Google+
Tampilkan postingan dengan label Kebebasan Dalam Ajaran Hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebebasan Dalam Ajaran Hindu. Tampilkan semua postingan

Benarkah Ka'bah bekas kuil hindu?

Benarkah Ka'bah bekas kuil hindu?

Islam sebagai Penganut Paham Bakti Marga yang dikenal akan fanatisme dan pemusatan arah pemujaan (kiblat), sudah tentu Judul artikel  Benarkah Ka'bah adalah bekas kuil hindu ini akan menjadi momok yang sangat sensitif. kenapa? karena memang begitulah ciri umat yang berjalan dengan paham Bhakti Yoga, dan Mungkin hal ini terdengar terlalu kontroversial dan kadang kala dikaitkan dengan hoax oleh sebagian orang yang merasa kedudukannya/harga dirinya terancam. Namun, penyajian artikel ini tidak bertujuan untuk merendahkan kredibelitas saudara-saudara muslim, melainkah hanya untuk membuka wawasan akan apa yang sebenarnya terjadi.

Kontroversi seputar ka’bah sudah menjadi perbincangan yang sangat hot di dunia maya. Hal ini pertama kali diungkapkan oleh seorang pakar sejarah P.N. Oak. Beliau juga telah melempar isu yang tidak kalah menggegerkannya, yaitu tentang pengungkapan bukti sejarah yang menyatakan bahwa Taj’mahal pada dasarnya adalah sebuah kuil Hindu untuk dewa Siva (Tejo Himalaya) yang direbut oleh Mogul.

Falsafah Hindu: Delapan Mutiara Weda

Falsafah Hindu: Delapan Mutiara Weda

Oleh
Mpu Sri Rastra Jaya Bhuwana

1. Grahastha:

Rumah Tangga Rukun, Sejahtera dan Bahagia

Kunci dari kerurunan adalah ikatan lahir bathin. antara suami istri diwujudkan dengan sikap saling asah, saling asih dan saling asuh.

  1. Saling asah dimaksudkan dengan saling memberikan pembelajaran, saling memberikan koreksi, saran dan masukan.
  2. Saling asih dimaksudkan dengan saling mengasihi, menyayangi, mencintai, menghargai, menghormati.
  3. Saling asuh dimaksudkan dengan saling memelihara, saling memperhatikan, saling menjaga, saling bantu-membantu.


Kunci Kesejahteraan adalah caranya berusaha memeperoleh sesuatu, hendaknya berdasarkan dharma, kemudian dibagi tiga, yang satu bagian sarana mencapai dharma, bagian yang kedua, sarana untuk memenuhi kama, bagian yang ketiga sarana melakukan kegiatan usaha dalam bidang artha agar berkembang kembali, atau ditabung. (Sarasamuccata, Sloka 20.261-262).