Google+

Babad Pasek dan Bendesa- Anugerah Buat Ki Balian Batur

Babad Pasek dan Bendesa - Anugerah Buat Ki Balian Batur

Beberapa lama kemudian, Gde Batan Tubuh menurunkan:

  1. Pasek Payangan di Desa Payangan, 
  2. Pasek di banjar Tunon, 
  3. Pasek di Banjar Sakan, Desa Batuan, 
  4. Pasek Bendesa di Belahbatuh Gianyar, 
  5. Pasek di Desa Banjarakan, Klungkung, 
  6. Bendesa Gumiar di Desa Mengwi, Badung, dan 
  7. Bendesa di Desa Banjarakan, Klungkung.

Selanjutnya Bendesa di Desa Mengwi, oleh Raja Mengwi Cokorda Sakti Belambangan ditugaskan memimpin rakyat pilihan berjumlah 200 orang dengan bantuan Dewa Agung Anom Sirikan untuk menyerang Ki Balian Batur dari dusun Teledunginyah Alas Kedangkan. Kemudian Bendesa Gumiar di Desa Mengwi menurunkan Pasek Bendesa di Banjar Desa, Desa Payangan, Desa Gianyar. Disana lalu dibangun pura diberi nama Pura Santi, untuk mengingatkan bahwa Bendesa Gumiar berhasil menciptakan situasi damai dan sentosa dengan terbunuhnya Ki Balian Batur.

adapun pangeran Manik Mas menurunkan Gde Manik Mas dan Gde Pasar Badung, dan seterusnya Gde Manik Mas menurunkan: 
  1. Bendesa di Gelgel lalu disebut Bendesa Gelgel, 
  2. Bendesa di Badan Banjar tingkih berubah menjadi Banjar Kesian, Desa Lebih, 
  3. Bendesa di Desa Tulikup, 
  4. Bendesa di desa Belahbatuh, 
  5. Bendesa di Desa Guwang Sukawati, 
  6. Bendesa di desa Peliatan, 
  7. Bendesa di Desa Bedahulu, 
  8. Bendesa di Banjar Tengkulak Desa Kemenuh, 
  9. Bendesa di Desa Tegalalang. 
Di samping itu, Gde Manik Mas juga menurunkan: 


  1. Bendesa di Desa Pujungan, 
  2. Bendesa di Bayad, 
  3. Bendesa di Negari, 
  4. Bendesa di Desa Ketewel, 
  5. Bendesa di Desa Batubulan, 
  6. Bendesa di Desa Pejeng, 
  7. Bendesa di Desa Sukawati, 
  8. Bendesa di Desa Mambal, 
  9. Bendesa Badung, 
  10.  Bendesa di Desa Mengwi, 
  11. Bendesa di desa Sibanggde.

Kecuali itu Gde Manik Mas menurunkan pula: 

  1. Bendesa Tabanan, 
  2. Bendesa di Desa Kaba – kaba, 
  3. Bendesa Bangli, 
  4. Bendesa di Desa Tambelang, 
  5. Bendesa Manduksawah, 
  6. Bendesa di desa Jagaraga, 
  7. Bendesa di desa Tejakila, 
  8. Bendesa di desa Kubu Tambahan, 
  9. Bendesa di Desa Sangsit, 
  10. Bendesa Buleleng, 
  11. Bendesa di Desa Banjar.

Selanjutnya bendesa Gelgel di Gelgel menurunkan:

  1. Gde Bendesa di Banjar Karangsari Desa Suwana, Nusa Penida, 
  2. Gde Bendesa di Banjar Karanganyar, Desa Seraya 
  3. Gde Bendesa di Banjar Bakung, Desa Manggis, 
  4. Gde Bendesa di Desa Dagintunglak Desa Kesiman.

Kemudian Pasek Gelgel di Banjar Kekeran Delod sema Desa Mengwitani menurunkan:

  1. Pasek Gelgel di Banjar Tengah Desa Pedandakan. 
  2. Pasek Gelgel di Desa Padangan DesaBatungsel, dan 
  3. Pasek Gelgel di Banjar Pajahan Desa Pupuan.

Selanjutnya Pasek Manik Mas di Banjar Panca Desa Melinggih, Payangan, menurunkan:

  1. Pasek Gelgel di Banjar sema desa melinggih, Payangan, 
  2. Pasek Gelgel di banjar Tengipis Desa Buahan, Payangan, 
  3. Pasek Gelgel di Banjar Kesian Desa Lebih, 
  4. Pasek Gelgel di Banjar Pasekan Desa Ketewel, 
  5. Pasek Gelgel di banjar Ambengan Desa Pelidan, 
  6. Pasek Gelgel di Banjar Tengkulakkaja desa Kemenuh, 
  7. Pasek Gelgel di Banjar Kelabangmoding Desa Tegalalang.

Ikwal Pasek Gelgel di Banjar Kelabangmoding Desa Tegalalang, kisahnya sebagai berikut :

Pada awalnya Pasek Gelgel ini Bersama anak istrinya tinggal di Jambanagan. Pada tahun saka 1633 berdirilah kerajaan Sukawati di bawah pimpinan I Dewa Agung Anom sirikan, yang selanjutnya disebut Dalem Sukawati.

Atas perintah raja Sukawati, Pasek Gelgel di Jambangan bersama anak istrinya pindah ke Sukawati, dan di Sukawati Psek Gelgel ini sangat disayang oleh Raja Sukawati. Seluruh kehidupan hidupnya sehari – hari termasuk rumah ditanggung oleh Raja Sukawati. Karena sangat baik perlakuan raja Sukawati terhadap Pasek Gelgel ini, menyebabkan Pasek Gelgel merasa sangat malu, lalu ia mohon kepada Raja Sukawati untuk meninggalkan Sukawati untuk hidup mandiri. Pada mulanya permohonan Pasek Gelgel tersebut ditolak oleh Raja Sukawati. Namun oleh karena itu terlalu sering Pasek Gelgel mohon meninggalkan Sukawati, akhirnya permohonan Pasek Gelgel ini dikabulkan, dengan syarat tidak boleh lewat dari daerah Kerajaan Sukawati.

Sesudah berada di Sukawati kurang lebih selama lima tahun, pada suatu hari pada tahun saka 1638 Pasek Gelgel bersama anak Istrinya meningalkan Sukawati, menuju barat laut. Sampailah mereka pada suatu tempat yang masih berupa hutan yang banyak ditumbuhi pohon enau. Hutan ini dirabas lalu disana mereka mendirikan pondok untuk tempat tinggalnya, dengan memakai bahan bangunan dari pohon enau termasuk ijuk dan uyungnya. Selanjutnya tempat ini dinamakan Baanuyung. Namun mereka tidak terlalu lama tinggal disana, dan seorang anaknya pindah dari Banuyung ke desa Gerih.

Sedangkan Pasek Gelgel yang ditinggalkan di Baanuyung bersamaana istrinya, kemudian juga pindah dari Baanuyung menuju barat laut. Akhirnya mereka sampai di suatu tempat yang juga masih berupa hutan yang banyak pula ditumbuhi pohon enau. Hutan ini lalu dirabas dan kemudian di sana mereka membangun rumah untuk tempat tinggalnya. Dengan mempergunakan bahan – bahan bangunan dari pohon enau, termasuk atapnya dibuat dari daun enau, dengan cara merajut disebut kelabang, lama kelamaan tempat ini menjadi sebuah banjar diberi nama Banjar Kelabangmoding. Sedangkan tempat pondoknya yang dahulu bernama baanuyung, sesudah menjadi sebuah banjar dinamakan Banjar Bentuyung.
Adapun pasek Gelgel di desa Gerih yang berasal dari Baanuyung dahulu, menyebut dirinya Pasek Gelgel saja. 
Banyak keturunanaya di beberapa desa di antaranya Pasek Gelgel di Yehgangga dan demikian ikhwal adanya Pasek Gelgel di Banjar Kelabangmoding Desa Tegalalang dan Pasek Gelgel di desa Gerih. 

Seterusnya Pasek Gelgel di banjar Sema Desa Melinggih Payangan, menurunkan:

  1. Pasek Gelgel di Banjar Majangan Desa Buahan, Payangan, 
  2. Pasek Gelgel di banjar Mancinagn desa Manukaya, 
  3. Pasek gelgel di Banjar Tanggayuda desa kedewatan. 
  4. Pasek Gelgel di banjar Kadewatanlet Desa Kadewatan, dan 
  5. Pasek Gelgel di Banjar Sema Semita Desa Suwat. 
Selanjutnya Pasek Gelgel di Banjar majangan Desa Buahan, payangan, menurunkan:


  1. Pasek Gelgel di Banjar Selat Desa Buahan, Payangan dan 
  2. Pasek Gelgel di bajar Majangan Desa Melinggih, Payangan.

Kemudian Pasek Gelgel di Banjar Majangan Desa Melinggih, payangan, menurunkan:

  1. Pasek Gelgel di Banjar Gata Desa Buahan, Payangan, dan 
  2. Pasek Gelgel di banjar Pengaji Desa Melinggih, payangan. 
Sedang Pasek Gelgel di Banjar Pangaji desa pelinggih, Payangan, menurunkan:Pasek Gelgel di Banjar Pengaji Desa Bondalem. Seterusnya Pasek Gelgel di banjar pengaji Desa Bondalem menurunkan:
  1. Pasek Gelgel di Banjar Tengah Desa Tejakula dan 
  2. Pasek gelgel di Banjar Celuk Desa Sangsit. 
Kemudian pasek Gelgel di Banjar Mancingan Desa Munukaya menurunkan:
  1. Pasek Gelgel di Banjar Kawan Desa Bondalem dan 
  2. Pasek Gelgel di Banjar Keloncing Desa Sinabun.

Adapun Pasek Gelgel di Desa Tanggayudha Desa Kedewatan menurunkan Pasek Gelgel di Banjar Bunutan desa Kedewatan.

Adapun Pasek Gelgel di Desa Gelgel disamping menurunkan pasek Gelgel tersebut di atas, juga mempunyai seorang anak angkat yang disebut Bendesa Bendega Dalem.

Ikhwal adanya Bendesa Dalem dimulai dari Keberangkatannya Sri Kresna Kepakisan dari Majapahit ke Bali pada tahun saka 1272, karena diangkatmenjadi adipati untuk Bali. Beliau bersama pengiringnya dari Majapahit menyeberang ke Bali dengan naik perahu, lalu berkedudukan di Desa Sampelangan, dan di Bali beliau lebih dikenal dengan sebutan Dalem Sampelangan. Sebab itu Bendega perahu tersabut tidak diperkenankan kembali ke majapahit, karena dianggap telah berjasa menyeberang Sri Kresna Kepakisan dengan selamat sampai di bali. Sebab itu ia tetap tinggal di Bali dan diberi gelar Bandega Dalem. Kemudian Bandega Dalem menurunkan parati santana yang juga disebut Bandega Dalem selanjutnya menurunkan parati santana diantaranya seorang perempuan bernama Ni Gayatari

Sesudah dewasa, Ni Gayatri dikawini oleh I Gusti Nyuhaya patih agung kerajaan Gelgel di bawah pimpinan Dalem Gelgel Sri Semara Kapakisan, yang bertahta mulai tahun saka 1382. dari perkawinan Ni Gayatri tidak menurunkan anak.

Lalu entah kenapa, Ni Gayatri diceraikan oleh I Gusti Nyuhaya. Kemudian Ni Gayatri menghamba kepada Dalem Gelgel Sri Smara Kapakisan. Oleh karena Ni Gayatri sangat cantik, Sri Smara Kapakisan jatuh cinta kepadanya. Namun, untuk mengawini Ni Gayatri, Sri Smara Kapakisan tidak berani karena beliau sudah mempunyai istri. Itulah sebabnya, Sri Smara Kapakisan secara gelap mengadakan hubungan cinta. Hubungan cinta mereka ternyata berjalan romantis. Tak lama kemudian, Ni Gayatri mengandung, dan akhirnya melahirkan seorang bayi laki – laki yang cukup tampan. Karena anak ini lahir dari perkawinan yang tidak sah, Smara Kepakisan memberikan anak itu kepada Bendesa Gelgel. Anak itu oleh Bendesa Gelgel dijadikan anak angkat serta disebut Bendesa Bendega Dalem.

Seterusnya bendesa bendega dalem menurunkan keturunan di Desa Jumpai. Selanjutnya, Bendesa Bendega Dalem di Desa Jumpai menurunkan Bandesa Bendega Dalem di Banjar Cemagi Desa Munggu. Kemudian bendesa bendega Dalem di Banjar Cemagi Desa Munggu, menurunkan Bendesa Bendega Dalem di beberapa desa, antara lain Bendesa Bendega Dalem di Kuta, dan lain – lain.

Kemudian Gde Pasar Badung di Gelgel, daerah Klungkung, menurunkan delapan orang anak laki – laki semuanya di sebut pasek gelgel, selanjutnya semuanya pindah dari desa Gelgel ke beberapa Desa atau tempat:

  1. Pasek Gelgel yang sulung pindah ke Desa Mengwitani Badung, lalu disebut Pasek Mangwitani
  2. Pasek Gelgel yang kedua pindah ke Jembrana, lalu disebut Pasek Jembrana
  3. Pasek Gelgel yang ketiga pindah ke Desa Banjar, daerah Buleleng, lalu dikenal sebagai Pasek Banjar
  4. Pasek Gelgel yang keempat pindah ke banjar urip, lalu dikenal dengan sebutan Pasek Banjar urip
  5. Pasek gelgel yang kelima pindah ke suatu tempat di sebelah Utara gunung, dan oleh karena di tempat itu tampak sinar lalu disebut Prabhakaja, pasek Gelgel ini lalu disebut Pasek Prabhakaja, lama – kelamaan tempat tinggalnya Pasek Prabhakaja berubah menjadi sebuah kampung atau desa kecil, karena penghuninya masih sedikit lalu diberi nama penarukan, sedangkan nama penerukan diambil dari kata Taruka yang secara harfiah berarti kampung atau desa kecil. Dengan demikian dapat diketahui bahwa Prabhakaja dahulunya adalah sebuah kampung atau desa kecil yang kemudian berubah namanya menjadi Penarukan, daerah Buleleng, yang didalam sejarah dan perkembangannya menjadi sebuah desa seperti sekarang. Pasek Gelgel yang keenam pindah kesebelah Utara gunung, ikut Rombongan I Gusti Gde Pasek dari desa Gelgel pindah ke Desa Panji.
  6. Sesudah menjadi raja I Gusti Gde Pasek bergelar I Gusti Agung Panji Sakti, sedangkan Pasek gelgel diangkat menjadi kepala desa bergelar bendesa, oleh karena itu lalu disebut Bendesa Lorgunung, dan selanjutnya menurunkan: Pasek Gelgel di Banjar jawa, Buleleng, daerah Buleleng. 
  7. Dan Pasek Gelgel yang ketujuh ke desa Buleleng, daerah Buleleng, dan diangkat menjadi kepala desa bergelar bendesa, sebab itu disebut Bendesa Buleleng,
  8. Pasek Gelgel yang kedelapan yaitu yang bungsu pindah ke Desa Kayuan. Selanjutnya desa kayuan dirubah namanya menjadi Desa Kayumas disebut Bendesa Kayumas sudah berubah menjadi Desa Buddhakeling, daerah Karangasem.

Pada masa pemerintahan Dalem Gelgel Sri Waturenggong yang bertahta mulai tahun saka 1382 sampai dengan 1472, di Kuta ada musuh dari Pesaruan mendarat untuk menyerang Bali. Untuk menghalau musuh tersebut, Dalem Gelgel Sri Waturenggong dengan pasukan cukup kuat datang ke Kuta. Maka terjadilah pertempuran sengit. Dalem Waturenggong yang terkenal sakti dan dapat menghilang dari pandangan mata, ditambah pasukan Gelgel yang cukup diandalkan, dalam tempo relatif singkat dapat mengalahkan musuh. Tidak sedikit di pihak musuh menemukan ajal dan luka – luka. Yang masih hidup mengundurkan diri dan naik perahu lalu segera kembali ke Pesuruan. Di dalam pasukan Gelgel ini, ikut pula Pasek Gelgel keturunan Bendesa Gelgel. Sesudah itu, musuh itu dapat dihalau. Sri Waturenggong dan pasukannya kembali ke Gelgel. Sedangkan Pasek Gelgel ditinggalkan di Desa Badung, lalu diangkat menjadi Bendesa bergelar Bendesa Badung dan bertempat tinggal di Banjar Peraupan Kangin Desa Paguyangan, daerah Badung.

Entah berapa lama ia ada di Banjar Peraupan Kangin Desa Paguyangan, lalu menurunkan Pasek Gelgel di Banjar Peraupan Kangin Desa Paguyangan. Selanjutnya, ia menurunkan Pasek Gelgel di beberapa Desa. Antara lain:

  1. Pasek Gelgel di Banjar Srijati Desa Sibang gde, 
  2. Pasek Gelgel di Desa Jagapati, 
  3. Pasek Gelgel di Bangkiang sidem, 
  4. Pasek Gelgel di Negara. 
  5. Pasek Gelgel di Banjar Subamia, 
  6. Pasek Gelgel di Desa Kerambitan, 
  7. Pasek Gelgel di Desa Penarukan, 
  8. Pasek Gelgel di desa Kelating, 
  9. Pasek Gelgel di Desa Mambang, 
  10. Pasek di Tegalmengkeb, 
  11. Pasek Gelgel di Desa Antanaga, 
  12. Pasek di desa Bongan, 
  13. Pasek Gelgel di Desa Sepang, dan di beberapa desa lainnya. 
Tersebutlah Pasek Gelgel dari Desa Gelgel. Oleh karena terjadi kekacauan di Gelgel, lalu ia meninggalkan Gelgel menuju arah barat. Tiba di suatu tempat yang kemudian diberi nama Tibakawuh yang seterusnya berubah menjadi Tebakawuh, Payangan, sedangkan Pasek Gelgel disana menyebut diri Pasek Tebakawuh.


Pada tahun saka 1765 Payangan diserang oleh Buleleng akibat sengketa tapal batas. Payangan kalah dan hancur lebur. Banyak rakyat Payangan meninggalkan kampung halaman mencari tempat yang aman menyelamatkan jiwanya. Yang menyelamatkan diri itu, termasuk keturunan Pasek Tebakawuh, lalu bertempat tinggal di Banjar Kembangmerta, Desa Pengelumbaran, Daerah Bangli.

Adapun Ki Bendesa Manik Mas di Gelgel lalu menurunkan Bendesa Manik Mas di Banjar Wangaya klod, Desa Dawuh puri yang juga disebut Pasek Denpasar karena bertempat tinggal di sebelah Utara Pasar Badung. Kemudian Pasek Denpasar menurunkan:

  1. Bendesa Manik Mas di Banjar Basungyeh Desa Pemecutan, 
  2. Pasek Gde Pasar di banjar Grenceng Desa Pemecutan, 
  3. Pasek Gelgel di Banjar Pulugambang Desa Peguyangan, 
  4. Pasek Bendesa di banjar Kayumaskaja, Desa Danginpuri, 
  5. Pasek Gde Pasar di Banjar Legiankaja, Desa Kuta, 
  6. Pasek Gde Pasar di Banjar Tengah, Desa Serangan, 
  7. Pasek Gde Pasar di Banjar Petingan, Desa Kerobokan, 
  8. Pasek Gelgel di Banjar Dajanpeken Desa Mengwitani, dan 
  9. Psek Bendesa di Banjar Kayuaya, Desa Kubu.

Selanjutnya Bendesa Manik Mas di Banjar Basungyeh Desa Pemecutan, lalu menurunkan:

  1. Pasek Gelgel di banjar Medwi, 
  2. Pasek Gelgel di Banjar Padangsumbu, 
  3. Pasek Gelgel di Banjar Tegalandang, 
  4. Pasek Gelgel di Banjar Puseh Desa Sanur, 
  5. Pasek Gelgel di Banjar Semawang Desa Sanur, 
  6. Pasek Gelgel di Banjar anyarklod Desa Manibal, 
  7. Pasek Gelgel di Desa Kapal, 
  8. Pasek Gelgel di Banjar Padanglinjong, 
Bandesa Manik Mas di Banjar Busungyeh Desa Pamecutan, juga menurunkan: Pasek Gelgel di Banjar Gemeh Desa Dauhpuri, yang karena memperoleh kedudukan sebagai penyarikan lalu lebih dikenal dengan julukan Penyarikan


Selanjutnya Pasek Gde Pasar di Gerencang Desa Pemecutan, lalu menurunkan:

  1. Pasek Gde Bendesa di Banjar Pekandelan Desa Paguyangan, 
  2. Pasek Gde Pasar di banjar Benaya Desa Paguyangan, dan 
  3. Pasek Gde Pasar di banjar Temukus Desa Besakih. 
Kemudian Pasek Ge Bendesa di Banjar Pekandelan Desa Peguyangan lalu menurunkan:


  1. Pasek Bendesa Pasar di banjar Mandung Desa Sembunggde, 
  2. Pasek Gde Pasar di banjar Bukitbatu Desa Sampelangan, dan 
  3. Pasek Bendesa Pasar di Banjar Mundukwulan Desa Tangguntiti.

Perihal adanya Pasek Bendesa Kayumas di Banjar Dangin peken Desa Sanur, dimulai dari adanya serangan oleh I Gusti Abiantimbul kepada I Gusti Kepandean di Hutan Mimba, yang berakhir dengan kemenangan dipihaknya I Gusti Abiantimbul keturunan I Gusti Pemecutan. Sedangkan I Gusti Kepandean adalah keturunan Arya Wang Bang Pinatih. Tatkala I Gusti Abiantimbul mengadakan serangan tersebut juga diikutsertakan Pasek Bendesa Kayumas dari banjar Kayumaskaja Desa Danginpuri.

Sesudah I Gusti Kapandean dapat ditundukkan. Hutan mimba tersebut dijadikan pemukiman dan dinamakan Banjar Intaran Desa Sanur. Sejak itu I Gusti Abiantimbul berkuasa disana, dan oleh karena Pasek Bendesa Kayumas ini dianggap berjasa kepada I Gusti Abiantimbul, lalu Bendesa Kayumas diangkat menjadi carik dengan gelar Penyarikan. Dan keturunaannya di Banjar Danginpeken Desa Sanur mempergunakan jati diri Penyarikan.

Sedangkan I Gusti Pengumpian keturunan dari Arya Sentong dari Desa Carangsari, yang semula berkuasa disana kemudian dikalahkan oleh I Gusti Kapandean keturunan Wang Bang Pinatih. Oleh karena tidak lagi berkuasa, lalu menyerahkan diri dan berlindung kepada Pasek Bendesa Kayumas yang sudah bergelar Penyarikan. Sejak itu, I Gusti Pengumpian tidak lagi memakai gelar I Gusti. Dan ia ikut memuja di pamerajan Pasek Bendesa Kayumas alias Penyarikan di Banjar Danginpeken Desa Sanur. Oleh karena I Gusti Pengumpian berasal dari Carangsari, maka ia sering datang ke Jro Carangsari, baik untuk sembahyang maupun keperluan lainnya, dengan mengikutsertakan keluarga Pasek Bendesa Kayumas alias Penyarikan.

Inilah yang mengakibatkan adanya hubungan kekeluargaan yang erat antara keturunan I Gusti Pengumpian dengan keturunan Pasek Bendesa Kayumas yang memakai jati diri Penyarikan. Tradisi ini telah berlaku sejak lama secara turun – temurun, yang kadang – kadang menimbulkan kekeliruan di dalam mengenal lalintihan. 
Dengan adanya kekeliruan ini tidak jarang menimbulkan perpecahan diantara keluarga Pasek Bendesa Kayumas, karena adanya anggapan bahwa Penyariakan tersebut bukan Warga Pasek.

Adapun Pasek Gde Pasar di Banjar Legiankaja Desa Kuta menurunkan Pasek Bendesa di Banjar Kanginan desa Kesiut, dan Pasek Bendesa di banjar Begawan Desa Pedungan. 

Selanjutnya Pasek Bendesa di Banjar Kanginan Desa Kesiut menurunkan Pasek Bendesa di Banjar Munduk Desa Pohsanten, sedangkan Pasek Gde Pasar di Banjar Petingan Desa Kerobokan menurunkan Pasek Gde Pasar di Banjar Baleagung Desa Kerobokan. 

Seterusnya Pasek Gde Pasar di Banjar Baleagung Desa Kerobokan menurunkan Pasek Bendesa di banjar Sedayu Desa Penarukan, sedangkan Pasek Gde Pasar Dajanpeken Desa Mengwitani menurunkan Pasek Gde Pasar di Banjar Payangan Desa Petiga, Marga Tabanan, dan Pasek Gde Pasar di banjar Jebaud Desa Beringkit, Marga daerah Tabanan.

Kemudian Pasek Bendesa di Banjar Kawan Desa Banyuniang menurunkan:

  1. Pasek Bendesa di Banjar Melanting Desa Banjar, 
  2. Pasek Bendesa di Banjar Kubuanyar Desa Kubutambahan, 
  3. Pasek bendesa di Banjar Desa Desa Les, 
  4. Pasek Bendesa di Banjar Munduk Desa Banjar, 
  5. Pasek Bendesa di banjar Baingin Desa Dencarik, daerah Buleleng, dan 
  6. Pasek Bendesa di Banjar Yehgangga desa Sudimara.

Adapun Ki Pasek Gelgel di Desa Depaha, Daerah Buleleng, kemudian memperoleh kedudukan sebagai Perbekel Desa Depaha bergelar I Gusti Pasek Gelgel Depaha. Ia kemudian menurunkan Pasek Gelgel di Banjar Pasek Desa Depaha. Selanjutnya Pasek Gelgel di Banjar Pasek Desa Depaha menurunkan:

  1. Pasek Gelgel di Banjar dan desa Bengkala, 
  2. Pasek Gelgel di Banjar Celuk Desa Sangsit, 
  3. Pasek Gelgel di banjar Kaja Desa Jagaraga, 
  4. Pasek Gelgel di Banjar Sangket Selagrurung Desa Sukasada, dan 
  5. Pasek Gelgel di Banjar Paketan.

Kemudian keturunan I Gusti Pasek gelgel di banjar Pegatepan desa Gelgel, daerah Klungkung yang pindah ke Desa Bebetin, mendapat kedudukan sebagai Perbekel di Desa Bebetin bergelar I Gusti Pasek Gelgel Bebetin. Entah berapa lama I Gusti Pasek gelgel Bebetin disana, lalu ia menurunkan Pasek Gelgel di Banjar Pasek Desa Bebetin menurunkan:

  1. Pasek Gelgel di Banjar Saba, Desa Lemukih, 
  2. Pasek Gelgel di Banjar Buhu, Desa Kubu, 
  3. Pasek Gelgel di Banjar Semabantas, Desa Kubu. 
Seterusnya mereka inilah yang menurunkan Pasek Gelgel Bebetin di beberapa desa, yang kadang – kadang mempergunakan jati diri Pasek Gelgel Bebetin atau Pasek Gelgel saja.


Adapun keturunan I Gusti Pasek Gelgel di banjar Pegatepan Desa Gelgel, kemudian dari Desa Gelgel pindah ke Desa Gobleg, lalu bertempat tinggal di Banjar Bulakan Desa Gobeleg, dan di sana diangkat menjadi Perbekel bergelar I Gusti Pasek Gobeleg. Selanjutnya I Gusti Pasek Gobeleg menurunkan:

  1. Pasek Gelgel di Banjar Bulakan, dan Banjar Taman, Desa Munduk, dan 
  2. Pasek Gelgel di Banjar Kalibatu Desa Kayuputih. 
Kemudian, Pasek Gelgel di Banjar Bulakan, Desa munduk menurunkan:


  1. Pasek Gelgel di Banjar Kepaksan, desa Gesing, 
  2. Pasek Gelgel di Banjar Munduk, desa Antuaran, 
  3. Pasek Gelgel di Banjar Danginrurung, Gunungsari, 
  4. Pasek Gelgel di Banjar Kaja, Desa Kedis, 
  5. Pasek Gelgel di Banjar Tengah, Banjar Babahan.

Seterusnya Pasek gelgel di Banjar Kapakisan, Desa Gesing menurunkan:

  1. Pasek Gelgel di Banjar Cempaga, Desa Cempaga, Desa Cempaga, dan 
  2. Pasek Gelgel di Banjar Panti, Desa Bulian.

Adapun Ki Pasek Gelgel di Desa Ababi, menurunkan Pasek Gelgel di Banjar Kaja, desa Ababi. Ia lalu menurunkan:

  1. Pasek Gelgel di Banjar Kaler, Desa Antiga, 
  2. Pasek Gelgel di Banjar Linggasana Batur, Desa Budakeling, dan 
  3. Pasek Gelgel di Banjar Tukad Bungbunganpengawan, Desa Ababi.

Selanjutnya Pasek Gelgel di Banjar Kaler. Desa Antiga menurunkan Pasek Gelgel di Banjar Wangsianbuluh, Desa Tangkup, sedangkan Pasek Gelgel di Banjar Linggasana Batur, Desa Budakeling, lalu menurunkan Padsek Gelgel di Banjar Kaleng Desa Antiga.

Ikhwal adanya Pasek Gelgel Ababi Satriya, Negara,

diawali dengan terjadinya perkara kriminal yang menimpa keluarga Raja Karangasem. Perkara kriminal itu ialah terjadinya pencurian harta benda keluarga Raja Karangasem yang bernilai cukup tinggi, dan tidak diketahui siapa pencurinya. Atas petunjuk yang diterima oleh raja Karangasem tanpa bukti, dituduh keturunan Pasek gelgel Ababi yang melakukan pencurian tersebut. Raja Karangasem kemudian akan menjatuhkan hukuman walaupun belum ada bukti. 

Sebelum Raja Karangasem menjatuhkan hukuman tersebut, keluarga Pasek Gelgel Ababi mengadakan pertemuan keluarga untuk membicarakan masalah tuduhan Raja Karangasem tersebut. Dalam pertemuan itu diambil keputusan menyuruh Pasek Gelgel yang dituduh mencuri itu, agar pergi meninggalkan Desa Ababi untuk menghindari hukuman tersebut. Lalu Pasek gelgel tersebut berangkat dari Desa Ababi menuju arah Barat, dan entah berapa lama dalam perjalanan sampai di Daerah Jembrana. Disana ia terus bertempat tinggal dan selanjutnya menurunkan Pasek Gelgel di Banjar Satriya, Negara, daerah Jembrana, yang kemudian berkembang dan menjadi satu pamarajan Pura Dadya. Demikian antara lain hikayat Pasek Gelgel Ababi di Banjar Satriya, Jembrana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar