Google+
Tampilkan postingan dengan label Ulam Caru Eka Sata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulam Caru Eka Sata. Tampilkan semua postingan

Banten Caru Eka Sata dan Caru Rsi Ghana Alit

Banten Caru Eka Sata dan Banten Caru Rsi Ghana Alit


CARU pada hakikatanya dipahami sebagai persembahan untuk Bhuta Kala. Upacara caru dimaknai sebagai upacara untuk menjaga keharmonisan alam, manusia dan waktu.

Caru, dalam bahasa Jawa-Kuno (Kawi) artinya: korban (binatang), sedangkan ‘Car’ dalam bahasa Sanskrit artinya ‘keseimbangan/ keharmonisan’. Jika dirangkaikan, maka dapat diartikan: Caru adalah korban (binatang) untuk memohon keseimbangan dan keharmonisan.

‘Keseimbangan/ keharmonisan’ yang dimaksud adalah terwujudnya ‘Trihita Karana’ yakni keseimbangan dan keharmonisan hubungan manusia dengan: Tuhan (parhyangan), sesama manusia (pawongan), dan dengan alam semesta (palemahan).

Bila salah satu atau lebih unsur-unsur keseimbangan dan keharmonisan itu terganggu, misalnya: pelanggaran dharma/ dosa, atau merusak parhyangan (gamia-gamana, salah timpal, mitra ngalang, dll), perkelahian, huru-hara yang merusak pawongan, atau bencana alam, kebakaran dll yang merusak palemahan, patut diadakan pecaruan.