Google+

Akhir Perang Agung Wilis Kerajaan Blambangan

Akhir Perang Agung Wilis Kerajaan Blambangan

Sir Thomas Stanford Rafless dalam bukunya Hystory of Java menulis tentang adanya disolating system orang Banyuwangi pada page 68 sbb:
From that moment , the provinces subjected to its authority, ceased to improve. Such were the effect of her desolating system that the population of the province of Banyuwangie,which 1750 is said to have amounted to upwards of 80.000, was in 1811 reduce to 8000

Benarkah pembunuhan itu terjadi?

Kebenaran tulisan Sir Thomas Raffles mantan Letnan Gubernur Jawa dan Sumatra itulah yang menjadi perburuan saya, mencermati setiap fakta untuk mencari jawaban kebenaran tulisan itu. Maka ketika Hystory of Jawa di terjemahkan, saya membelinya dan melahapnya sebagai bacaan yang menarik, karena ditulis seorang birokrat muda (umur 30 tahun), yang dalam masa pemerintahan yang singkat 6 (enam ) tahun, telah menulis buku yang diakui sebagai masterpiece tentang Jawa dan membela orang Jawa, dari character assanisation Belanda.


Dari buku itu dingetahui bahwa pembunuhan massal tidak hanya terjadi di Banyuwangi tetapi terjadi diseluruh Nusantara, hanya fakta yang accurat diperoleh dalam kasus pembunuhan di Banyuwangi. Untuk sampai pada kesimpulan itu Raffles membandingkan pemerintahan VOC di Nusantara, dengan pemerintahan The Great Britain di India. Daerah yang diduduki VOC ternyata ditandai hal yang sama, penduduknya menyusut secara drastis, berbeda jauh dengan kota di India, yang di kuasai Inggris malah tumbuh menjadi daerah yang padat.
Selain itu Thomas Stanford Raffless juga menyimpulkan; 
Tampaknya praktek Tiranisme dan monopoli merupakan kebijakan utama bagi pemerintah VOC untuk menghasilkan keuntungan dari pulau ini (Jawa). ( History of Java .xxviii).
Maka wajah kelam karena perbuatan Belanda tidak boleh dilupakan dan terlupakan.

apakah data thomas stanford raffles akurat?

Deretan tabel dalam buku Hystory of Java tulisan Thomas Stanford Rafless, sangat banyak, mulai dari Tabel Gambaran umum dari tabel statistik pada hal 36 sampai 39, tabel perhitungan penghasilan dan biaya pemerintah hal 203, 204, Tabel umum pertanian dan populasi hal 601 s/d 633, 638 s/d 6440 dan dalam tabel ini terdapat tabel Banyuwangi. Hal ini menunjukan bahwa Sir Thomas Stanford memiliki perhatian yang serius terhadap angka dan Banyuwangi, meskipun tulisan tentang Banyuwangi disinggung secara terpencar.

Jumlah angka populasi Banyuwangai pada tahun 1750 sangat akurat, mungkin malah terlalu sedikit mengingat Kerajaan Blambangan telah disepakati oleh para sejarahwan sebagai kerajaaan yang makmur. Nama Blambangan berasal dari Balumbung yang berarti negeri yang memiliki banyak lumbung/gudang beras. Dalam NAGARA KRTAGAMA, karya MPU PRAPANCA yang ditulis pada abad ke 14, pupuh 28 bit 1 ditulis;
Pira teki lawas nira patukanan… Para mantri ri Bali ri Madura ri Balumbun/Blambangan andalan ika karuhun … sayawaksiti wetanumark apuphul… 
Selama beliau (Prabu Hayamwuruk) hadir di Patukangan… para menteri dari Bali dari Madura dari Blambangan merupakan andalan Baginda.. Dimana seluruh daerah timur berkumpul. 
Fakta tentang kemakmuran kerajaan Blambangan juga di kemukakan oleh Jonno de Barros, Decada IV, buku I, bab 7 (Portugies). Yang menulis bahwa pada bulan Juli 1528, Don Garcia Henriquez, tampaknya berlabuh di pelabuhan Peneruca/Panarukan untuk mengisi perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan ke Malaka. Dan nampaknya raja Panarukan mengirim dutanya pada Gubernur Portugies di Malaka.Tentang Peneruca dikemukakan bahwa sejak tahun 1526 telah dikunjungi 20 buah kapal Portugis untuk membeli perbekalan. Kerajaan Blambangan dianggap netral karena merupakan kerajaan Hindu, sedang kerajaan di Jawa adalah kerajaaan Islam dan Portugis sedang berperang dengan kerajaan Islam (Negeri Tawon Madu. 22)

Dibawah ini adalah peta pulau Jawa dari buku Summa oriental/Tome pires. Fideida adalah Panarukan.

Deskripsi tentang kerajaan Blambangan yang disampaikan DR Sri Margana yang mengambil Doktor di Universitas Leiden, Belanda, dengan disertasi “Java’s Last Frontier: The Struggle for Hegemony of Blambangan“ yang dimuat di Intermezo majalah Tempo edisi tanggal 13 dan 19 September 2010 juga menggambarkan kemakmuran Kerajaan Blambangan dan membuka fakta baru tentang kerajaan Blambangan, sebagai berikut;

  1. Kerajaan Blambangan (mencakup daerah Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi) tidak runtuh setelah perang Paregreg, malahan tetap bertahan sampai abad ke 18 atau tiga abad setelah Majapahit runtuh.
  2. Kerajaan Blambangan, dalam mempertahankan existensinya, mampu bergerak dengan mobilitas yang sangat tinggi, terbukti kerajaan Blambangan telah memindahkan ibukota kerajaan sampai 6 (enam) kali (Lumajang, Panarukan, Kedawung/Jember, Macan Putih, Ulupampang, Lateng/Banyuwangi)
  3. Kerajaan Blambangan selain mampu membangun kembali kekuasaaan dan kejayaannya setelah kekalahannya dalam perang Paregreg, juga dapat membendung serangan Kerajaan Demak dan Kerajaan Mataram/Surakarta pada tahun 1639, 1648, 1665
  4. Kerajaan Blambangan mencapai kemakmuran dan kewibawaan yang luar biasa, pada masa Prabu Tawang Alun II dari tahun 1655 s/d 1692, ini terbukti istrinya mencapai 400 orang, dan ketika Prabu Tawangalun II meninggal. istri yang mengikuti sati sebanyak 270 orang.
  5. Perang Pangeran Jagapati/Puputan Bayu adalah perang yang tersadis dalam sejarah perang di Indonesia. Tubuh dan kepala para prajurit yang tewas digelantungkan di pepohonan sekitar benteng. Lumbung padi dibakar, sehingga rakyat kelaparan dan disusul merebaknya wabah penyakit.
  6. DR. Sri Margana juga menyampaikan, ada mitos yang berkembang di Mataram saat itu (sekitar abad 18), bahwa prajurit Blambangan kebal terhadap senjata. Jika keris maupun tombak dapat membunuh prajurit Blambangan, maka senjata tersebut dinyatakan sakti dan layak dipakai perang.
  7. Daya tahan kerajaan Blambangan, terutama karena keandalan rakyatnya dan strategy perangnya.
Kemakmuran Blambangan ini, seperti dikemukakan Drs I Wayan Sudjana M.A dalam bukunya Nagari Tawon Madu, Sejarah Politik Blambangan abad ke XVIII, Larasan Sejarah 2001, nampak pada jumlah pasukan yang dikerahkan oleh Sultan Agung, raja Agung Mataram untuk menaklukan Blambangan pada tahun 1639, Jumlah tentara yang dikerahkan mencapai 30.000 orang. Dengan pasukan sebesar itu ternyata Blambangan juga tidak dapat ditaklukan, meskipun jumlah tentara Blambangan yang ditawan dan diangkut ke Mataram mencapai 5000 orang (hal 28) dan setelah serangan itu malah Blambangan lebih berjaya dibawah dinasti Tawangalaun dan berlanjut sampai zaman Pangeran Pati III, yang memerintah dari 1736 sampai 1768.

Gambaran tentang kemakmuran Kerajaan Blambangan ini bersumber dari references yang didapat beliau dari Leiden University sebagai berikut:

  1. Pada masa pemerintahan P. Pati III/Prabu Hamangkupuro, Kerajaan Blambangan, digambarkan sebagai KARTA KARTI KANG NAGARI atau dinyatakan zaman KERTAYUGA/AMAN TENTRAM (45)
  2. Pangeran putra mahkota berhak menempati “dalem” nyang disebut Manik Lingga/Istana Permata. Yang menonjol yaitu pakaian pangeran dan perlengkapan, keris dibuat dari emas dan payung kebesarannya berwarna kuning emas (37).
  3. Dalam pemerintahan P. Pati didampingi dua patih ( biasanya satu), yaitu Patih Dalem yang mengurus rumah tangga Istana dan Patih Kiwa yang menurusi pemerintahan. Pemerintahan juga didukung oleh 72 mantri/bekel Agung. (42)
  4. Pada saat menghadapi serbuan kerajaan Buleleng yang dibantu orang bugis. P.Pati mengirim 3000 JAGABELA sebanyak 3000 orang yang bersenjatakan keris emas. Dengan kekuatan tempur itu dan dukungan rakyat, serbuan Kerajaaan Buleleng digagalkan. (45)
  5. Struktur pembagian Kerajaan Blambangan, terdiri atas Nagarai (Istana). Jawikuta (Ibukota), Mancadesa, Pasisiran, Wanadri. Istana dan Jawi Kuta berpenduduk 18000 sampai dengan 20000 (dua puluh ribu), Sedang Daerah Blambangan yang sangat luas itu terdiri atas 200 dusun yang berpenduduk masing 200 orang. Disamping daerah yang sangat luas kerajaan Blambangan juga memiliki pelabuhan Ulupampang/Muncar yang sangat ramai. Export Blambangan meliputi sarang burung, beras, dan hasil hutan. Sejak tahun 1600 Pelabuhan Ulupampang setiap tahun mengexport sarang burung seharga empat ribu found sterling, 1 ton bahan lilin, dan 600 ton beras, dan hasil hutan lainnya. Ulupampang dipenuhi perahu besar milik kerajaan, perahu besar bangsa China, dan Bugis. Selain perahu tersebut, pelabuhan Ulupampang, setiap setengah tahun disinggahi kapal Inggris yang berlayar ke Australia untuk membeli perbekalan sejak tahun 1696. Tercatat yang mengunjungi Ulupampang adalah Francis Drake, dengan membawa kapal The Paca berbobot 70 ton, dan The Swan berbobot 50 ton. Juga Thomas Candish telah tinggal selama dua minggu di Ulupampang, dengan membawa kapal “Pretty” dan” Wilhems”

Jumlah Penduduk Blambangan pada tahun 1811 seharusnya dua kali lipat 80000 atau 160000.
Maka menjadi pertanyaaan besar bagaimana mungkin suatu ras yang beradab/kerajaan yang berjaya sampai abad ke 18, yang dengan perkasa mempertahankan gempuran Majapahit, Mataram, Buleleng akhirnya hanya menyisakan penduduk yang terkucil dan kemudian langka di daerahnya sendiri yang nampak nyata pada saat sekarang ini? (Kerajaan Blambangan meliputi Lumajang, Jember ,Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi. Penduduk Blambangan saat ini hanya berada di Banyuwangi. Dan dari 21 kecamatan di Banyuwangi, penduduk Blambangan hanya tinggal di 9 kecamatan).

Sebuah survey demographie pada tahun 1811 menjadi bukti tulisan Sir Stanford Raffles tersebut bahwa Blambangan hanya memiliki 120 sampai 130 kampung asli,dan tiap kampong hanya dihuni paling banyak 35 keluarga,

Jika hal itu masih diragukan adanya Dislokating system dan Genocida ,dengan berlogika sederhana saja, akan ditemukan keanehan dan kejanggalan, yaitu mengapa penyusutan secara besar besaran itu tidak terjadi, pada orang Jawa, di Surakarta/Mataram, Jawa Timur, Madura, padahal perang saudara, perang dengan VOC, wabah penyakit ,terjadi di kerajaan itu, jauh lebih besar jika dibanding dengan Banyuwangi, tetapi jumlah penduduk mereka tak bergeming atau menyusut drastis, malah bertambah banyak ?

Theory tentang Baby Bomb akan menolak hypothesis apapun ,yang mengakibatkan penyusutan yang diakibatkan oleh perang dan penyakit, setelah melewati masa damai yang panjang (1772 sampai dengan 1811)

Apalagi berdasarkan buku Raffles itu, penyakit yang berkembang di Jawa, hanyalah penyakit cacar dan demam,disentri, dan penyakit itu secara tradisional dapat diatasi.

Kematian akibat kelaparannpun ,sulit dipercaya dapat terjadi di Banyuwangi, karena sebagian besar Jawa, tanpa pemeliharaan yang memadai panen bisa dilakukan dua sampai tiga kali dalam setahun, apalagi di Banyuwangi, ditanah yang dikatakan indah dan subur. Jangankan menunggu panen, di hutanpun orang Blambangan bisa hidup. Bandingkan keadaan Banyuwangi dengan keadaan p. Madura atau daerah pesisir utara jawa atau daerah Mataram lainnya.

Sir Stanford Raffles, ketika menemukan fakta catatan penduduk di Jawa, tentang angka kelahiran dan angka kematian pada tahun 1750, menarik kesimpulan bahwa tingkat perkembangan penduduk di Jawa sama dengan perkembangan penduduk di Perancis, dengan menganalisa angka kelahiran dan angka kematian maka diperkirakan dalam 300 tahun akan meningkat dua kali lipat, tetapi pada kenyataaanya pada daerah tertentu di Jawa kenaikan dua kali lipat hanya memerlukan waktu 50 tahun (hal 42). 
Analisa dan perhitungan Thomas Stanford Rafless ini ternyata sangat berlian dan terbukti, seperti tersebut pada harian Kompas yang menghitung trend penduduk Indonesia dari tah 1930 sampai tahn 2000. Trend penduduk Indonesia dari thn 1930 berjumlah 60.7 juta dan pada tahun 1980 (lima tahun kemudian) berjumlah 146.9 juta. lebih dari dua kali lipat (Kompas 10 Januari 2010), sangat mendekati perhitungan Sir Thomas Stanford rafless.

Fakta diatas telah menjelaskan bahwa setelah Perang Wong Agung Wilis, Puputan Bayu, Belanda telah melakukan usaha usaha sistemik sehingga mengakibatkan penyusutan penduduk Blambangan sebesar 90% dengan melakukan pembunuhan besar besaran terhadap orang Banyuwangai, pemindahan paksa, terjadi pembiaraan ketika merebaknya penyakit, penistaan dan penyiksaan yang sangat kejam yang mengakibatkan penduduk Banyuwangi/Blambangan menyusut secara tajam dari 80 ribu pada tahun 1750 menjadi 8 ribu pada tahun 1811. Belanda telah melakukan pembunuhan systemik/genocida

Mengapa Belanda melakukan Genocida
Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan;

1. Perang Wong Agung Wilis, Puputan Bayu Adalah PERANG DAHSYAT, Memperebutkan Tempat Strategis.

Perang Wong Agung Wilis merupakan perwujudan permusuhan yang mendalam antara Inggris dengan Belanda untuk memperebutkan posisi perdagangan di dunia/Eropa dan permusuhan yang mendalam antara Mataram dengan Blambangan memperebutkan legitimasi sebagai penerus Majapahit. Ini terbukti pertempuran yang berulang kali terjadi antara Mataram/Surakarta dengan Blambangan.

Disamping itu posisi Blambangan dan Bayualit sangat strategis bagi Inggris, sesuai pendapat Sir Stanford Raffless (History of Java, h 101) Posisi Jawa di selatan di Benua Asia dan Hindia akan sama dengan posisi Mesir dan Sicilia di selatan Eropa. Dimulai sejak awal pemerintah Inggris berjoang untuk menguasai wilayah ini dan akhirnya menjadi pemerintah sementara, maka dimulailah satu babak baru dalam kehidupan yang lebih manusiawi dan adil, di pulau yang semestinya diperhitungkan oleh tiap kota metropolis, pelabuhan maupun daerah kecil mulai dari ujung Pantai Cina sampai Teluk Benggala.

Blambangan dapat dijadikan pelabuhan persinggahan oleh kapal dagang dan kapal perang Inggris dalam perjalanan menuju ke Australia, setelah menempuh perjalanan jauh, mengelilingi Afrika singgah di Yaman/Oman, kemudian India, tetapi masih memerlukan perjalanan panjang dan mengarungi samudra India untuk mencapai Australia.

Hal ini juga dikemukakan oleh Drs I Wayan Sudjana dalam bukunya Negeri Tawon Madu, yang banyak mendasarkan pendapatnya dari para penulis Belanda yang tersimpan dalam arsip Leiden University, seperti yang telah ditulis diatas, tetapi untuk lebih meyakinkan saya mengutip lagi pendapatnya sebagai berikut:
Sejak tahun 1760 Inggris telah mencari tempat persinggahan (24). Sebelum tahun 1766, minimal dua kapal Inggris singgah di pelabuhan Ulupampang, tetapi setelah tahun 1766, hampir setiap bulan kapal Inggris singgah di Ulupampang. Inggris membeli perbekalan dan menjual senjata pada Blambangan (61)

Dan jika perang perang tersebut hanya sekedar perang saudara dan kemudian VOC datang membantu menyelesaikan, maka bagaimana mungkin J.K.J de Yonge, mengutip surat Gubernur Jendral Reiner de Klerk tertanggal 31 Desember 1781 kepada pemimpin VOC bahwa Perang Puputan Bayu yang berlangsung 1tahun empat bulan itu menghabiskan dana setara dengan 80 ton emas (1883) (Ika Ningtyas, Mahbub Djunaidi, Laskar Tangguh dari Ujung Timur Jawa. Majalah Tempo edisi 13-19 September 2010). Maka pastilah kedua orang Belanda tersebut telah melakukan kebohongan besar

2. Fakta-Fakta, Perang Wong Agung Wilis

2.1. Permusuhan Inggris dan Belanda (VOC)
Sejak tahun 1700an, The Great Britain mulai menunjukan kemajuan yang sangat pesat, penaklukan dinasty Manchu di China, dan penemuan benua Australia serta semakin kokoh kekuasaan di India, membuktikan semakin perkasanya kekuasaan The Great Britain dalam perdagangan dunia/Eropa. London secara pasti telah mengambil alih kekuasaan Amsterdam sebagai pusat keuangan di Eropa. Sementara V.O.C, semakin terseok-seok, tidak mampu memberantas korupsi para pembesarnya ditanah jajahan terutama di Jawa, sedang hutang Mataram (Surakarta) kepada VOC semakin membengkah tak pernah dibayar. Pada tahun 1730, di tanah Jawa yang subur dan menjanjikan ini, ternyata VOC malah mengalami kerugian sebesar 7.7 juta gulden (History of Java). Karena itulah VOC memanfaatkan Mataram (Surakarta) yang terlibat dalam perang saudara tidak terselesaikan. Belanda dengan segala tipu dayanya, politik belah bambu akhirnya dapat memaksakan perjanjian Giyanti 1755, yang membelah Surakarta. Dengan perjanjian itu VOC dapat memaksa Mataram/Surakarta melunasi hutangnya, memberikan kewenangan yang lebih besar dan untuk menguasai Jawa Timur/termasuk Blambangan.

2.2. Permusuhan Surakarta /Mataram dan Blambangan.
Budiarto Shambazy, pada Kompas tgl 4 Desember 2010 dalam tulisannya “Sejarah memang saya parah” pada kolom Politik Ekonomi, menyatakan: Tipologi kekuasaan, Kultur Mataram sekitar abad ke 16 sampai dengan abad 19, Elite Mataram/Surakarta emoh ada “dua MATAHARI”: apalagi ketika kehilangan Karisma, wibawa dan Kuasa.

Blambangan mempunyai kedudukan legal (legitimate) sebagai turunan kerajaan Majapahit, dibanding kerajaan manapun (Benarkah Menakjinggo Culas, Ambisius dan Tidak tahu diri). Blambangan mewarisi kerajaan Majapahit dan diakui oleh kerajaan Demak, dan mematahkan serangan Demak di Pasuruan (Tome Vires, Suma Oriental, Spanyol). Dan Mataram berusaha menjadi pewaris Majapahit. Tiga kali Mataram (Surakarta) melakukan serangan besar ke Blambangan pada tahun 1639, 1648, 1665, namun serangan itu tidak pernah menundukan Blambangan. Serangan tahun 1639 yang dipimpin oleh Sultan Agung, telah menaklukan sebagian besar Jawa Timur dan Madura. Tetapi Blambangan belum tertundukkan Oleh karena itu Sultan Agung menyatakan Blambangan dan Sumedang, paling berbahaya bagi Mataram/Surakarta (Hystory Of Java 509.) Di satu sisi, Blambangan dan kerajaan di Jawa Timur juga merasa heran dan terhina, dengan tindakan Mataram (Surakarta), yang tanpa dasar telah menyerahkan Malang, Pasuruan, Blambangan kepada V.O.C. Bagaimana mungkin Mataram/Surakarta menyerahkan Malang ,Pasuruan , Blambangan padahal serangan Mataram Surakarta pada tahun 1639,1648,1665, telah dipatahkan oleh Blambangan dan malahan Trunojoyo(1674sd 1677) dan Untung Surapati (1684 sd 1706) telah pernah menaklukan Mataram.

Sementara Surakarta/Mataram terbelit hutang yang luar biasa besarnya pada VOC,dan terjerumus dalam perang yang panjang, Blambangan malahan menjadi negara yang makmur dibawah Prabu Tawangalun II( 1655 sd 1692) . Maka tidak heran setelah perjanjian itu , keturunan Trunojoyo , dan Untung Surapati, seperti halnya Blambangan melakukan perlawanan.( Babad Wong Agung Wilis)

2.3. Bukan Opium tetapi tempat Strategis
Posisi Strategys, P.Jawa telah diuraikan diatas,mulai awal pemerintahan Inggris dan itu disyukuri ketika Inggris telah menguasai Jawa pada zaman Raflless (101) Nilai penting Blambangan juga dikemukakan oleh Stanford Raffles bahwa seorang Inggris Mr. Yesse telah membangun pemukiman di Balambangan pada tahun 1774, tetapi kemudian tidak diteruskan karena harus pindah ke Borneo ( 144). Jejak bekas pembangunan itu , terlihat dari pola kota yang teratur rapi dibangunnya kantor dagang oleh oleh Inggris sekitar tahun 1766 yang sekarang dikenal dengan INGGRISAN. Pada saat itu juga di bangun bandar Tirtaganda atau Tirta Arum.( baca juga Melacak peninggalan Inggris di Blambangan)

Babad Wong Agung Wilis, yang ditulis Purasastra dengan jelas menggambarkan kehadiran kapal dagang dan kapal perang Inggris di pelabuhan Banyualit. Memang disebutkan ada perdagangan opium. Tetapi keberadaan kapal dagang dan kapal perang Inggris, dan penjualan senjata api,menunjukan bahwa Inggris, sedang mencari tempat persinggahan , dalam perjalanan menuju Australia, yang dalam tahap explorasi . Menempuh perjalanan dari Inggris, singgah di Afrika Selatan , di Yaman /Emirat Arab, kemudian India,merupakan perjalanan yang melelahkan, dan meneruskan perjalanan ke Australia , berlayar di Samudra India yang ganas, tanpa persinggahan adalah suatu keniscayaan. Dan bagi Belanda/VOC mempertahankan Blambangan dari penguasaan Inggris adalah sebuah keharusan.

Amsterdam telah dikalahkan London dalam persaingan memperebutkan pusat keuangan Eropa, Australia yang ditemukan pertama kali orang Belanda, sekarang telah dikuasai Inggris dan menjadi lahan yang menjanjikan, maka jika Blambangan dikuasai Inggris dan menjadi pelabuhan persinggahan Inggris ke Australia,merupakan noda sejarah .

Posisi strategys Banyuwangi , semakin jelas pada tahun 1800an, ketika Australia mulai melakukan explorasi emas. Maka ketika Sir Stanford Raffless menjadi Letnan Jendral Jawa dan Sumtera. berkeberatan menyerahkan Banyuwangi dan Bengkulu , kepada Belanda. Dan baru menyerahkan kepada Belanda setelah Inggris menguasai Singapore dan mendapat jaminan Singapore sebagai daerah perdagangan bebas dan Inggris diberi kebebasan berlayar ke Australia.

2.4. Perang besar didarat dan dilaut dan berlangsung lama.
Dari babad Wong Agung Wilis, kita temui fakta fakta berikut;

  • Keputusan untuk perang menghadapi wong Agung Wilis, diputuskan oleh pimpinan pusat VOC.
  • Pimpinan pusat VOC, memerlukan datang ke Pasuruan, untuk mendapatkan fakta dari pimpinan Blambangan yang kalah.
  • Pimpinan VOC, mensyaratkan penyerahan sepenuhnya Blambangan dan sebagai syarat pertemuan, pimpinan VOC meminta hadiah gadis gadis Blambangan.
  • Keputusan penyerbuan ke Blambangan dihadiri para adipati dari seluruh Jawa Timur, dan pimpinan Mataram/Surakarta
Penyerbuan ke Blambangan, selain tentara VOC yang bersenjata api juga mengerahkan tentara yang sangat besar yang terdiri dari Surakarta,Pasuruan, Banger, Surabaya, Madura yang didukung oleh ratusan kapal. Setelah gagal penyerbuan melalui darat maka penyerbuan/expedisi militer dilakukan melalui laut. Pasukan Blambangan, terdiri lebih dari 4000 sampai 6000 orang, selain menggunakan persenjataan tradisionil, juga memiliki meriam dan senjata api, dan didukung oleh Mengwi, China, Bugis. Meskipun fakta tentang persenjataan dalam Perang Wong agung Wilis ini tidak dapat dilacak, tetapi sebagai gambaran dapat dikemukakan ,bahwa sisa prajurit wong Agung Wilis ya ng melarikan diri ke Nusa Barong, memiliki 8 perahu besar yang mampu berlayar sepanjang tahun, memiliki 8 meriam, 100 pucuk senapan. Tentang keikut sertaan bangsa china dalam perang ini,karena perang ini terjadi setelah pemberontakan China di Jakarta (1740), dan keberadaan pelarian China dari perang tersebut dipimpin oleh Tan Hui Cin Jin, dan untuk menghormati dan rasa terima kasih pada sang Nachkoda, dikelurahan Karangrejo dibangun Klenteng HOO TIONG BIO dan setiap hari peresmiannya diperingati secara besar besaran (Kamus Budaya dan Religi Using. Prof Dr. Ayu Sutarto MA, LEMBAGA Penelitian Universitas Jember. 2010).
Sedang keterlibatan tentara Bugis sudah terjadi pada perang Trunojoyo sebagai akibat perang besar di Sulawesi yang dipimpin Sultan Hasanudin (1631 s/d 1670). Disamping itu perang ini mendapat dukungan dari Inggris, dengan adanya kapal dagang dan kapal perang serta penjualan senjata api .(Pelabuhan Ulupampang, menjadi basis orang China dan Bugis untuk melakukan perdagangan ke Sumatra, Syahbandar Ulupampang adalah seorang China)

Dari arsip di Leiden Belanda Drs .I.Made Sudjana M.A menemukan fakta fakta tentang betapa dahsyatnya perang ini;

  • Pada tahun 1767, Kompeni mengirimkan expedisi militer dibawah pimpinan Edwijn Blanke dengan mengerahkan 335 serdadu Eropa , 3000 laskar Madura dan Pasuruan, 25 buah kapal besar dan sejumlah kapal kecil ( 63) Dan pada tahun 1768, Kompeni memberi bantuan tambahan dibawah pimpinan DE Groen dengan mengerahkan 302 orang serdadu Belanda, 1000 orang laskar Madura,400 orang dari Surabaya, 1700 dari Lumajang, 13 buah kapal (65)
  • Dan J.K.J de Yonge ( 1883) menyatakan perang ini sebagai perang yang menghabiskan biaya sangat besar yaitu sebesar 80 ton emas, dengan mengutip surat Gubernur Jendral Reiner de Klerk tertanggal 31 Desember 1781 kepada pemimpin V.O.C.yang menyatakan Perang Puputan Bayu yang berlangsung 1tahun empat bulan itu menghabiskan dana setara dengan 80 ton emas.(Ika Ningtyas, Mahbub Djunaidi , Laskar Tangguh dari Ujung Timur Jawa Majalah Tempo edisi 13 -19 September 2010). Pada tahun 1779 VOC mengalami kerugian sebanyak 85 juta gulden. Dan pada tahun 1799,VOC dinyatakan bangkrut dan dibubarkan.Dan setelah kerajaan Belanda menjadi Jajahan Perancis /Napoleon.

GENOCIDA, MERAMPOK , CHARACTER ASSASINATION

Ketakutan atas munculnya kembali perlawanan Blambangan dan biaya perang Wong Agung Wilis dan P. Jagapati telah menguras pundi pundi VOC yaitu sebesar 80 ton emas , kemudian mengakibatkan bangkrutnya VOC ,telah mendorong VOC melakukan tindakan KEJAM yang disebut Sir Stanford Raffless sebagai dislokating system, yang lebih tepatnya disebut Genocida .

Dislokating System dapat dibuktikan dengan tersingkirnya rakyat Blambangan yang semula tersebar di Lunajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, akhirnya terusir dan tersudut di Banyuwangi ,dan di Kabupaten Banyuwangipun penduduk Blambangan , hanya tinggal di 9 kecamatan dari 21 kecamatan. Semula di Kabupaten Jember, masih ditemukan desa desa Blambangan, tetapi saat ini sudah terjadi pembauran.

Genocida terbukti dari pengusiran ini disertai penganiayaan, pembunuhan secara kejam yang mengakibatkan penduduk Blambangan berkurang secara drastis sebanyak 90% ( sembilan puluh persen). Dari jumlah 80 ribu pada tahun 1750 menjadi 8 ribu ditahun 1811. Yang seharusnya malah meningkat menjadi 160 ribu. Maka untuk mengelabui dan menutupi tindakan kejam itu , VOC dan kemudian Kerajaan Belanda ( VOC dibubarkan tahun 1799) melakukan tindakan merampok untuk menguras kekayaan Blambangan dan Character Assasination , untuk melumpuhkan jiwa dan semangat perlawanan/perjoangan rakyat Blambangan.

Inilah fakta fakta perampokan dan character assasination itu.

1. Menghancur leburkan istana Tawangalun dan Bayualit.
Setelah perang wong Agung Wilis , yang sangat dahsyat, ternyata muncul P.Jagapati dalam perang puputan Bayu, suatu bukti sejarah yang tak terbantahkan bahwa perlawanan rakyat Blambangan sulit dipatahkan. Sejarah telah membuktikan bahwa Blambangan sebagai pewaris syah Majapahit pantang menyerah, malahan berjaya kembali setelah perang Paregreg, mengalahkan serangan kerajaan Demak, mematahkan serangan Surakarta /Mataram tiga kali berturut. Demikian pula biaya perang yang sangat besar yaitu 80 ton emas, telah menguras seluruh pembayaran hutang dari Surakarta /Mataram dan malahan kemudian membangkrutkan VOC pada tahun 1799 . maka sulit menolak , jika VOC kemudian melampiaskan dendam pada rakyat Blambangan.Untuk mematahkan semangat perlawanan rakyat Blambangan VOC melakukan tindakan membabi buta dengan menghancur leburkan pelabuhan, benteng Banyualit dan istana Tawangalun (resident Belanda Van Wiekerman , diabad ke delapan belas, yang dalam sebuah suratnya mengemukakan keberadaan bekas istana Tawangalun yang dibangun dengann arsitektur China, memiliki panjang 4.5km, tinggi 12 kaki, tebal 6 kaki,) dan memindahkan ibukota Blambangan ke Ulu Pampang.

Sulit difahami kerajaan Macan Putih, yang begitu megah seperti yang digambarkan oleh Van Wiekerman itu tidak meninggalkan fakta fakta yang memadai untuk diungkap , sehingga seorang Dr. Sri Margana perlu mengambil fakta fakta itu di Leiden University. Begitu juga fakta Banyualit. Sementara fakta Ulu pampang , umpak sanga masih ada.

2. Menghentikan Babad Wong Agung Wilis dan menyebarkan berita bohong pembunuhan orang Bali.
Penulisan Babad Wong Agung Wilis ,ternyata terhenti sampai saat kedatangan Wong Agung Wilis di Blambangan. Penghentian tulisan ini, membuat gelap fakta fakta selanjutnya tentang Perang Wong Agung Wilis, dan selanjutnya yang muncul adalah fakta yang disampaikan oleh VOC dan Mataram /Surakarta. Peneliti dari U.G.M Winarsih, menyatakan bahwa penulis Babad wong Agung Wilis, adalah seorang intelectual yang sangat faham tentang keadaan masa itu.
Penghentian itu tentu menjadi tanya besar?
Dalam Babad Wong Agung Wilis, diungkapkan bahwa raja Mengwi sangat dihormati oleh penduduk Blambangan baik yang beragama Hindu maupun beragama Islam, sementara Belanda menyatakan bahwa orang Blambangan sangat membenci orang Bali dan malahan melakukan pembunuhan secara besar besaran terhadap orang Bali, suatu hal yang tidak masuk akal , karena hal ini sulit dibuktikan. Penjajahan oleh Kerajaan Mengwi sulit dibuktikan , mengingat Mengwi adalah bagian dari/semacam negara federal dari Kerajaan Klungkung, dan pada saat itu (sejak tahun 1711 Mengwi menghadapi serbuan Badung dan Buleleng. Dan pada tahun 1729 Blambangan malah membantu Mengwi mengalahkan serbuan Buleleng. Dan karena bantuan Blambangan ini P.Pati mendapat persembahan seorang putri Mengwi, yang kemudian melahirkan wong Agung Wilis). Masyarakat Bali terutama yang berdarah Sugian Jawi sampai saat ini, mengganggap Blambangan adalah asal nenek moyangnya, dan karena menjadi kewajiban untuk melakukan ziarah /Matur ke Pura Blambangan sekali dalam seumur hidupnya pada saat Odalan/hari peresmian Pura, Kuningan, maupun Galungan , demikian juga yang berdarah Sugian Bali, meskipun tidak merupakna keharusan seperti yang berdarah Sugian Jawi. Di daerah ex Kawedanan Rogojampi masih ada desa kuno Bali( yaitu Bali Patoman di Blimbingsari), nama Bali masih digunakan untuk nama desa di Kec. Singojuruh dan daerah lain (Tabanan, Karangasem) dan hubungan spiritual antara Bali dan Blambangan masih berlangsung sampai saat ini.
Berita bohong ini merupakan bagian dari politik Belanda mengadu domba setiap suku dan permusuhan agama di Indonesia.

3. Membuat tandingan Babad Blambangan
VOC dan Mataram /Surakarta menulis Babad Blambangan Macapat, yang menceritakan kisah kesuksesan penaklukan Blambangan, yang menceritakan bagaimana rapuhnya tentara Blambangan, tidak ksatrya, dan mudah berbalik pikiran. Babad ini merupakan tandingan Babad Blambangan Gancar yang ditulis pujangga Blambangan menceritakan tentang silsilah raja Blambangan, dan keperkasaan raja raja Blambangan

4. Character Assasination Wong Agung Wilis dan P.Jagapati
VOC ternyata masih belum puas dengan seluruh tindakan diatas,maka character Assasination juga dilakukan VOC pada Wong Agung Wilis, Pangeran Jagapati, dan Sayu Wiwit. Wong Agung Wilis dinyatakan sebagai boneka Mengwi, tidak asli Blambangan, dan kalah Perang. Pangeran Jagapati, meskipun dia menyatakan diri sebagai reinkarnasi dari Wong Agung Wilis, dinyatakan lebih heibat dari Wong Agung Wilis. Dua pemimpin perang ini diperbandingkan,di adu, sekan kedua pimpinan ini bersaing untuk memperebutkan kekuasaan, dan perang Wong Agung Wilis dan Pangeran Jagapati tidak berkaitan. Tetapi pada titik puncaknya, Pangeran Jagapati ,dituduh melakukan pemberontakan karena memperebutkan istri pimpinan Banyuwangi, seorang pemimpin yang suka menggoda perempuan , dan melakukan selingkuh dengan Sayu Wiwit. Cerita ini ibarat tombak berujung dua, ujung pertama ditancapkan kedada Wong Agung Wilis, dan ujung kedua diangkat tinggi untuk ditusukkan ke leher Pangeran Jagapati.Maka Blambangan kehilangan dua pemimpinnya sekaligus

5. Sinisme dan Deligimitasi Raja Blambangan.
Dr Sri Margana dalam wawancaranya di Tempo edisi September 13 s/d 19 September, menyatakanbahwa cerita Damarwulan ,Menakjinggo merupakan usaha untuk melakukan delegimitasi dan sinisme raja Blambangan , karena Cerita Damarwulan dan Prabu Menakjinggo ini ditulis dalam buku Serat Kanda / Serat Damarwulan oleh sastrawan dari keraton Surakarta dan dipentaskan dalam bentuk Langendrian (Operate) oleh Mangkunegara IV (1853 s/d 1881). Kemudian dipopulerkan di Banyuwangi oleh penguasa Banyuwangi yang masih berdarah Surakarta. Dengan cerita tersebut, Surakarta dan Belanda berusaha menyakinkan ,bahwa kerajaan Blambangan telah memberontak terhadap kerajaan Majapahit, dan karenanya tidak pantas disebut pewaris Majapahit . Raja Blambangan Menakjinggo yang buruk rupa itu menghendaki ratu agung Majapahit, adalah manusia yang tidak tahu diri. Pementasan Damarwulan, menggunakan gamelan dan cara penampilan Bali, adalah tindakan untuk berlepas tanggung jawab, bahwa drama tari itu merupakan rekaan kerajaan Bali Dan untuk lebih meyakinkan lagi maka dibuatlah cerita bahwa Blambangan di jajah oleh Mengwi. Sebuah kebohongan yang luar biasa,karena cerita itu tidak ada di Bali.

6. Merampok Blambangan sampai habis
Setelah perang itu penindasan yang tak terkira kejamnya dilakukan pada rakyat Blambangan . Rakyat harus kerja rodi ( Kerja tanpa bayaran), malahan harus membayar 3.5 gulden tiap tahun, dan dua ekor kerbau.

Penindasan dan perampokan ini berlanjut setelah masa Raflles samapai masa kemerdekaan.

Ketika menguasai Jawa dan Sumatra, Raffles mulai membangun perkebunan diseluruh tanah Jawa. Karena sampai dengan masa Daendels (Gubernur Jendral yang digantikan Rafless), perkebunan kopi dan lain lain , hanya boleh ada di Parahyangan /Sunda. Pencurian buah atau mengambil batang pohon kopi dapat dikenai hukuman berat, apalagi menanam pohon kopi di kebun pribadi. Rafless melakukan perubahan besar, penanaman kopi, coklat, teh dapat dilakukan diseluruh jajahannya.Jumlah pohon perkebunan yang ditanam mencapai 17 (tujuh belas) juta pohon. Di Banyuwangi dibangun perkebunan yang luar biasa luasnya. Sebagai penghargaan dan kecintaannya terhadap tanah yang subur dan indah orang orang Scotland menami perkebuanannya sesuai nama daerahnya di Scotland, yaitu GLEENMORE, GLEENLEVIS, GLEENFALLOCH. Kopi Banyuwangi telah memiliki nama lokal, sebuah bukti bahwa kopi Banyuwangi memiliki kwalitas yang baik, entah apa yang terjadi nama itu juga tenggelam. Untuk mengirim hasil perkebunan ini Raffles, menghidupkan kembali pelabuhan Banyuwangi.

Tetapi ketika Belanda menguasai kembali Nusantara, Belanda mengeruk habis hasil perkebunan itu. Rakyat Banyuwangi dipaksa melakukan kerja rodi untuk membangun jalan kereta api dan terowongan yang menembus gunung Raung sebuah Terowongan yang terpanjang di Asia (sampai sebelum ada MRT). Tetapi Banyuwangi diterlantarkan. Meskipun perkebunan berada di Banyuwangi ,kantor perkebunan berada di Jember dan ibukota Karesidenan berada di Bondowoso. Jember dan Bondowoso menikmati perkebunan dari Banyuwangi, dan Banyuwangi ditinggalkan merana. Sampai perang kemerdekaan tidak satu sekolah pun ada di Banyuwangi. Banyuwangi benar-benar disingkirkan.

Tetapi jejak pembangunan Raffles masih ada di Banyuwangi, ketika penulis masih dalam sekolah dasar, Guru penulis dengan bangga menyampaikan bahwa Banyuwangi melakukan export pisang ke Australia.

Semua tindakan itu telah menghasilkan buah yang luar biasa , ketika spiritual dihancurkan dengan Character assasination, deligimitasi dan sinisme, fisik dihancurkan sampai tinggal 8000 orang dari 80000 orang, harta benda dirampok, ras dipojokkan dengan nama Using. Maka orang Banyuwangi terpinggirkan Orang Banyuwangi melupakan Genocida dan menganggap keradaannya sebagai minoritas adalah hal yang wajar.

Orang Banyuwangi malu menggunakan kata Blambangan, dan bangga menyebut orang Asing, sebuah sebutan yang tidak jelas maknanya dan menghina.

Orang Banyuwangi yakin adanya penjajahan kerajaan Mengwi

KESIMPULAN
Dari fakta fakta diatas sulit dibantah VOC dan kerajaaan Belanda, telah melakukan Dislokaing system dan Genocida.
Baik Genocida dan tindakan untuk menutupi Genocida dilakukan secara systemik dengan melakukan penghancuran situs sejarah, menguras habis kekayaan rakyat Blambangan, Character Assasination, deligimitasi dan sinisme, sehingga rakyat Banyuwangi tidak menyadari adanya Genocida itu dan lebih parah lagi malu sebagai rakyat Blambangan, dan malah menyebut dirinya sebagai orang Osing.

baca juga artikel berikut ini:
semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar