Google+

Perpecahan Puri Kuramas dan Puri Kapal

Perpecahan Puri Kuramas dan Puri Kapal

Tersebutlah I Gusti Istri Ayu Made, adik dari I Gusti Agung Putu dan kakak dari I Gusti Agung Made Agung, yang menderita sakit ingatan. Seorang Pandita Pande dari desa Wanasara berhasil menyembuhkan, tetapi setiap berpisah dengan Sang Pandita penyakitnya kambuh lagi. Akhirnya I Gusti Istri Ayu Made dikawinkan dengan Sang Pandita Pande. 
Perkawinan ini tanpa sepengetahuan kakaknya I Gusti Agung Putu di Puri Kuramas
I Gusti Agung Putu murka dan membunuh Sang Pandita. Sang Pandita Pande sebelum menghembus napas terakhir sempat mengeluarkan kutukan kepada I Gusti Agung Putu, bahwa 
"kelak I Gusti Agung Putu dan keturunannya tidak akan pernah menjadi raja. Sedangkan kutukan kepada I Gusti Agung Made Agung, bahwa keturunannya tidak akan habis – habisnya menderita sakit ingatan (gila)" 

Sejak peristiwa itu, I Gusti Agung Made Agung mengeluarkan sumpah putus hubungan bersaudara dengan kakaknya I Gusti Agung Putu.


I Gusti Istri Ayu Made mesatya mengikuti perjalanan Sang Pandita. 
I Gusti Agung Made Agung mewarisi pusaka berupa:

  • Genta Ki Bhrahmara, 
  • Genta Ki Kembang Lengeng, 
  • Siwa Pakaranan pangeran Kapal yang kuno. 
  • Keris Ki Panglipur, 
  • Keris Ki Baru Pesawahan (pusakanya Pangeran Kapal), dan
  • Keris Ki Pancar Utah (pusakanya Pangeran Buringkit dahulu).

I Gusti Agung Made Agung beristerikan Ni Gusti Luh Bengkel, puteri dari Kryan Bebengan, menurunkan putera satu – satunya bernama:

  • I Gusti Agung Putu. 

Puteranya adalah hasil dari permohonan I Gusti Agung Made Agung bersama isterinya di Pura Sada, yaitu anugerah dari Bhatara Hanandharu.

Setelah I Gusti Agung Made Agung wafat, digantikan oleh putera beliau. 
Dalam pemerintahan I Gusti Agung Putu, rakyat kurang diperhatikan, beliau keras kepala, hanya mengikuti hawa nafsunya sendiri. Timbul pemberontakan yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Batu Tumpeng dari desa Kekeran. Timbul perang yang ramai antara laskar Kapal dengan laskar Kekeran. I Gusti Agung Putu dapat dikalahkan, dikira sudah mati, ditinggal oleh I Gusti Ngurah Batu Tumpeng. Adalah seorang abdi yang bernama I Kedua, mendekati junjungannya. 
Dalam keadaan sekarat I Gusti Agung Putu menitipkan pusakanya, yang bernama Ki Panglipur kepada I Kedua. I Kedua menutupi badan junjungannya dengan daun Liligundi agar terasa sejuk. Mengetahui I Gusti Agung Putu masih hidup, I Gusti Ngurah Batu Tumpeng membawanya ke Linggasana Tabanan, menjadi tawanan raja I Gusti Ngurah Tabanan.

Seorang pemimpin dari desa Wratmara (sekarang: Marga), bernama I Gusti Bebalang, yang mengabdi di kerajaan Linggasana Tabanan, mengetahui bahwa I Gusti Agung Putu ditawan. Atas permohonannya yang mendalam kepada raja Anglurah Tabanan, I Gusti Bebalang berhasil melepaskan I Gusti Agung Putu, dan mengajak tinggal di desa Wratmara. Di desa Wratmara I Gusti Agung Putu sangat akrab dengan adik I Guti Bebalang yang bernama I Gusti Celuk.

Setelah beberapa lama tinggal di desa Wratmara, di mana kondisi tubuh dan mentalnya membaik, I Gusti Agung Putu berkeinginan membalas terhadap I Gusti Ngurah Batu Tumpeng. Untuk itu beliau melakukan perjalanan menuju puncak Gunung Mangu melakukan semadi. Dalam semadinya yang khusuk, Ida Bhatara Gunung Mangu turun. I Gusti Agung Putu disuruh menjulurkan lidahnya, dan dirajah oleh Ida Bhatara. Dari puncak Gunung Mangu itu pula I Gusti Agung Putu disuruh melihat ke arah Timur, Selatan, Barat, dan Utara. Sabda Ida Bhatara, bahwa apa – apa yang dilihat oleh I Gusti Agung Putu, kelak itulah akan menjadi wilayah kekuasaannya. Selesai melakukan semadi, I Gusti Agung Putu kembali ke desa Wratmara, disambut hangat oleh sahabatnya I Gusti Celuk.

Selanjutnya I Gusti Agung Putu, dengan seijin penguasa desa Marga merabas hutan membangun istana bernama Puri Balaayu, sebagai tempat kedudukan beliau. Nama beliau menjadi termasyur, beberapa penguasa menghadap dan mendukung beliau, antara lain: 

  • I Gusti Ngurah Tangeb, 
  • I Gusti Ngurah Pupuan, 
  • I Gusti Ngurah Buringkit, 
  • I Gusti Ngurah Penarungan. 

I Kedua pun menghadap mempersembahkan keris Pusaka Ki Panglipur yang dulu dititipkan kepadanya Tetapi I Gusti Ngurah Kekeran (Batu Tumpeng) masih menentang. I Gusti Ngurah Kekeran kemudian diserang dan berhasil dibunuh. Semenjak itu daerah Kekeran menjadi wilayah kekuasaan I Gusti Agung Putu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar