Google+
Tampilkan postingan dengan label Lontar Siwagama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lontar Siwagama. Tampilkan semua postingan

sekilas tentang Lontar Siwagama - Siwa Budha

sekilas tentang Lontar Siwagama - Siwa Budha


LONTAR SIWAGAMA

Siwagama merupakan teks yang tergolong jenls tutur yang juga disebut Purwagamasasana. Siwagama merupakan salah satu karya Ida Padanda Made Sidemen dari Geria Delod Pasar Intaran, Sanur. Karya ini diciptakan pada tahun I938, konon alas permintaan raja Badung.

Pengarang memulai teksnya dengan menyebutkan bahwa kisah cerita diawali dengan perbincangan raja Pranaraga dengan pendeta istana (Bagawan Asmaranatha) tentang tattwa mahasunya. Agama Hindu sesungguhnya menganut paham monotheisme bukan politheisme. Tuhan hanya satu tidak ada duanya, namun orang bijaksana menyebut-Nya dengan banyak nama.

Berbagai sebutan Tuhan muncul dalam agama Hindu karena Tuhan tidak terbatas adanya. Akan tetapi, kemampuan manusia untuk menggambarkan hakikat Tuhan sangat terbatas adanya. Di dalam teks Siwagama disinggung berbagai sebutan Tuhan. seperti Sanghyang Widhi. Sanghyang Adisuksma. Sanghyang Titah, Sanghyang Anarawang, Sanghyang Licin, Sang Acintya. dll

Keluarga Sukinah Dari Perspektif Agama Hindu

Keluarga Sukinah Dari Perspektif Agama Hindu

Prajanartha striyah srstah
Samtanartham ca manawah
Tasmat sadharano dharmah
ςrutau patnya sahaditah (Vedasmrti. IX.96)
artinya:
Untuk menjadi ibu, wanita itu diciptakan dan untuk menjadi ayah , laki-laki itu diciptakan Upacara keagamaan karena itu ditetapkan di dalam Veda untuk dilakukan oleh suami beserta dengan istrinya.
Sejak awal kehidupan manusia, ternyata bersatunya antara seorang wanita dengan seorang laki-laki yang disimbulkan akasa dan pertiwi sebagai cakal bakal sebuah kehidupan baru yang diawali dengan lembaga perkawinan. Hendaknya laki-laki dan perempuan yang telah terikat dalam ikatan perkawinan selalu berusaha agar tidak bercerai dan selalu menyintai dan setia sampai hayat hidupnya, jadikanlah hal ini sebagi hukum yang tertinggi dalam ikatan suami-istri (G.Pudja MA, 2002 :561). 

Sang Tiga Bucari

Sang Tiga Bucari, 

Bermula ketika Dewi Mayakrsna, Putri Batara Guru dengan Dewi Uma, yang sangat cantik jelita. beliau memiliki nafsu tidak pernah puas dengan pelayanan sang suami, tatkala rasa bosan hadir, sang suami pun dibunuhnya, suami pertama nya adalah Putra Batara Indra, demikian seterusnya hingga 35 kali menikah, dan semua suami dibunuh setelah rasa bosan itu ada padanya, suatu saat sang dewi bertemu dengan dua gandarwa bersaudara Bajrandhaksa dan adiknya Bajrangkara.

Sanggah Kamulan

Sanggah Kamulan

Sanggah Kamulan
Sanggah Kamulan /Kemulan
Hampir setiap karang perumahan di Bali, pada bagian hulu atau udiknya terdapat sebuah “sanggah”. dimana salah satu palingihnya yang umum disebut “Sanggah kamulan” untuk golongan tertentu disebut juga “Sanggah Kemimitan”. Karena sanggah tersebut selalu letaknya pada udik atau hulu dari karang, maka disebut juga “Panghulun Karang”. adanya sanggah kamulan selalu berdampingan dengan Sanggah Taksu. sehingga dalam keseharian, masyarakat bali lebih failiar menyebut Pamerajan Alit dengan sebutan Sanggah Kamulan Taksu.

Belakangan ini, di kalangan generasi muda tidak sedikit yang mulai berpikir, bahkan telah melaksanakan bahwa Sanggah Kamulan telah diganti dengan satu pelinggih saja yaitu Padma Sari dengan berbagai alasan, persoalan tanah, biaya, efesiensi dan masih ada seribu alasan untuk membenarkan tindakannya.

Bagi para pembaca yang berniat mengganti (Prelina) Sanggah Kamulan, sebelum melaksanakan niatnya sebaiknya membaca artikel sederhana ini.

Umat Hindu pada prinsipnya memuja Tuhan dengan segala manifestasinya dan memuja Roh (Dewa Pitara). Disamping memuja Tuhan, Weda juga mengajarkan dan membenarkan memuja Roh Suci leluhur.

Dalam Kekawin Ramayana dinyatakan bahwa:
Gunamanta sang Dasaratha, Wruh sira ring weda bhakti ring dewa, Tar malupeng pitra puja, Masih ta sireng swagotra kabeh
Artinya:
Keutamaan sang Dasaratha,Beliau paham akan Weda, berbakti kepada Tuhan, Tidak pernah lupa memuja leluhur, Juga sayang terhadap keluarga dan rakyat

Odalan Mrajan atau Sanggah Alit Kubayan di Guwang Sukawati

Odalan Mrajan / Sanggah Alit Kubayan di Guwang Sukawati

secara umum, Odalan merupakan sebuah upacara keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat hindu bali untuk memperingati hari kelahiran pura/tempat suci semacam perayaan ulang tahun kalau pada manusia, atau mengenang hari pertamakali orang suci membuat asram/rumah yang sekaligus membuat mrajan / sanggah (tempat suci untuk rumah pribadi). Upacara Odalan ada dua macam, upacara enam bulanan dan upacara satu tahunan. Semakin tinggi tingkat puranya, upacara yang diadakan semakin meriah. Biasanya, upacara odalan satu tahunan lebih besar dan meriah. Odalan tahunan pura desa dirayakan lengkap dengan tarian sepanjang malam.

Odalan berasal dari kata “Wedal” atau lahir; hari Odalan = hari wedal = hari lahir = hari di-stanakannya Ida Bethara di Pura dan Sanggah Pamrajan. Yang menjadi patokan adalah hari upacara Ngenteg Linggih yang pertama kali. Istilah lain yang digunakan untuk hari Odalan adalah hari: 

  • Petirtaan (karena di saat itu kepada Ida Bethara disiratkan tirta pebersihan dan dimohonkan tirta wangsuhpada), 
  • Petoyaan (sama dengan Petirtaan), 
  • Pujawali (karena di saat itu diadakan pemujaan “wali” = kembali di hari kelahiran = wedal).

Hari odalan ada dua cara :

  • Menurut perhitungan wuku (berarti dalam setahun mengadakan 2 x odalan).
  • Menurut perhitungan sasih (berarti dalam setahun hanya mengadakan odalan sekali)

Tutur Kamoksan merupakan ilmu menuju tujuan akhir kehidupan manusia

Tutur Kamoksan merupakan ilmu menuju tujuan akhir kehidupan manusia

Menurut Lontar, Moksa ditentukan oleh Tri guna (sattwa, rajah, dan tamah) yang menentukan akan mendapatkan apa atma itu, apakah kamoksan, swarga atau lahir menjadi manusia, apakah menempati Paramasiwa yang memiliki tingkat kesadaran tertinggi, Sadasiwa menengah, dan Siwa rendah (hingga memunculkan beragam pertanyaan di atas). Tinggi rendahnya tingkat kesadaran itu tergantung dari kuat tidaknya pengaruh Maya, diantaranya:

  • Paramasiwa adalah bebas dari pengaruh Maya, 
  • Sadasiwa mendapat pengaruh sedang-sedang saja, sedangkan 
  • Siwa mendapat pengaruh Maya paling kuat.

Berikut Lontar yang menuntun menuju Moksa:

Lontar Sundarigama

menggunakan bahasa Kawi, dan mengandung teks yang bersifat filosofis-religius karena mendeskripsikan norma-norma, gagasan, perilaku, dan tindakan keagamaan, serta jenis-jenis sesajen persembahan yang patut dibuat pada saat merayakan hari-hari suci umat Hindu Bali, mengajarkan kepada umatnya untuk berpegang kepada hari-hari suci berdasarkan wewaran, wuku, dan sasih dengan mempergunakan benda-benda suci/yang disucikan seperti api, air, kembang, bebantenan disertai kesucian pikiran terutama dalam mencapai tujuan yang bahagia lahir bathin (moksartam jagadhita) berdasarkan agama yang dianutnya. Teks Sundarigama merupakan penuntun dan pedoman tentang tata cara perayaan hari-hari suci Hindu yang meliputi aspek tattwa (filosofis), susila, dan upacara/upakara.