Google+
Tampilkan postingan dengan label Ngereh Petapakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngereh Petapakan. Tampilkan semua postingan

Tuntunan Ilmu Ngereh menurut keputusan Ajian Pangerehan

Tuntunan Ilmu Ngereh menurut keputusan Ajian Pangerehan

seperti yang telah diketahui sebelumnya dalam artikel "Mantra Leak Bali ilmu Kawisesan syarat jadi Balian Sakti dan Jro Gede" bahwa NGEREH itu sangat penting.
sehubungan dengan hal tersebut, lewat artikel ini tyang coba membagi informasi tentang tatacara dan perlengkapan ngereh dalam rangka menjalankan ritual ajian pangerehan. bukannya tyang merasa pintar atau sakti, tyang juga masih sama-sama belajar dan mencari jati diri. dan dalam pencarian tersebut tidak sengaja tyang mendapatkan informasi ini, sehingga lewat artikel ini tyang akan coba membagi sedikit tentang ilmu pangerehan tersebut.

kenapa ilmu ini tyang informasikan hanya setengahnya saja?

itu disebabkan oleh piteket ajaran, yakni "aja wera" karena ini ajaran/ajian pingit (dirahasiakan). bila para pembaca tertarik untuk mempelajarinya, dimohonkan untuk mencari guru Nabe yang dirasa mampu menuntun hingga ilmu ngereh ini dapat dikuasai sampai mendekati sempurna.

Tata Cara Ngereh, sesuai Lontar Pangerehan dan Lontar Pangiwa.

nihan tingkahing mangerehan pangiwa wyadin panengen, sama juga kramania.
rikalaning dina byantara kliwon uwudan, abersih sira den apning, nunas wara nugraha ring dalem khayangan panguluning setra, sjalarakna"Asta Mantra".
arti umumnya:
berikut ini tata cara ngereh untuk ilmu pangiwa maupun panengen. dimana saat kajeng klion uwudan (kajeng kliwon setelah bulan purnama), bersihkan diri mlukat, kemudian mohon anugrah dewa di ulun setra (hulu kuburan/pamuunan), gunakan doa "Asta Mantra"

Petapakan Ida Betara Rangda Ngereh

Petapakan Ida Betara Rangda Ngereh


Petapakan adalah topeng dalam wujud sosok makhluk magis yang meyeramkan, terbuat dari kayu tertentu, dibentuk sedemikian rupa sebagai simbol unsur niskala (tidak nampak) dari adanya Ida Betara Rangda.

Ketakson berasal dari kata taksu mendapat awalan ke dan akhiran an sehingga menjadi kata ketaksuan dan orang Bali lebih mudah mengucapkan dengan kata ketakson yang artinya kesaktian dari proses sakralisasi

Panungrahan artinya pemberian dari Dewa


Petapakan Ida Betara Rangda Ngereh Petapakan Ida Betara Rangda itu, diyakini tidak saja mampu mengusir gerubug [wabah penyakit] yang pada musim-musim tertentu datang mengancam penduduk Bali, namun juga diyakini dapat mengayomi masyarakat sehingga merasa tenang dan aman dari ancaman niskala itu. Rasa aman semacam itu menjadi penting, meskipun masyarakat Bali telah menjadi masyarakat modern dan berpendidikan tinggi. Aktualisasi dari rasa aman dari ancaman niskala ini adalah di setiap desa, atau Pura mesti ada Petapakan Ida Betara, sebagai tanda atau kendaraan adanya Ida Betara Rangda, yang jika dipahami dengan baik adalah sisi lain dari kepercayaan akan kemahakuasaan Siwa. Dalam kaitan dengan dunia mistik Hindu Bali, pemujaan terhadap Siwa dilakukan dengan banyak cara, namun terfokus pada Durga sebagai saktinya Siwa. Di bagian-bagian tertentu negeri India, mungkin Siwa tidak sepopuler di Bali, mungkin Wisnu yang lembut dan kebaikannya tidak diragukan lebih popular, atau mungkin Krisna atau Rama. Menarik diteliti mengapa Siwa dalam manifestasinya sebagai Dewa Pralina yang bertugas menghancurkan itu justru lebih popular daripada Wisnu atau Brahma yang lembut.