Google+
Tampilkan postingan dengan label sekte Siwa Sidhanta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekte Siwa Sidhanta. Tampilkan semua postingan

Sang Hyang Tattwa Jnana

Sang Hyang Tattwa Jnana

Oṃ awighnam astu namaḥ siddham. om.

Nihan kayatnakna de sang sewakadharmma sang mahyun luputeng janmasaṃsara, hana sang hyang tattwajnana ngaranira, ya tika kawruhaknanta rumuhun lawanika dewatanya, enak pwa wruh ta ring sang hyang tattwajnana, niyata sira tumon janmasangsara mwang mantuka ri sangkanya. aparanika sinanggah sang hyang tattwajnana ngaranira, sugyan mangkana linga sang para, anam pih sang hyang tattwajnana ngaranira anung pinakabungkah ning tattwa kabeh, ndya lwirnya nihan.1

dvaita dari lakulisa pasupata

Dvaita dari lakulisa pasupata

Sistem filsafat Lakulisa Pasupata berbeda dengan Pasupata yang bersifat Dualis, walaupun keduanya mengakui adanya 5 kategori utama, yaitu:
  1. Karana,
  2. Karya,
  3. Yoga,
  4. Viddhi, dan
  5. Duhkhanta. 
Perbedaan system ini dengan Pasupata dualis tempaknya telah di tunjukkan dalam ulasannya yang disebut Ratna Tika pada Gana Karika dari Bhasarvajna, ketika ia membahas tentang perbedaan Lakulisa Pasupata dengan sistem filsafat lainnya (Sastrantare).Pernyataan tentang gambaran yang berbeda itu kelihatannya menjadi sangat perlu, karena hal itu di kutip oleh Madhava dalam Sarva Darsana Samgraha-nya. Hal ini dapat di nyatakan sebagai berikut:
  1. Pada sistem filsafat lain, masalah pembebasan tiada lain merupakan akhir dari segala kesengsaraan, tetapi menurut filsafat Lakulisa Pasupata, pembebasan merupakan pencapaian keunggulan atau kesempurnaaan ILahi.
  2. Di sini perbedaan Lakulisa Pasupata dengan Pasupata dualis dinyatakan; karena Lakulisa tampaknya mengawali Pasupata Sutra-nya dengan objek tentang pernyataan perbedaan dari sistem filsafatnya dengan Pasupata yang lebih awal, karena tujuan karya tersebut, seperti yang di nyatakan dalam sutra pertamanya, adalah untuk menghadirkan disiplin spiritual yang berguna dalam penyatuan dengan Tuhan, seperti yang di kemukakan oleh Tuhan sendiri (athatah pasupateh pasupatam yogavidhim vyakhyasyamah).
    Kita mengetahui bahwa konsepsi pasupata tentang pembebasan di pakai oleh Nyaya dan Vaisesika, karena Nyaya sutra dari rsi Gautama secara jelas menunjukkannya dalam sutra yang ke dua dan rsi Vatsyayana dalam ulasannya memperjelas hal itu ketika ia mengatakan :
    katham buddhiman sarva duhkhocchedam sarvaduhkha samvidam apavargam na rocayet
    yang artinya
    Bagaimana seorang bijak dapat tidak menyukai pembebasan (apavarga) ini, yang di cirikan dengan penghentian total dari segala kesengsaraan”.

Pokok-pokok ajaran Samkhya

Pokok-pokok ajaran Samkhya

Pendiri dari system filsafat ini adalah Sri kapila muni,yang di katakana sebagai putra Brahma dan Avatara Wisnu. Kata “Samkhya“ itu sendiri artinya “jumlah” dan system ini memberikan sejumlah prinsip-prinsip alam semesta yang banyaknya 25 buah, sehingga nama Samkhya tersebut sangatlah tepat. Istilah Samkhya juga di pergunakan dalam pengertian “Vicara” atau “perenungan filosofis”.

Ajaran Samkhya berpengaruh besar ajaran agama hindu di Indonesia. Kitab Tattva Jnana, Wrhaspatitattva adalah ajaran Samkhya dalam Saivapaksa. Ke dua kitab ini dalam bahasaa jawa kuna. Ajaran Samkhya haruslah merupakan ajaran yang sudah tua benar usianya. Buktinya baik kitab Sruti maupun Smrti maupun pula purana menunjukkan pengaruh ajaran Samkhya. Menurut tradisi pembangunannya adalah RSI KAPILA yang menulis Samkhya sutra. Pada system Samkhya tak ada penyelidikan secara analitik ke dalam alam semesta, seperti keberadaan yang sesungguhnya,yang merupakan susunan menurut topic-topik atau kategori-kategori, namun terdapat suatu system tiruan yang di awali dari satu Tattva atau prinsip mula-mula yang di sebut Prakrti, yang berkembang atau menghasilkan (Prakaroti) sesuatu yang lain.

Saiwa Wisistadwaita

Saiwa Wisistadwaita

Pada abad ke-11 Masehi terdapat usaha-usaha yang dikonsentrasikan dalam menjembatani jurang yang memisahkan Saivisme dan Vaisnavaisme dengan Brahmanisme. Srikantha dan Ramanuja, adalah 2 orang sarjana besar yang mengusahakan tugas ini seperti yang ditunjukkan dalam 2 ulasan mengenai Vedanta Sutra, yaitu;
  1. Brahma-mimamsa bhasya dan
  2. Sribhasya. 
Dalam rangkaian penafsirannya tentang Pasupatadikarana, yang menurut Sankara, menyalahkan filsafat Saiwa Pasupata. Srikantha mengemukakan bahwa tak ada pertentangan antara Veda dengan Saiwagama dan keduanya sama-sama berwewenang. Keduanya telah bertindak dari sumber terakhir dari segala sesuatu, yaitu Brahman atau Para Siva, dan oleh karena itu layak untuk membicarakan Veda juga sebagai “Saiwagama”.

sekilas tentang Lontar Siwagama - Siwa Budha

sekilas tentang Lontar Siwagama - Siwa Budha


LONTAR SIWAGAMA

Siwagama merupakan teks yang tergolong jenls tutur yang juga disebut Purwagamasasana. Siwagama merupakan salah satu karya Ida Padanda Made Sidemen dari Geria Delod Pasar Intaran, Sanur. Karya ini diciptakan pada tahun I938, konon alas permintaan raja Badung.

Pengarang memulai teksnya dengan menyebutkan bahwa kisah cerita diawali dengan perbincangan raja Pranaraga dengan pendeta istana (Bagawan Asmaranatha) tentang tattwa mahasunya. Agama Hindu sesungguhnya menganut paham monotheisme bukan politheisme. Tuhan hanya satu tidak ada duanya, namun orang bijaksana menyebut-Nya dengan banyak nama.

Berbagai sebutan Tuhan muncul dalam agama Hindu karena Tuhan tidak terbatas adanya. Akan tetapi, kemampuan manusia untuk menggambarkan hakikat Tuhan sangat terbatas adanya. Di dalam teks Siwagama disinggung berbagai sebutan Tuhan. seperti Sanghyang Widhi. Sanghyang Adisuksma. Sanghyang Titah, Sanghyang Anarawang, Sanghyang Licin, Sang Acintya. dll

Siwa Lingga dalam Siwa Sidhanta

Siwa Lingga dalam Siwa Sidhanta

Membuat Siwa Lingga sebenarnya merupakan penerapan sekte Pasupata, yang kemudian melebur menjadi satu dalam konsep Siwa Sidhanta atau Saiva siddhanta. Dalam susastra Hindu di Bali banyak dijumpai ajaran Siwa Sidhanta. 
peninggalan Lingga Yoni
Ajaran Saiwa Siddhanta di Bali merupakan kelanjutan dari ajaran Sekte Saiva Gama yang masuk ke Indonesia sekitar abad ke 4. Namun dengan perpaduan antara konsep-konsep Saiva, Tantra, Buddha Mahayana, Trimurthi dan juga paham Waisnawa maka lahirlah konsep Saiva Siddhanta Indonesia. Adapun konsep ajaran Saiva Siddhanta Indonesia lebih banyak berpedoman pada konsep ajaran lokal serta ajaran yang telah berkembang sebelumnya seperti konsep Saiva, konsep Waisnawa, konsep Tantra, konsep Tri Murthi, bahkan konsep Buddha Mahayana yang kesemuanya dipadukan sehingga menghasilkan konsep-konsep yang dituangkan ke dalam lontar-lontar yang kemudian menjadi dasar konsep Saiva Siddhanta Indonesia, konsep-konsep yang dimaksud adalah Bhuwana kosa, Wrhaspati tattwa, Tattwa Jnana, Ganapati tattwa, bhuwana Sang Ksepa, Siwa Tattwa Purana, Sang Hyang Maha Jnana, dan sebagainya. Dari sekian banyak  susastra Hindu di Bali, sesuai dengan sumbernya; maka sangat kaya dengan nilai-nilai filsafat Hindu, terlebih lagi dengan ajaran Saiva Siddhanta.

Sekte Siwa Sidhanta pemuja Siwa

Sekte Siwa Sidhanta

Agama Hindu di India maupun agama Hindu di lain tempat misalnya di Jawa maupun di Bali tidak mempunyai perbedaan dalam inti keagamaannya yang berbeda hanyalah pada kulit luarnya saja yaitu tentang pelaksanaan upacaranya,sedangkan isinya dan intinya tetap sama. Ajaran Wedanya tetap abadi,intinya tidak berubah hanya bagian luarnya yang bervariasi, menyesuaikan dengan budaya setempat di mana agama itu berkembang. Ajaran ini berkembang di India Selatan dan  Indonesia terutama pada abab VII. Ajaran Siwa Sidhanta ini menekankan pada pemujaan Lingga dengan tokoh Tri Murti (Brahma,Wisnu dan Siwa) dan Tri Purusa (Prama Siwa,Sada Siwa dan Siwa).

Ajaran Siwa Sidhanta tentang konsepsi Tri Purusa atau Lingga ini diwujudkan juga dengan bangunan Padmasana di Bali. Perlu diketahui bahwa pengertian Tri Purusa dengan Tri Murti adalah berbeda. Karena Tri Purusa adalah lukisan Tuhan dalam arti posisi vertical (atas ke bawah) dimana Tuhan dilambangkan sebagai penguasa alam atas,alam tengah dan alam bawah (Prama Siwa, Sada Siwa dan Siwa). Sedangkan Tri Murti adalah lukisan Tuhan dalam posisi horizontal (mendatar) atau sebagai penguasa arah, yaitu arah laut ialah Brahma, arah gunung ialah Wisnu dan di tengah-tengah ialah Siwa.

Sekte Aghori makan mayat

Sekte Aghori makan mayat

Aghoris percaya bahwa Shiva diinduksi terbaik dan terburuk di dunia dan tidak ada yang profan, semuanya sakral bagi mereka. Oleh karena itu, apa sekte Hindu lainnya menganggap tidak dapat diterima atau tabu, yang Aghoris menerimanya – yang 'kekuatan gelap' atau 'kotoran' - membawa mereka ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi. dibali sekte Aghori hampir mirip dengan Sekte Bhairawa hitam, yang didentikan dengan Panca MA-nya. Mari kita melihat sekilas kehidupan di India mengenai Sekte Aghori.
Sekte Aghori Memakan Mayat Dan Menjadikan Tulang Manusia Sebagai Hiasan
kehidupan Sekte Aghori di India
Sepanjang sejarah kehidupan manusia telah ada segudang praktek kultus dan sekte agama yang aneh, membuat teror, unik bahkan menjijikkan. Mereka melakukan ritual aneh, ritual yang mengganggu, atau keyakinan ekstrim, sebagian kelompok ini telah lama melakukan sesuatu yang misterius dan mengancam keselamatan orang di luar kelompoknya. Sebuah kelompok misterius yang yang mempunyai kebiasaan yang menakutkan, menebarkan kebencian, dan horor, adalah suku mistik aneh dan kanibal yang ada di India dan dikenal sebagai sekte Aghori, atau Sadhu Aghori.
Mereka mendandani diri dengan kain kafan dari mayat atau baju yang ditinggalkan oleh keluarga orang mati, mengolesi diri dengan abu mayat sebagai pelindung dari penyakit, merenungkan mayat dan mengkonsumsi segala sesuatu dari manusia atau hewan daging untuk ekskreta, urine, alkohol – semua bagian dari ritual Aghora, yang secara harfiah berarti non-menakutkan, dan Aghoris adalah praktisi.
Para Sadhu Aghori adalah bagian dari sekte pertapa Hindu, khususnya mereka yang beraliran Shaivites,dimana mereka mengabdikan diri untuk Dewa Siwa, Dewa kematian dan kehancuran yang sering digambarkan sebagai Dewa yang paling menakutkan, di dunia barat disebut sebagai "The Destroyer" dan "The Transformer"

Penerapan Siwa Siddhanta di Bali

Penerapan Siwa Siddhanta di Bali

Ajaran Agama Hindu yang dianut sebagai warisan nenek moyang di Bali adalah ajaran Siwa Siddhanta yang kadang - kadang juga disebut Sridanta.
Siddhanta artinya akhir dari sesuatu yang telah dicapai, yang maksudnya adalah sebuah kesimpulan dari ajaran yang sudah mapan. Ajaran ini merupakan hasil dari akulturasi dari banyak ajaran Agama Hindu. Didalamnya kita temukan ajaran Weda, Upanisad, Dharmasastra, Darsana (terutama Samkya Yoga), Purana dan Tantra. Ajaran dari sumber - sumber tersebut berpadu dalam ajaran Tattwa yang menjadi jiwa atau intisari Agama Hindu di Bali.

Dalam realisasinya, tata pelaksanaan kehidupan umat beragama di Bali juga menampakkan perpaduan dari unsur - unsur kepercayaan nenek moyang. Wariga, Rerainan (hari raya) dan Upakara sebagian besarnya merupakan warisan nenek moyang. Warisan ini telah demikian berpadu serasi dengan ajaran Agama Hindu sehingga merupakan sebuah satu kesatuan yang bulat dan utuh. Dengan demikian, Agama Hindu di Bali mempunyai sifat yang khas sesuai dengan kebutuhan rohani orang Bali dari jaman dahulu hingga sekarang. Di masa sekarang ini, warisan Agama yang adhiluhung tersebut perlu kita jaga, rawat dan menyempurnakan pemahaman kita sehingga tetap bisa memenuhi kebutuhan jiwa keagamaan umatnya.

Sekte Saiwa - Pemuja Siwa

Sekte Saiwa - Pemuja Siwa

seperti yang telah dibahas sebelumnya dalam "Sejarah Sekte di Bali", berikutnya akan dicoba untuk memberikan informasi yang lebih mendalam tentang sekte saiwa.

kenyataan dibali, sekte saiwa memang tidak ada, yang tersisa hanyalah sekte siwa sidhanta, sedangkan cabang sekte pemuja dewa siwa lainnya, telah melebur kesemuanya dalam sekte siwa sidhanta tersebut. 

Penganut Hindu dari sekte Siwa meyakini Tuhan adalah Siwa. Salah satu bentuk pemujaan Siwa yang dilakukan oleh pada Pendeta Siwa adalah dengan mengucapkan mantra yang disebut sebagai Mantra Catur Dasa Siwa, yakni empat belas wujud Siwa.

Urutan Berjapa dan Meditasi Siwaisme

Urutan Berjapa dan Meditasi Siwaisme

Berjapa atau meditasi dengan tujuan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta tentu ada aturan atau urutan, agar proses berjapa itu akan lebih terhayati (himat) dan penuh konsentrasi.
mohon diingat, meditas apa itu meditasi, agar menjadi lebih mermanfaat.
meditasi intinya hening dalam ketenangan, salah satu cara termudah untuk memulai meditasi adalah dengan mengatur nafas anda (pranayama). dengan pengaturan nafas, anda akan mencapai ketenangan dan dapat dengan nyaman memasuki alam meditasi.
duduklah dengan santai, tegakkan punggung anda.
aturlah nafas anda se-relaks mungkin, senyaman mungkin dan senyaman mungkin, bernafaslah dengan santai, gunakan nafas panjang tetapi jaga kenyamanan anda dalam bernafas. 
setelah posisi tersebut dapat anda capai, barulah memulai prosesi japa berikut ini.
apabila anda mengalami kesulitan, silahkan baca Belajar Tenaga Dalam Asli Bali, karena dalam tehnik tersebut dijelaskan tatacara meditasi yang paling dasar, yang akan dapat membantu anda dalam menjalankan Japa dan Meditasi Siwaisme ini.
Berikut cara atau urutan meditasi/berjapa menurut Siwaisme yang merupakan praktek meditasi yang dikembangkan dari sekte Siwa Sidhanta;

Dewa Siwa - Mahadewa dengan Lingga dan Bulan Sabit

Dewa Siwa - Mahadewa dengan Lingga dan Bulan Sabit

Siwa (Dewanagari: शिव; Śiva) adalah salah satu dari tiga dewa utama (Trimurti) dalam agama Hindu. Kedua dewa lainnya adalah Brahma dan Wisnu. Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa adalah dewa pelebur, bertugas melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan kepada asalnya.
lebih lanjut tentang tri murti, silahkan baca: "Tri Murthi: Brahma Wisnu Siwa"
Oleh umat Hindu Bali, Dewa Siwa dipuja di Pura Dalem, sebagai dewa yang mengembalikan manusia dan makhluk hidup lainnya ke unsurnya, menjadi Panca Maha Bhuta. Dalam pengider Dewata Nawa Sanga (Nawa Dewata), Dewa Siwa menempati arah tengah dengan warna panca warna. Ia bersenjata padma dan mengendarai lembu Nandini. Aksara sucinya I dan Ya. Ia dipuja di Pura Besakih. Dalam tradisi Indonesia lainnya, kadangkala Dewa Siwa disebut dengan nama Batara Guru. Adya / Siwa / Pusat / Segala Warna (Cahaya) = peleburan kemanunggalan.

Dewa Siwa memiliki nama lain, diantaranya: Jagatpati, Nilakantha, Paramêśwara, Rudra, Trinetra serta nama lainnya yang dikenal dengan 108 Nama Dewa Siwa. Dalam tradisi Indonesia, kadangkala Siwa disebut Batara Guru atau Hyang Guru.
untuk lebih lengkap tentang ke-108 sebutan Dewa Siwa bisa dibaca di "mantra dewa siwa-108 nama gelar hyang Siwa"
Dewa Siwa memiliki sakti yang bernama Dewi Parwati, dikenal juga dengan sebutan Dewi Sati, Dewi Durga, Dewi Kali. dan dengan wahana (kendaraan) Lembu Nandini.

Sekte Waisnawa dan Tri Sadaka

Sekte Waisnawa dan Tri Sadaka

Menurut Dr. Goris, sekte-sekte yang pernah ada di Bali setelah abad IX meliputi Siwa Sidhanta, Brahmana, Resi, Sora, Pasupata, Ganapatya, Bhairawa, Waisnawa, dan Sogatha (Goris, 1974: 10-12).

Di antara sekte-sekte tersebut, yang paling besar pengaruhnya di Bali sekte Siwa Sidhanta.Ajaran Siwa Sidhanta termuat dalam lontar Bhuanakosa.

Sekte Siwa 

memiliki cabang yang banyak. Antara lain:
  • Pasupata, 
  • Kalamukha, 
  • Bhairawa, 
  • Linggayat, dan 
  • Siwa Sidhanta yang paling besar pengikutnya.

Kata Sidhanta berarti inti atau kesimpulan.Jadi Siwa Sidhanta berarti kesimpulan atau inti dari ajaran Siwaisme.Siwa Sidhanta ini megutamakan pemujaan ke hadapan Tri Purusha, yaitu 

Sejarah Sekte-Sekte di Bali

Sejarah Sekte-Sekte di Bali

Sumber ajaran Agama Hindu adalah kitab suci catur veda. Syair-Syair kitab suci Weda Sruti disebut Mantra. Sedangkan syair-syair kitab Sastra weda disebut Sloka. Kitab suci Catur Weda itu terdiri dari 20389 Mantra. Empat kitab suci weda itu dipelajari oleh 1180 Sakha atau kelompok spiritual. 
  • Rg Weda dengan jumlah Mantra sebanyak 10552 dipelajari oleh 21 Sakha. 
  • Sama Weda dengan jumlah Mantra 1.875 dipelajari oleh 1000 Sakha.
  • Yajur Weda dengan jumlah Mantra 1975 Mantra dipelajari oleh 109 Sakha ,dan 
  • Atharwa Weda dengan jumlah Mantra 5.967 dipelajari oleh 50 Sakha.

SAMPRADAYA (sekta) lahir dari Upanisad

Setiap Sakha dibahas atas bimbingan Resi yang benar-benar menghayati Weda baik teori maupun praktek. Resi itu disebut Sadaka karena telah mampu melakukan Sadana atau mewujudkan ajaran suci Weda dalam kehidupannya sehari-hari. Orang yang mampu melakukan Sadana itulah yang disebut Sadaka. Sakha itu ibarat sekolah. Sedangkan kitab suci Weda itu ibarat “kurikulum” yang harus diterapkan oleh sekolah tersebut. Meskipun kurikulum yang diterapkan oleh setiap sekolah itu sama, pasti setiap sekolah itu memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan satu sekolah dengan sekolah yang lainnya. Demikian jugalah halnya dengan proses mendalami kitab suci Weda sumber ajaran Hindu. Disamping itu Weda adalah kitab suci yang sangat memberikan kemerdekaan pada setiap orang yang meyakininya menyerap ajaran Weda sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing umat.
Dari system Sakha itulah melahirkan kitab-kitab Upanisad.