Google+
Tampilkan postingan dengan label tombak Ki Baru Gudug. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tombak Ki Baru Gudug. Tampilkan semua postingan

Ida Tohjiwa atau Gusti Ngurah Tohjiwa

Ida Tohjiwa atau Gusti Ngurah Tohjiwa

Ida Tohjiwa atau Ida Sukaluwih, adik dari I Gusti Panataran, putra dari Ida Wang Bang Tulus Dewa.

Seperti diceriterakan di depan Ida Tohjiwa kemudian beralih wangsanya menjadi Arya-Kstariya mengikuti kakaknya Ida Bang Panataran yang menjadi I Gusti Ngurah Panataran atau I Gusti Ngurah Kacangpawos. Karena itu berliau bernama I Gusti Ngurah Tohjiwa. 

Beliau juga menjadi pejabat mendampingi Ida Dalem Smara Kepakisan di Gelgel, kemudian ketika Ida Dalem wafat, beliau diganti oleh Ida Dalem Waturenggong. Ida Dalem Waturenggong sudah berusia lanjut kemudian berpulang ke Sorgaloka. Ada putranya dua orang masih kanak-kanak, yang bernama:

  • I Dewa Pamahyun, 
  • Ida I Dewa Dimade atau Ida I Dewa Anom Sagening nama beliau yang lain. 

Kemudian I Dewa Pamahyun yang menggantikan Ida Dalem Waturenggong, namun masih kanak-kanak, sehingga beliau diasuh oleh paman beliau. Pada saat itu yang menjadi patih adalah Kriyan Batan Jeruk.

Runtuhnya Kerajaan Kertalangu Arya Penatih

Runtuhnya Kerajaan Kertalangu Arya Penatih

Sesudah satu bulan tujuh hari lamanya berselang kutukan dari Dukuh Pahang, datanglah ciri Kyai Anglurah Agung Pinatih Rsi didatangi semut tak terhitung banyaknya merebut, ada dari bawah, dari atas jatuh berkelompok-kelompok. Itu sebabnya merasa gundah hati Kyai Anglurah Agung Pinatih besereta para isteri, putra, cucu semuanya. 

Karena demikian keadaannya, kemudian diadakan pertemuan dengan sanak saudara semuanya, berencana akan berpindah dari Purian, menuju Pura Dalem Paninjoan. Sesampainya di sana, kemudian diberitahukan semua rakyatnya untuk membuat Taman dikitari dengan telaga, telaga itu dikelilingi dengan api, di tengahnya telaga barulah dibangun tempat peraduan. Namun masih saja dicari, direbut oleh semut, berbukit-bukit tingginya kemudian jatuh di tengahnya Taman itu.

Karena itu halnya, kembali Kyai Anglurah Agung Pinatih menyelenggarakan pertemuan, bertukar pikiran dengan saudaranya semua serta didampingi oleh rakyatnya. Semuanya merasa masgul, kemudian meninggalkan Pura Dalem Paninjoan, berpindah lalu berdiam di sebelah timur sungai, diiringi rakyatnya semua. Tentu saja Kyai Anglurah Agung Pinatih berpikir tentang kedigjayan sira Dukuh. Kemudian beliau merencanakan akan berpindah dari tempat itu, serta diberitahukan kepada balanya, siapa yang sanggup menjaga Pura Dalem itu, boleh tidak ikut mengiringkan Kyai Anglurah Pinatih. Kemudian segera matur anggota masyarakat beliau yang bernama Ki Bali Hamed, ia akan menuruti kehendak beliau untuk menjaga Pura Dalem itu.

Pada saat itu I Gusti Tembawu menyatakan tidak bisa mengikuti keinginan ayahandanya, demikian juga I Gusti Ngurah Kepandeyan, yang pernah berpaman dengan I Dukuh, dan karena memang tidak baik dalam hubungan bersanak saudara, karena sudah terlanjur bertempat tinggal di sana serta memperoleh kebaikan di wilayah Intaran. Usai sudah perbincangan yang diadakan, kemudian diputuskanlah hubungan pasidikaraan dengan I Gusti Tembawu dan I Gusti Kepandeyan.

Disebabkan karena masih juga diburu oleh semut, kembali beliau beralih tempat bersama menuju Geria milik Ida Peranda Gde Bandesa dan di tempat tinggal Ida Peranda Gde Wayan Abian, seperti para putranya semua, yang ada di Kerthalangu, ke Padanggalak, di sana Kyai Anglurah Agung Pinatih bertempat tinggal diiringi rakyatnya semua.