Google+
Tampilkan postingan dengan label wangsa dan kasta dibali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wangsa dan kasta dibali. Tampilkan semua postingan

Kapan seseorang layak disebut Brahmana, Ksatria, Weisya dan Sudra?

Kapan seseorang layak disebut Brahmana, Ksatria, Weisya dan Sudra?

bicara tentang kelayakan sebutan untuk seseorang, kita harus memahami dulu apa profesi dari orang tersebut. karena dalam ajaran hindu, orang yang bisa disebut Brahmana, Ksatria, Weisya ataupun Sudra itu berkaitan dengan Catur Warna, yang merupakan pembagian tugas daam kehidupannya. lebih tepatnya catur warna merupakan empat profesi manusia. 

Menurut ajaran hindu (weda) dalam membangun sebuah daerah atau bahkan sebuah negara harus ada pembagian tugas jelas dan tegas antara penyebar pengetahuan atau tempat semua orang belajar, siapa yang memimpin  negara ini serta pendukung kebijakannya, siapa yang menggerakkan roda perekonomian serta pendukung negara ini dan siapa yang diberikan perindungan serta diberikan manfaat atas semuanya. karena itu dalam negara ada 4 profesi besar diantaranya: profesi pendidik, profesi penyelenggara negara, profesi ekonom dan pemberi apangan kerja serta profesi karyawan atau tenaga kerja.


sebenarnya apa itu profesi?

Profesi adalah kata serapan dari sebuah kata dalam bahasa Inggris "Profess", yang dalam bahasa Yunani adalah "Επαγγελια", yang bermakna: "Janji untuk memenuhi kewajiban melakukan suatu tugas khusus secara tetap/permanen".

Gelar Tri Wangsa adalah Keputusan Kolonial Raad Van Kerta

Gelar Tri Wangsa adalah Keputusan Kolonial Raad Kertha

Adapun catatan ini penulis anggap hanya sebagai penambah wawasan belaka. Semata-mata karena ketertarikan akan budaya leluhur beserta dengan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Tri Wangsa menurut seorang ahli hukum (adat) Bali lampau Mr. Gde Panetje adalah terdiri dari Wangsa Brahmana, Ksatriya, dan Wesya. Sejatinya, Tri Wangsa ini adalah ciptaan Belanda untuk kepentingan politik Pemerintah kolonial Belanda supaya mudah melakukan social control di Bali. Untuk itu, melalui sebuah konferensi yang berlangsung 15-17 September 1910, Belanda merekonstruksi sistem kasta baru dengan golongan triwangsa di atas sudra.

Sejarah Lahirnya Sistem Kasta

Sejarah Lahirnya Sistem Kasta

Buku pelajaran sejarah untuk kelas XB terbitan Viva Pakarindo, Klaten Jawa Tengah pada halaman 38 menulis sebagai berikut :
Di India, sistem kasta lahir dan berkembang bersamaan dengan munculnya agama Hindu. Ketika agama dan Kebudayaan Hindu mulai berkembang di Indonesia, sistem kasta tidak berlaku mutlak seperti di India. Masyarakat Hindu Indonesia mengenal sistem kasta dalam ajaran agamanya, tetapi tidak menerapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menyesuaikan sistem kasta dengan keadaan masyarakat Indonesia.
Dalam penyusunan materi buku sejarah tersebut, penulis menggunakan sumber literatur yang sesuai dengan kulikulum KTSP 2006 diantaranya dari :

  • Wawasan Sejarah 1 Indonesia dan Dunia Kelas X SMA dan MA, dengan pengarang Shodiq Mustafa, Terbitan Tiga serangkai, Solo, 2007...halaman 96
  • Mandiri (Mengasah Kemampuan Diri) Sejarah SMA/MA Kelas X, pengarang Leo Agung dan Dwi Ari Listiyani, Terbitan Erlangga, Jakarta, 2009..halaman 60


Sampai saat ini masih banyak buku buku yang memuat informasi menyesatkan tentang agama Hindu, disengaja atau tidak, buku tersebut terus dicetak berulang-ulang, referensi yang dipakai juga yang menyesatkan agama Hindu, sehingga saling dukung dan kompak, sementara sumber-sumber resmi dari penulis-penulis Hindu terpelajar tidak pernah dipakai sebagai bahan referensi.

Catur Warna Strata Sosial dalam Agama Hindu

Catur Warna Status Sosial dalam Agama Hindu

Dalam Lontar Wrhaspati Tattwa dijelaskan: 
Paramasiwa kesadarannya mulai tersentuh oleh Maya; ketika itu ia mulai terpengaruh oleh sakti, guna, dan swabhawa yang merupakan hukum kemahakuasaan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Dalam keadaan begini ia diberi gelar Sadasiwa. Ia memiliki kekuatan untuk memenuhi segala kehendaknya yang disimpulkan sebagai bunga teratai (padma) yang merupakan stana-Nya. Dengan sakti, guna, dan swabawa-Nya ia aktif dengan segala ciptaan-ciptaan-Nya, karena itu ia disebut Saguna Brahman. Dalam menciptakan manusia ia tidak membeda-bedakan derajat manusia.
Dalam agama Hindu, istilah Kasta dalam weda tidaklah dikenal, tetapi yang ada adalah Warna (Sanskerta: वर्ण; varṇa). Akar kata Warna berasal dari bahasa Sanskerta vrn yang berarti "memilih (sebuah kelompok)".


Catur Warna berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang, serta kwalitas kerja yang dimiliki sebagai akibat pendidikan, pengembangan bakat yang tumbuh dari dalam dirinya dan ditopang oleh ketangguhan mentalnya dalam menghadapi suatu pekerjaan. Empat golongan yang kemudian terkenal dengan istilah Catur Warna itu ialah: Brahmana, Ksatrya, Wesya, dan Sudra.
Caturwarnyam maya srishtam Guna karma wibhagasah, Tasya kartaram api mam Vidhdhy akartaram avyayam (Bhagavad-Gita IV.13)
Artinya :
Catur Warna adalah ciptaan-Ku menurut pembagian kwalitas kerja, Meskipun aku sebagai penciptanya, ketahuilah aku mengatasi gerak dan perubahan
Dalam ajaran agama Hindu, status seseorang didapat sesuai dengan pekerjaannya. Dalam konsep tersebut diuraikan bahwa meskipun seseorang lahir dalam keluarga Sudra ataupun Waisya, apabila ia menekuni bidang kerohanian sehingga menjadi pendeta, maka ia berhak menyandang status Brahmana (rohaniwan). Jadi, status seseorang tidak didapat semenjak dia lahir melainkan didapat setelah ia menekuni suatu profesi atau ahli dalam suatu bidang tertentu.

Arya pre Gusti menjadi Warna Sudra Jaba

Arya pre-Gusti menjadi Wesya wangsa Sudra Jaba

mungkin ada yang sudah membaca babad Dalem Tarukan, dimana secara umum beliau berpesan agar sentananya tidak menggunakan nama wangsanya "pre gusti" tapi hendaknya menggunakan soroh jaba, karena itulah warnanya yang dijalankan sesungguhnya.

Hal serupa pun terjadi pada keluarga lainnya, dimana leluhurnya pre Gusti keturunannya tidak Gusti, perubahan status seperti itu telah terjadi sudah sejak lama. Sebagai contoh penulis kutip beberapa isi lontar :

Lontar Gusti Brangsinga, halaman 26 muka (26.a)

alih aksaranya: 
“ih kita sewangsaku kinabehan, ngku Hyangkasuhun kidul hana ta wakyanku ri kita mangke kita sinanggeh Arya, apan pangendanin titahku ri wekasan kita mangdadia sudra janma hana pamitangkwa ri kita aja kita lali ring kedaden apan ika ngaraning Aji, yan tan samangkana tan manggih ayu sira ri pretisentana inanggehaken kewangsan, hana juga tan inanggehaken kewangsan aja lupa kita wit sawiji samangkana samapta pawekasku”
Artinya:
hai engkau anak-anakku sekalian, aku adalah Sang Hyang Kasuhun Kidul ada pesanku terhadap dirimu sekarang engkau disebut para Arya (Gusti), karena aku akan mengubah sesuai dengan keinginanku maka keturunanmu kelak tidak akan lagi memakai gelar Arya (Gusti), engkau akan menjadi sudra (Sudra artinya tidak masih menjalankan fungsi sesuai dengan tugas orang tua atau leluhur, “Sudra bukan berarti rendah”), namun ada permintaanku kepada kamu sekalian janganlah lupa tentang asal-usulmu karena hal itu disebut Aji (Aji artinya Bapak, Aji berarti leluhur), jika kamu tidak ingat akan Kawitan sudah pasti tidak menemui kebahagiaan termasuk keturunanmu, namun ada juga keluargamu tidak akan memakai gelar itu (Gusti) namun janganlah engkau lupa asal-usulmu adalah satu, demikian sabdaku kepadamu.

Lontar Usana Jagat Bangsul, halaman 23 muka (23.a)

alih aksaranya
“…….sira sinamuakendenira Sang Prabu maring Sira para Arya sadaya wenang Sira Sang Arya angunggahaken wong sor dening Sira witing Ksatria kula, marianganggehakna aja ngaku Arya nging elingakna kaluhuranta wit sangkyeng para Arya……………..”
Artinya:
……tersebutlah Sang prabu memberikan wejangan kepada seluruh Arya, boleh kamu nanti tidak masih menggunakan wangsa ke Aryan, dan boleh menggunakan sebutan di bawahnya itu (wong sor) sekarang dari seluruhnya kamu ini janganlah masih menyebut diri Gusti namun ingatlah orang tuamu turunan para Arya...

Lontar Purana Bali, halaman 45,

alih aksaranya:
“……..saduk isaka 1817 Sira Pamangku Pura Purusada turunanira Ki Gusti Celuk tan masih inanggehaken Gusti mangkana sodanku Cokorde Mangwi apa matangia mangkana apan sira trehan Celuk mandadia sendianing Pura Purusada, nyadpada linggan Ida, twi mangkana uttama sira apan kita wolih angaturi pangayubhagia jastasmat sidimandi………….”
Artinya :
…….pada tahun isaka 1817 atau 1895 masehi keluarga besar Pamangku Pura Purusada yang merupakan keturunan Ki Gusti Celuk tidak masih menggunakan istilah Gusti demikian perintah Cokorda Mangwi, apakah sebabnya demikian karena trehan Ki Gusti Celuk menjadi sendianing Pura Purusada (orang yang dipercaya sebagai sumbu Bhatara terhadap linggih Bhatara di Pura Purusada), walapun demikian engkau tetap tergolong orang uttama karena engkau aku beri tugas menghaturkan upacara di Pura itu demikian titahku
jadi patutkah kita menghina soroh JABA, karena mereka sejatinya adalah saudara kita juga, tetapi karena keputusannya menekuti WARNA sudra dan wesya wangsa? ingatlah kawaitan/leluhur, maka kita ingat dengan tali persaudaraan kita. om tat sat - tat twam asi.