Google+

Blambangan versi Sejarah

Blambangan versi Sejarah

ini merupakan tulisan yang diunggah oleh Sumono, seorang penulis kelahiran Blambangan, dengan judul asli dari tulisannya: DAMARWULAN, MENAKJINGGO, Blambangan versi Sejarah, Perang Paregreg dan NEGARA KRTAGAMA

Prajnaparamita (ken dedes)
ditemukan di singosari
Di Banyuwangi sampai dengan tahun 1960an, berkembang sebuah seni pertunjukan yang disebut Damarwulan,mengambil nama cerita yang dipertunjukan dalam kesenian tersebut. Seni pertunjukan ini menggunakan costum dan gamelan Bali, oleh karena itu ada juga yang menyebutkan pertunjukan ini sebagai Janger.
Cerita dalam pertunjukan ini adalah tentang Menakjinggo, raja Blambangan yang memiliki cacat fisik, pincang dan matanya buta sebelah, dengan suara cadel dan parau serta memiliki character angkuh, culas, dan tak tahu diri yang ingin mempersunting/memperistri ratu Mojopahit Kenconowungu. Versi lain menggambarkan Menakjinggo adalah raja para raksasa. Sungguh penggambaran yang amat sempurna tentang kejelekan manusia.

Selanjutnya untuk menghukum Menakjinggo yang tak tahu diri ini maka dikirimlah seorang ksatrya yang gagah perkasa dan berwajah ganteng bak arjuna, Damarwulan, sebagai Senopati Mojopahit. Dan ternyata sang rupawan mampu mengalahkan Menakjinggo. Berbeda dengan tampilannya yang gagak dan rupawan ternyata pemuda ini sangat keji, yaitu memenggal kepala sang Menakjinggo untuk dipersembahkan pada Ratu Kencono Wungu. Sang rupawanpun akhirnya menikah dengan Ratu Kenconowungu dan lebih dari itu juga memperistri mantan istri Menakjinggo.
Janger dengan cerita Damarwulan sangat populer sebelum tahun 60an.
Jika ditinjau dari cerita yang menggambarkan keburukan raja Blambangan maka menjadi pertanyaan mengapa cerita ini begitu populer di Banyuwangi. Sebab biasanya tidak ada masyarakat yang dapat menerima jika pahlawannya digambarkan sebagai pecundang (Orang Sri Langka menolak penggambaran Dasamuka dari kisah Ramayana)

Serat Kanda dan Serat Damarwulan

Menurut DR (Leiden) Sri Margana cerita Damarwulan dan Prabu Menakjinggo ini ditulis dalam buku Serat Kanda/Serat Damarwulan oleh sastrawan dari keraton Surakarta dan dipentaskan dalam bentuk Langendrian (Operate) oleh Mangkunegara IV (1853 sd 1881). Kemudian dipopulerkan di Banyuwangi oleh penguasa Banyuwangi yang masih berdarah Mataram pada masa penjajahan VOC. (Tempo )

Brandes, sejarahwan Belanda (DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan. Pustaka Ifada. 2012) dan Professor Slamet Mulyana berpendapat kisah Damarwulan dan Menakjinggo mendapat inspirasi dari Perang Paregreg yang terjadi setelah prabu Hayamwuruk lengser keprabon.

Prof Slamet Mulyana menulis bahwa penulis Serat Kanda dan Serat Damarwulan adalah sastrawan Mataram hanya mengetahui kisah Perang Paregreg (Perang yang terjadi berulang kali) antara Bhree Wirabhumi (Menakjinggo) raja Blambangan dan Wikramawardhana dan Dewi Suhita raja Majapahit, tetapi tidak mengetahui fakta sejarahnya.

Dengan demikian cerita ini merupakan sebuah rekayasa yang sistimatis ,untuk memperlemah keberadaan masyarakat Blambangan dan menghapus ingatan orang Blambangan terhadap sejarah masa lalu. Melalui penggambaran itu maka dicapai dua sasaran, penguasa ingin mengesankan pada rakyat Blambangan, bahwa penguasa (Belanda dan Bupati yang diangkat Belanda) adalah pembebas dari raja Culas, yang tak tahu diri. Penggunaan custome dan gamelan dari Bali mengesankan bahwa cerita ini berasal dari Bali.

Lebih aneh lagi dalam Babad Blambangan yang ditulis pada abad ke 19 dari penulis Bali dan juga Babad Tanah Jawi (Brandes via DR. Sri Margana. Perebutan Hegemoni Blambangan 2012.35) menulis bahwa Menakjinggo adalah anjing yang dipungut oleh Ajar Gunturgeni yang dihadiahi Blambangan Brawijaya. Karena menginginkan kehadiran seorang putra, maka dia bertapa dan merubah namanya menjadi Ajar Pamengger. Berkat permintaan yang kuat dalam bertapa, maka anjingnya berubah menjadi manusia, namun wajahnya tetap seperti anjing. Cerita inipun diabadikan dalam wayang Krucil tradisi Mangkunegaran (DR.Sri Margana. Perebutan Hegemoni Blambangan. 2012. 30). Padahal cerita ini (Damarwulan) ini tidak dikenal di Bali, dan tlatah pesisir Jawa, dan Sumatera, tempat kebudayaan pesisir mendapat tempat pada abad ke 16 dan 17. Pada daerah itu cerita Panji lebih populer. (DR Purwadi M.Hum, dan Enis Niken H.M.Hum. DA’WAH WALISONGO Panji Pustaka Yogyakarta 2007.89).

Maka dapat ditebak maksud penguasa antek Belanda pada saat itu adalah mengadu domba orang Blambangan dengan Bali atau dalam bahasa Jawa Nabok nyilih tangan. DR ( Leiden) Sri Margana dalam wawancaranya yang dimuat majalah Tempo mengemukakan bahwa cerita tentang Damarwulan, Menakjinggo merupakan Sinisme dan deligimitasi raja Blambangan. Mataram/Surakarta ingin menunjukan keperkasaannnya (Power full) di Blambangan.

Pendapat DR. Sri Margana tersebut sangat tepat, dan pengaruhnya terasa pada generasi tua orang Banyuwangi, dan masih terasa di daerah pedesaaan. Betapa buruknya orang Blambangan itu.
Seorang facebooker mengadu pada saya, betapa sulitnya seorang pria desa Blambangan yang terpelajar (Ir. Perguruan Tinggi terkenal di Jawa Timur) meminang kekasihnya yang bukan orang Blambangan, karena itu akhirnya dia melaksanakan “kawin lari”. Cerita tentang kawin lari memang populer sebelum tahun 60an di Banyuwangi. Malahan Novi Anoegrajekti menyatakan betapa rendahnya peranan orang Banyuwangi dalam pemerintahan. Meskipun putra putra Banyuwangi membuktikan dirinya mampu berperanan di pemerintahan, perusahaan BUMN, Nasional maupun perusahaan dunia.

Babad Londo

Pemahaman kita tentang sejarah bangsa Indonesia, tidak terlepas dari propaganda Belanda yang dimulai ketika mesin cetak/penerbitan masuk ke Indonesia dan dikuasai oleh Belanda, yang dikenal dengan masa Babad Londo, seperti dikemukakan William H.Frederick, Professor Jurusan Sejarah Yale university USA dan Soeri Suroto dosen sejarah UGM.
Secara umum abad ke 19 merupakan zaman yang “kejam” bagi pemikiran sejarah Indonesia, khususnya Jawa (19)…..yang kemudian kita kenal “babad londo” dimana tokoh yang paling penting (beradab) adalah Gubernur Jendral Belanda (Pemahaman Sejarah Indonesia, LPES, cetakan kedua 20).
Pada masa itu Belanda baru saja dibebaskan oleh Inggris dan Rusia dari penjajahan Perancis. Belanda menjadi negara bangkrut, namun Inggris menolongnya mengembalikan Nusantara kepada Belanda. Di negeri Belanda menghadapi revolusi pemisahan Belgia dan luxemburg dari Belanda. Sedang di Nusantara, Belanda menghadapi penentangan hampir di seluruh wilayah, pemberontakan Imam Bonjol di Sumatra, Perang pangeran Diponegoro, di Jawa Tengah, dan pemberontakan para adipati di Jawa Timur, begitu juga di daerah luar Jawa lainnya. Tetapi ada segelintir manusia di Jawa yang menginginkan kedudukan, mereka itulah yang mengabdi pada Belanda. Di antaranya menjadi penulis Serat dan Babad yang mengadu domba para keturunan Majapahit, (Serat Damarwulan, Babad Blambangan (Macapat), Mengadu domba antara penganut agama Hindu, Budha dengan Islam (Serat Darmogandul), mengadu domba antara orang Sunda dengan keturunan Majapahit melalui Kidung Sunda, dan banyak lagi Serat dan Babad. Karena para penjilat berlomba lomba menulis untuk mendapatkan imbalan dari Kompeni, Belanda.

Para founding fathers negeri ini sebenarnya telah memberikan gambaran yang sebenarnya siapa sebenarnya Belanda, namun sisa-sisa Londo yang superior itu masih terlekat dalam benak masyarakat kita.
Tidak kurang tajamnya menyorot Tan Malaka menulis tentang masa itu:
"Alat penindas negara jajahan tak berkurang kejinya kejamnya, dengan pertukaran sistem rodi ala Daendels tadi dengan sistem rodi cultuur stelsel (tanam paksa) ala van den Bosch. Memang ada peraturan tertulis diatas kertas, berhubung dengan cuultuur stelsel itu (berapa tanah yang harus ditanami kopi dan lain lain) tetapi dalam praktek taninya Indonesia terpaksa menanami dengan tanahnya buat barang dagang Belanda dan mengarahkan semua tenaganya buat pengisi kantongnya Belanda. Oleh sistem monopoli dalam perdagangan, maka hancurlah perdagangan Indonesia sebelum Belanda. Oleh sistem politik jajahan, petani Indonesia (Jawa) bertukar menjadi kuli, dan kaum Sunan, Sultan, raja , dan ningrat seluruhnya Indonesia bertukar menjadi mandor kebon kebon pabrik, pengairan dan jurutulis dalam kantornya semua alat Belanda. (Tan Malaka. Pandangan Hidup. Jakarta. Widjaja 1952)"

PERANG BESAR YANG DI KERDILKAN

Blambangan adalah negeri yang sangat jelas kaitannya dengan sejarah masa jauh kerajaan di Jawa yaitu Singasari dan Majapahit ( Supratikno Rahardjo. Peradaban Jawa. Komonitas Bambu 2002 .316) Dan merupakan salah satu sendi dari ambisi besar raja Wisnu Wardhana dalam mewujudkan doktrinnya CAKRAWALA MANGGALA JAWA atau kesatuan Jawadwipa.
Raja Wisnu Wardhana (abad ke XIII) mengangkat delapan Narariya atau raja bawahan, dan salah satunya adalah Narariya KIRANA di Lamajang. 
Doktrin ini ternyata memberi arti yang sangat besar semangat Singosari. Dibawah raja Kertannegara, Singosari tidak saja menguasai pulau jawa, tetapi malah, meluas sampai tanah Melayu. Di Melayu, kekuasaan Kertanegara ternyata mampu menghadang kekuasaan Ku Bilai Khan. Sehingga Ku Bilai Khan mengirimkan Meng CHi, yang mendesak Kertanegara untuk menyerah pada Ku BILai Khan. Penghinaan Ku Bilai Khan ini, ditanggapi oleh Kertanegara dengan mentatoo wajah Meng Chi, yang menggambarkan bahwa Singasari siap bertempur melawan Ku Bilai Khan. Bersamaan dengan itu maka Kertanegara mengerahkan seluruh armada Singasari bergerak Ke Melayu bergabung dengan tentara dari Champa dan Malaya, sementara untuk menjaga kesatuan di wilayah timur, Arya Wiraraja adipati yang sangat dipercaya karena telah mengabdi pada kakeknya ditunjuk menjadi Nararya Sungeneb.
Sayang strategi Kertanegara mungkin terbaca oleh armada Ku Bilai Khan yang dipimpin Shi Pi seorang veteran Perang dalam penaklukan dinasty Song. Panglima yang sangat kejam dan menjadikan Beijing tumpukan gunung bangkai manusia, berlumuran darah dan bau anyir selama setahun. Dibawah Shi Pi ada dua Komando. Komando darat dipegang Kao Shing, (veteran perang penaklukan Abbasiyah), sedangkan komando armada laut dipimpin oleh seorang Uighur, pelaut dari taklukan dinasty Abbasiyah, bernama Ikh Musu (diduga beragama Islam). Pasukan tempur ini dipersiapkan selama 3 tahun, dipusatkan di Quanzhou (Zayton), terdiri dari 1000 kapal, 20 ribu prajurit, cadangan makanan untuk satu tahun, dan satu ton perak untuk membeli perbekalan baru. Pasukan ini adalah pasukan yang sangat berkwalitas dan lebih besar dari serangan ke Jepang . Ternyata Shi Pi menghindar dari pertempuran laut dan langsung bergerak ke Singasari, menempuh perjalanan sepanjang 4000 km. Strategy ini memang sangat berbahaya, karena pasukan tempur Ku Bilai Khan adalah pasukan darat ”Angin sangat kencang dan laut tak bersahabat, sehingga kapal terombang ambing dengan hebat, dan prajurit tidak bisa makan selama berhari hari.” Dan akhirnya mendarat pada tahun 1293, dan melibas Singosari dengan amat kejam. (John Mann (Sejarahwan Amerika, sepesialisasi Kerajaan Mongol, buku Ku Bilai Khan. 315. 3160)

Versi Pararaton yang terbit pada ketika Mataram telah dikuasai VOC, menulis, bahwa ketika Kertanegara mengirim seluruh kekuatan tempurnya ke Melayu, Arya Wiraraja berkhianat dia mempengaruhi Jayakatwang raja Kediri untuk merebut Singosari. Setelah Singasari direbut Kediri, Shi Pi menaklukan Kediri yang merebut Singasari.
Pararaton menulis penghianatan Arya Wiraraja, hal ini sangat berkaitan dengan ketika Trunojoyo telah merebut keraton Mataram, dari Amangkurat I yang Tiran. Tulisan Pararaton ini penuh adu domba antar wangsa dan suku di Jawa.
Perebutan Jayakatwang (Kediri) terhadap Kertanegara, sangat tidak mungkin. Karena Jayakatwang adalah dibesarkan bersama Kertanegara dan diberi kedudukan oleh Wisnuwardhana ayah Kertanegara, dan anaknya menjadi menantu Kertanegara. Kertanegara sebelum melakukan expansi telah merangkul seluruh keturunan Dharmawangsa dan Ken Dedes baik dari sisi Tunggul Ametung maupun Ken Arok.

Ketika putra Kertanegara, Raden Wijaya berusaha merebut kembali Singosari tentara Ku Bilai Khan, maka R.Wijaya memohon bantuan Arya Wiraraja. Disamping itu armada Singosari yang dikirim ke Melayu, dalam posisi utuh, kembali ke Singosari. Dari laut tentara Ku Bilai Khan yang dipimpin komando dari Uighur, Ikh Musu, rupanya bertempur setengah hati, karena direndahkan komando darat Kao Xing. Sehingga armada laut dengan mudah ditaklukan armada Singosari. Sementara tentara darat Kao Xing, yang tidak memiliki pengalaman tempur di hutan. Seperti di ketahui pertempuran yang dilakukan tentara Ku Bilai Khan adalah dilakukan didaerah padang stepa, gurun atau kota sehingga mengalami kesulitan bertempur di hutan tropis, lebat dan panas. Harus diakui perang ini adalah perang terbesar dalam sejarah bangsa melawan orang asing, Negara Besar di dunia. Sekali lagi Pararaton melecehkan perang ini, sebagai perang dalam pertunjukan Ketoprak Jawa, dengan tipuan hadiah putri Jawa kepada pimpinan tentara Ku Bilai Khan. (akan dibahas Khusus).

Akhirnya tentara Ku Bilai Khan, dapat dikalahkan. Tentara Mongol kehilangan 3000 prajurit tangguh dan sebagian armada laut. Ku Bilai Khan menghukum berat Shi Pi dengan tujuh belas cambukan dan menyita sepertiga hartanya. Setelah menjalani hukuman 2 tahun, Shi Pi dibebaskan dari hukuman dengan pertimbangan, telah melakukan balas dendam dengan SANGAT MENGERIKAN (John Mann. Ku Bilai Khan .317).

Kemenangan ini diabadikan dalam Prasasti Gunung Butak, (1294), menyebutkan adanya perjanjian antara Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit dengan Arya Wiraraja yang telah banyak membantu dalam perintisan dan pembentukan kerajaan Majapahit bahwa “pulau Jawa akan dibagi menjadi dua bagian dan masing-masing mendapat sebagian.”
Dalam perjanjian itu Arya Wiraraja diberi kekuasaan sebagai atas wilayah Lumajang Utara, Lumajang Selatan, dan Tigang Juru . Arya Wiraraja kemudian diangkat secara resmi sebagai adipati Nararya.

Kedudukan Bhree Wirabhumi lebih tinggi dari Wikramwardhana

Hubungan ini dikukuhkan oleh Prabu Rajasanagara (Dyah Hayamwuruk) dengan mempersunting putri Lamajang sebagai Rabihaji (selir yang memiliki kedudukan amat tinggi, setingkat Permaisuri). Kemudian Prabu Rajasanagara, menyerahkan Lamajang Tigang juru pada putra dari Rabihaji, yaitu Bhree Wirabhumi, dan menyerahkan bagian barat pada putri dari Permaisuri, Kusumawardhani. sejak itulah muncul sebutan Kedaton Kulon, dan Kedaton Wetan (Hasan Djafar, Masa Akhir Majapahit)
Munculnya nama Blambangan memang memiliki banyak versi salah satu adalah dari penafsiran Negarakrtagama pupuh 28 bait 99 Dalam bait ke tiga muncul Ri Balumbungan ika karuhun.
Selengkapnya.
Pira teki lawas nira patukangan/
para mantri ri Bali ri madura dathang
ri Balumbunganandalan ika karuhun/
sayawaksithi wetanumarkapuphul
Selama beliau (Prabu Hayamwuruk) hadir di Patukangan, (Panarukan. Supratikno Rahardjo. Peradaban jawa. Komunitas Bambu 2002)
para menteri Bali , Madura datang,terutama dari Balumbungan andalan Baginda,dimana seluruh daerah timur berkumpul.
Kata Balumbungan itulah kemudian oleh Pigeaud diartikan tempat lumbung atau gudang pangan Majapahit, kemudian lebih dikenal dengan Blambangan. Lebih dari itu ternyata Blambangan juga diakui sebagai andalan Baginda. Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa, menulis bahwa menggambarkan betapa pentingnya kunjungan ke Blambangan sebagai berikut:
perjalanan panjang ke Lumajang tahun 1359 ke Lumajang yang diuraikan dalam Negara krtagama dapat diketahui ada tiga aspek yang mungkin terkait yakni aspek keagamaan, aspek politik, aspek ekonomi. Aspek keagamaan, singgah di tempat suci, pemujaan di candi candi pendarmaan pada pada nenek moyang. Aspek ekonomi tercermin dalam kenyataan saling memberi hadiah.Aspek politik tercermin dari tokoh yang menyambut kedatangan Hayam Wuruk (selain Blambangan, juga hadir tokoh dari Madura, dan Bali). Dan dalam perjalanan beliau didampingi oleh Mahapatih Gajahmada (Pigeaud 1962.IV 40.115)
Kedudukan Balumbungan/Blambangan yang amat strategis sebagai andalan Majapahit itulah yang menjadi salah pemikiran Prabu Hayamwuruk, untuk menempatkan putra satu satunya dari selir sebagai Bumi.

Berdasarkan Strata kepangkatan yang berlaku seperti tersebut dibawah ini jelas kedudukan Bhre WiraBhumi lebih tinggi dari Wikramawardana yaitu Nagari. (Propinsi)
  1. Bhumi: the kingdom, ruled by the king
  2. Nagara: the province, ruled by the rajya (governor), or natha (lord), or bhre (prince or duke)
  3. Watek: the regency, administered by wiyasa,
  4. Kuwu: the district, administered by lurah,
  5. Wanua: the village, administered by thani,
  6. Kabuyutan: the hamlet or sanctuary place.

During the reign of Hayam Wuruk (1350 to 1389) there were 12 provinces of Majapahit, administered by king’s close relatives:


Provinces
Title
Rulers
Relation to the King
Kahuripan (or Janggala, today Surabaya)
Bhre Kahuripan
Tribhuwana tunggadewi
queen mother
Daha (former capital of Kediri)
Bhre Daha
Rajadewi Maharajasa
aunt and also mother in-law
Tumapel (former capital of Singhasari)
Bhre Tumapel
Kertawardhana
Father
Wengker (today Ponorogo)
Bhre Wengker
Wijayarajasa
uncle and also father in-law
Matahun (today Bojonegoro)
Bhre Matahun
Rajasawardhana
husband of the duchess of Lasem, king’s cousin
Wirabhumi (Blambangan)
Bhre Wirabhumi
Bhre Wirabhumi 1
Son
Paguhan
Bhre Paguhan
Singhawardhana
brother in-law
Kabalan
Bhre Kabalan
Kusumawardhani 2
Daughter
Pawanuan
Bhre Pawanuan
Surawardhani
Niece
Lasem (a coastal town in Central Java)
Bhre Lasem
Rajasaduhita Indudewi
Cousin
Pajang (today Surakarta)
Bhre Pajang
Rajasaduhita Iswari
Sister
Mataram (today Yogyakarta)
Bhre Mataram
Wikramawardhana 2
Nephew


  1. Bhre Wirabhumi is actually the title: the Duke of Wirabhumi (Blambangan), the real name is unknown and he referred as Bhre Wirabhumi in Pararaton. He married to Nagawardhani, the king’s niece.
  2. Kusumawardhani (king’s daughter) married to Wikramawardhana (king’s nephew), the couple become the heir.

Persoalan muncul pada saat prabu Hayamwuruk meninggal dunia, (1389) amanat yang dipesankan oleh Prabu Hayamwuruk tidak dilaksanakan. Para pemangku Majapahit Barat menyerahkan kekuasaan kepada putri Dyah Kusumawardhani, putri dari Permaisuri, meskipun Dyah Kusumawardhani tidak memiliki kecakapan memerintah. Kesempatan ini dimanfaatkan suaminya Wikramawardhana untuk mengambil alih. Secara perlahan dan pasti, dalam masa delapan bulan, Wikramawardana berhasil menggantikan isterinya dan kemudian menjadi raja Majapahit. Pengambil alihan kekuasaan oleh Wikramawardhana inilah yang dipersoalkan Bhre Wirabhumi.

Karena dalam pengangkatan itu bertentangan dengan pola Patrilineal yang berlaku di Majapahit. Wikramawardhana bukanlah keturunan dinasti Sanggramawijaya.

Dalam Negara Kertagama kedudukan Bhre Wirabhumi dan Wikrawardhana diuraikan sebagai berikut.
• Bait 16. Tentang Bhree Wirabhumi dan permaisurinya.
Adapun putra Baginda Raja yang bertahta di Wira Bhumi Sang Sri Nagara Wardhani (putri Bhre Lasem, permaisuri Bhree Wirabhumi) seorang maharani molek tak bertara.

• Bait 21. Tentang Kusumawardhani dan Wikramawardhana
Beliau melahirkan putri Mahkota yang cantik jelita bernama Kusumawardhani Puteri Baginda Raja yang molek sebagai Maharani Kabalan Sri Wikramawardhana, sang menantu memegang tampuk pemerintahan Negeri. Pernikahannya bagaikan dewa dewi selamanya menimbulkan kesenangan rakyat

Disamping itu Bhree Wirabhumi juga mendapatkan bimbingan dari mertuanya, yang menurut Negara Kertagama, tampan dan mahir dalam politik.

• Bait 14.Tentang mertua Bhree Wirabhumi
Ipar Baginda Raja semua telah bertahta menjadi raja, Raja Matahun suami Rani Lasem (adik Prabu Hayamwuruk) seorang pemberani Baginda Sri Rajasa Wardhana terkenal tampan, mahir dalam politik Bagaikan Smara Pinggala, pernikahan Baginda terpuji dalam negeri Dua matahari di Kerajaan Majapahit

Majapahit pada masa Wikramawardhana pamornya semakin menurun. Negeri negeri di Nusantara yang semula mengakui kekuasan atau perlindungan Majapahit mulai melepaskan diri, tidak terkecuali di Jawa. Di pantai Utara Jawa mulai muncul kota dagang yang dikuasai oleh para pedagang muslim. Demikian juga dipedalaman Jawa mulai bermunculan adipati yang membebaskan diri dari menyerahkan upeti (Gelang gelang).

Pengambil alihan kekuasaan oleh Wikramawardhana dari tangan istrinya putra Mahkota Kusumawardhani inilah, membuat risau Bhree Wirabhumi, maka malang tak dapat diraih, Bhree Wirabhumipun melancarkan perang, menggugat kedudukan Wikramawardhana. Dalam perang pertama ini Wikramawardhana kalah. Tetapi bisa diselesaikan dengan baik, bahwa Wikramawardhana akan menyerahkan kekuasaan kepada putranya dari Kusumawarhani.

Disisi lain Blambangan dibawah pimpinan Bhree Wirabhumi, yang sejak awal menjadi andalan Majapahit, maju dan berkembang pesat. Pedagang Islam yang telah menguasai pantai utara Jawa lebih senang berhubungan dengan Blambangan daripada dengan Majapahit. Mengingat kebutuhan barang perdagangan dapat dipenuhi dari Blambangan. Disisi lain Majapahit Kedaton Kulon, terus mengalami kemunduran, apalagi ketika putra mahkota meninggal dunia. Wikramawardhana sangat berduka sehingga melepas kekuasaannya menjadi pertapa. Pemerintahan Majapahit Kedaton Kulon diserahkan pada Suhita. Suhita juga tidak terlepas dari intrik putra tiri dari Wikramawardhana yaitu Kertawijaya.

Maka di Jawa muncul dua matahari, yang pertama adalah Majapahit Kedaton Kulon yang mulai pudar dan yang kedua yaitu Blambangan, seperti dicatat oleh kronik China pada masa Dinasty Ming, bahwa pada tahun 1403 terdapat Kerajaan barat dan Kerajaan Timur yang tengah berseteru. Diberitakan bahwa pada tahun itu Bhree Wirabhumi, penguasa kerajaan Timur mengirimkan delegasi ke dinasty Ming, menghadap Kaisar Yung Lo mengirimkan upeti. Dalam kumpulan kisah klassik dinasty Ming, disebutkan bahwa upeti itu antara lain adalah burung beo.

Adanya dua Matahari ini, telah menimbulkan perseteruan kemudian berujung pada Perang pada tahun 1404. Pada tahun itu armada Cheng Ho melakukan perjalanan kembali ke Majapahit, ketika sampai di Jawa, Cheng Ho melihat terjadi perubahan besar dalam peta kerajaan Jawa. Terutama di pantai utara Jawa yang telah dikuasai pedagang muslim. Dan dalam hubungan dagang ternyata pedagang muslim lebih senang berhubungan dengan Majapahit Kedaton Wetan (Blambangan). Karena itu kemudian armada dibagi menjadi dua selain mengunjungi Majapahit Kerajaan Barat (Kedaton Kulon) juga mengunjungi Kedaton Wetan. Kunjungan Ke Kedaton Wetan ternyata juga menyerahkan Stempel pengakuan dari Kerajaan Ming (Kaisar Yung LO). Pengakuan ini membuat Wikramawardhana marah besar, sehingga mengakhiri waktu jadi Bhiksu dan mengambil alih pemerintahan dari Dewi Suhita dan kembali memerintah Majapahit dan segera menyiapkan pasukan untuk menggempur Blambangan. Penyerbuan kali ini dipersiapkan dengan baik dan dipimpin pemimpin perang kepercajaannya yaitu Bhree Narapati. Sementara Blambangan dalam keadaan lengah karena bergembira menyambut pengakuan dinasty Ming. Penyerbuan Majapahit selain mampu menundukan Blambangan juga membuat armada Cheng Ho kucar kacir (dikabarkan Cheng Ho kehilangan 300 orang, 170 terbunuh sedang sisanya hilang melarikan diri kehutan). Ketika Bhree Wirabhumi menyingkir melalui laut untuk merapat ke armada Cheng Ho, Bhree Narapati berhasil menangkapnya dan kemudian memenggal kepalanya. Persoalan perlakuan yang sangat diluar tata krama terhadap Bhree Wirabhumi sebagai keturunan Syiwa di bumi inilah menjadikan conflict interent yang tidak pernah selesai dan selalu mrnggerogoti kewibawaan Majapahit. Selain pemancungan kepala Bhree Wirabhumi, juga penyerbuan ke armada Cheng Ho yang mengakibatkan 300 0rang hilang, mengakibatkan Majapahit Kedaton Kulon dituntut membayar 60 ribu tahil emas, meski akhirnya hanya membayar 10 ribu tahil emas ( Groeneveldt 1960,27.28.37 via Supratikno Raharjo. Peradaban Jawa. Komunitas Bambu. Nov 2002)
Untuk menyelesaikan conflict ini, maka Suhita yang memiliki darah Sanggramawijaya diangkat kembali menjadi pengganti Wikrawamawardhana (1389 sd 1429). Suhita kemudian, menghukum pancung Bhree Narapati, pemenggal kepala Bhree Wirabhumi, dan mengangkat Bhree Pangembangan sebagai Narrarya Majapahit Kedaton Wetan/Blambangan. Demikian juga kehormatan  Bhree Wirabhumi, putra kinasih Prabu Hayamwuruk dipulihkan, dan kepala Bhree Wirabumi dimakamkan secara terhormat dan dibangunkan candi Grisapura ( 1406) didesa LUNG.

Selama pemerintahan Suhita, Majapahit Kedaton Kulon dan Wetan bersatu kembali. Tetapi setelah pemerintahan Suhita, timbul pertanyaan besar, karena pemerintahan Majapahit jatuh ke anak tiri Wikramawardhana, yaitu Kertawijaya. (Apa yang ditakutkan Bhree Wirabhumi ternyata terbukti, setelah Dewi Suhita lengser kedaton 1446, maka Majapahit diperintah oleh putra dari selir Wikramawardana yaitu Kertwijaya. Maka dinasty Sanggramawijaya sebagai pendiri dan yang membawa kemashuran Majapahit diganti oleh wangsa Brawijaya)

Apa yang terjadi setelah pemerintahan Suhita, menjadi pertanyaan besar?
Apakah Suhita tidak memiliki keturunan sehingga harus diserahkan kepada putra tiri Wikramawardhana yaitu Kertwijaya ?
Mengapa suami Suhita, Paramweswara harus melarikan diri dari Majapahit, dan kemudian membangun kerajaan Malaka (DR. Priyono). Teka teki ini tentu sangat menantang untuk dibabar, hanya Sejarawan Slamet Mulyana menulis dengan berakhirnya pemerintahan dewi Suhita ini maka berakhirlah pemerintahan wangsa Sanggramawijaya (Wangsa Sanggramawijaya, adalah para keturunan dewi Kili Suci, putra Airlangga, yang memerintah Majapahit.)

Majapahit runtuh, Blambangan tetap bertahan

Sejarah membuktikan bahwa Majapahit Barat, tanpa dukungan Majapahit Timur berantakan, apalagi harus membayar denda 60 ribu tahil emas pada dinasty Ming, sehingga kemudian dihancurkan oleh Girindawardhana raja dari Glang Gelang (Sirna Ilang Kertaning Bhumi). Jadi kehancuran Majapahit tidak karena serbuan pasukan Islam dari Demak. (Hasan Jaafar. Masa Akhir Majapahit. Komunitas Bambu.)

Sementara itu Majapahit kedaton wetan dapat terus bertahan dan berkembang pesat karena berhubungan dengan baik dengan pedagang Islam dan Portugis.

Drs I Wayan Sudjana dalam Negeri Tawon Madu mengungkap kemajuan negara Blambangan setelah perang Paregreg sebagai berikut:
Jonno de Barros, Decada IV, buku I, bab 7 (Portugies). Menulis bahwa pada bulan Juli 1528, Don Garcia Henriquez, tampaknya berlabuh di pelabuhan Peneruca/Panarukan untuk mengisi perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan ke Malaka. Dan nampaknya raja Panarukan mengirim dutanya pada Gubernur Portugies di Malaka. Tentang Peneruca dikemukakan bahwa sejak tahun 1526 telah dikunjungi 20 buah kapal Portugis untuk membeli perbekalan. Kerajaan Blambangan dianggap netral karena merupakan kerajaan Hindu, sedang kerajaan di Jawa adalah kerajaaan Islam, dan Portugis sedang berperang dengan kerajaan Islam (Negeri Tawon Madu .22). Prokokasi VOC untuk menghancurkan armada Nusantara yang berdagang dengan Portugis, mengakibatkan Blambangan memindahkan ibukotanya ke Kedawung Jember, dan mengalihkan aktivitasnya ke Ulu Pampang Pelabuhan Ulupampang/Muncar yang sangat ramai.

Pada tahun 1625 Sultan Agung menggempur Blambangan dengan kekuatan 20.000 sampai 30.000 prajurit. Serangan ini melumpuhkan Blambangan, dan sultan Agung juga membawa 5.000 prajurit Blambangan sebagai tameng dalam perang melawan Kompeni. Serangan ini telah melumpuhkan Blambangan, tetapi tidak mengalahkannya. Seperti disampaikan oleh Thomas Stanford Raffless dalam History of Java (509). Selama masa akhir pemerintahannya Sultan Agung, negeri Mataram berada dalam keadaan penuh ketentraman, dimana pada saat itu hanya terjadi dua pemberontakan yang menngganggu yaitu pemberontakan raja raja Blambangan dan Sumedang. Kedua daerah itu dapat dianggap paling berbahaya di bawah kekuasaan Mataram, setelah Jakarta dan Bantam berhasil memisahkan diri dari kekuasaanya. Pada masa Amangkurat I (1646 _1677) putra Sultan Agung yang lebih senang hidup mewah dan seorang yang sangat gila perempuan cantik (Romo Mangunwijaya Trilogy Genduk Temu) menjadi seorang raja Jawa yang TIRAN (KEJAM), membunuh para ulama, sangat mengabaikan pemerintahan tetapi menuntut banyak upeti sehingga banyak raja raja di Jawa, yang memberontak termasuk Blambangan.
DR. Sri Margana menulis, Serangkaian expedisi militer besar ke Blambangan yang dilakukan pada tahun 1635 dan 1636 dan 1640 (Masa Amangkurat I) lebih menyerupai perampokan daripada pendudukan. Mataram tidak pernah mengukuhknan kekuasaan riil ditanah ini. Para prajuritnya menjarah barang barang dan harta istana dan mengubah penduduknya jadi budak di ibu kota

Karena serangan brutal inilah kemudian ibukota Blambangan pindah ke Bayu, kemudian ke Macan Putih. Pemindahan ibu negeri ke Bayu, kemudian Macan Putih, atas pertimbangan karena Bayu dan Macan Putih terlindungi oleh benteng alam yang sangat kukuh yaitu Gunung Raung dan Gunung Ijen, disamping itu pelabuhan Ulu Pampang dibalik gunung itu juga sangat berkembang.

Export Blambangan meliputi sarang burung, beras, dan hasil hutan. Sejak tahun 1600 Pelabuhan Ulupampang setiap tahun mengexport sarang burung seharga empat ribu found sterling, 1 ton bahan lilin, dan 600 ton beras, dan hasil hutan lainnya. Ulupampang dipenuhi perahu besar milik kerajaan, perahu besar bangsa China, dan Bugis. Selain perahu tersebut, pelabuhan Ulupampang, setiap setengah tahun disinggahi kapal Inggris yang mencari bahan perdagangan untuk dijual ke China. Pilihan ini didasarkan dalam kronik dinasty Ming, Blambangan telah menjalin hubungan yang baik dengan China. Tercatat yang mengunjungi Ulupampang adalah Francis Drake, dengan membawa kapal The Paca berbobot 70 ton, dan The Swan berbobot 50 ton. Juga Thomas Candish telah tinggal selama dua minggu di Ulupampang, dengan membawa kapal “Pretty” dan” Wilhems (24.61). Betapa pentingnya hubungan dagang Inggris dengan Blambangan, dapat terlihat dari peta perdagangan Inggris yang terbit tahun 1629, nama Blambangan tercantum dengan huruf yang mencolok.

Masa Jaya Blambangan/Susuhunan Tawangalun.

Blambangan masuk masa damai tanpa peperangan dan memasuki masa gemilang ketika dipimpin Raja Tawang Alun II (1655-1692). Raja inilah yang membawa Blambangan ke puncak kejayaan, lepas dari kekuasaan Mataram dan malahan menguasai Bali. Menurut Margana, salah satu kebesaran Tawang Alun ditunjukkan dengan jumlah istrinya yang mencapai 400 orang. Saat Tawang Alun II dikremasi, sebanyak 270 istrinya ikut membakar diri (sati). “Inilah peristiwa sati yang terbesar dalamsejarah Indonesia,” katanya. DR Sri Margana dalam disertasi Java ‘s Last Frontier : The Struggle for Hegemony of Blambangan Negeri terakhir yang tunduk pada Kompeni VOC

Para penulis sejarah Indonesia/Jawa boleh saja menulis bahwa Indonesia/Jawa telah dijajah oleh Belanda selama 350 tahun (sejak 1662) tetapi itu hal hanya mithos untuk rakyat Majapahit Kedaton Wetan, karena VOC baru dapat menundukan Majapahit Kedaton Wetan pada tahun 1768 .

Menguatkan pendapat ini Edi, Ketua Laboratorium Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember ini. “Kerajaan Blambangan adalah kerajaan terakhir yang ditaklukkan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) Belanda (1774) dengan perlawanan paling gigih,” kata Ketua Laboratorium Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember ini.

DR. Sri Margana menyatakan bahwa Blambangan yang sangat menentang dominasi asing itu, hanya bisa dikalahkan oleh VOC, setelah VOC yang melakukan politik ‘devida et impera’ itu berhasil merangkul kerajaan Mataram untuk bersama-sama menaklukkan kerajaan Blambangan.
Dan untuk penaklukan Blambangan VOC harus mengeluarkan dana setara 80 ton.

Bhre Wirabhumi, pahlawan Blambangan.

Pada masa Orde Baru (70an) rupanya mulai timbul kesadaran untuk membangkitkan semangat orang Banyuwangi, yang terimbas habis oleh peristiwa G.30.S. Hal ini terjadi karena partai politik telah menggunakan kesenian Banyuwangi sebagai sarana kegiatan politik. Dan lagu Banyuwangi Genjer Genjer, yang merupakan lagu berbahasa Blambangan, yang direkam dan dinyanyikan oleh Bing Slamet dilarang beredar, karena diduga sebagai alat propaganda komunis dan ada hubungannya dengan peristiwa G.30.S. Pemerintah Daerah Banyuwangi, mencoba mengiliminir trauma itu, dengan menghidupkan kembali kesenian angklung dan mengangkat kembali cerita Damarwulan, Menakjinggo. Kali ini peran Menakjinggo disesuaikan dengan realita sejarah.

Untuk itu pemerintah daerah Banyuwangi mulai mementaskan Damarwulan Menakjinggo ke Taman Ismail Marzuki Jakarta. Dalam seni pertunjukan kali ini prabu Menakjinggo digambarkan sebagai pribadi yang baik, berwibawa dan perkasa.
Tetapi nasib kesenian Damarwulan telah mencapai usia senja, sudah tergantikan oleh kesenian modern dan televisi

Dan sulit mengatakan bahwa usaha itu berhasil. Bukti bukti ilmiah yang dikemukakan Dr Sri Margana dalam disertasi di Universitas Leiden “ Java’s Last Frontier: The Struggle for Hegemony of Blambangan“ serta wawancara beliau yang dimuat di Intermezo majalahTempo edisi tgl13 dan 19 September, haruslah menjadi pemicu kita untuk mengungkap kebenaran sejarah. Semoga.

References

  • Majalah Tempo (edisi 13 September 2010)
  • Brandes Verslag over een Babad Blambangan TBG .37(1894) via DR.Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan 29
  • Dr Purwadi M.Hum, dan Enis Niken H.M.Hum. DA’WAH WALISONGO Panji Pustaka Yogyakarta 2007.89).
  • Majalah Tempo (edisi 13 September 2010)
  • Novi Anoegrajekti / Desantara dalam Wong Using: Sejarah Perlawanan dan Pewaris Menakjinggo 6.Prasasti Mula Malurung (1225),
  • (Lekkerkerker, 1923:220)
  • Pigeaud via Darusuprapto, 1984:12-13
  • Wikipedia.
  • Prof DR Drs I Ketut Riana S.U NAGARA KRTAGAMA , karya MPU PRAPANCA yang ditulis pada abad ke 14 , KOMPAS 2009,
  • Kumpulan kisah Klasik Dinasty Ming (4 jilid), dikompilasi oleh Feng MengLong (1574 1646) diterjemahkan oleh Shuhui Yang dan 12.Yungqin Yang, Gramedia pustaka Utama .Jakarta 2007.
  • Geneology Kerta Rajasa Nagara krtagama Prof DR Drs Ketut Riana SU Kompas 2009.73.
  • The seven voyages ( admiral Cheng HO )are as listed.

  1. 1st Voyage 1405-1407 Champa, JAVA, Palembang, Malacca, Aru, Sumatra, Lambri, Ceylon, Kollam, Cochin, Calicut
  2. 2nd Voyage 1407-1409 Champa, JAVA, Siam, Cochin, Ceylon
  3. 3rd Voyage 1409-1411 Champa, JAVA, Malacca, Sumatra, Ceylon, Quilon, Cochin, Calicut, Siam, Lambri, Kaya, Coimbatore, Puttanpur
  4. 4th Voyage 1413-1415 Champa, JAVA, Palembang, Malacca, Sumatra, Ceylon, Cochin, Calicut, Kayal, Pahang, Kelantan, Aru, Lambri, Hormuz, Maldives, Mogadishu, Brawa, Malindi, Aden, Muscat, Dhufar
  5. 5th Voyage 1416-1419 Champa, Pahang, Java, Malacca, Sumatra, Lambri, Ceylon, Sharwayn, Cochin, Calicut, Hormuz, Maldives, Mogadishu, Brawa, Malindi, Aden
  6. 6th Voyage 1421-1422 Hormuz, East Africa, countries of the Arabian Peninsula
  7. 7th Voyage 1430-1433 Champa, JAVA.Palembang, Malacca, Sumatra, Ceylon, Calicut, Hormuz… (17 politics in total) Karena hilangnya 300 orang ini , maka dinasty Ming meminta ganti rugi kepada Majapahit . Sehingga selama 7(tujuh) kali kunjungan , Java dikunjungi 6 (enam ) kali.

  • DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan Pustaka Ifada 40
  • Drs I Made Sudjana MA ( Leiden ) Nagari Tawon Madu 117
  • Penulis memiliki copy peta , dari National Library Singapore.
  • DR. Sri Margana Perebutan Hegemoni Blambangan Pustaka Ifada 1
  • Via Ika Ningtyas, Mahbub Djunaedi Blambangan yang Disingkirkan Tempo edisi 13sd19 September 2010
  • Via Ika Ningtyas, Mahbub Djunaedi Blambangan yang Disingkirkan Tempo edisi 13sd19 September 2010
  • Ibrahim Isa Alias Bramijn18 Des 2007,22.28:51WIB Lokhorstkerk, Pieterstraat 1, Leiden
  • Ika Ningtyas, Mahbub Djunaidi , Laskar Tangguh dari Ujung Timur Jawa Majalah Tempo edisi 13 -19 September 2010)
Raja Sindok
Sri Isana Tunggawijaya
Makuta wangsawardhana
Sri Dharmawangsa
Airlangga ( menantu dari Sri Dharmawangsa)
Dewi Kilisuci/Sanggramawijaya. (tidak bersedia menjadi raja dan lebih focus sebagai pertapa )
Mpu Withadarma
Mpu Bhajrastawa
Mpu Lempita
Mpu Gnijaya
Mpu Wiranatha
Mpu Purwantha
Tunggul Ametung + Ken Dedes + Ken Arok.
Anusapati *Mahisa Wonga Teleng
Wisnuwardhana === *Mahisa Campaka ( memerintah bersama dikenal dengan Naga Kembar)
Kertanegara *Lembutal
Dyah Gayatri ( putri Kertanegara+ Rana Wijaya/Raden Wijaya ( Putra Lembu Tal), dua keturunan Ken Dedes bersatu)
Tribuana Tunggadewi
Hayam Wuruk + Selir
Bhree Wirabhumi + Nagariwardhani( Bhree Lasem san Alemu)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar