Google+

Karma Marga Yoga

Karma Marga Yoga

Ketika seorang anak baru mulai belajar sembahyang, atau dalam bertingkah laku, dia hanya bisa mengikuti apa yang diajarkan oleh orang tuanya atau meniru apa yang dilakukan oleh orang lain. Dia hanya sebatas melaksanakan dan belum mengerti kenapa harus demikian. Dalam tingkatan ini, tingkat jnana dari guru laku (baik orang tua ataupun orang lain) sangatlah menentukan kwalitas dari pelaksanaan karma dari anak didiknya. 

Seorang guru yang memiliki pengetahuan yang luas dan berpengalaman pada umumnya akan menghasilkan murid yang berbudi luhur. Artinya, dari awal melangkah dia sudah mendapatkan tuntunan dalam bekerja yang sudah disesuaikan dengan jnana (ilmu pengetahuan) walaupun pada saat yang sama dia belum memperoleh pendidikan tentang jnana.

Akan sangat berbeda dengan seseorang yang dari awal perjalanan hidupnya tanpa adanya bimbingan dari orang tua atau guru, maka dia akan belajar sendiri dari lingkungan alam sekitarnya. Kalau dia berkumpul dengan kelompok pencuri, perampok, maka kemungkinan besar dia akan ikut menjadi perampok. Kalau dia bergaul di lingkungan orang-orang yang senang berjudi, maka kemungkinan besar dia akan menjadi seorang penjudi. Sebaliknya, kalau dia bergaul dengan orangorang yang senang sembahyang, membaca kitab suci, maka kemungkinan besar dia akan menjadi orang berprilaku baik. Maka dari itu, sebagai orang tua haruslah sanggup memberikan contoh yang baik dalam berbicara, bertingkah laku, agar dijadikan panutan bagi anak-anak.


Pengertian Karma Marga yaitu : manusia dalam tujuannya mencari Tuhan melalui jalan bekerja. 
Banyak manusia belajar dengan tekun dengan tujuan memperoleh ijazah, gelar yang tinggi, berharap nantinya mendapat pekerjaan yang bagus dengan kedudukan dan gaji yang tinggi. Akan tetapi, tidak banyak manusia yang memahami hakekat kerja yang bagaimana yang diajarkan oleh kitab suci weda yang dapat menuntun dirinya kapada pencerahan pikiran dan jiwanya. 

Dalam Bhagavad Gita Bab III yang membahas tentang KarmaYoga pada sloka (1) Arjuna bertanya kepada Kresna. Dasar pertanyaan Arjuna adalah karena dia bingung dengan penjelasan Kresna. Disatu sisi Kresna mengatakan bahwa ilmu pengetahuan lebih mulia dari tindakan, disisi lain Kresna malah menganjurkan kepada Arjuna untuk melakukan tindakan kejam yaitu berperang untuk membunuh saudara-saudaranya (Kurawa), gurunya, kakeknya sendiri. Dalam sloka (2) akhirnya Arjuna minta ketegasan dari Kresna, agar diberitahukan dengan pasti satu-satunya jalan yang dapat ditempuhnya untuk mencapai kebahagiaan abadi. Permitaan Arjuna dijawab oleh Kresna di sloka (3), bahwa sejak dahulu ada dua disiplin dalam hidup ini, jalan ilmu pengetahuan bagi cendekiawan dan jalan tindakan kerja bagi karyawan. Selanjutnya Kresna bersabda; orang tidak akan mencapai kebebasan karena diam tidak bekerja, juga ia tidak akan mencapai kesempurnaan karena menghindari kegiatan kerja. Tetapi, bagi orang yang sudah dapat mengendalikan pancaindrianya dengan pikiran serta bekerja dengan tanpa mementingkan diri sendiri, dialah yang disebut orang yang utama.

Bab II sloka (47) Bhagawad Gita, mengatakan :
karmany eva dhikaras te
ma phaleshu kadachana
ma karma phala hetur bhur
ma te sango ‘stv akarmani
artinya:
Kewajibanmu kini hanya bertindak, bekerja tiada mengharap hasil, jangan sekali pahala jadi motifmu, jangan pula hanya berdiam diri jadi motifmu.

Selanjutnya dalam sloka (48) dikatakan :
Yogasthah kuru karmani
Sangam tyaktva dhanamjaya
Siddhyasiddhyoh samo bhutva
Samatvam yoga uchyate
Artinya:
Pusatkan pikiranmu pada kesucian, bekerjalah tanpa menghirukan pahala, Dananjaya, tegaklah pada sukses maupun kegagalan, sebab, keseimbangan jiwa adalah yoga.

Dipertegas lagi oleh sloka (49) yang bunyinya :
durena hy avaram karma
buddhi yogad dhanamjaya
buddhau saranam anvichchha
kripanah phala hetevah
artinya:
Rendahlah derajat kalau hanya kerja tanpa disiplin budi, oh Dananjaya. Serahkanlah dirimu pada Yang Maha Tahu, kasihan yang mengharap pahala dari kerja.

Ketiga sloka di atas mengajarkan kepada kita tentang hakikinya berkerja yang harus dilaksanakan oleh seseorang yang ingin mencapai alam kebebasan/kelanggengan. Kewajiban kita hanyalah sebatas bekerja dan bukan untuk menghitung-hitung pahalanya. Janganlah karana ada pahala baru kita mau bekerja. Kasihan sekali orang yang bekerja hanya karena mengharapkan pahala.
Serahkanlah dirimu kepada Yang Maha Tahu. 

Ketika seseorang memahami betul bahwa dia tidaklah lain hanya sekedar wayang yang selalu dimainkan oleh sang Maha Dalang (Tuhan) yang menciptakannya, atau dengan kata lain sebagai wayang haruslah tunduk dan mengikuti alur ceritera yang sudah dibuat oleh sang dalang, maka jawabannya dalam menjalani hidup yang penuh dengan kepalsuan ini tiada lain adalah menyerah (serahkanlah dirimu kepada Yang Maha Tahu). Inti sari dari pemahaman dan pelaksanaan ajaran Weda adalah Iswara Prani Dana yaitu penyerahan diri secara total semata-mata kepada Sang Maha Pencipta. 
Awas, jangan salah mengartikan makna dari kata-kata penyerahan diri. 
Menyerah bukan berarti pasrah dan berdiam diri tidak melakukan apa-apa seperti patung tidak bergerak biarpun kehujanan dan kepanasan. 
Tindakan seperti ini malah keliru sebab, 

  • seandainya semua umat manusia berlaku seperti patung, wah tidak bisa kita bayangkan dunia akan seperti apa? 
  • Apa pula gunanya Tuhan menciptakan bumi dan langit untuk manusia? 

Bukan, bukan berdiam diri seperti itu maksudnya. Pasrah dalam makna yang lebih dalam adalah menerima (bersyukur) atas segala karunia dari Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Adil. Apapun hasil yang kita peroleh sebagai akibat dari kerja yang kita lakukan sekalipun itu pahit, haruslah kita tetap bersyukur. Untuk menjadi orang selalu bersyukur atas karunia Tuhan tidaklah mudah, karena gampang diucapkan tetapi sangat sulit untuk dilaksanakan.

Weda mengajarkan, bahwa ada dua jalan yang kita bisa tempuh dalam mengarungi bahtera kehidupan didunia fana ini yaitu : pertama jalan material atau kebendaan dan kedua adalah jalan spriritual. Dianjurkan oleh Weda semoga kita memilih jalan spiritual, karena dengan jalan inilah kita akan terselamatkan baik di dunia ini maupun di dunia sana (dunia gaib). 
Karma Marga lebih cendrung kepada jalan material
seperti : memelihara anak sendiri, menolong orang yang sedang kesusahan, orang sedang sakit, memelihara anak yatim piatu, orang jompo, membangun pura dan membuat sesaji, bekerja untuk memperoleh hasil, dan lain sebagainya. 

Jalan kerja yang ditempuh seperti tersebut di atas, dapat dikatagorikan sebagai pelaksanaan dari tapa (belajar ihklas). Sudah menjadi kodrat manusia yang diciptakan sebagai makhluk social, maka ia tidak akan bisa melepaskan diri dari manusia lainnya. 

Kita diajarkan oleh ajaran Weda untuk menjadi manusia yang suka memberi (beryadnya), kalau tidak demikian kita dikatakan sebagai manusia yang makan dosa, seperti yang disebutkan dalam Bhagavad Gita Bab III sloka (13) :
yajna sishtasinah santo

muchyante sarva kilbishaih
bhunjate te tv agham papa
ye pachanty atma karamat
Artinya:
yang baik makan setelah upacara bakti, akan terlepas dari segala dosa. Tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi diri sendiri, mereka ini sesungguhnya makan dosa.

Apa yang susungguhnya dimaksudkan dengan manusia makan dosa?
Adalah manusia yang lebih banyak memiliki sifat pelit, loba, dan hanya sedikit mempunyai sifat social dan suka beryadnya. Orang semacam ini, adalah orang yang belum memahami ajaran Tat Twam Asi dan orang semacam ini masih perlu digembleng di kawah candradimuka. 

Sangat perlu untuk dihayati, bahwa saling menolong dan saling memberi antara sesama manusia dengan ikhlas dan tanpa memandang apa agama atau sukunya, itu lebih mulia dimata Tuhan. Penomena yang ada, orang cendrung lebih berani dan galak antara sesama manusia, saling caci maki, iri dengki, saling merendahkan derajat satu sama lainnya, tetapi dia sangat sangat takut sekali dengan yang namanya jin dan setan, apalagi kepada dewa dan betara mereka lebih takut lagi, karena semuanya tidak kasat mata. Mereka lupa, bahwa dilahirkan sebagai manusia yang menurut Tuhan adalah merupakan mahkluk ciptaannya yang paling sempurna diantara mahkluk-mahkluk ciptaannya yang lain (jin, setan dan malaikat atau dewa). Maka dari itu, sadari dan kenalilah diri kita sendiri supaya karma yang kita lakukan tidak melenceng dari tujuan agama hindu yaitu kembali ke sangkan paraning dumadi, Tuhan Yang Maha Pencipta.

Nilai dari jalan kerja (Karma Marga) yang kita laksanakan sangat tergantung pada berapa besar prosentase dari tingkat keikhlasan kita dalam bekerja, bukan pada besar kecilnya hasil yang kita peroleh.
baca juga:


demikianlah tentang Karma Marga Yoga, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar