Google+
Tampilkan postingan dengan label Mpu Withadarma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mpu Withadarma. Tampilkan semua postingan

MPU WITHADARMMA dalam Pembangunan Pura Dasar Bhuwana Gelgel

MPU WITHADARMMA dalam Pembangunan Pura Dasar Bhuwana Gelgel

PADA bekas parhyangan Mpu Ghana di Desa Gelgel, Klungkung pada tahun Caka 1189 (tahun 1267 M) oleh keturunan Mpu Withadarmma bernama Mpu Dwijaksara dibangun sebuah pura yang diberi nama Babaturab atau Panganggih.

Pura ini dipakai sebagai tempat suci untuk memuliakan dan memuja arwah suci Mpu Ghana dan Hyang Widhi Wasa. Mengenai pembangun pura ini, di dalam Babad Dalem Tarukan Agung diuraikan dan dapat disarikan sebgai berikut : “…dan dikisahkan yang ada di Bali yaitu Mpu Dwijaksara bersama sanak saudaranya, semua memperoleh tempat dan kedudukan di masing-masing desa. Berdasarkan pesan Baginda Raja terdahulu, agar beliau (Mpu Dwijaksara) menyelamatkan dan memelihara Sad Kahyangan di Bali. Namun belum seluruh pura dapat dibangun, hanya baru Pura Babaturan Panganggih(Pura Gelgel) yang dapat diselesaikan oleh Mpu Dwijaksara, disamping memelihara Pura Taman Bhagandra di Gelgel, sehingga tugasnya di Bali dianggap belum tuntas. Entah berapa lama Mpu Dwijaksara bersama sanak saudaranya di Bali, dan sudah sama-sama menurunkan parati Santana, karena sudah lanjut usianya beliau bersama sanak saudaranya pulang ke alam baka. Kemudian kedudukannya digantikan oleh puteraputeranya, dan mereka dapat melaksanakan dharmanya seperti ayahnya dahulu. Sebelum meninggal dunia, Mpu Dwijaksara menyelenggarakan pertemuan dengan sanak saudaranya dan putra-putranya, dimana Mpu Dwijaksara sebagai pimpinan, dan memberi petunjuk tentang dharma yang harus dilakukan”.

Sang Catur Sanak dari Panca Tirtha kembali ke Bali

Sang Catur Sanak dari Panca Tirtha kembali ke Bali

Dari peristiwa peristiwa yang telah dikemukakan pada babad terdahulu, dapat disimpulkan, betapa eratnya hubungan pulau jawa khususnya Jawa Timur dengan Pulau Bali, terutama dalam hal spiritual. Ditambah lagi dengan berkuasanya Ratu Kediri atas Pulau Bali seperti tercantum pada prasasti Desa Julah, yang disimpan di Desa Sembiran, kecamatan Tejakula (buleleng) bertahun saka 905. Dalam prasasti itu ada memuat nama seorang ratu Yakni Wijaya Mahadewi. Dihubungkan dengan prasasti yang mempergunakan tahun saka 859, di dalamnya dijumpai sebuah kalimat.

Ikatan tali kasih antara Bali dan Jawa Timur bertambah erat, dengan dilangsungkannya perkawinan agung antara sri Udayana (dharmmodayana) Warmadewa dari Bali dengan sri Mahendratta, adik perempuan Raja Daha di Jawa Timur . Sri Mahendratta adalah cicit dari sri maharaja Paradewasikan Kamaswara Dharmmawangsa, raja di Jawa Timur pada tahun saka 851. Sesudah berakhir masa jabatannya sebagai raja, beliau menjalani dharma kebrahmanan dengan melalui suatu upacara pudgala yaitu Dwijati atau diksa bergelar Mpu Sendok.

Sang Sapta Pandita atau Sang Sapta Rsi Putra dari Mpu Gnijani, sudah samasama kawin dan berumah tangga dijawa, kemudian masing-masing memiliki keturunan.

  1. Mpu Ketek mempersunting putri Ki Aryya Padang Subadra, berputra dua orang lakilaki. Yang sulung bernama Aryya Kapasekan, dan adiknya bernama Sang Hyang Pamacekan.
  2. Mpu Kananda menikah dengan putri Mpu Swethawijaya, berputra seorang laki-laki bernama Sang Kuldewa. Sesudah menempuh acara dwijati, sang Kuldewa bergelar Mpu Swethawijaya, sama namanya dengan kakek dari Pradhana (pihak perempuan).
  3. Mpu Wiradnyana menikah dengan putri Mpu Panataran berputra seorang laki-laki bernama Mpu Wiranatha.