MPU WITHADARMMA dalam Pembangunan Pura Dasar Bhuwana Gelgel
PADA bekas parhyangan Mpu Ghana di Desa Gelgel, Klungkung pada tahun Caka
1189 (tahun 1267 M) oleh keturunan Mpu Withadarmma bernama Mpu Dwijaksara
dibangun sebuah pura yang diberi nama Babaturab atau Panganggih.
Pura ini dipakai sebagai tempat suci untuk memuliakan dan memuja arwah suci Mpu Ghana dan Hyang Widhi Wasa. Mengenai pembangun pura ini, di dalam Babad Dalem Tarukan Agung diuraikan dan dapat disarikan sebgai berikut : “…dan dikisahkan yang ada di Bali yaitu Mpu Dwijaksara bersama sanak saudaranya, semua memperoleh tempat dan kedudukan di masing-masing desa. Berdasarkan pesan Baginda Raja terdahulu, agar beliau (Mpu Dwijaksara) menyelamatkan dan memelihara Sad Kahyangan di Bali. Namun belum seluruh pura dapat dibangun, hanya baru Pura Babaturan Panganggih(Pura Gelgel) yang dapat diselesaikan oleh Mpu Dwijaksara, disamping memelihara Pura Taman Bhagandra di Gelgel, sehingga tugasnya di Bali dianggap belum tuntas. Entah berapa lama Mpu Dwijaksara bersama sanak saudaranya di Bali, dan sudah sama-sama menurunkan parati Santana, karena sudah lanjut usianya beliau bersama sanak saudaranya pulang ke alam baka. Kemudian kedudukannya digantikan oleh puteraputeranya, dan mereka dapat melaksanakan dharmanya seperti ayahnya dahulu. Sebelum meninggal dunia, Mpu Dwijaksara menyelenggarakan pertemuan dengan sanak saudaranya dan putra-putranya, dimana Mpu Dwijaksara sebagai pimpinan, dan memberi petunjuk tentang dharma yang harus dilakukan”.
Pura ini dipakai sebagai tempat suci untuk memuliakan dan memuja arwah suci Mpu Ghana dan Hyang Widhi Wasa. Mengenai pembangun pura ini, di dalam Babad Dalem Tarukan Agung diuraikan dan dapat disarikan sebgai berikut : “…dan dikisahkan yang ada di Bali yaitu Mpu Dwijaksara bersama sanak saudaranya, semua memperoleh tempat dan kedudukan di masing-masing desa. Berdasarkan pesan Baginda Raja terdahulu, agar beliau (Mpu Dwijaksara) menyelamatkan dan memelihara Sad Kahyangan di Bali. Namun belum seluruh pura dapat dibangun, hanya baru Pura Babaturan Panganggih(Pura Gelgel) yang dapat diselesaikan oleh Mpu Dwijaksara, disamping memelihara Pura Taman Bhagandra di Gelgel, sehingga tugasnya di Bali dianggap belum tuntas. Entah berapa lama Mpu Dwijaksara bersama sanak saudaranya di Bali, dan sudah sama-sama menurunkan parati Santana, karena sudah lanjut usianya beliau bersama sanak saudaranya pulang ke alam baka. Kemudian kedudukannya digantikan oleh puteraputeranya, dan mereka dapat melaksanakan dharmanya seperti ayahnya dahulu. Sebelum meninggal dunia, Mpu Dwijaksara menyelenggarakan pertemuan dengan sanak saudaranya dan putra-putranya, dimana Mpu Dwijaksara sebagai pimpinan, dan memberi petunjuk tentang dharma yang harus dilakukan”.