dalam bahasa Inggris "Profess", yang dalam bahasa Yunani adalah "Επαγγελια", yang bermakna: "Janji untuk memenuhi kewajiban melakukan suatu tugas khusus secara tetap/permanen".

Weisya Warna - Pengusaha Investor pelaku ekonomi bisnis

Weisya Warna - Pengusaha Investor pelaku ekonomi bisnis

bila bertemu orang yang baru di kenal, ada satu pertanyaan yang sering kita jumpai, yaitu:
sugra, antuk linggih'e jro napi? yang artinya; permisi, profesi anda saat ini apa?
menanyakan "linggih" dalam bahasa bali ada beberapa pemahaman:

  • pertama adalah profesi
  • kedua adaah kendaraan
  • ketiga adalah tempat duduk
  • tapi bagi orang gila hormat maka linggih diartikan sebagai kasta/wangsa.

bila orang terpelajar, bila ditanya "antuk linggih" maka dia akan menjawab "profesinya" tetapi anak bali belog akan menjawab dengan "kasta atau wangsanya". 
kenapa jawaban kasta/wangsa disebut "anak belog?
karena mereka itu mengaku orang bali (hindu) tetapi tidak mengetahui ajaran hindu. 

mungkinkah orang yang tidak belajar kita sebut "wikan (pintar)..??"

Sudra Warna - Profesi karyawan hingga direktur perusahaan

Sudra Warna - Profesi karyawan hingga Direktur Perusahaan

dalam keseharian kita dibali, sering kali kita mendengar istilah kaum sudra, bahkan adakalanya seseorang menghina dengan perkataan kasar seperti:
"nyen ci? awak jlema sudra" yang artinya siapa kamu? kamu itu hanya seorang sudra (nista)
berangkat dari perasaan "jengah" kami berusaha mencari-cari padanan kata untuk kaum sudra. dan ternyata setelah dirujukan dengan sistem catur warna, ternyata orang sudra menghina sudra. sungguh aneh... karena itu,  melalui artikel ini mencoba memberi pemahaman kepada semeton bali tentang istilah sudra tersebut. sehingga pertanyaan umum yang harus dicermati bersama adalah:
siapa sebenarnya Orang Sudra tersebut?
Sudra (Sanskerta: śūdra) adalah sebuah golongan profesi (golongan karya) atau warna dalam agama Hindu. Warna ini merupakan warna yang paling rendah. Warna lainnya adalah brahmana, ksatria, dan waisya. dalam Catur Warna, Sudra adalah golongan karya seseorang yang bila hendak melaksanakan profesinya sepenuhnya mengandalkan kekuatan jasmaniah, ketaatan, kepolosan, keluguan, serta bakat ketekunannya.

Tugas utamanya adalah berkaitan langsung dengan tugas-tugas memakmurkan masyarakat negara dan umat manusia atas petunjuk-petunjuk golongan karya di atasnya, seperti menjadi buruh, tukang, pekerja kasar, petani, pelayan, nelayan, penjaga, dll.

tidak hanya itu saja, yang termasuk kaum sudra dijaman modern saat ini adalah semua staf perkantoran, para pegawai, karyawan, bahkan supervisor hingga direktur merupakan golongan dari sudra warna.

Orang Bali WAJIB ketahui hal ini

Orang Bali WAJIB ketahui hal ini

semeton Bali
mungkin para pembaca blog saya ini agak aneh kalau membaca judul dari artikel saya ini.
memang, saya belum ketahui banyak hal tentang budaya bali, tetapi saya hanya ingin berbagi beberapa hal yang saya ketahui dan saya rasa semeton bali wajib memperhatikannya juga. adapun beberapa hal tersebut adalah mengenai:
  • Siapa diri kita?
  • rumah dan lingkungan kita
  • bersosialisasi serta kepercayaan/keyakinan
sebagai orang bali yang beradab, wajib untuk menjalankan ajaran Tri Hita Karana dan Panca Yadnya, dimana kita harus mengerti dan paham bagaimana cara berhubungan dengan sesama, menjaga lingkungan serta berhungungan langsung dengan tuhan melalui manifestasinya. dengan menjalankan tiga hal tersebut, sangat diyakini bahwasanya orang bali akan dapat menemukan tujuan agama bali yaitu "mencapai kebahagiaan secara duniawi yang nantinya sebagai landasan menuju moksa".
berikut ini penjelasan tentang beberapa hal penting tersebut:

Ksatria Warna - Profesi sebagai pelindung Rakyat abdi masyarakat

Ksatria Warna - Profesi sebagai pelindung Rakyat abdi masyarakat

setelah sebelumnya saya sudah memberi sekilas tentang "Brahmana Warna", sekarang saya akan coba berbagi tentang "Ksatrya Warna" yang juga merupakan bagian dari Catur Warna.

Warna Ksatrya: Disimbulkan dengan warna merah adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdian dalam swadharmanya di bidang kepemimpinan, keperwiraan dan pertahanan keamanan negara. merupakan tokoh masyarakat bertugas sebagai penegak keamanan, penegak keadilan, pemimpin masyarakat, pembela kaum tertindas atau lemah karena ketidakadilan dan ketidakbenaran. Tugas utama seorang ksatria adalah menegakkan kebenaran, bertanggung jawab, lugas, cekatan, perilaku pelopor, memperhatikan keselamatan dan keamanan, adil, dan selalu siap berkorban untuk tegaknya kebenaran dan keadilan. ksatria merujuk pada profesi seorang yang mengabdi pada penegakan hukum, kebenaran dan keadilan prajurit, bisa pula berarti perwira yang gagah berani atau pemberani. Kelompok ini termasuk pemimpin negara, pimpinan lembaga atau tokoh masyarakat karena tugasnya untuk menjamin terciptanya kebenaran, kebaikan, keadilan, dan keamanan di masyarakat, bangsa, dan negara.

Melindungi (Ksatria); Keluarga merupakan wadah untuk melanjutkan kehidupan manusia dari generasi yang satu ke generasi lainnya, mengasuh, merawat dan melindungi agar menjadi manusia yang berkualitas. Fungsi keluarga dalam melindungi anggotanya di antaranya adalah untuk :

  • memenuhi kebutuhan rasa aman anggota keluarga baik dari rasa tidak aman yang timbul dari dalam maupun dari luar keluarga
  • membina keamanan keluarga baik fisik maupun psikis dari berbagai bentuk ancaman dan tantangan yang datang dari luar
  • membina dan menjadikan stabilitas dan keamanan keluarga sebagai modal menuju keluarga sejahtera
 

Ksatrya harus Berani Berperang


Perang membela kebenaran diwajibkan dalam kitab-kitab Weda. Sloka-sloka atau mantra-mantra Perang didalam kitab-kitab weda bukan dimaksudkan untuk menyebarkan agama atau meniadakan keyakinan agama lain atau memerangi agama lain, tetapi perang dalam pengertian Hindu adalah perang membela Dharma (kebenaran) dari penindasan kaum Adharma (=pengikut Raksasa = setan ?)
Ciri-ciri pengikut raksasa=Setan ? diantaranya
  1. Suka merusak tempat-tempat tempat suci pemujaan Hyang Widdhi
  2. Menindas pengikut-pengikut Para Dewa dan pemuja Hyang Widdhi
  3. Musuh-nya para Dewa
  4. Menyebarkan teror kepada para dewa dan pengikut-pengikutnya
  5. Melarang umat manusia menyembah Hyang Widdhi/Tuhan YME

Yang dapat dikategorikan penindasan terhadap Dharma diantaranya :
  1. Dipaksa untuk meninggalkan kitab Weda (agama Hindu)
  2.  Perusakan terhadap tempat Ibadah Agama Hindu dan kitab suci agama Hindu
  3. Tidak diijinkan menjalankan ibadah agama Hindu
  4.  Perampasan/penjarahan harta-benda secara beramai-ramai dengan alasan agama/keyakinan berbeda.
Apabila penindasan Dharma oleh kaum Adharma merajarela, maka umat Hindu wajib mempertahankan dan membela diri. Karena mereka yang meninggal dalam perang membela Dharma/kebenaran akan langsung masuk sorga, tanpa perlu lagi di-aben. Swargadwaram apawritam, pintu sorga terbuka lebar baginya, demikian sabda Sri Krisna dalam Bagawad Gita.
Bahwa semua yang hidup, kematian itu pasti. Semua manusia suatu saat pasti akan meninggal. Ada beberapa cara manusia meninggal diantaranya :
  1. Usia tua
  2. Penyakit
  3. Kecelakaan
  4.  Bunuh diri
  5. Dibunuh
  6. Perkelahian
  7. Peperangan
Mati yang dijamin oleh Hyang Widdhi langsung masuk sorga, adalah mati dalam perang membela Dharma/kebenaran atau mati dalam membela Negara, termasuk membela keyakinan agama.

Sedangkan kematian karena sebab diluar Peperangan, cara mencapai Sorga-nya ditentukan oleh : Karma dan Bhakti-nya kepada Hyang Widdhi selama Hidup di dunia. Oleh karena itu pada saat terjadi perang, janganlah sia-siakan kesempatan masuk sorga yaitu dengan cara berperang membela Dharma dan tidak lari dari perang. Tetapi tidak dibenarkan juga mencari-cari alasan untuk berperang.

Sebab-sebab terjadinya Perang
  1. Segala upaya perdamaian mencapai jalan buntu atau kegagalan
  2. Diusir secara paksa dari tanah kelahiran atau negara kelahiran
  3. Dipaksa meninggalkan keyakinan agama
  4. Penjarahan Harta benda dan properti beramai-ramai atas nama keyakinan agama lain atau oleh negara lain.
  5. Dan sebab lain yang tidak bisa dicapai dengan perdamaian
Syarat-syarat Perang Suci:
  1. Diumumkan oleh pemimpin tertinggi agamanya dan pempimpin negaranya.
  2. Dibunyikannya genderang perang sebagai permakluman/pengumuman seperti misalnya : Kulkulbulus/lonceng perang /terompet perang
  3. Bersembahyang sebelum perang suci
  4. Memakai pakaian suci
  5. Dalam keadaan darurat, misalnya tanpa pemberitahuan kita diserang, secara beramai-ramai dan penyerang merusak tempat suci agama Hindu (Pura/Kuil), maka syarat diatas tidak berlaku, dan langsung masuk kategori perang suci. Karena merusak tempat ibadah (tempat suci) hanya dilakukan oleh musuhnya para Dewa yaitu : para Raksasa (=Setan ? ) dan Pengikutnya. Sehingga mempertahankan tempat suci merupakan kewajiban suci.

Kewajiban Perang bagi Ksatriya

Bagi para Ksatrya, sangat beruntung diberi kesempatan berperang membela kebenaran atau keyakinan karena tanpa menunggu begitu lama dan biaya besar, pintu sorga telah dibuka lebar-lebar baginya.
Mereka yang disebut ksatiya adalah mereka yang memperlihatkan ciri-ciri Ksatrya seperti disebutkan dalam BG.XVIII. 43 yaitu : 
  • Sauryam = heroisme/ pemberani. 
  • Tejo = lincah. 
  • Dhritir = teguh . 
  • Daksyam = pandai menyelesaikan tugas, 
  • Yuddhe = siap bertempur. 
  • Apalayamam = tidak pengecut. 
  • Dana = dermawan. 
  • Iswarabhawa = bersifat memimpin/ berwibawa.

Sloka yang memerintahkan kewajiban Berperang membela Dharma

Ma bher ma samvikthah, urjam dhatsva
Artinya
Wahai umat manusia, janganlah takut ataupun gentar, beranilah (yayurveda VI.35)

Dehi nityam awadhyo ‘yam, Dehe sarwasy bharat, Tasmat sarwani bhutani, Na twam socitum arhasi ( BG. II.30)
Artinya :
Penghuni badan tiap orang tidak dapat dibunuh, karenanya jangan bersedih atas kematian mahluk apapun.

Swadarmam api ca’weksya, na wikampitum arhasi, dharmyad dhi yudhhac chreyo’nyat, ksatriyasya na widyate (BG. II.31)
Artinya :
Lagipula berperang membela Dharma (kebenaran) dengan menyadari akan kewajiban masing-masing, engkau tidak boleh gentar, bagi ksatriya tidak ada kebahagiaan lebih besar dari pada berperang membela dharma (kebenaran).

Yadricchaya ca papannam, swargadwaram apawritam, sukhinah ksatriyah partha, labhante yuddham idrisam. ( BG.II.32)
Artinya :
Berbahagialah para ksatriya yang sejati, dapat kesempatan untuk berperang, dalam hal seperti ini, bagi mereka pintu sorga telah terbuka lebar

Atha cet twam imam dharmyam, samgramam na karisyasi, tatah swadharmam kirtim ca, hitwa papam awapyasi (BG.II.33)
Artinya :
Akhirnya bila engkau tidak berperang (membela dharma), sebagaimana kewajiban, dengan meninggalkan (lari dari) kewajiban dan kehormatanmu, maka penderitaan yang akan kau peroleh

Bhayad ranad uparatam, mamsyante twam maharathan, yesam ca twam bahumato, bhutwa yasyasi laghawam. ( BG. II.35)
Artinya
Para Maharatha akan menganggap engkau pengecut, karena lari dari perang, dan mereka yang pernah mengagumimu dengan penuh kehormatan akan merendahkan engkau dengan hinaan.

Awacyawadamsca bahun, wadisyanti tawa’ haitah, nindantas tawa samarthyam, tato dukhataram nu kim (BG. II.36)
Artinya
Mereka yang menentangnu akan melontarkan caci maki, merendahkan kemampuanmu, dengan menjelekkan dan menghina kekuatanmu, adakah yang lebih sedih dari itu

Hato wa prapsyasi swargam, jitwa wa bhoksyase mahim, tasmad uttisma kaunteya, yuddhaya kritaniscayah (BG.II.37)
Artinya :
Dengan kematian itu (dalam perang) engkau memperoleh sorga, atau kalau menang engkau akan menikmati kebahagiaan dunia, oleh karena itu bangkitlah bulatkan tekad untuk bertempur.

Mayi sarwani karmani, samnyasya’ dhyatmacetasa,nirasir nirmamo bhutwa, yudhyaswa wigatajwarah (BG.III.30)
Artinya
Tunjukkan semua kerjamu kapada-Ku, Pusatkan pikiranmu kepada-Ku, bebaskan dari segala nafsu keinginan, berperanglah, enyahkan rasa gentarmu

Ati dhavata atisara, indrasya vacasa hata, avim vrka iva mathnita, sa vo jivan ma moci ( yayurveda V.8.4)
artinya
Ya para pelopor, burulah para lawan, Bantailah musuh-musuh sesuai perintah Hyang Indra. Remukkan para lawan, seperti serigala membantai biri-biri. Tanpa mengecualikan satupun yang hidup.

Tidak ada alasan bagi umat Hindu terutama kaum KSATRIA untuk tidak mau berperang dan lari dari tanggung jawab membela Dharma ataupun PENGECUT pura-pura tidak mengetahui kewajibannya.

 untuk refrensi baca juga artikel berikut ini:
demikian sekilas tentang Ksatria Warna - Profesi sebagai pelindung Rakyat abdi masyarakat, semoga bermanfaat.

Catur Warna Strata Sosial dalam Agama Hindu

Catur Warna Status Sosial dalam Agama Hindu

Dalam Lontar Wrhaspati Tattwa dijelaskan: 
Paramasiwa kesadarannya mulai tersentuh oleh Maya; ketika itu ia mulai terpengaruh oleh sakti, guna, dan swabhawa yang merupakan hukum kemahakuasaan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Dalam keadaan begini ia diberi gelar Sadasiwa. Ia memiliki kekuatan untuk memenuhi segala kehendaknya yang disimpulkan sebagai bunga teratai (padma) yang merupakan stana-Nya. Dengan sakti, guna, dan swabawa-Nya ia aktif dengan segala ciptaan-ciptaan-Nya, karena itu ia disebut Saguna Brahman. Dalam menciptakan manusia ia tidak membeda-bedakan derajat manusia.
Dalam agama Hindu, istilah Kasta dalam weda tidaklah dikenal, tetapi yang ada adalah Warna (Sanskerta: वर्ण; varṇa). Akar kata Warna berasal dari bahasa Sanskerta vrn yang berarti "memilih (sebuah kelompok)".


Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang, serta kwalitas kerja yang dimiliki sebagai akibat pendidikan, pengembangan bakat yang tumbuh dari dalam dirinya dan ditopang oleh ketangguhan mentalnya dalam menghadapi suatu pekerjaan. Empat golongan yang kemudian terkenal dengan istilah Catur Warna itu ialah: Brahmana, Ksatrya, Wesya, dan Sudra.
Caturwarnyam maya srishtam Guna karma wibhagasah, Tasya kartaram api mam Vidhdhy akartaram avyayam (Bhagavad-Gita IV.13)
Artinya :
Catur Warna adalah ciptaan-Ku menurut pembagian kwalitas kerja, Meskipun aku sebagai penciptanya, ketahuilah aku mengatasi gerak dan perubahan
Dalam ajaran agama Hindu, status seseorang didapat sesuai dengan pekerjaannya. Dalam konsep tersebut diuraikan bahwa meskipun seseorang lahir dalam keluarga Sudra ataupun Waisya, apabila ia menekuni bidang kerohanian sehingga menjadi pendeta, maka ia berhak menyandang status Brahmana (rohaniwan). Jadi, status seseorang tidak didapat semenjak dia lahir melainkan didapat setelah ia menekuni suatu profesi atau ahli dalam suatu bidang tertentu.

Korelasi Catur Warna dengan Catur Marga Yoga

Korelasi Catur Warna dengan Catur Marga Yoga

seperti telah diketahui bahwa warna (profesi) dalam hidup ini ada empat yang utama. itu Artinya warna menjadi bagian tersendiri yang tiada dipisahkan pada kehidupan yang sosial. Dikatakan pula pada Manawa Dharmasastra Bab II pasal 18, dikatakan bahwa:
tasmidece ya acarah parampyakramagatah,warnamam santralanam sa sadacara ucyate.
Artinya:
Adat istiadat yang diturunkan dalam urutan yang wajar dari sejak dulu kala diantara empat golongan utama masyarakat serta suku-suku campruran yang ada,dinamai “Adat istiadat orang-orang Bijaksana”
Jadi dengan demikan berarti bahwa tidak ada suatu ketidakbijaksaan bagi para leluhur yang menciptakan adat istiadat tersebut sebaai sesuatu yang memiliki kharisma tersendiri.

Namun batasan terpenting dari empat golongan itu,sangatlah universal adanya, maka tercantum di sarasamuscaya bahwa itu melibatkan tanggung jawab yang sangat besar dan beban itu selayaknya disetujui diri sebagai kebenaran. Kitab Sarasamuscaya 61 menyatakan bahwa: