Google+

implementasi Tri Hita Karana dalam kehidupan

implementasi Tri Hita Karana dalam kehidupan

Om Swastyastu,
Istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11 Nopember 1966, pada waktu diselenggarakan Konferensi Daerah l Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di Perguruan Dwijendra Denpasar. Konferensi tersebut diadakan berlandaskan kesadaran umat Hindu akan dharmanya untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Kemudian istilah Tri Hita Karana ini berkembang, meluas, dan memasyarakat.
Tri Hita Karana merupakan suatu konsep atau ajaran dalam agama hindu yang selalu menitikberatkan bagaimana antara sesama bisa hidup secara rukun dan damai. 
Tri HitaKarana
Tri Hita Karana:
Hubungan Manusia dengan Tuhan (Parhyangan), dengan Sesama (Pawongan) dan dengan Alam Lingkungan (Palemahan)
Tri hita karana bisa diartikan Secara leksikal yang berarti tiga penyebab kesejahteraan. Yang mana Tri yang artinya tiga, Hita yang artinya sejahtera, dan Karana yang artinya penyebab. Pada hakikatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara: 

  1. Manusia dengan Tuhannya (Parhyangan), 
  2. Manusia dengan alam lingkungannya (Palemahan), dan
  3. Manusia dengan sesamanya (Pawongan)

Konsep Tri Hita Karana muncul berkaitan dengan keberadaan desa adat di Bali. Hal ini disebabkan oleh terwujudnya suatu desa adat di Bali bukan saja merupkan persekutuan daerah dan persekutuan hidup atas kepentingan bersama dalam masyarakat, namun juga merupakan persekutuan bersama dalam kepercayaan memuja Tuhan. Dengan kata lain bahwa ciri khas desa adat di Bali harus mempunyai unsur wilayah, orang-orang atau masyarakat yang menempati suatu wilayah serta adanya tempat suci untuk memuja Tuhan.

Unsur- unsur Tri Hita Karana ini meliputi:
  1. Sanghyang Jagatkarana. (tuhan)
  2. Bhuana (alam dan lingkungan)
  3. Manusia
Unsur- unsur Tri Hita Karana itu terdapat dalam kitab suci Bagawad Gita (III.10), berbunyi sebagai berikut:
Sahayajnah prajah sristwa pura waca prajapatih anena prasawisya dhiwan esa wo'stiwistah kamadhuk
Artinya :
Pada jaman dahulu Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya dan bersabda: dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk dari keinginanmu.
Dalam sloka Bhagavad-Gita tersebut ada nampak tiga unsur yang saling beryadnya untuk mendapatkan yaitu terdiri dari:
  • Prajapati = Tuhan Yang Maha Esa
  • Praja = Manusia

Penerapan Tri Hita Karana.

Penerapan Tri Hita Karana dalam kehidupan umat Hindu sebagai berikut
  1. Hubungan antara manusia dengan Tuhannya yang diwujudkan dengan Dewa yadnya.
  2. Hubungan manusia dengan alam lingkungannya yang diwujudkan dengan Bhuta yadnya.
  3. Hubungan antara manusia dengan sesamanya diwujudkan dengan Pitra, Resi, Manusia Yadnya.

Penerapan Tri Hita Karana dalam kehidupan umat Hindu di Bali dapat dijumpai dalam perwujudan:

Parhayangan

Parhyangan berasal dari kata hyang yang artinya Tuhan. Parhayangan berarti ketuhanan atau hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan dalam rangka memuja ida sang hyang widhi wasa. Dalam arti yang sempit parhyangan berarti tempat suci untuk memuja tuhan. dalam hal ini Parhyangan dapat dilihat  di beberapa tingkat di bali yaitu: Parahyangan untuk di tingkat daerah berupa Kahyangan Jagat, Di tingkat desa adat berupa Kahyangan desa atau Kahyangan Tiga, Di tingkat keluarga berupa pemerajan atau sanggah.

Menurut tinjauan Dharma susilanya, manusia menyembah dan berbhakti kepada tuhan disebabkan oleh sifat-sifat parama (mulia) yang dimilkinya. Rasa bhakti dan sujud pada tuhan timbul dalam hati manusia oleh karena sanghyang widhi maha ada, maka kuasa, maha pengasih yang melimpahkan kasih dan kebijaksanaan kepada umatnya. Kita Sebagai umat yang beragama yang bernaung dibawah perlindungannya sangat berutang budi lahir bhatin kepada beliau. Dan utang budhi tersebut tak akan terbalas oleh apapun. Karena hal tersebut diatas, maka satu-satunya dharma/susila yang dapat kita sajikan kepada beliau hanyalah dengan jalan menghaturkan parama suksmaning idep atau rasa terima kasih kita yang setinggi-tingginya kepada beliau.

Adapun contoh implementasi rasa syukur kita kepada tuhan adalah dengan jalan :

  1. Dengan khidmat dan sujud bhakti menghaturkan yadnya dan persembahyangan kepada tuhan yang maha esa).
  2. Berziarah atau berkunjung ketempat-tempat suci atau tirta yatra untuk memohon kesucian lahir dan bhatin
  3. Mempelajari dengan sungguh-sungguh ajaran-ajaran mengenai ketuhanan, mengamalkan serta menuruti dengan teliti segala ajaran-ajaran kerohanian atau pendidikan mental spiritual. 
Dalam Bhagawadgita dikatakan bahwa :

Satatam kirtayatom mam

Yatantas ca drsha vrtatah

Namasyantas ca mam bhatya

Ni tyayuktah upsate”(BG.IX.14)
Yang artinya adalah :
Berbuatlah selalu hanya untuk memuji-Ku dan lakukanlah tugas pengabdian itu dengan tiada putus-putusnya. Engkau yang memujaku dengan tiada henti-hentinya itu serta dengan kebaktian yanbg kekal adalah dekat dengan-Ku.
Disamping itu rasa bhakti (silahkan baca "Bhakti Marga Yoga") kepada ida sanghyang widhi wasa itu timbul dalam hati manusia berupa sembah, puji-pujian, doa penyerahan diri, rasa rendah hati dan rasa berkorban untuk kebajikan. Kita sebagai umat manusia yang beragama dan bersusila harus menjunjung dan memenuhi kewajiban, antara lain cinta kepada kebenaran, kejujuran, keikhlasan, dan keadilan.

Dengan demikian jelaslah begaimana hubungan antara sanghyang widi dengan manusia. Hubungan ini harus dipupuk dan ditingkatkan terus kearah yang lebih tinggi dan lebih suci lahir bhatin. Sesuai dengan swadharmaning umat yangb religius, yakni untuk dapat mencapai moksartam jagad hita ya ca itri dharma, yakni kebahagiaan hidup duniawi dan kesempurnaan kebahagioan rohani yang langgeng (moksa).

Pawongan

Pawonan berasal dari kata wong (dalam bahasa jawa) yang artinya orang. Pawongan adalah perihal yang berkaitan dengan orang dalam satu kehidupan masyarakat, dalam arti yang sempit pawongan adalah kelompok manusia yang bermasyarakat yang tinggal dalam satu wilayah, contohnya: Pawongan untuk di tingkat daerah meliputi umat Hindu di Bali, Untuk di desa adat meliputi krama desa adat, Tingkat keluarga meliputi seluruh anggota keluarga

Pada mulanya Tuhan yang lebih dulu menciptakan bhuwana atau alam, maka munculah palemahan, setelah itu barulah beliau menciptakan manusia beserta mahluk hidup lainya. Setelah manusia berkembang dan menghimpun diri dalam kehidupan bersama dan mendiami suatu wilayah tertentu maka muncullah masyarakat yang disebut dengan pawongan.

Selain menyelaraskan hubungan atman dengan paramatman atau hubungan manusia dengan tuhan, kita sebagai mahluk sosial juga harus membina hubungan dengan sesama Manusia dan mahluk lainya. Yang dimaksud dengan hubungan antar manusia dan mahluk lain ini adalah hubungan antar anggota keluarga , masyarakat, antara anak, suami dan istri dan lainnya. Hubungan manusia dengan mahluk lainya hendaknya dapat menciptanya suasana rukun, harmonis, dan damai serta saling bantu membantu satu sama lain dengan hati yang penuh dengan cinta kasih. Yang mana kasih merupakan dasar kebajikan. Kasih muncul dari dalam kalbu yang merupakan alam paramatman, yaitu lama ananda (kebahagiaan).

Dalam manu smerti II,138 disebut :
satyam bruyat priyam bruyam

na bruyam satyam, priyam

canartam, bruyat esa dharmah sanatanah
yang artinya:
berkatalah yang sewajarnya jangan mengucapkan kata kata yang kasar. Walaupun kata-kata itu benar, jangan pula mengucapkan kata-kata lemah lembut namun dusta. Inilah hukum susila yang abadi (sanatana dharma).
Perilaku yang baik adalah dasar mutlak dalam kehidupan sebagai manusia, karena dengan berbuat susila manusia dapat meningkatkan taraf hidupnya baik di alam sekala maupun di alam niskala. dari sloka diatas inilah setiap Umat diarahkan untuk mengimplementasikan ajaran Tri Kaya Parisudha, yakni; Wacika (bertutur kata yang baik dan sopan), Kayika (berbuat yang sesuai dengan ajaran dharma) dan Manacika (selalu berpikiran positif). dengan menerapkan ajaran tri kaya parisudha ini, maka hubungan antar sesama akan menjadi lebih baik sehinga dapat mewujudkan wilayah yang tenteram negara yang sejahtera.

Palemahan

Palemahan berasal dari kata lemah yang artinya tanah. Palemahan juga berati bhuwana atau alam. Dalam artian yang sempit palemahan berarti wilayah sutu pemukiman atau tempat tinggal. contohnya; Pelemahan di tingkat daerah meliputi wilayah Propinsi Bali, Di tingkat desa adat meliputi "asengken" bale agung, Di tingkat keluarga meliputi pekarangan perumahan.

Manusia hidup dimuka bumi ini memerlukan ketentraman, Kesejukan, ketenangan dan kebahagiaan lahir dan bhatin. Untuk mencapai tujuan tersebut manusia tidak bisa hidup tanpa bhuwana agung (alam semesta). Manusia hidup di alam dan dari hasil alam. Hal inilah yang melandasi terjadinya hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta ini.

Untuk tetap menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam, umat Hindu melaksanakan upacar tumpek uye (tumpek kandang), yang bertujuan untuk menjaga kelestarian hidup binatang dan melaksanakan upacara tumpek wariga (tumpek bubuh) untuk melestarikan tumbuh-tumbuhan.

Demikianlah penjelasan mengenai pembagian dari tri hita karana tersebut. Arti penting ajaran Tri hita karana ini merupakan ajaran agama hindu yang universal. Ajaran tri hita karana mengarahkan manusia untuk selalu mengharmoniskan hubungan manusia dengan sang pencipta, manusia dengan alam semesta, dan hubungan manusia dengan alam semesta atau lingkunganya.

Arah dan sasaran dari tri hita karana adalah mencapai mokrastham jagad hita ya ca iti dharma (silahkan baca: "Tujuan Agama Hindu"), yakni mencapai kebahagiaan lahir dan bhatin sehingga dengan keharmonisan maka tercapailah kebahagiaan yang merupakan tujuan akhir dari agama hindu yakni bersatunya atman dengan paramatman. 

Implementasi Ajaran Tri Hita Karana Dalam Rumah Tangga

Berbicara kebahagiaan atau mengenai Tri Hita Karana tidaklah bisa dipisahkan antara pawongan, palemahan dan parahyangan sebab antara satu dan yang lainya saling keterikatan yang mana implementasi ketiga ajaran tersebut menentukan kebagaiaan manusia dan alam semesta ini sebab dalam Tri Hita Karana tidak saja hubungan antara manusia saja, melainkan hubungan dengan alam dan tuhan pula diajarkan.

Implementasi Tri Hita Karana sesungguhnya dapat diterapkan dimana dan kapan saja dan idealnya dalam setiap aspek kehidupan manusia dapat menerapkan dan mempraktekan tri hita karana ini yang sangat sarat dengan ajaran etika yakni tidak saja bagaimana kita diajarkan bertuhan dan mengagungkan tuhan namun bagaimana srada dan bhakti kita kepada tuhan melalaui praktik kita dalam kehidupan sehari-hari seperti mengahargai antara manusia dan alam semesta ini yang telah memberikan kehidupan bagi kita.

Dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia selalu mencari kebahagiaan dan selalu mengharapkan agar dapat hidup secara damai dan tentram baik antara manusia dalam hal ini tetangga yang ada dilingkungan tersebut maupun dengan alam sekitarya. Hubungan tersebut biasanya terjalin dengan tidak sengaja atau secara mengalir saja terutama dengan manusia namun ada juga yang tidak memperdulikan hal tersebut dan cenderung melupakan hakekatnya sebagai manusia sosial yang tak dapat hidup sendiri. Dalam kehidupan manusia, segala sesuatu berawal dari diri sendiri dan kemudian berlanjut pada keluarganya. Dalam keluarga, manusia akan diberikan pengetahuan dan pelajaran tentang hidup baik tentang ketuhanan ataupun etika oleh orang tua atau pengasuh kita (wali), dan beranjak dari hal tersebut pula orang tua secara perlahan menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam tubuh dan pikiran setiap anak-anaknya melalui praktik maupun teori. Begitu pula halnya dengan pendidikan atau pemahaman tentang tri hita karana itu sendiri, secara sadar maupun tidak sadar hal tersebut atau nilai-nilai ajaran tersebut sudah ditanamkan oleh orang tua melalui praktik kepada anak-anaknya seperti mengajarkan anaknya untuk mebanten saiban. Memang hal ini manpak sepele namun jika kita mampu mengkaji lebih dalam sesungguhnya hal ini mengandung nilai pendidikan yang sangat tinggi meskipun orang tua kebanyakan tidak mampu menjelaskan secara logika dan benar makna dari tindakan tersebut.

Selain hal tersebut diatas masih banyak hal terkait implementasi tri hita karana yang dapat dilakukan dalam kehidupak keluarga, seperti mebanten ketika hendak melakukan suatu kegiatan seperi membuka lahan perkebunan yang baru. Hal ini jika dikaji tidak hanya penghormatan kepada alam namun penghormatan kepada tuhan melalui tindakan yang secara kasat mata meminta ijin beliau untuk memakai alam tersebut untuk kebutuhan manusia. Interaksi manusia dengan alam dan Tuhan yang nampak pada kegiatan tersebut hampir tidak pernah diperbincangkan oleh manusia dan menganggap hal tersebut sebagi hal yang biasa, namun demikianlah umat hindu mengimani ajaran Tri Hita Karana yang mana implementasinya sendiri terkadang dilakukan secara tidak sengaja namun mengena pada sasaran.

Mengenai hubungan manusia dengan sesam (pawongan), ajaran tri hita karana nampak pada upacara manusia yadnya misalnya upacara otonan yang mana yang dilakukan untuk memperingati hari kelahiran kita dan bersyukur kepada tuhan karena telah dilahirkan. Ajaran Tri Hita Karana tidak bisa diterapkan dalam satu bidang saja namun ada keterkaitannya dengan yang lain seperti contoh diatas, tidak saja untuk manusia dilakukan upacara tersebut namun ditujukan pula kepda tuhan. Demikian mulianya huhungan yang diajarkan tri hita karana pada manusia yang selalu menekankan kepada manusia agar selalu ingat bahwa kita didunia ini tidaklah hidup sendirian, ada tentangga dalam hal ini manusia lain yang kita butuhkan sebagai mahluk sosial, ada alam yang memberi kita berkah agar bisa meneruskan hidup dan ada tuhan sebagai pencipta kita. Sehingga kita senantiasa harus menjaga hubungan tersebut agar terjadi keseimbangan dalam hidup ini. Demikianlah contoh secara gamlang yang dapat diuraikan selain masih banyak lagi contoh lain yang terkait mengenai hal tersebut yang mana bisa dimulai dari lingkungan rumah tangga atau lingkungan keluarga, sebab dalam keluarga banyak memberikan edukasi yang tinggi tentang nilai-nilai serta konsep ketuhanan, sehingga dari padanya hendaknya kepada anak diberikan hal itu sedini mungkin.

Implementasi Tri Hita Karana dalam Upakara

Tujuan dari Tri Hita Karana adalah Palemahan, melestarikan ekosistem dari Tri Hita Karana. Karena sesungguhkan Tri Hita Karana merupakan suatu ekosistem, apabila hubungan manusia dengan manusia berjalan baik, secara otomatis hubungannya dengan Tuhan juga akan baik, begitu juga sebaliknya. Begitupun hubungan manusia dengan alam, harus tetap berjalan baik. Sebagai contoh, apabila manusia melakukan suatu hal dengan lingkungan yaitu dengan menebang hutan sembarangan yang mengakibatkan hutan rusak dan gundul secara otomatis hubungan manusia dengan Tuhan tidak baik, dan alam tidak menerima sehingga terjadi bencana. Maka dengan adanya ekosistem tersebut wajib kita pertahankan melalui suatu perwujudan menurut keyakinan hindu melalui suatu upacara. Sehingga dalam kepercayaan Hindu muncul upacara pelestarian hutan yaitu "wana kerti".

Selain itu ada upacara dengan tingkatan yang lebih kecil diantaranya:

  • untuk tumbuh-tumbuhan yang bertujuan untuk menyucikan tumbuh-tumbuhan yaitu upacara tupek wariga, yang dilakukan tiap 6 bulan sekali. 
  • Sementara perwujudan Tri Hita Karana antara manusia dengan Tuhan yaitu adanya upacara Dewa Yadnya, seperti odalan dengan melaksanakan upacara purnama dan tilem
  • Sementara jika dilihat dari perwujudan antara manusia dengan sesamanya, upacara dipandang untuk melestarikan hubungan social, sehingga muncul istilah ulang tahun atau dalam istilah hindhu disebut oton. Otonan yang bertujuan untuk memperingati hari lahir atau memperingati roh yang bereinkarnasi atau lahir kembali dalam suatu upakara. 
Dari ketiga upakara tersebut sesuai dengan tujuan Tri Hita Karana yakni untuk melestarikan ekosistemnya, melestarikan alam semesta beserta isinya, melestarikan keyakinan terhadap Tuhan serta sebagai sarana, dasar dan wujud nyata dari pelaksanaan agama.

Jika ditinjau dari upakara yang terkecil tetapi upakara tersebut bermakna untuk melestarikan Tri Hita Karana yaitu
"upakara yadnya sesa"
Perwujudannya yaitu melakukan “persembahan” kepada Hyang Widi dengan istilah saiban yang dilakukan setelah selesai memasak. Yajna Sesa yaitu persembahan berupa makanan yang berupa sejumput nasi beserta lauk dan sayurnya, intinya apa yang kita makan itulah yang kita persembahkan terlebih dahulu. Yadnya ini dilakukan sebagai simbol dari Tri Hita Karana, yadnya tersebut yang isinya nasi, garam, sayur dan ikan.

  • Garam memiliki symbol sebagai pelestari dan penetralisir . 
  • Nasi memiliki symbol sebagai kekuatan dharma, dan
  • Sayur memiliki symbol dari tumbuh-tumbuhan. 
  • Ikan atau daging merupakan symbol dari sarwa prani. 

Oleh sebab itu kita disarankan untuk melaksankan yadnya sesa dan mengaturkan kepada Hyang Widi, karena semua symbol pada saiban tersebut adalah ciptaan-Nya.
Jika kita tidak suguhkan kepada Hyang Pencipta, sama saja kita sebagai pencuri, maka dosalah kita. 
Manusia disini berkewajiban untuk nyumpat (menetralisir) dengan tujuan agar dikehidupan yang akan datang, binatang tersebut akan meningkat kedudukannya menjadi manusia, begitupun dengan tumbuh-tumbuhan.
Dalam melaksanakan yadnya sesa, sebenarnya terdapat 5 “tempat pembunuhan” yang wajib dilakukan saat melakukan yadnya sesa tersebut, yaitu:

  • di talenan, 
  • di pisau, 
  • di batu asah, 
  • di batu ulekan, dan 
  • di sapu.

Dikelima tempat tersebut dalam weda, diwajibkan untuk melakukan saiban. Saiban merupakan simbol kita untuk melebur akan dosa-dosa yang telah kita lakukan, selain itu sebagai wujud terimakasih kita kehadapan sang pencipta akan apa yang kita makan.

disamping 5 tempat diatas, yadnya sesa atau saiban biasanya dipersembahkan seperti:

  • ditempat beras, 
  • ditempat menumbuk beras, 
  • di tungku dapur, 
  • di pintu keluar pekarangan (lebuh), dan 
  • ditempat lainnya yang dianggap penting untuk persembahan tersebut.

Persembahan makanan sering dianggap keliru dan dianggap sebagai pemborosan oleh beberapa orang yang bukan penganut Veda bahkan oleh orang Hindu sendiri. Sering dianggap bahwa persembahan tersebut hanya memberi makan untuk semut dan binatang lain pemakan nasi.

Persembahan nasi yang kemudian sisa-sisanya dimakan semut, ini sebenarnya tindakan yang sangat mulia, meski tampak keliru. Didalam kitab Sarasamuscaya disebutkan
"apabila seseorang ingin bahagia maka bahagiakanlah makluk lain." 
Membahagiakan mahkluk bumi lainnya disebut Bhuta Hita. Dengan memberi makan semut berarti kita telah membahagiakan mereka (semut) selain kita mempersembahkannya kepada mahkluk penjaga Bhumi dan juga Jiwa-jiwa agung lainnya serta para Dewa dan Tuhan.

Apabila pemberian makan untuk semut dikaitkan dengan kelangsungan mahkluk hidup, hal ini merupakan suatu hal yang ilmiah. Menurut penelitian, bahwa dengan memberi semut makan di sekitar sawah maka beberapa hama padi tidak dapat berkembang. Karena beberapa hama takut dengan semut dan hama itu adakalanya dimakan semut. Disinilah perlunya menjaga ekosistem agar tercipta keharmonisan. Saling menjaga antara mahkluk hidup yang satu dengan mahkluk hidup lainnya.

Dalam melaksanakan kegiatan upakara hendaknya kita mengerti akan makna dari pelaksanaan upakara tersebut, agar tidak terjadi kesalah pengertian. Apabila pemahaman akan makna dari upakara itu sendiri telah kita ketahui, bahwa kita melakukan kewajiban sebagai umat beragama, dengan menumbuhkan kesadaran bahwa apa yang ada di dunia ini adalah ciptaan Tuhan.

Kita harus bisa membedakan akan mana Paham Hindu dan mana Agama Hindu, yang mana 2 hal tersebut masih kabur dalam pemikiran kita. Kini banyak anak muda yang terpancing akan paham hindu, yang menyangka bahwa paham tersebut sama dengan agama Hindu. Seperti pelaksanaan yadnya sesa diganti dengan penyebutan mantram saja, sebenarnya hal tersebut sah saja jika dilakukan, tapi itu merupakan suatu paham Hindu. Begitu pula dengan adanya korban suci dalam Reg Weda, Yajur Weda, Atharwa Weda, mengandung esensi 3 ajaran. Yaitu ajaran Upanisad, ajaran Naranyaka dan ajaran Brahmana. Ajaran tersebut lahir menjadi upakara dan upacara. Sementara ajaran Naranyaka lahir menjadi etika, serta ajaran Upanisad menjadi tattwa. Semua ajaran tersebut terdapat dalam weda.

Dalam agama Hindu terdapat 3 kerangka, yaitu tattwa, etika dan sarana.
Tuhan tidak hanya menciptakan roh saja dalam alam semesta ini, tapi juga menciptakan material (tubuh manusia, tubuh binatang, tumbuh-tumbuhan) semua itu diciptakan oleh Tuhan agar ada kehidupan di dunia ini. Jadi dalam melakukan persembahan dalam upakara harus juga diimbangi antara penggunaan material dengan mantra. Jika hanya menggunakan mantram saja tanpa menggunakan material dalam memuja Tuhan, maka alam ini tidak akan ada. Dalam upakara diperlukan suatu sarana persembahan seperti canang atau banten.
Canang merupakan “ bahasa weda ”, hal tersebut lahir dari ajaran Brahmana.
Ada anggapan bahwa memuja Tuhan dengan menggunakan sarana canang, disebut hindu Bali, jika tanpa sarana canang atau banten, bukan dinamakan hindhu Bali. Karena Hindhu Bali memiliki kriteria diantaranya:

  1. mempunyai pemerajan, 
  2. menjalankan panca yadnya,
  3. dipuput oleh para wiku atau pemangku, 
  4. ada ajaran panca sradha, 
  5. adanya dasar kepercayaan monoisme (percaya akan satu tuhan, dan yakin dengan manifestasinya para bethara atau dewa-dewa serta menyembah leluhur), dan 
  6. hindu bali berasal dari ajaran Weda. 
Keenam hal tersebut merupakan kriteria dari Hindhu Bali yang mencirikan ajaran yang tepat.
disarankan, agar kita sebagai umat hindu bali, setidaknya memahami makna sesungguhnya dalam setiap ajaran, belajar agama dengan sungguh-sungguh dan pelajari segala tentang Bali.


artikel yang terkait dengan implementasi tri hita karana dapat dibaca di:
Demikianlah sedikit ulasan tentang implementasi Tri Hita Karana dalam kehidupan sampaikan pada hari yang berbahagia ini. Semoga apa yang dijelaskan ini dapat diterapkan dalam kehidupan kita supaya tercipta suatu keadaan yang harmonis, tentram dan damai. Om santhi, santhi, santhi om.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar