Google+

Rabu, 23 Juni 2010

Upacara Yadnya – dalam kehidupan masyarakat Bali Hindu

Upacara Panca Yadnya – dalam kehidupan masyarakat Bali Hindu

Om Swastyastu
Om Anobhadrah krtavoyanthu visvataha (semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru).
Sejarah menyatakan, bahwa pada jaman dahulu kala di wilayah Nusantara Indonesia telah berdiri Kerajaan-Kerajaan Besar seperti salah satu di antaranya adalah Kerajaan Majapahit yaitu sebuah Kerajaan penganut Agama Hindu yang merupakan Kerajaan terbesar yang bisa menyatukan seluruh wilayahnya sampai ke Madagaskar.

Pada jaman itu sudah ada hubungan dagang dengan negara Luar Negeri terutama dengan Negeri Campa, yang saat ini Negara Cina.

Kerajaan ini bertempat di Jawa Timur, yang pada jaman keemasannya dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Hayam Wuruk dengan Patihnya bernama Gajah Mada.

Pada jaman itu perkembangan budaya yang berlandaskan Agama Hindu sangat pesat termasuk di Daerah Bali dan perkembangan terakhir menunjukkan bahwa para Arya dari Kerajaan Majapahit sebagian besar hijrah ke Bali dan di Daerah ini para Arya-Arya tersebut lebih memantapkan ajaran-ajaran Agama Hindu sampai sekarang.

Masyarakat Hindu di Bali dalam kehidupan sehari-harinya selalu berpedoman pada ajaran Agama Hindu warisan para lelulur Hindu di Bali terutama dalam pelaksanaan upacara ritual dalam Falsafah Tri Hita Karana. Arti kata Tri Hita Karana yakni Tiga keharmonisan yang menyebabkan adanya kehidupan, diantaranya:
  1. Parhyangan, hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan
  2. Pawongan, hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia
  3. Palemahan, hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam
lebih lanjut, silahkan baca "Implementasi Tri Hita Karana dalam Kehidupan"
Dalam pelaksanaannya tetap berlandaskan:

  • Tatwa (aturan/kitab suci), 
  • Susila (kebiasaan) dan 
  • Upacara.
kata "Yadnya" seperti yang kita ketahui sudah lama populer, tetapi masih banyak umat yang memberi arti sempit pada kata yadnya tersebut. Bagi umat yang masih awam setiap mendengar kata yadnya dalam benaknya selalu terbayang bahwa di suatu tempat ada berbagai jenis sesajen, asap dupa mengepul, bau bunga dan wangi kemenyan yang semerbak, ada puja stawa sulinggih atau pemangku, ada suara tabuh, kidung, gambelan yang meriah dan berbagai atraksi seni religious. Bayangan tersebut tidaklah salah, namun ada kekeliruan anggapan kalau yadnya diidentikkan dengan kegiatan upacara keagamaan, yang sesungguhnya pengertian yadnya tidak sesempit itu.
Dasar hukum pelaksanaan Yajna ditemukan di berbagai literatur Hindu. Seperti misalkan didalam kitab-kitab Brahmana, Grya Sutra, Kalpasutra, Siwa Purana, Bhagavata Purana dll.
Kata "yajnya" sesungguhnya berasal dari bahasa sanskerta.
Yadnya secara etimologi berasal dari akar kata Yaj artinya : “korban”.
Dengan demikian yadnya dapat diartikan korban suci dengan tulus iklas. Pengorbanan dalam konteks ini cakupanya sangat luas dan bukan saja dalam bentuk ritual, upakara tetapi dapat juga dipahami sebagai pengorbanan dalam bentuk pikiran, tindakan dan yang lainya.
Dalam kitab Bhagawadgita IV.33 dinyatakan sebagai berikut:
Sreyaan dravyamayaad yadnyaaj.
Jnyanayadnyaah paramtapa.
Sarvam karmaa'khilam paartha.
Jnyaane parsamaapyate (Bhagavad Gita IV.33)
Artinya:
Lebih utama persembahan dengan Jnyana Yadnya daripada persembahan materi dalam wujud apa pun. Sebab, segala pekerjaan apa pun seharusnya berdasarkan ilmu pengetahuan suci (Jnyana).

Berdasarkan sloka Bhagavadgita di atas, ini memberikan sebuah pesan bahwa disiplin apapun yang kita lakukan hendaknya dilakukan dengan penuh rasa Bhakti. Dalam sebuah instansi/lembaga tertentu; baik pimpinan maupun bawahan, kelompok kerja yang satu dengan kelompok kerja yang lain, dalam kehidupan rumah tangga; baik Suami maupun istri, orang tua dengan anak, dll. Hendaknya mereka semua melaksanakan swadharma-nya masing-masing dengan penuh rasa Bhakti. Apabila sudah demikian maka unsur-unsur Bhakti seperti hormat, sujud, tulus ikhlas, mencintai, menyayangi, kesucian olas asih akan dapat dibangun, dan itu semua adalah Yadnya juga.
Merujuk pada sumber Atharva Veda, ada ditegaskan sebagai berikut:
Satyam brhad rtam ugram diksa, tapo brahma yajna prthivim dharayanti”.
Terjemahannya,
“sesungguhnya kebenaran (satya), hukum (rta), inisiasi (diksa), pengendalian indria (tapa), pujian atau doa (brahma), pengorbanan (yajna) adalah yang menyangga bumi” ( Atharva Veda XII.1.1).
Kutipan mantra tersebut secara sederhana dapat dijelaskan bahwa ada enam langkah untuk menjaga/menyangga Bumi (Alam Semesta), baik dalam perjalanan Atman untuk menurunkan Jagadhita/Siva membumi (Siva Lingga) dan disaat perjalanan Atman menuju naik dalam kehidupan spiritualnya untuk Moksa (Atma Lingga).

dalam Agastya Parwa, ada ditegaskan sebagai berikut:
Kalinganya: tiga ikan karyamuhara swarga; tapa, yajna, kirtti,…lewih tekan tapa saken yajna, lewih tekan yajna saken kirtti, ikan tigan siki prawrtti-kadharma naran ika, kunan ikan yoga yeka nirwrtti-kadharma naranya”.
Terjemahannya.
“Ada tiga macam yang menyebabkan sorga, yaitu tapa, yajna, kirtti,…adapun keutamaan dari pada tapa atau pengendalian diri munculnya atau tumbuhnya dari yajna atau persembahan atau pemujaan, sedangkan keutamaan dari pada yajna atau persembahan/pemujaan munculnya dari kirtti atau kerja/pengabdian, demikianlah ketiganya itu disatukan yang disebut prawrtti-kadharma, tetapi mngenai ajaran yoga itu disebut dengan nirwrtti-kadharma”.
Kutipan sloka tersebut secara sederhana dapat dijelaskan bahwa tentang tiga macam perbuatan (karma) yang menyebabkan seseorang dapat menciptakan sorga di dunia, baik dalam dirinya, orang lain maupun seluruh sekalian alam (Bhuana Agung), ketiga perbuatan itu disebut prawrtti kadharma, yaitu tapa, yajna, kirtti.

Prawrtti kadharma ini gerakannya bersifat eksternalisasi, artinya memiliki putaran keluar dengan menempatkan Bhuana Agung sebagai objek kajian. Yang dimasud disini adalah bagaimana seorang secara eksternalisasi berusaha menciptakan Jagadhita, untuk membangun peradaban manusia lain (divine society), lingkungan sekitar dan seluruh sekalian alam (divine ekosistem). Sedangkan Nirwrtti kadharma gerakannya bersifat internalisasi, artinya memiliki putaran kedalam dengan menempatkan Bhuana Alit sebagai objek kajian. Yang dimaksud disini adalah bagaimana seorang secara internalisasi berusaha untuk mengintrospeksi diri (mulat sarira) dalam bahasa yang lain adalah mayoga artinya melakukan sebuah perenungan untuk membangun jiwa yang stabil.

dalam kitab Itihasa Ramayana yang telah digubah dalam bentuk Kakawin Ramayana Bab I sloka 3 menyebutkan Sang Dasaratha sebagai sosok manusia yang utama yang mampu membangun keharmonisan bagi dirinya dan orang lain, dengan cara seperti berikut.
Gunamanta sang Dasaratha, Wruh sira ring Veda, Bhakti ring Deva tan marlupeng pitra puja, masih ta sireng swagotra kabeh”.
Terjemahannya.
“Bahwa Raja Dasaratha adalah seorang pemimpin yang memahami pengetahuan suci Veda, taat beragama, Bhakti kepada Tuhan dan tidak melupakan leluhur/pendahulu-pendahulunya, serta adil dan mengasihi seluruh rakyatnya.
Dasar-dasar aturan beryadnya juga dimuat didalam Bhagavad Gita, seperti sloka berikut:
“Kalau seseorang mempersembahkan daun, bunga, buah, atau air dengan cinta bhakti, Aku akan menerimanya” (Bhagawad Gita IX. 26).
“Apapun yang engkau lakukan, apapun yang engkau makan, apapun yang engkau persembahkan atau berikan sebagai sumbangan serta pertapaan dan apapun yang engkau lakukan-lakukanlah kegiatan itu sebagai persembahan kepada-Ku, wahai putera Kunti” (Bhagavad Gita IX.27).
“Dengan cara seperti ini engkau akan dibebaskan dari ikatan terhadap pekerjaan serta hasil yang menguntungkan dan tidak menguntungkan dari pekerjaan itu. Dengan pikiran dipusatkan kepada-Ku dalam prinsip pelepasan ikatan ini, engkau akan mencapai pembebasan dan datang kepada-Ku” (Bhagavad-gita IX.28).
Dalam hukum nasional setiap jengkal tanah sebenarnya adalah milik Negara, sehingga setiap orang yang hidup diatas wilayah suatau Negara harus membayar pajak untuk kesejahteraan masyarakat. Demikian juga berlaku dengan alam semesta, yang sebenarnya semua ini adalah milik Tuhan sehingga wajib hukumnya manusia mempersembahkan hasil bhumi kepada Tuhan melalui menifestasiNYA, terutama berupa makanan. Mereka yang memakan makanan sebelum dipersembahkan dikatakan sebagai pencuri.
“Para dewa mengurus berbagai kebutuhan hidup. Bila para dewa dipuaskan dengan pelaksanaan yajna (korban suci), mereka akan menyediakan segala kebutuhan untukmu.Tetapi orang yang menikmati berkat-berkat itu tanpa mempersembahkannya kepada para dewa sebagai balasan pasti adalah pencuri” (Bhagavad-gita 3.12).
“Para penyembah Tuhan dibebaskan dari segala jenis dosa karena mereka makan makanan yang dipersembahkan terlebih dahulu untuk korban suci. Orang lain, yang menyiapkan makanan untuk kenikmatan indria-indria pribadi, sebenarnya hanya makan dosa saja” (Bhagavad-gita 3.13).
“Setelah melakukan persembahan kepada Dewa manifestasi Tuhan, kepada para Resi, leluhur yang telah suci (Dewa Pitara), kepada Dewa penjaga rumah dan juga kepada tamu. Setelah itu barulah pemilik rumah makan. Dengan demikian ia lepas dari dosa” (Manawa Dharmasastra III.117).
Didalam Mahabharata ada juga sebuah cerita yang sangat erat kaitannya dengan hal persembahan kepada Tuhan dengan makanan atau memberi Tuhan makan.
Diceritakan ketika sekelompok Brahmana hendak bertamu ke tempat Drupadi (Istri Pandava). Sebelum mereka bertamu, mereka sudah memberitahu Drupadi bahwa mereka akan bertamu setelah mereka selesai mandi di sungai.
Ternyata saat itu Pandawa sedang tidak memiliki bahan makanan (beras ). Menurut ajaran Hindu "tamu" dihormati bagaikan Dewa. Didalam kitab suci dikatakan Tamu itu dapat mengantarkan seseorang ke alam surga kelak. Oleh karena itulah Drupadi merasa berkewajiban mepersembahkan makanan kepada tamunya. Terlebih lagi yang akan bertamu adalah Brahmana yang agung, apabila ia marah, Drupadi bisa dikutuk apabila tidak menghormati tamunya dengan menyediakan makanan. 
Saat Drupadi (istri pandawa) dalam kebingungan karena tidak memiliki bahan makanan, kemudiaan ia memohon kepada Tuhan agar diberi jalan keluar, Drupadi takut kalau nantinya dikutuk oleh Brahmana tersebut. Dalam keadaan bingung memikirkan hal itu, Ketika itulah datang Shri Kresna (awatara Tuhan) dan mempertanyakan apa sebabnya Drupadi kebingungan. Diceritakanlah masalah yang dihadapi kepada Shri Kresna.
Shri Kresna kemudian menyuruh Drupadi untuk mengambil sedikit beras di tempat penyimpanan berasnya. Ternyata masih tinggal satu butir beras saja yang ada disana dan itu diberikan kepada Shri krsna. Kemudian Shri kresna tersenyum dan menelan sebutir beras tersebut.
Sungguh ajaib, para Brahmana yang sudah selesai mandi di sungai yang segera akan bertamu ke rumah Drupadi, tiba-tiba mereka semua merasa kenyang. Karena Shri kresna telah menjadikan orang-orang lapar menjadi kenyang oleh karena persembahan sebutir beras. Sehingga para Brahmana tidak jadi bertamu ke rumah Drupadi.
Jadi kesimpulan dari cerita tersebut:

  • pertama; seseorang itdak boleh menghabiskan beras di penampungan beras, harus ada sisa disana. 
  • Kedua; persembahan kepada Tuhan wajib hukumnya meski hanya beberapa jumput nasi karena dengan demikian semua mahkluk dapat berbahagia.

Demikianlah betapa pentinya mempersembahkan makanan kepada Tuhan karena dengan demikian kesejateraan bersama dapat dicapai. Tuhan akan mengelola persembahan yang diberikan oleh umat-Nya untuk kesejahteraan orang banyak.

Intinya bahwa Tuhan tidak makan, meski seolah-olah Tuhan itu diberi makan. Tuhan melalui manifestasiNYA hanya mengelola apa yang dipersembahkan oleh seseorang dan kemudian diperuntukan kepada orang lain yang membutuhkannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa persembahan itu “dari kita untuk kita, demi kesejahteraan kita”.

kembali ke pokok bahasan panca yadnya, Panca Yadnya adalah : Panca artinya lima dan Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan Tuhan yang dalam istilah Bali masyarakat Hindu menyebutkan Ida Sanghyang Widi Wasa. Berdasarkan waktu pelaksanaannya, yajna dikelompokan ke dalam yajna yang dilakukan sehari-hari ( nitya karma ) dan yajna yang dilakukan sewaktu-waktu ( naimitika karma ).

Adapun pelaksanaan Panca Yadnya terdiri dari :
  1. Dewa Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan para dewa-dewa.
  2. Butha Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan unsur-unsur alam.
  3. Manusa Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kepada manusia.
  4. Pitra Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas bagi manusia yang telah meninggal.
  5. Rsi Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan para orang suci umat Hindu.

kegiatan Yadnya ini didasari oleh Tri Rna yaitu tiga hutang yang mesti dibayar sehubungan dengan keberadaan kita. adapun tri rana tersebut adalah
  1. Dewa Rna, hutang kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai para dewata yang telah memberikan anungrahnya kepada setiap mahluk.
  2. Pitra Rna, hutang kepada para leluhur termasuk orang tua, sehubungan dengan kelahiran kita serta perhatiannya semasahidup.
  3. Rsi Rna, hutang kepada para sulinggih, pemangku dan para guru lainya atas bimbingannya selama ini.
hutang – hutang tersebut kemudian dibayar dengan yadnya, yang kemudian diaplikasikan dengan Panca Yadnya. adapun cara pembayaran tersebut adalah:
  1. Dewa Rna, dibayar melalui Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya.
  2. Pitra Rna, dibayar dengan Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya.
  3. Rsi Rna, dibayar melalui Rsi Yadnya.

Sesuai dengan agama dan tradisi di Bali, masyarakat Bali Hindu sesungguhnya manusia yang penuh ritual agama yang terbungkus dalam Panca Yadnya. Ritual agama itu dilakukan terhadap manusia Bali Hindu dari sejak dalam kandungan, dari lahir sampai menginjak dewasa, dari dewasa sampai mulih ke tanah wayah (meninggal).

Pemberkahan demi pemberkahan dilakukan untuknya dengan segala bebantenan serta mantra-mantranya agar munusia Bali Hindu itu menjadi manusia yang berbudi luhur atau memiliki sifat kedewataan di mayapada ini dan bisa amoring acintya dengan Sanghyang Widhi di alam vaikunta (alam keheningan).

dijaman yang modern seperti sekarang ini yang mana kehidupan masyarakat yang serba praktis pola hidup masyarakat cendrung konsomtif (serba instan) dan hedonisme. Masyarakat pada umumnya melakoni hidup dengan rutinitas yang padat, terkadang sampai lupa waktu, terutama masyarakat yang hidup di kota-kota besar. Jika umat tidak memahami tatwa yadnya yang sesungguhnya , sudah pasti umat akan beranggapan bahwa beryadnya khususnya di Hindu akan sangat memberatkan umat kerena penuh dengan ritual upacara dengan berbagai sesajen atau banten yang begitu banyak. Sesungguhnya jika umat memahami "tatwa" atau esensi dari yadnya, maka umat akan dapat memahami kalau beryadnya tidak hanya dengan ritual semata tetapi dapat pula dilakukan dengan melaksanakan ajaran dharma. Jika segala sesuatu atau perbuatan yang kita lakukan berdasarkan atas dharma dengan tulus ikhlas dapat disebut yadnya.

Dalam Bhagawadgita dikatakan:
"belajar dan mengajar yang didasari oleh keiklasan serta penuh pengabdian untuk memuja nama Tuhan maka itu pun tergolong kedalam yadnya. Memelihara alam dan lingkungan sekitar pun tergolong kedalam yadnya. Mengendalikan hawa nafsu dan panca indra adalah yadnya. Selain itu menolong orang sakit, mengentaskan kemiskinan, menghibur orang yang sedang tertimpa musibah pun adalah yadnya."
Jadi jelaslah yadnya itu bukan terbatas pada kegiatan upacara keagamaan saja.

Umat sedharma yang berbahagia jika umat telah memahami tatwa yadnya yang sesungguhnya maka umat tidak akan beranggapan kalau yadnya yang setiap hari kita lakukan hanya berkutat dengan ritual upacara semata yang penuh dengan sesajen. Hal tersebut terkadang dapat memberatkan umat sehingga muncul anggapan kalau beryadnya itu rumit dan terkesan ada unsur pemaksaan.
Sesungguhnya jika dipahami, Hindu itu merupakan Agama yang fleksibel.
Hindu adalah “cara hidup” kata S Radhakrisnan. 
Hindu disetiap aktifitasnya menunjukan elastisitasnya (fleksibel) tidak kaku” ujar MK Gandhi.
Hindu fleksibel tidak membunh budaya setempat dimana Hindu itu berkembang, seperti ibarat bola karet yang mengelinding. Menggelinding di pasir ia akan menjadi pasir, menggelinding dirumput ia akan menjadi rumput”. Ujar Svami Vivekananda. 
Jadi ajaran Hindu tidak kaku, demikian juga kaitanya dalam melakukan ritual yadnya Hindu tidak mengharuskan beryadnya dengan kemegahan dan kemewahan serta mengeluarkan uang banyak.

Jika ditinjau dari tiga kerangka dasar Agama Hindu yaitu Tatwa, Etika, dan Upakara atau Upacara, dimana kerangka ini merupakan cerminan dari

  • Tri Angga Sarira” dari manusia diantaranya ada badan Atma yang bermanifestasi sebagai “Mahat” dan tercermin sebagai Tatwa. 
  • badan Antakarana (jiwa) bermanifestasi sebagai “Budhi” dan tercermin sebagai perilaku atau etika. 
  • adanya jasad tubuh “Panca Maha Butha” bermanifestasi sebagai “Ahamkara” dan merupakan cerminan upakara atau upacara (bersifat material). 
Sesungguhnya yadnya yang kita lalukan adalah cerminan dari diri sendiri, dikatakan dalam Upanisad; sesungguhnya tuhan berada dalam diri kita sendiri. Jika kita ingin memiliki atau mempersembahkan yadnya yang berkualitas hendaknya kita mampu mengendalikan diri sendiri terutama mengendalikan pikiran.

Manawa Dharmasastra II.92 dikatakan bahwa;
pikiran adalah indra yang kesebelas, pikiran itu disebut rajendrya atau raja-raja indria”.
Jadi jika ingin yadnya yang kita persembahkan berkualitas, maka kita harus dapat memahami bahwa sebenarnya Tuhan ada dalam diri serta mampu untuk mengendalikan pikiran. Sebab pikiran merupakan penyebab dari kehancuran.

Demikian untuk dipahami umat sedharma, beryadnya yang berkualitas bukan diukur dari kemegahan dan besar kecilnya upacara. Sesungguhnya kualitas dari yadnya tersebut berada dalam diri sendiri. Jika sudah mampu untuk mengendalikan pikiran, tindakan dan nafsu dalam diri maka apapun perbuatan yang kita lakukan adalah yadnya yang berkualitas.

Sesungguhnya tatwa atau esensi dari yadnya yang kita lakukan adalah bertolak ukur dari diri sendiri. Selain itu jika dikaitkan dengan kehidupan dijaman yang modern ini tatwa yadnya itu sendiri, bilamana kita mampu untuk mengendalikan pikiran dan tindakan serta dapat menolong orang yang sedang kesusahan adalah besar yadnya tersebut.

Jika kita menghargai ciptaan Tuhan maka kita secara tidak langsung telah melakukan yadnya yang utama. Seperti dalam Hindu dikatakan dalam konsep:
"Tat Twam Asi", aku adalah kamu
yang artinya:
jika kita menyayangi dan memelihara ciptaan Tuhan maka sama artinya kita mempersembahkan bhakti kepada-Nya. 
Berikut ini daftar ritual agama yang dilakukan manusia Bali Hindu (Panca Yadnya) sesuai dengan tradisi di Bali:

Ritual Manusa Yadnya, diantaranya:

  1. Pegedong-gedongan - dilakukan saat kehamilan berumur 175 hari ( 6 bulan kalender). Upacara pertama sejak tercipta sebagai manusia.
  2. Bayi Lahir - upacara angayu bagia atas kelahiran. Perawatan terhadap ari-ari si bayi.
  3. Kepus Puser - bayi mulai diasuh Hyang Kumara.
  4. Ngelepas Hawon - dilaksanakan pada bayi berumur 12 hari.
  5. Kambuhan - upacara bulan pitung dina (42 hari), perkenalan pertama memasukkan tempat suci pemrajan.
  6. Nelu Bulanin/Nyambutin - upacara tiga bulanan (105 hari), penekanannya agar jiwatma sang bayi benar-benar berada pada raganya.
  7. Otonan (Oton Tuwun) - upacara saat pertama bayi menginjakan kakinya pada Ibu Pertiwi (210 hari).
  8. Tumbuh Gigi - mohon berkah agar gigi si bayi tumbuh dengan baik.
  9. Meketus - si anak sudah tidak lagi diasuh Hyang Kumara (tidak lagi mebanten di pelangkiran Hyang Kumara)
  10. Munggah Daha / raja sewala - upacara menginjak dewasa, saat-saat merasakan getaran asmara.
  11. Potong Gigi/metatah - simbolis pengendalian Sad Ripu.
  12. Mawinten - mohon waranugraha utk mempelajari ilmu pengetahuan.
  13. Upacara Perkawinan - (a) medengen-dengenan (mekala-kalaan), (b) natab.
Ritual Rsi Yadnya, diantaranya:
  1. Mapodgala Eka Jati, pawintenan Pemangku
  2. Madwi Jati - Mengangkat Sulinggih
Ritual Pitra Yadnya, diantaranya:
  1. Upacara Ngaben/Palebon - pengembalian panca mahabuta.
  2. Upacara Nyekah/Maligia - Atma Wedana yang dilanjutkan dengan ngelingihin Betara Hyang di pemrajan.
Ritual Dewa Yadnya, diantaranya
  1. Upacara Piodalan  – memohon ketentraman alam

Ritual Bhuta Yadnya, diantaranya:
  1. Yadnya Sesa atau Banten Saiban (masaiban)
  2. Banten Segehan,
  3. Mecaru /Caru
  4. Tawur Agung

Semua upacara di atas disertai dengan bebantenan sesuai dengan fungsi atau peruntukannya. Daftar ritual agama di atas menunjukkan bahwa manusia Bali Hindu secara tradasi penuh dengan ritual agama. Seolah-olah tiada hidup tanpa ritual agama baik pada dunia maya ini maupun pada dunia akhirat (sekala dan niskala).

Jika semua upacara itu bisa diterapkan sesuai dengan aturannya, maka manusia Bali diharapkan menjadi manusia yang memiliki sifat yang mengarah kesifat kedewataan, pergerakan perilaku dari tamasik- rajasik mengarah ke rajasik-satwika atau bahkan pada satwika. Perputaran perilaku itu dapat dihasilkan dari begitu dalam makna tahap demi tahap ritual agama itu utk menghantarkan menjadi manusia yang bersifat rajasik-satwika atau satwika dari getaran-getaran energi positif getaran bebantenan dan mantra-mantranya secara sinergistik.

Dari sekian banyak upacara yang mesti dilakukan, sudah pasti ada variasi penerapannya dalam dunia modern ini dimana manusia termasuk manusia Bali Hindu kena imbas dalam memaknai hidup secara budaya modern.
Sepertinya sangat jarang yang menuruti 100% upacara itu, atau bahkan masih banyak yang menerapkannya 100%?
Walaupun demikan manusia Bali masih mendapat penghormatan sebagai manusia dalam pergaulan dalam peran sebagai mahluk sosial. Bahkan ada kesan bahwa orang Bali itu dapat menyejukkan jika bersentuhan dalam berinteraksi sosial dengan mahluk homo sapien di jagat raya ini.

Adakah dampak spiritual dari ritual agama itu terhadap pembentukan manusia Bali Hindu?
Lepas permasahanannya ya/tidak, yang jelas demikian sebenarnya sosok manusia Bali sesuai dengan tradisi Bali Hindu di Bali.

Demikian Upacara Yadnya yang dilaksanakan oleh Umat Hindu di Bali sampai sekarang yang mana semua aktifitas kehidupan sehari-hari masyakat Hindu di Bali selalu didasari atas Yadnya baik kegiatan dibidang sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, pertanian, keamanan dan industri semua berpedoman pada ajaran-ajaran Agama Hindu yang merupakan warisan dari para leluhur Hindu di Bali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar