Google+

Babad Mas Sepuh - Pangeran Menak Jingga

Babad Mas Sepuh - Pangeran Menak Jingga

Sang penyair menyatakan pujiannya kepada Siwa, memohon pengampunan, rahmat dan restu: semoga ia dijauhkan dari segala kejahatan, segala penderitaan, segala dosa; semoga dia dan kerabatnya mendapatkan kebahagiaan, umur panjang dan kemakmuran.

Pangeran Danureja, yang telah menjadi raja Blambangan sesudah lama bertapa, mempunyai anak:

  • Pangeran Menak Jingga (Pangeran Jingga dalam Babad Wilis) yang biasanya dinamakan Pangeran Mas Sepuh.
  • Mas Ayu Nawangsasi (isteri Danuningrat). 
  • Mas Ayu Sepuh (Babad Tawang Alun) atau Mas Ayu Rahinten, 

Pada tahun 1520 Saka (dengan sangkala nora tinghal bhuta sasih) [yaitu 1598 M], Blambangan ditaklukkan oleh Ki Gusti Nglurah Panji Sakti, raja Singaraja, yang kemudian menghadiahkannya—bersama negeri Jambrana [Bali Barat]—kepada Raja Mangwi, Gusti Agung Dhimadhe. Gusti Agung Dhimadhe lalu dinamakan Gusti Nglurah Agung Sakti dari Blambangan [dalam babad Mas Sembar, ia diberi nama Cokordha Blambangan]


Pangeran Danureja, setelah menjadi bawahan dari Raja Mangwi, memperisteri seorang wanita dari Kapal (Bali), saudara Nglurah Anom. Anak mereka, Mas Sirna, yang juga dinamakan Pangeran Mas Wilis, nanti akan menjadi patih dari Mas Sepuh.

Pangeran Danureja wafat, begitu juga kakaknya perempuan Mas Ayu Tawi atau Mas Ayu Surabaya. Ia diganti oleh Mas Sepuh. Adik Pangeran Mas Sepuh, Pangeran Mas Wilis, diangkat menjadi patih.
Akan tetapi hubungan mereka tidak rukun dan Pangeran Mas Wilis diberhentikan dari jabatannya. Wilis pergi ke Bali dan memberitahukan kepada Raja Mangwi bahwa Blambangan mau memberontak. Maka Mangwi mengutus Gusti Nglurah Ktut Kaba-kaba, diiringi Si Kuta Bathak (Kutha Bedhah), untuk memanggil Pangeran Mas Sepuh ke Mangwi. Pangeran Mas Sepuh mematuhi perintah Raja Mangwi.

Namun setibanya di Bali, iatidak berhasil menghadap. Ia disuruh menetap di Tgal Balumbungan, sebuah desa yang sudah ditinggalkan penduduknya sejak ditaklukkan oleh Bkis. Jadi bersama isteri, anak dan pengikutnya, ia pergi ke desa itu dan membangun puri Tanah Ayu, sedangkan pengikutnya membuat rumah-rumah untuk mereka sendiri.

Tidak selang beberapa lama Raja Mangwi yang khawatir itu melarang hambanya untuk mengunjungi desa Balungbungan atau berdagang kesana.

Gusti Agung Kamasan Dhimadhe diam-diam memberi makanan kepada Pangeran Mas Sepuh dan pengikutnya. Lama-kelamaan Raja Mangwi mengetahui hal itu. Maka Pangeran Mas Sepuh disuruhnya pindah ke desa Munggu, setelah penduduk dilarangnya memberi makanan apa pun.

Maka Pangeran Mas Sepuh mengerti bahwa Raja Mangwi menghendaki kematiannya. Kepada pengikutnya ia bertanya siapa bersedia mengikutinya ke dunia akhirat. Semua berdiam diri kecuali tiga orang yang ingin mengiringinya. Pada suatu hari, waktu masih di pura Hyang Api, Pangeran Mas Sepuh membakar jagung dalam sarungnya dan dengan demikian menunjukkan kesaktiannya. Parapengikutnya terkesan sekali, lalu ingin menyerbu desa Kaba Kaba. Namun Pangeran Mas Sepuh menahan mereka karena perbuatan demikian dapat membahayakan diri mereka. Kata-kata Pangeran Mas Sepuh menenangkan mereka. Dan sampai sekarang masih ada pura yang bernama Pari Purna di Kaba Kaba.

Sebelum mengungsi ke desa Seseh, Pangeran Mas Sepuh masih memberi nasihat kepada mereka yang akan ditinggalkannya: hendaknya mereka tetap setia pada kebangsawanan leluhur mereka, sebab di sanalah kebahagiaan mereka dan mereka bebas dari marabahaya. Orang-orangnya, kecuali ketiga yang sudah disebut di atas, menyebar menetap di desa-desa lain dan [keturunannya] tinggal disana sampai sekarang. Di Seseh pun Pangeran Mas Sepuh pagi dan sore diberi makanan secara tersembunyi oleh I Karsi. Melalui I Karsi ini ia menghadiahkan kepada Gusti Agung Kamasan Dhimadhe, kepada Sahibang Sri Jati, kerisnya yang bernama I Baru Sangkali, tombaknya Si Barong, cincinnya Manduka Ijo dan tempat sirihnya, begitu juga rumahnya di Tanah Ayu.

Keesokan harinya muncullah penduduk Munggu dan Seseh untuk membunuh Pangeran Mas Sepuh di pantai Seseh. Sebelum meninggal, Pangeran Mas Sepuh berkata dengan nada mengeluh supaya anak buahnya menghadapi penduduk Munggu dan Seseh dengan berani. Lalu sambil mencabik-cabik destarnya, Pangeran Mas Sepuh mengutuk Mangwi: seperti destar ini, Mangwi akan tercabik-cabik, juga Raja Mangwi yang akan dibinasakan oleh musuh sampai dengan keturunannya yang ketujuh.

Mas Ayu Nawangsasi, isteri Pangeran Mas Sepuh, dan ketiga anaknya terpaksa pulang ke Blambangan. Tidak lama sesudah mereka kembali, tujuh tahun sesudahnya, Blambangan memberontak terhadap Mangwi dan minta pertolongan Kumpeni. Gusti Nglurah Ktut Kaba-Kaba dan para arya Mangwi dibunuh oleh orang Blambangan, oleh Mas Una dan Mas Anom, dibantu orang Inggris dan Kumpeni.

Pangeran Mas Wilis yang tidak mengetahui kematian mereka, pulang ke Blambangan. Akan tetapi ia tidak diperbolehkan penduduk masuk rumahnya yang mereka kepung. Pangeran Mas Wilis dapat lolos dan malam harinya menyeberangi laut pulang keBali. Tak lama kemudian ia wafat.

Setelah mendengar kematian Gusti Ngurah Ktut Kaba Kaba dan arya-aryanya, Raja Mangwi menugaskan Pangeran Tangkas untuk mengepung Blambangan. Orangnya banyak ditawan dan Pangeran Tangkas terpaksa mundur ke Mangwi. 

sumber: Materi di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit-Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Winarsih Partaningrat Arifin, Babat Blambangan: naskah dokumen nusantara Seri X, Yogjakarta: Bentang Budaya, 1995. hlm. 127-130.

Babad versi Wong Agung Wilis

Raden Mas Sepuh seperti diungkapkan cerita tutur adalah seorang bangsawan Blambangan yang lahir dari perkawinan antara Raja Blambangan dan putri Bali/Mengwi.
Demikian juga pada tulisan sejarahwan Drs I Made Sudjana MA dalam bukunya Nagari Tawon Madu, terdapat seorang adipati Blambangan yang sangat dikagumi masyarakat Blambangan dan menjadi pahlawan dalam pengusiran penjajah Belanda yaitu Wong Agung Wilis. Beliau adalah bangsawan Blambangan yang beragama Islam ketika Blambangan masih sebagai kerajaan Hindu.

Kedatangan beliau ke Mengwi dalam rangka silaturahmi, menguatkan tali persaudaraan antara keluarga ibunya dan ayahnya.Pada saat kedatangannya ke kerajaan Mengwi, sempat membuat kagum orang Bali, karena beliau bersama pengiringnya berjalan diatas laut. Tetapi rupanya kedatangan beliau disalah tafsirkan, sehingga timbullah perang tanding antara pengikut beliau dengan prajurit Mengwi/masyarakat Bali. Untuk menghindari pertumpahan darah dan mengakhiri pertempuran itu Raden Mas Sepuh, mengeluarkan keris pusakanya dan mengangkat keatas. Ternyata keris pusaka tersebut memancarkan sinar, sehingga menyilaukan prajurit Bali. Melihat kehebatan sinar keris beliau, maka perang tandingpun berhenti. Dan akhirnya kedatangan beliau diterima dengan baik beliau diperkenankan tinggal di Mengwi dan menjalankan agama Islam dengan baik ditempat tersebut sampai saat wafat.

Beliau dimakamkan di Seseh, Tabanan, suatu tempat pada zaman itu masih daerah kerajaan Mengwi. Makam beliau saat menjadi ziarah kaum muslim baik dari Bali maupun dari Luar Bali (Jawa, Lombok , dan Sulawesi) tetapi juga menjadi ziarah umat Hindu. Karena kharomah beliau dalam pengembangan dan penyebaran agama Islam di Bali maka masyarakat bali menobatkan beliau sebagai salah seorang Wali diantara para Wali Pitu Bali.

Meninggal tanpa Kepala

Keberadaan Raden Mas Sepuh,sebagai bagian Wali Pitu dan Orang Suci Hindu menjadi tanda yang monumental hubungan antara Blambangan dengan Bali dan hubungan damai antara Islam dan Hindu. Hubungan Blambangan dan Bali terikat erat sejak zaman Prabu Hayam Wuruk. Tetapi setelah prabu Hayam Wuruk meninggal terjadilah perang Paregreg yaitu perang antara trah Sanggramawijaya dan Wikramawardhana (Baca Blambangan versi Sejarah). Dalam perang itu Blambangan kalah, sebagian besar bangsawan Blambangan melarikan diri ke Bali, seperti ditulis oleh Stanford Raffles bahwa ketika Menak Dadali Pati (Nama lain Bhree Pangembangan dari Balambangan) itu berhasil dikalahkan dan dibunuh, keluarga kerajaan Blambangan melarikan diri ke kediaman pemimpin Bali Klungkung .

Diperkirakan keluarga inilah yang kemudian membantu membangun Kerajaan Mengwi. Seperti diketahui Mengwi didirikan pada tahun (1627). Dan Mengwi berkembang pesat setelah pelarian kedua orang Blambangan bertambah banyak, yaitu ketika Sultan Agung menggempur Blambangan pada tahun 1634/1635 dengan 30.000 pasukan dan mengangkut 5000 prajurit Blambangan ke Mataram. Ternyata serangan ini tidak membuat Blambangan hancur, karena itulah Sultan menulis peringatan kepada para penggantinya bahwa masih terdapat dua Nagari di Jawa yang tidak dapat ditundukkan yaitu Sumedang (Parahyangan) dan Blambangan. Karena itulah Mataram, menyerang kembali Blambangan pada tahun 1647, dibawah pimpinan Tumenggung Wiraguna. Serangan ini gagal total dan Tumenggung Wiraguna terbunuh dalam pertempuran itu.

Pada awal tahun 1600, Blambangan memindahkan ibukotanya dari Kedawung (sekitar Puger) ke Bayu kemudian ke Macan putih. Selain menghindari serangan Mataram pemindahan itu juga didasarkan atas pertimbangan berubahnya jalur perdagangan ke Samudra Hindia.

Ulupampang/Muncar pelabuhan Blambangan di jalur samudra Hindia telah berkembang amat pesat dan telah menjadi pelabuhan International. Kapal dagang dari seluruh Nagari di Nusantara, Jawa, Bali, Bugis, Bengkolen/Sumatra mendarat di pelabuhan ini, dan malahan juga China dan terutama Inggris. Karena jarak Blambangan dan Mengwi sangat dekat, hanya terpisah selat Bali, maka hubungan antara Blambangan dan Mengwi menyatu kembali dan terjadilah perkawinan antara keluarga dinasty Tawangalun (1635 s/d 1690) dan Mengwi. Hubungan baik inilah berdampak pada keamanan selat Bali dan menjadi jalur perdagangan yang amat ramai.

Ulupampang menjadi pelabuhan International dan Mengwipun berkembang sangat pesat dan dibawah pimpinan I Gusti Agung Ngurah Made Agung yang bergelar “Ida Cokorda Sakti Blambangan” mengalami masa kejayaan. Maka seperti kerajaan Hindu Blambangan Mengwi seperti kerajaan Hindu Blambangan maka dapat dipahami jika Pura Taman Ayun yang dibangun oleh I Gusti Agung Ngurah Made Agung, menghadap ke gunung Semeru di Blambangan/Lumajang tidak seperti pura di Bali pada umumnya yang menghadap ke Gunung Agung.

Hubungan kekeluargaan inilah yang menjadikan keturunan Blambangan di Mengwi tetap berkukuh menyebut dirinya sebagai Dalem Blambangan, demikian juga pada para keturunan Blambangan/Majapahit yang tersebar diseluruh Bali yang menyebut dirinya Sugihan Jawa. Demikian teguh keyakinan itu, sehingga diwujudkan dalam pedoman hidup, bahwa apabila mereka tidak melakukan penghormatan kepada leluhurnya di Blambangan, dengan tidak melakukan sowan/matur dalam upacara suci di Blambangan (Udalan,atau Hari Raya ummat Hindu Bali lainnya) maka mereka dinyatakan mati tanpa Kepala.

Apakah RADEN MAS SEPUH itu Pangeran Pati III atau Wong Agung Wilis???

Jika pada tulisan diatas telah diungkapkan legenda Raden Mas Sepuh yang bersumber dari cerita tutur yang berkembang di Bali, maka menjadi menarik untuk melacaknya melalui sejarah Blambangan siapakah sebenarnya beliau?
Dalam cerita tutur diatas ada empat hal yang dapat dijadikan dasar kajian untuk melacak siapa sebenarnya Raden Mas Sepuh itu yaitu :

  1. Putra raja Blambangan dan putri Bali/Mengwi yang beragama Islam.
  2. Bergelar Amangkuningrat dan dimakamkan di pantai Seseh.
  3. Memiliki Pusaka/Keris yang karena saktinya memancarkan Sinar
  4. Berjalan diatas permukaan laut

Larasan satu (Putra Raja Blambangan dan Putri Bali beragama Islam)

Perkembangan Islam di Indonesia bagian timur tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Sunan Giri, demikian juga penyebaran Islam di Blambangan, tetapi hanya rakyat yang memeluk agama Islam sedang para bangsawan Blambangan baru sebagian kecil, dan kebanyakan masih teguh dengan agama Hindu. Namun demikian hubungan para pembesar yang beragama Hindu dan sebagian besar rakyat yang beragama Islam, berjalan sangat harmonis, menyatu dalam simbiose mutualistis. Pada abad ke 18, seperti dikutip oleh Drs I.Made Sujana M.A (Leiden) telah mulai ada para bangsawan Blambangan yang memeluk agama Islam. Beliau itu adalah Pangeran Pati III, Mas Agung Wilis, dan Raden Mas Pakis atau Pangeran Jagapati. Tetapi dalam babad Wilis, Pangeran Pati III masih dinyatakan beragama Siwa Buda. Dan diantara ketiga bangsawan itu hanya Wong Agung Wilis yang berdarah Blambangan dan Bali (Putra Pangeran Pati II dengan Putri Mengwi). Wong Agung Wilis seorang Pemimpin yang dihormati di Blambangan.

Larasan dua; Amangkuningrat dan dimakamkan di Seseh.

Seperti ditulis diatas ada tiga orang bangsawan Blambangan yang diyakini beragama Islam (meskipun Pangeran Pati III babad Wilis dinyatakan beragama Siwa Budha) dan dua orang yang dinyatakan telah berangkat menuju Bali yaitu Pangeran Pati III dan Wong Agung Wilis.
Sumber dari Belanda mengungkapkan bahwa Pangeran Pati III bergelar Hamangkupuro sementara Babad Tawangalun mengungkapkan bergelar Danuningrat (Gelar Mangkuningrat belum jelas sumbernya). Sementara Wong Agung Wilis, meskipun telah diakui sebagai Raja Blambangan, para sejarahwan Blambangan tetap menyebut sebagai Wong Agung Wilis. Sebutan ini sangat merakyat karena kisah perjoangannya diabadikan dalam Babad Wilis. Dalam babad Wilis, diungkapkan bahwa Wong Agung Wilis dan Pangeran Pati III, berangkat ke Mengwi. Namun kedatangan Pangeran Pati III, tidak mendapat penghormatan Raja Mengwi, karena Pangeran Pati III telah meminta bantuan kepada Belanda. Sementara Wong Agung Wilis sangat dihormati di Mengwi. Kepergian Wong Agung Wilis dan Pangeran Pati III, mengakibatkan Blambangan dikuasai oleh VOC yang mendarat di Bayu Alit pada tgl 23 Maret 1767. Untuk merebut kembali Blambangan dari tangan VOC, Pangeran Pati III segera kembali ke Blambangan. Pangeran Pati III meyakini inilah saat membuktikan diri sebagai Raja Blambangan dan menebus sakit hatinya ketika upeti permohonan pertolongan pada Belanda dibalas dengan air tuba (Racun). Seluruh persyaratan bantuan Belanda telah dipenuhi, yaitu selain harta benda juga termasuk menyerahkan tujuh putri Blambangan pada Belanda, dan menandatangani perjanjian tunduk pada Belanda. Kenyataannya bantuan itu tidak pernah ada, dan Pangeran Pati malah ditelantarkan dan Belanda menduduki Blambangan, dengan semena mena dan menghapuskan kerajaan Blambangan.

Jika babad Wilis, hanya menceritakan kepulangan Pangeran Pati III ke Blambangan tetapi berdasar sumber Belanda dan Babad Pura Dalem Sibang Kaya, ternyata Pangeran Pati III, dibunuh oleh prajurit Mengwi dan mayatnya dibuang kelaut. Penulis sulit mempercayai kedua sumber itu, karena:

  1. pada masa tahun 1950an saja, selat Bali masih dikenal sebagai laut yang penuh hiu ganas, yang akan memburu bangkai yang berbau darah, apalagi pada tahun 1600an
  2. arus diselat Bali sangat deras, jadi mayat yang dilempar ke laut akan sulit ditemukan di selat Bali, pada umumnya selalu berada diluar selat (ingat kasus meninggalnya puluhan karateka di selat Bali tahun 1980an),
  3. VOC terkenal dengan politik Devide et Empera, dengan memutar balikan fakta sejarah untuk kepentingan dagangnya. Sedang sumber dari Bali, perlu dikritisi karena adanya permusuhan diantara kerajaan di Bali. 
Penulis menyakini bahwa Pangeran Pati III dibunuh oleh Belanda ditengah perjalanan ke Blambangan atau ditengah selat Bali, karena selat Bali telah dikuasai oleh VOC. Apalagi jika dikaitkan dengan ketika Wong Agung Wilis kembali ke Blambangan rakyat Blambangan mendukung penuh Wong Agung Wilis. Dukungan itu tidak mungkin diberikan apabila Wong Agung Wilis menghianati pamannya. Karena rakyat Blambangan sangat patuh pada pemimpinnya (Patrons Client) .

Kematian Pangeran Pati III, telah menyulut Wong Agung Wilis untuk mengusir VOC dari bumi Blambangan. Namun kemarahan ini tertunda karena ditugaskan raja Mengwi untuk memadamkan pemberontakan di Bali dan Lombok. Setelah dua tugas itu diselesaikan dengan baik, Wong Agung Wilis kembali ke Blambangan. Dengan dukungan penuh rakyat Blambangan, serta dukungan dari Inggris, pelaut Bugis, dan pelarian bangsa China akibat perang China di Batavia akhirnya berhasil mengusir VOC dari Blambangan dalam pertempuran laut dan darat yang sangat dasyat dan terus dikenang rakyat Blambangan. Namanya sangat melegenda dan menjadi inspirasi perjuangan rakyat Blambangan. Setelah bertahan selama satu tahun lebih (23 Maret 1767 s/d 6 September 1768) akhirnya VOC dengan bantuan Mataram, dan Surabaya dan Madura, berhasil melumpuhkan Wong Agung Wilis. Wong Agung Wilis yang memiliki kharisma yang kuat di Blambangan, ditangkap dan dibuang ke Banda pada tanggal 6 September 1768 (VOC, tidak membunuh pejuang yang memiliki pengaruh/kharisma yang besar sebab bisa menimbulkan pemberontakan lebih besar). Dan ternyata Wong Agung Wilis bersama keluarganya berhasil melarikan diri dari Banda dan tinggal di Bali sampai wafatnya. Berdasarkan catatan Belanda Wong Agung Wilis wafat di Mengwi pada akhir abad ke 18.

Larasan tiga, Keris Sakti bersinar.

Keris merupakan status simbol wong Blambangan. Dalam babad Tawangalun diceritakan keris Gagak milik Wangsakarya penasehat Prabu Tawangalun, sangat sakti yang mampu menaklukan kekuatan sakti Kanjeng Pangeran Kadilangu Mataram guru Sultan Mataram. Demikian juga dalam Negara Tawon Madu, I Made Sujana mengungkapkan bahwa pasukan Jagabela Blambangan, bersenjata keris yang berlapis emas, yang diselipkan didepan. Maka dapat dipastikan keris yang diangkat oleh Raden Mas Sepuh, sebagai raja Blambangan tentu selain terbuat dari emas juga dihiasi permata, sehingga ketika diangkat akan memancarkan sinar. Sinar yang gemerlap dari keris inilah yang membuat masyarakat Bali terkejut dan sudah sepantasnya Wong Agung Wilis memiliki keris berlapis emas dan dihiasi permata.

Larasan empat. Berjalan diatas laut.

Kemampuan berjalan diatas laut, menurut penulis merupakan tamsil betapa hebatnya kapal yang ditumpangi oleh raja Blambangan itu. Dan ini sangat berkaitan dengan kapal yang digunakan oleh Wong Agung Wilis melarikan diri dari Banda (Maluku) menuju ke Bali tentulah menggunakan kapal yang besar yaitu kapal orang Bugis, sekutu perang di Blambangan. Ketika kapal itu merapat ke pantai pulau Bali tentu sangat menakjubkan orang Bali, sehingga menggambarkan raja Blambangan berjalan diatas laut. Dari keempat larasan tersebut dapat dipastikan Raden Mas Sepuh adalah Wong Agung Wilis.

Maka makam keramat, yang disucikan orang Hindu dan dinobatkan sebagai wali itu sesungguhnya makam Wong Agung Wilis. Dan sudah sepatutnya beliau mendapat penghargaan terhormat itu. Penghormatan yang layak untuk pejoang melawan penjajahan dan sangat dicintai rakyat dan menjadi inspirasi dalam perjoangan kemerdekanan maupun pada saat saat mendatang.


Artikel yang terkait dengan Babad Mas Sepuh:

semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar