Google+

Upacara Dewa Yadnya Berdasarkan Pawukon

Upacara Dewa Yadnya Berdasarkan Pawukon

Adapun hari raya berdasarkan Pawukon, yaitu

1. Wuku Sinta


  • Banyupinaruh Hari suci ini jatuh pada Redite Pahing. Banyu pinaruh merupakan rangkaian dari hari raya Saraswati. Pada hari ini umat Hindu melakukan pensucian (melukat) dengan mandi di pantai atau sumber air yang dianggap suci. Hal ini sebagai simbolis untuk mendapatkan kesucian secara lahiriah yang kemudian hendaknya diharapkan bisa berlaksana yang suci pula.
  • Soma Ribek Hari suci ini jatuh pada Soma Pon. Hari ini adalah khusus untuk memuliakan Dewi Sri sebagai sakti dari Dewa Wisnu yang dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Tri Pramana. Upacara ini dilakukan di tempat penyimpanan padi atau beras dengan mengahaturkan Nyahnyah Gringsing, Biu mas, canang ajuman dengan wewangian. Demikian pula persembahyangan dilakukan parhyangan. Pada hari suci ini umat Hindu khususnya petani melakukan pebrataan dengan tidak menjual padi atau beras, tidak menurunkan padi dari lumbung, karena Dewi Sri adalah Dewi yang dipuja dan disucikan oleh kaum petani.
  • Sabuh Mas Hari suci ini jatuh pada Anggara Wage sebagai hari-hari pemujaan kepada Sang Hyang Rambut Sedana yang dipuja sebagai Dewa harta benda yang dipuja sebagai emas dan perak. Hari suci ini juga disebut Sabuh Pipis. Pada hari ini umat Hindu melakukan brata dengan tidak melakukan transaksi hutang piutang, apalagi menjual emas.
  • Pagerwesi Hari suci ini jatuh pada Buda Kliwon sebagai hari turunnya Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam manifestasiNya sebagai Sang Hyang Pramestiguru untuk memberikan anugrah kepada manusia berupa kekuatan iman, kerahayuan, dan kedirgayusan. Selain melakukan persembahyangan di tempat-tempat suci umat Hindu melaksanakan upacara persembahan kepada Pitara atau Leluhur baik di paibon maupu di setra (kuburan). Hal tersebut menunjukkan adanya ikatan antara anak (sentana) dengan leluhur (Guru Rupaka).


2. Wuku Landep

Hari suci pada wuku Landep jatuh pada Saniscara Kliwon yang disebut Tumpek Landep. Pada hari ini umat Hindu melakukan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pasupati. Secara umum unat Hindu menghaturkan upacara yang dilengkapi dengan sesaji kepada segala peralatan yang digunakan dalam bekerja, seperti peralatan tukang, bengkel, senjata-senjata, dan peralatan lainnya yang terbuat dari logam atau besi yang banyak membantu pekerjaan, sehingga peralatan tersebut selalu bertuah saat digunakan. Namun secara filosofis makna dari perayaan Tumpek Landep adalah memohon kepada Sang Hyang Pasupati agar selalu menganugrahkan ketajaman hati dan pikiran kepada kita semua, agar mampu mengahadapi suka duka kehidupan ini, mampu memecahkan setiap permasalahan, serta mampu memilih dan memilah mana yang baik dan mana hal yang buruk.

3. Wuku Ukir

Hari suci pada wuku ini adalah jatuh pada Redite Umanis yang meruppakan hari khusus unutk melakukan pemujaan kepada Bhatara Guru yang malinggih di sanggah Kamulan sebagai Sang Hyang Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa.

4. Wuku Kulantir

Hari suci pada wuku Kulantir jatuh pada hari Anggara Kliwon yang disebut Anggarkasih Kulantir. Pada hari ini umat Hindu melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Mahadewa melalui sanggah kamulan.

5. Wuku Tolu

Soma Umanis Tolu memuja para Bhatara dan Dewa di pemerajan, paibon, panti kahyangan masing-masing dengan mempersembahkan sesaji berupa ajuman putih kuning, daging telur itik, sesayut pengambean, peras, canang wangi, memohon agar melimpahkan wara nugraha.

6. Wuku Gumbreg

Pada Buda Kliwon, pemujaan ditujukan kepada para Dewa terutama Bhatari Sri agar melimpahkan keuliaan, dengan menghaturkan canang yasa, canang raka, canang sari, pareresikan di Sanggah Kamulan.

7. Wuku Wariga

Hari suci pda wuku Wariga jatuh pada hari Saniscara Kliwon yang disebut Tumpek Wariga. Biasanya disebut juga Tumpek Pengarah, Pengatag, atau Uduh. Hari ini umat Hindu melakukan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Snagkara, yang telah menciptakan dan memelihara serta melestarikan semua tumbuh-tumbuhan yang member kemakmuran dan kesejahteraan bagi kehidupan di dunia ini.

8. Wuku Warigadean

Pemujaan pada wuku Warigadean dilakukan pada hari Soma Pahing yang ditujukan kepada Bhatara Brahma dengan menekang base di Paibon. Demikian pula pemujaan dilakukan setiap Buda Wage yang disebut dengan Buda Cemeng, dimana Sang Manik Galih beryoga menurunkan Sang Hyang Ongkara Mreta di bumi ini. Pemujaan dilakukan di sanggah Kamulan memohon semoga diciptakan kemakmuran.

9. Wuku Julungwangi

Pemujaan pada wuku Julungwangi dilakukan pada hari Anggara Kliwon yang disebut dengan Anggarkasih Julungwangi.

10. Wuku Sungsang
Pemujaan pada wuku Sungsang, terdiri dari beberapa rangkaian. Pada hari Buda Pon disebut Sugihan Tenten merupakan persiapan untuk rangkaian upacara yaitu dengan membersihkan tempat suci, perlengkapan upacara, wastra, dan sebagainya. Keesokan harinya yaitu pada Wrespati Wage disebut Sugihan Jawa dimana umat Hindu melakukan pemujaan yang bertujuan untuk menyucikan Bhuana Agung (alam semesta) karena pada hari ini Bhatara Bhatari turun ke dunia diiringi oleh Dewata dan Pitara hingga sampai pada hari raya Galungan. Selanjutnya pada Sukra Kliwon disebut Sugihan Bali dengan melakukan pembersihan dan penyucian Bhuana Alit (diri sendiri) baik secara lahir maupun bhatin.

11. Wuku Dungulan
Pada wuku Dungulan puncak dari hari raya suci adalah pada hari Buda Kliwon yang disebut Hari Raya Galungan yang dirayakan setiap 210 hari. Yang memperingati kemenangan Dharma melawan Adharma. Pada hari ini pula umat Hindu melakukan persembahyangan dan mempersembahkan sesajen banten di tempat-tempat suci memuja Ida Sang Hyang Widi Wasa, para dewa, bhatara, pitara dan member persembahan kepada Bhuta.

12. Wuku Kuningan
Hari raya suci pada wuku ini adalah hari raya Kuningan yang jatuh pada Saniscara Kliwon wuku Kuningan. Hari raya Kuningan juga disebut dengan Tumpek Kuningan sebagai hari turunnya para Dewa dan Bhatara diiringi oleh leluhur akan menyari persembahan dari umatnya. Pada setiap bangunan palinggih, sanggah parhyangan dan juga rumah di pasang tamiang, ending, dan gegantungan. Tamiang adalah sombol perisai sebagai sarana untuk memohon perlindungan dan tuntunan lahir bhatin sehingga mendatangkan kesentosaan dan kedirgayusan.Pelaksanaan hari raya Kuningan ini sebaiknya dilakukan sebelum tengah hari karena menurut kepercayaan setelah tengah hari para Dewa, Bhatara dan leluhur telah kembali kealamnya.

13. Wuku Langkir
Hari suci pada wuku ini adalah Buda Wage (Buda Cemeng). Umat Hindu mengahaturkan persembahan di Sanggah Kamulan pada Sang Hyang Manik Galih yang menurunkan Ongkara Mreta sehingga tercipta kemakmuran di dunia ini.

14. Wuku Medangsia
Hari suci pada wuku ini adalah Anggara Kliwon yang disebut Anggar Kasih Medangsia.

15. Wuku Pujut
Pada hari Anggara Pahing melakukan pemujaan kepada Bhatara Guru dengan mempersembahkan canang ajuman, raka-raka di sanggah Kamulan atau Pamerajan memohon anugrah ilmu pengetahuan dan menolak segala halangan.

16. Wuku Pahang
Hari suci pada wuku ini adalah Buda Kliwon yang disebut Pegatwakan. Maksud dari Pegatwakan adalah Pegating warah, selesai brata yoga dan Samadhi. Pegatwakan ini adalah 42 hari setelah hari raya Galungan, jadi Pegatwakan adalah penutup dari rangkaian hari raya Galungan. Pada hari ini umat Hindu melakukan pemujaan kepada para Dewa dan Bhatara mohon keselamatan, karena pada hari ini para Dewa dan Bhatara telah kembali ke kahyangan.

17. Wuku Krulut
Hari sucinya jatuh pada Saniscara Kliwon yang disebut Tumpek Krulut. Pada hari ini umat Hindu melakukan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa yang menganugrahkan kesenian berupa gamelan yang dapat memberi rasa senang dan damai(lulut). Tumpek Krulut ini biasanya menjadi rahinan khusus bagi para seniman untuk membuat banten yang dipersembahkan pada alat-alat gamelan.

18. Wuku Merakih
Pada wuku ini disamping Buda Wage Cemeng hari sucinya juga pada hari Sukra Umanis yang merupakan pujawali Sang Hyang Sri dan Sang Hyang Rambut Sedana yang menganugrahkan harta benda.

19. Wuku Tambir
Pada wuku ini hari sucinya jatuh pada Anggara Kliwon yang disebut Anggarkasih Tambir.

20. Wuku Medangkungan
Pada wuku ini pemujaan dilakukan pada Anggara Pahing memuja Dewa Brahma di pamerajan memohon kesejahteraan sehingga memiliki daya cipta untuk bias membangun masyarakat yang adil dan makmur.

21. Wuku Matal
Hari sucinya jatuh pada Buda Kliwon Matal, melakukan persembahan kepada Sang Hyang Ayu atau Sang Hyang Nirmala Jati.

22. Wuku Uye
Hari suci pada wuku Uye ini adalah Saniscara Kliwon yang disebut Tumpek Uye atau Tumpek Kandang. Hari raya ini adalah upakaranya ditujukan kepada binatang peliharaan. Pemujaan ditujukan kepada Sang Hyang Rudra.

23. Wuku Menail
Hari sucinya jatuh pada Buda Wage (Buda Cemeng)

24. Wuku Perangbakat
Pada wuku ini perayaan jatuh pada Anggara Kliwon yang disebut Anggarkasih perangbakat.

25. Wuku Bala
Pada wuku ini tepatnya Anggara PAhing, memuja Bhatara Sri guna memohon keselamatan dan kerahayuan.

26. Wuku Ugu
Hari sucinya jatuh pada Buda Kliwon Ugu.

27. Wuku Wayang
Pada saniscara kliwon disebut Tumpek Wayang. Pada hari ini melakukan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa agar menetralisir segala kekotoran (cemer/leteh) yang ada pada alam semesta.

28. Wuku Kulawu
Pada Buda Wage Kulawu disebut Buda Cemeng yang merupakan pujawali kepada Bhatara Rambut Sedana yang berwujud harta benda, bertujuan mohon keselamatan dan kesejahteraan. Pada hari ini tidak boleh meminjamkan uang atau memutuskan perkara tentang harta. Selain itu pada Saniscara Pahing adalah pujawali Bhatari Sri, hendaknya mebanten di tempat penyimpanan padi atau beras. Pada hari ini jangan menumbuk padi atau menjual beras.

29. Wuku Dukut
Pemujaan dilakukan pada Anggara Kliwon yang disebut Anggarkasih Dukut.

30. Wuku Watugunung
Pemujaan dilakukan pada Saniscara Umanis yang disebut hari raya Saraswati sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan. Pada hari ini melakukan pensucian unutk pustaka-pustaka, rontal atau kitab-kitab untuk disucikan.

Demikianlah sekilas tentang Upacara Dewa Yadnya Berdasarkan Pawukon, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar