Google+

Menghentikan pendarahan dengan YOGA

Menghentikan pendarahan dengan YOGA

Latihan yoga yang dilakukan menyatu dengan rutinitas sehari-hari akan menurunkan komposisi senyawa tertentu pada darah dan mengurangi infeksi (luka) yang umumnya muncul karena penuaan tubuh dan juga karena stress, ini dibuktikan oleh hasil penelitian.

Penelitian diselengarakan oleh para peneliti dari Universitas Negeri Ohio, penelitian ini menunjukan bahwa para wanita yang secara rutin melakukan Yoga akan menurunkan jumlah senyawa cytokine interleukin-6 (IL-6) di darah mereka. IL-6 adalah senyawa yang berperan penting dalam reaksi terhadap pembengkakan pada tubuh dan berimplikasi pada penyakit jantung, stroke, diabetes tipe-2, rematik serta penyebab penyakit-penyakit yang terkait melemahkan daya tahan seiring dengan makin bertambahnya usia.

Untuk studi ini, para peneliti mengumpulkan 50 wanita , berusia rata-rata 41 tahun. Ron Glaser, seorang penulis dan professor pada ilmu virus molekuler, ilmu kekebalan dan genetika medis , berkata bahwa studi ini memiliki implikasi sangat jelas pada kesehatan. “kami tahu bahwa pembengkakan memainkan sebuah peranan penting dalam penyakit. Yoga tampaknya menjadi sebuah jalan yang sederhana dan menyenangkan untuk menambah suatu upaya pencegahan yang bisa menurunkan resiko berkembangnya penyakit jantung, penyakit gula dan sejumlah penyakit lain yang terkait dengan akibat penuaan tubuh. Yoga adalah sebuah cara yang mudah yang bisa dilakukan orang-orang untuk mengurangi resiko mereka terhadap paparan penyakit”, katanya.

sumber MH edidi 73 maret 2010

Penggak - bangkitkan budaya diskusi informal ala Bali

Penggak - bangkitkan budaya diskusi informal ala Bali

Pemikiran-pemikiran besar dalam masyarakat kerap kali muncul dalam diskusi kecil di sebuah tempat yang tidak resmi. Bisa disudut-sudut kota, warung kopi atau di pinggir jalan dengan komunitas masyarakat abangan/pinggiran. Dibandingkan dengan forum resmi seperti seminar, loka karya, siding-sidang dewan perwakilan rakyat dan sebagainya, kerap kali diskusi bersifat formal terbatas pada tata tertib, pakem, terbatas pada permasalahan (topik), terbatas waktu dll. Makanya melalui forum seperti itu akan menghasilkan gagasan atau rumusan seringkali terbatas.

Kondisi ini akan sangat terasa berbeda dengan kelompok masyarakat tertentu berkumpul di suatu tempat seperti warung kopi atau dibawah pohon besar dalam suasana diskusi tak resmi tanpa pemandu, tanpa ada batasan tata tertib, tanpa batasan waktu, dan topiknya bias ngalor ngidul. Pola diskusi dimana semua peserta aktif menjadi pembicara dengan gagasannya masing-masing. Diskusi santai, tak resmi. Otak peserta dlam keadaan santai, tak kaku, tak stress, tak ada motif-motif tertentu yang membebani pikiran. Diskusi berlangsung alami, bebas tanpa keterikatan, kepala plong… dari diskusi (lebih pas dikatakan sebagai ngomong-ngomong) seperti sering kali melahirkan gagasan besar, gagasan yang tak banyak dimuati kepentingan.

Pola-pola diskusi seperti ini diterapkan oleh masyarakat bali sejak jaman dahulu. Penggodokan sebuah ide sering dilakukan di sudut-sudut pemukiman masyarakat, bersantai di suatu tempat sekedar ngopi, melepas lelah, atau sambil mengelus ayam kurungan. Sambil mereka bertemu disana, bersosialisasi, atau berdiskusi kecil.

Diskusi di sebuah penggak (tempat kumpul seperti pos dekat-deket warung) kerapkali menghasilkan gagasan yang secara lembaga adalah sifatnya non formal. Untuk mendapatkan legitimasi masyarakat secara kelembagaan maka seringkali hasil obrolan di penggak dibawa ke forum banjar atau desa untuk menjadi keputusan. Bahkan seringkali gagasan sebenarnya sudah selesai di penggak, kemudian di bawa ke forum banjar hanya untuk mendapatkan legitimasi.

Artinya tempat seperti penggak merupakan dapur pemikiran masyarakat secara tak resmi. Disinilah keunggulan gaya diskusi tradisional bali, menggunakan tempat-tempat tak resmi, sudut-sudut pemukiman, gubuk reod untuk sebuah diskusipanjang, bebas alami, yang melahirkan gagasan besar. Gaya ini tidak memerlukan biaya besar kalau dibandingkan seminar, lokakarya ataupun siding dewan yangsegala logistic, akomodasi dan tetek bengeknya menghabiskan anggaran yang tidak sedikit. Sehingga dengan demikian diskusi gaya penggak mestinya dikembangkan sebagai sebuah komunitas social dalam menggali potensi masyarakat.

Sumber Taksu bali

Dewi Gayatri; Ibu segala mantra

Dewi Gayatri; Ibu segala mantra

Semua literatur kitab Weda menyatakan bahwa Gayatri merupakan Dewi segala mantra. Namun keberadaan sang Dewi belumlah tenar di lingkungan masyarakat Hindu Bali, sebab untuk membentuk personalitas serta siapa dan bagaimana Beliau, serta dalam hal apa saja Beliau dipuja, masyarakat Hindu Bali belum banyak yang paham. Untuk itulah melalui artikel ini mencoba membedah Dewi Ilmu ini dengan sedikit ulasan yang terkesan back to India.

Ada banyak Dewi dalam ikonografi Hindu yang mewakili Ilmu Pengetahuan dan mantra suci. Kesemuanya memegang banyak atribut yang melambangkan hal tersebut. Namun dari sekian banyak Dewi, Gayatri adalah yang utama. Bergesernya Beliau sebagai Dewinya Ilmu Pengetahuan secara murni oleh Bhatari Hyang Aji Saraswati, mungkin disebabkan karena Gayatri lebih menekankan pada aspek Ilmu Pengetahuan secara apuruseya, mantra Weda yang transcendental. Sedangkan untuk Dewi Saraswati, Beliau meramu seluruh Ilmu yang ada, baik para widya dan apara widya.

Dewi Gayatri banyak dipuja di bharatawarsa dan lengkap dengan segala bentuk sadhana yang khusus ditujukan untuk menghormati Beliau. Dalam wujud Dewi Gayatri sering terlihat berkepala lima dan dengan mengenakan mahkota yang berkilauan. Namun mahkota yang tengah-tengah berhiaskan bulan sabit sangat mirip dengan bulan sabit yang dikenakan oleh Bhtara Siwa.

Beliau terlihat dengan sepuluh tangan yang masing-masing memegang; sankha kala, kapak cemeti, genitri, cakra, bunga padma, sakhu kamandalu, gada, sedangkan dua tangan yang berada di depan terlihat dengan posisi abhaya mudra, memberkati setiap pemuja-NYA dengan lembut dan penuh kasih. Beliau duduk di atas bunga padma berwarna merah, dan kepala Beliau yang paling depan ditengah-tengah tepatnya di selaning lelata (antara alis) Beliau terdapat mata ketiga layaknya mata Bhatara Siwa. Dewi Gayatri juga sering terlihat dengan sekelompok angsa yang mengitari.

Inilah mhamantra Gayatri yang pertama kali diturunkan…
Om bhur, Om bhvah, Om svah,
Om maha, Om janah, Om tapah, Om satyam,
Om tatsavitur varenyam,
Bhargo devasya dhimahi,
Dhiyo yo nah pracodayat,
Om apo jyotih,
Raso mritam brahma,
Bhur bhuah svah Om
.

Mantra ini awalnya terdapat di dalam kitab Reg Veda Samhita III. 62. 10. setelah itu pada kitab Yayur Veda Samhita dan Sama Veda Samhita. Dewi Gayatri sering disamakan dengan Dewi Savita yang secara harafiah memiliki arti matahari. Ini sebuah hal yang menunjukan bahwa Tuhan adalah bersinar dan Dewi Gayatri adalah Dewinya mantra yang memberikan kecemerlanghan pikiran.

Namun secara umum, mantra Gayatri yang diterima dewasa ini adalah hanya diucapkan sampai kata bhur, bvah, svah, kata maha, janah, tapah, satyam tidak dikumandangkan sama sekali. Secara terperinci ada banyak mantra Gayatri untuk setiap Dewata yang berbeda. Dengan demikian, ini menunjukan bahwa Dewi Gayatri adalah Dewi yang merangkum semua mantra pujian untuk setiap Dewata. Maka ini juga yang menjadikan bahwa Dewi Gayatri desebut dengan Dewinya mantra Weda.

Dalam beberapa pujian untuk Beliau disebutkan;
Ya sandhyamandalagata ya tri murti-svarupini
Sarasvati ya savitri tam vande veda mataram
.
Artinya;
“oh Dewi yang berada pada lingkaran sinar matahari, yang adalah berbentuk Tri Murti, yang adalah Saraswati ataupun Sawitri, hamba menghaturkan sembah kepada Gayatri, Ibu segala macam Weda”.

Jika Dewi Gayatri dikatakan sebagai Ibunya Weda, maka secara otomatis Dewi Gayatri merupakan sang Dewi jagat raya, sebab Weda sendiri adalah tidak berbeda dengan dunia nyata dan yang tidak nyata. Ini dibenarkan sebab dalam sebuah peristiwa, pernah suatu kali; Dewa Brahma, Wisnu dan Siwa mengambil rupa sebagai bayi mungil untuk mendapatkan kasih dari Dewi Gayatri.

Bayi-bayi tri murti ini menangis keras dan membuat sang Dewi kembali. Anak Ilahi ini ditidurkan dalam sebuah ayunan yang talinya tergantung di angkasa luar. Jadi tidak salah jika terdapat salah satu mantra yang digunakan untuk mengagungkan Dewi Gayatri seperti berikut;
Ya visva janani devi ya tri murti svarupini
Gayatri-rupini ya hi tan vande sapta matrkam
“oh sang Dewiyang merupkan Ibunya jagat raya, yang adalah berbentuk Tri Murti yang merupakan Gayatrio, hamba menghaturkan sembah sujud yang berbentuk tujuh Ibu”.