Google+

Upacara Potong Gigi atau Mepandes

Upacara Potong Gigi atau Mepandes

Salah satu upacara Manusa Yadnya yang wajib dilaksanakan oleh umat hindu bali adalah Yadnya Mepandes. Upacara Potong Gigi sering juga disebut dengan Mepandes, Metatah atau Mesangih.

Bila disebutkan mepandes, yaitu saat mengawali ritual potong gigi dimana mangku sangging akan melaksanakan memahat gigi si anak yaitu empat gigi seri dan dua gigi taring bagian atas dan secara simbolis, selanjutnya dilakukan pemotongan gigi (mengasahnya) dengan mempergunakan kikir.

Dalam bahasa bali disebutkan dengan istilah “Nandes” dengan mendapatkan awalan “me” menjadi mepandes.
Nandes disini sama artinya dengan Tekanan atau menekan (menekankan) sehingga menjadi mepandes yaitu menekankan.
Bukan hanya menekan akan tetapi di lanjutkan dengan mengasahnya sehingga menjadi rata dan rapi. Sebab ada kemungkinan gigi sebelahnya dalam keadaan pendek, bukannya lantas harus sama.

Mepandes atau lazim disebutkan mepandes dan atau potong gigi, di masyarakat telah dilaksanakan secara kontiyu setiap ada putra-putrinya yang telah cukup umuruntuk hal itu.

Bila anak sudah dewasa, Eka Dasa Indria pada dirinya berfungsi dengan energik. Mungkin terjadi dalam masa ini indria-indria itu lebih memberikan kesempatan Sad Ripu menggoda diri manusia.bila terjadi kemungkinan di atas, Sad Ripu dapat menyusupi perilaku seseorang yang mana dapat menyebabkan rusaknya perilaku orang tersebut. Oleh karena itu dibuatkan upacara matatah dengan tujuan untuk mengendalikan pengaruh Sad Ripu dalam diri anak.

Pelaksanaan upacara metatah ini dilengkapi dengan seperangkat banten upacara saran simbolis gigi pada rahang atas ditatah sebanyak enam buah, terdiri dari empat gigi seri, dan dua buah taring. Pada enam buah gigi itu, ujung geriginya sebagi lambang pengaruh adharma ditatah, agar terbentuk ujung gigi yang rata lambang dharma.Jadi diharapkan dharma tetap mengendalikan hiodup seseorang anak yang telah ditatah itu.Inilah dalam masyarakat dilkatakan “ngedasang daki” Artinya membersihkan kotoran anak. Maksudnya tiada lain kekuatan Sad Ripu agar dikendalikan oleh kekuatan dharma, sehingga perilaku anak mencerminkan budi luhur.

Konsep Upacara Potong Gigi

Dalam suatu penelitian yang ada dan telah dilakukan oleh para akhli disebutkan bahwa dengan penemuan kerangka tulang manusia purba terdahulu, dimana ditemukannya gigi-gigi telah dalam keadaan rata seolah-olah terasah rapi. Hal ini ada kemungkinan pula ritual potong gigi telah ada sejak zaman dahulu (baca:purba) Hal ini disebutkan pada penggalian fosil-fosil manusia purba yang diketemukan di gilimanuk yang diperkirakan berumur 2000 tahun yang lalu, menunjukkan sudah dikenalnya sistim penguburan mayat yang terlipat dan pada gigi-gigi mereka menunjukkan tanda-tanda yang telah terasah. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa upacara potong gigi sudah dikenalkan dipulau bali ini sejak 2000 tahun yang lalu.

Menurut G.A Wilken seorang sarjana barat yang terkenal, menyebutkan bahwa pada bangsa-bangsa pra sejarah didaerah kepulauan polinesia, Asia tengah dan asia tenggara terdapat suatu kepercayaan pentingnya memotong bagian-bagian tertentu dari tubuh seperti rambut, gigi, menusuk (melobangi) telinga, tatuage (mencacah kulit) dan sebagai upacara korban kepada nenek moyang, penyiksaan diri dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai korban dalam agama, adalah tapa dan brata. Jadi potong dan melobangi daun telinga ini dimana menurut G.A Wilken dianggap sebagai korban kepada roh nenek moyang bagi orang primitive kini mempunyai arti perubahan status dan penyucian dalam agama hindu di bali.

Makna Filosofis dari Upacara Mepandes atau Upacara Potong Gigi

Pada Upacara potong gigi yang digosok atau diratakan dari kikir berjumlah enam buah yaitu dua taring dan empat gigi seri bagian atas. Pemotongan enam gigi itu melambangkan symbol pengendalian terhadap Sad Ripu.
lebih lengkapnya baca: "Sad Ripu"

Pemaparan Upacara Mepandes atau Upacara Potong Gigi di masyarakat

Dalam menjalankan Swadharma kehidupan di dalam agama Hindu berbagai kegiatan kerohanian/ yadnya yang wajib dilaksanakan umat Hindu dalam segala manifestasinya untuk menuju/ mencapai jalan yang luhur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Brahman).

Salah satu dari berbagai kegiatan Yadnya (Panca Yadnya) yang dilaksanakan umat Hindu adalah Manusa Yadnya yaitu Upacara Mepandes atau Metatah atau Mesangih atau Potong Gigi yang merupakan kegiatan sakral bagi umat Hindu.

Jadi Upacara Potong Gigi ini sudah dilaksanakan sejak dahulu kala dan terus berkembang sampai saat ini dengan peningkatan pengertian filsafatnya dan diarahkan kepada keagamaan, sejak kedatangan Hinduisme di bumi Ibu Pertiwi Nusantara (Indonesia). Adapun pengertian Potong Gigi bagi umat Hindu adalah :
  1. Untuk merubah prilaku agar mampu mengendalikan diri dari godaan Sadripu untuk menjadi manusia sejati, yang menurut "Lontar Tutur Kamoksan" adalah sebagai Manusia nantinya bisa bertemu dengan orang tuanya di Alam Paratra setelah meninggal dunia.
  2. Menjalankan kewajiban Leluhur terhadap anaknya yang menurut "Lontar Puja Kala Pati" pada dasarnya untuk menemukan hakekat manusia sejati.
Upacara Potong Gigi bertujuan dan mempunyai filsafat sebagai berikut :
  1. Sebagai salah satu bentuk untuk membayar hutang budi kepada leluhur. Manusia dalam hidupnya mempunyai tiga hutang budi yang disebut Tri Rnam dan salah satu diantaranya adalah Pitra Rnam yaitu hutang budi kepada orang tua (leluhur) yang menyebabkan manusia lahir, jadi untuk membayar hutang budi kepada leluhur harus dibayar dengan memelihara dan mengupacarai keturunannya ( pari sentana ).
  2. Merupakan suatu simbolis untuk melenyapkan atau mengendalikan hawa nafsu yang disebut Sadripu adalah enam musuh yang ada dalam diri manusia yaitu Kama;keinginan, Kroda;kemarahan, Lobha;serakah, Moha;kebingungan, Matsarya;dengki/irihati, dan Mada;mabuk.
Pada upacara Potong Gigi juga diadakan persaksian kepada Sanghyang Widhi dalam prabawanya sebagai Sanghyang Semara Ratih yang merupakan perlambang/simbol dari pada keinginan seperti cinta kasih yang tumbuh kembang pada setiap insan yang menginjak dewasa yang memerlukan pengendalian diri agar tidak terjerumus dalam nafsu keinginan yang berlebihan.

Pustaka Lontar yang berkaitan dengan Upacara Potong Gigi adalah :
  1. Lontar Dharma Kahuripan yang memuat tentang Manusa Yadnya baik mengenai upacara maupun upakaranya menurut tingkat Kanistama, Madyama dan Utama termasuk Upacara Potong Gigi yang di sebut Atatah ( Jaman Empu Kuturan abad XI )
  2. Lontar Siwa Ekapratama Samapta yang memuat tentang Manusa Yadnya yang berkembang di jaman Dang Hyang Dwi Jendra abad XVI.
  3. Lontar Puja Kala Pati yang memuat tentang asal mula orang melaksanakan Upacara Potong Gigi sebagai petunjuk dari Bhatara Siwa kepada manusia agar nantinya menemukan hakekat manusia sejati itu demikian juga mengenai tata cara dan upacara Potong Gigi.
  4. Lontar Puja Kalib tentang Puja dan Mantra yang digunakan oleh Sulinggih dalam memimpin Upacara Potong Gigi.
  5. Lontar Jadmaphala Wreti tentang pelaksanaan Upacara Potong Gigi.

Makna setiap tahapan kegiatan dalam Upacara Potong Gigi.

Berdasarkan ketentuan dalam Pustaka Lontar Kahuripan dan Pustaka Lontar Puja Kala Pati bahwa tahapan atau prosesi Upacara Potong Gigi adalah sebagai berikut :
  1. Magumi Pedangan; yaitu mohon tirtha penglukatan pada Bhatara Brahma yang dilakukan di dapur, DANGAN artinya dapur. Upacara ini mengandung makna bahwa orang yang diupacarai itu nantinya tidak lepas dari urusan dan bertanggungjawab soal dapur. disamping itu fungsi tirtha ini adalah untuk pangeseng sarwa sane tan becik.
  2. Mabyakala; yaitu dilaksanakan di halaman rumah untuk Sang Bhuta Dengen. Makna upacara ini untuk membersihkan pengaruh-pengaruh negatif yang melekat pada diri.
  3. Ke Sanggah Kemulan (Rong Tiga / Kawitan); yaitu mohon restu dan panugrahan kepada Bhatara Hyang Guru sekaligus permakluman pada leluhur bahwa mereka akan melaksanakan Upacara Potong Gigi dan Minum Tirtha Wasuhpada sebagai tanda telah memperoleh restu. Memberikan labahan dalam bentuk Caru Ayam Petak tanpa Sanggah Cucuk kepada Sang Anggapati (Saudara tua dari catur sanak) sebagai simbolis untuk mohon agar mereka menjaga orang yang melakukan upacara Potong Gigi yang berarti guna mengharmoniskan hubungan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit pada diri mereka. Selanjutnya memahat Taring dan Ngerajah gigi. Ngerajah dengan bungan Teratai putih atau cincin emas bermata mirah warna merah. Memahat taring dan ngerajah gigi ini dengan aksara Suci bermakna agar yang diupacarai mampu untuk mengendalikan pikiran, bathin, keinginan dan perbuatan mereka dalam kehidupan ini agar menemukan hakekat manusia sejati itu. Terakhir adalah sungkeman terhadap orangtua, dalam acara sungkeman ini ada piteket /nasehat orang tua (ayah dan ibu), kemudian anak mohon restu kepada kedua orang tuanya.
  4. Naik ke Bale tempat Potong Gigi; Sebelum Potong Gigi terlebih dahulu menyembah (Muspa) di Bale Gading kepada Sanghyang Semara, mohon Tirtha untuh mesangih.
Mereka yang akan Potong Gigi naik hilir ke hulu, disuruh tidur tengadah. Badannya sampai kaki ditutup kain (rurub). Sikap tangan diletakkan diatas dada dialasi Kekasang dan kaki terkujur rapat. Gigi yang dipapar adalah empat buah gigi seri dan dua buah taring, kiri kanan pada rahang atas. Memapar enam buah gigi maknanya menekan Sadripu (enam musuh pada diri) secara simbolis. Sadripu tidak bisa dihilangkan semasih manusia hidup tetapi bisa ditekan atau dikendalikan apabila bathin telah suci. Kemudian mulai memasang pedangal (singsang) gigi. Yang pertama pedangal dari kayu dapdap dipasang pada rahang atas sebelah kiri untuk perempuan dan yang kedua pedangal dari kayu dapdap pada rahang atas kanan untuk laki-laki. Sedangkan dari tebu, bebas kanan-kiri hingga memapar selesai. Yang pertama kali dipapar dengan kikir pada rahang atas ini adalah taring dulu baru kemudian empat buah gigi seri dikerjakan sampai selesai.

Air ludah dan pedangal yang telah dipakai dimasukkan ke kelapa gading. Gigi yang sudah dipapar itu lalu digosok dengan pengurip gigi dari kunir dan diberi pengancing dengan menggigit base/sirih lekesan tiga kali. Bekas base lekesan itu juga dimasukkan ke kelapa gading. Makna pengurip gigi dan pengancing ini adalah lambang agar Panca Dewata menjaga kehidupan mereka yang melakukan upacara Potong Gigi.

Kemudian turun dari tempat metatah dari hulu ke hilir selanjutnya menginjak banten peningkeb. Banten peningkeb bermakna sebagai suatu sarana yang bersangkutan mengharmoniskan diri dengan alam atau Ibu Pertiwi termasuk Sang Catur Sanak yang di ajak lahir.

Upakara Yadnya Mapendes

banten di natah: banten pabyakalan
banten untuk dibale dangin, tempat metatah
banten nista:
  1. banten suci saji
  2. banten otonan tumpeng 11
  3. tebasan pageh tuwuh
  4. tebasan pageh urip
  5. tebasan pangenteg bayu
  6. tebasan atma rawuh
  7. tebasan pengalang hati
  8. tebasan rara 
  9. tebasan mengaradan
  10. tebasan sidhapurna
  11. tebasan tulis dadi
banten madya
  1. banten Pamereman 
  2. Pulegembal, dengan guling bebek
  3. tebasan pageh tuwuh
  4. tebasan pageh urip
  5. tebasan pangenteg bayu
  6. tebasan atma rawuh
  7. tebasan pengalang hati
  8. tebasan rara 
  9. tebasan mengaradan
  10. tebasan sidhapurna
  11. tebasan tulis dadi
 banten utama
  1. banten bangkit celeng 
  2. Pulegembal dengan guling celeng
  3. tebasan pageh tuwuh
  4. tebasan pageh urip
  5. tebasan pangenteg bayu
  6. tebasan atma rawuh
  7. tebasan pengalang hati
  8. tebasan rara 
  9. tebasan mengaradan
  10. tebasan sidhapurna
  11. tebasan tulis dadi
    Disamping upakara tersebut ada juga perlengkapan yang lain, yaitu :
    1. Kelengkapan hiasan sebuah bangunan (bale) tempat mepandes: dilengkapi dengan kasur, bantal, tikar bergambar Smara Ratih, dilengkapi dengan selimut (rurub). diatas (langit-langit) dihiasi telaga ngumbeng.
    2. Bale gading, dibuat dari bambu gading (yang lain), dihiasi dengan bunga-bunga yang berwarna putih dan kuning, serta didalamnya diisi: banten peras, ajuman, daksina (kadang-kadang dilengkapi dengan sebuah suci), canang burat wangi, canang sari, raka-raka  kekiping pisang mas, nyanyah gula kelapa dan periuk/sangku berisi air dan bunga 11 jenis. klungah nyuh gading. Bale Gading tempat bersemayamnya Sanghyang Smara Ratih.
    3. Kelapa (klungah) Gading yang dikasturi, airnya dibuang, ditulisi dengan Aksara Ardhanareswari. Kelapa gading ini akan dipakai tempat ludah dan singgang gigi yang sudah dipakai.
    4. Untuk singgang gigi (padangal) adalah 3 potong cabang dadap dan 3 potong tebu malem/tebu ratu (kira-kira 1 cm/1,5 cm).
    5. Pangilap (sebuah cincin berwarna mirah).
    6. Pangurip-urip, adalah empu kunir (inan kunyit) yang dikupas sampai bersih dan kapur.
    7. Sebuah bokor berisi : kikir, cermin dan pahat (biasanya pangilap ditaruh di tempat ini, dimikian pula pangurip-urip).
    8. Sebuah tempat sirih lengkap dengan sirih lekesan, tembakau, pinang, gambir, kapur.
    9. Banten tetingkeb, yang dilengkapi dengan alat caket (untuk wanita) dan gunting (untuk lelaki) yang akan diinjak waktu turun, setelah selesai matatah (dapat diganti dengan segehan agung).

    Pelaksanaan upacara

    Setelah dilakukan upacara mabyakala, maprayascita, lalu bersembahyang kehadapan Sanghyang Siwa Aditya, Sanghyang Smara Ratih, kemudian naik ke tempat upacara (bale), duduk menghadapat ke hulu (luanan). Pimpinan upacara (sangging), mengambil cincin untuk dipakai “ngrajah”, pada beberapa tempat, seperti :
    1. Pada dahi, diantara kening/selaning lelata
    2. Pada taring kanan
    3. Pada taring kiri
    4. Pada gigi atas
    5. Pada gigi bawah
    6. Pada lidah
    7. Pada dada
    8. Pada nabhi/puser
    9. Pada paha kanan dan paha kiri
    Penulisan Rerajahan tersebut sesuai dengan Sangging / Pemimpin Upacara. Setelah diperciki “tirtha pasangihan”, lalu tidur menengadah, ditutupi dengan kain/rurub dan selanjutnya upacara dipimpin oleh sangging, yakni orang yang sudah biasa melaksanakan hal tersebut. Tiap kali “padangal” diganti, ludah serta padangal yang sudah dipakai dibuang ke dalam “kelungah kelapa gading”. Bila sudah dianggap cukup rata, lalu diberi “pengurip-urip”, kemudian berkumur dengan air cendana, selanjutnya makan sirih (ludahnya ditelan 3 kali), sisanya dibuang dalam kelungah kelapa gading. Sore harinya dilanjutkan dengan upacara natab, yang dipimpin oleh Sulinggih atau orang bertugas untuk itu.

    Kutipan Mantra-mantra Untuk Upacara Mapandes :

    1. Mantra Prayascita dan Bhyakala :
    2. Om Hrim, Srim, Mam, Sam, Warn, Sarwa rogha satru winasa ya hrah phat.
      Om Hrim. Srim. Am. Tam. Sam. Bam. Im, sarwa danda mala papa klesa, winasaya hrah, hum, phat.
      Om Hrim, Srim, Am, Um, Mam, Sarwa papa petaka winasaya hrah, hum phat,
      Om Siddhir guru shrom, Sarwasat.
      Om sarwa wighna winasaya, sarwa papa winasaya namah swaha.

      Om Hyang Widhi Wasa, semoga semua musuh yang berupa penderitaan, kesengsaraan, bencana dan  lain-lain   menjadi   sirna.
    3. Mantra Mohon Persaksian :
    4. Om adityasya parantyotih rakta tejo nama stute, sweta pangkaja mandhyasta Bhaskara ya namostute.
      Om pranamya bhaskara dewam, sarwa klesa winasanam, pranamya  aditya   siwartham  bhukti  mukti    warapradam.
      Om  hrang  hring  sah  paramasiva  raditya  ya   namah  swaha.
      Om Hyang Widhi Wasa, semoga hamba mendapat perkenanMu, untuk melalui tahapan hidup ini dalam jalanMu dengan pertolongan hanya dariMu.
      Om  dimulyakanlah    Engkau     ya   Tuhan.
    5. Mantra Alat Pengasah / Kikir :
    6. Om Sang perigi manik,
      Aja sira geger lungha,
      Antinen kakang nira Sang Kanaka,
      Teka kekeh pageh,
      Tan katekaning lara wigena,
      Teka awet awet awet.
      Om Hyang Widhi Wasa,
      Semoga alat-alat ini dapat memberikan kekuatan.
    7. Mantra Pemotongan Gigi Pertama :
    8. OM lungha ayu,
      Teka ayu (3 kali).
    9. Mantram Pengurip-urip :
    10. Om urip-uriping bhayu,
      Sabda, idep, teka urip, Ang Ah.
      Artinya:
      Om Sang Hyang Widhi Wasa,
      Dalam wujud Brahma Maha Sakti, semoga tenaga, ucapan dan pikiran hamba memberikan kekuatan terhadap alat-alat ini.

    11. Mantra lekesan : 
    12. OM suruh mara, jambe mara, tumiba sira maring lidah,
      Sanghyang Bhumi Ratih ngaranira, tumiba sira ring hati,
      Kunci Pepet ngaranira, katemu-temu dlaha,
      samangkana lawan tembe, metu pwa sira ring wewadonan,
      Sanghyang Sumarasa aranira, wastu kedep mantrangku.
    13. Mantram Mejaya-jaya :
    Om Dirgayur Astu tat astu,
    Om Subham astu tat astu,
    Om Sukham bhawantu,
    Om Purnam bhawantu,
    Om Sreyam bhawantu,
    Om Sapta wrddhin astu tat astu astu swaha.
    Om Hyang Widhi Wasa,
    Semoga kami dianugrahi kesejahteraan, kebahagiaan, dan panjang umur.

    Dalam pelaksanaan upacara Matatah/Mapandes, ada beberapa Pustaka yang menjadi pegangan, yaitu : Lontar Kala Tattwa, Lontar Smaradahana, Puja Kalapati, Tutur Sanghyang Yama dan Sastra Proktah.

    Dalam Lontar Kala Tattwa, ada disebutkan lahirnya Bhatara Kala, dari air mani yang salah tempat dan waktu. Yang mana pada waktu Dewa Siwa, pergi bersama Dewi Uma, kain Dewi Uma tersingkap, sehingga air mani Dewa Siwa menetes, dari air mani inilah lahir Bhatara Kala.
    Nihan tacaranika sang brahmana, yan ring amawasya, catur dasi, ring purnama, ring astame kala kuneng, brahmacarya juga sira, haywa pareking stri, ngaraning brata samangkana amretasnataka
    Demikianlah prilaku  sang Brahmana, pada waktu tilem (amawa), prawani (caturdasi), pananggal panglong  8 (astame), hendaknya melakukan Brahmacarya, jangan dekat dengan istri, hal itu disebut dengan brata Amretasnataka.

    Setelah Bhatara Kala menginjak dewasa, beliau berkeinginan untuk mengenal  ayah ibunya (asal mula), atas petunjuk Dewa Siwa, agar Bhatara Kala memotong taringnya terlebih dahulu, setelah itu akan bertemu dengan harapannya.

    Dalam lontar Smaradahana, menceritrakan kelahiran Bhatara Ganesha dan nantinya dapat mengalahkan raksasa Nilarudraka dengan patahan taringnya. Sedangkan dalam pustaka Puja Kalapati, disebutkan bahwa gigi yang dipotong adalah 4 gigi seri dan 2 taring (lambang sad ripu). Jika tidak dipotong akan menyebabkan mala dan berbadankan Kala. Jika masih berbadankan Kala maka para Dewa tidak akan menampakkan diri.

    Pustaka Tutur Sanghyang Yama, menyebutkan  :
    …..yan amandesi wwang durung angrajasawala, padha tan kawenang, amalat raray ngaranya, tunggal halanya ring wwang angrabyaning wwang durung angrajasawala, tan sukramakna ring jagat magawe sanghar nagaranira sri aji.

    Tetapi dalam lontar Sastra Proktah, ada disebutkan :
    iki ling ning sastra proktah, ngaran, mwah yan hana wwang durung apandes, katekan pejah, haywa amandesi wwang pejah, angludi wangke ngaranya, yan amandesing sawa, yan mangkana kramanya, papa dahat, apan tan kawenang wwang mati, wehing sopakaraning wwang mahurip, tunggal halanya sang maweh lawan sang wineh, tinemah de bhatara Yamadipati.

    Sedangkan dalam pelaksanaannya dan sudah berdasarkan keputusan
    Kesatuan Tafsir dan Paruman Sulinggih, hal itu dapat dilangsungkan asalkan :
    1. Yang bertindak sebagai Sangging hendaknya orang tuanya/pamannya.
    2. Alas tumpuan Sangging adalah lesung/padi.
    3. Tangan Sangging digelangi dengan uang kepeng (penebusan).
    4. Pengganti kikir adalah ani-ani (anggapan/ketam) atau bunga tunjung.

    MITOLOGI UPACARA POTONG GIGI

    Kelahiran Bhatara Kala

    Dalam mytologi siwagama diceritakan Bhatara siwa menikmati perjalanan bersama Dewi Uma terbang di udara di atas samudra perjalanan tersebut semata-mata untuk melihat-lihat keindahan alam ciptaanNya sambil bersantai-santai bersama Dewi Uma.

    Di ceritakan kain Dewi Uma tersingkap sedikit oleh angin yang berhembus kencang. Dengan tersingkapnya kain yang dipakai oleh dewi uma maka kelihatanlah sedikit paha mulus Dewi Uma. Kejadian itu menyebabkan Bhatara Siwa menjadi sedikit terkesima. Karena terkesima keluarlah Kama Petak Bhatara Siwa dan jatuh di samudra. Kama Petak Bhatara siwa yang jatuh di samudra itu dipelihara oleh dewa Baruna di laut.

    Setelah beberapa lama Kama Petak itu Lahir menjadi Bhatara Kala. Wujud Bhatara kala tinggi besar berbentuk raksasa. Bhatara Kala terus ke darat untuk menanyakan siapa sesungguhya orang tuanya. Ternyata di darat tidak ada seorang pun yang mengetahui orang tuanya, kalau tidak dapat menjawab pertanyaannya terus dibunuhnya. Para rajapun ditanya oleh Bhatara kala. Setiap raja yang tidak dapat menjawab juga dibunuhnya. Kemarahan bhatara Kala semakin menjadi-jadi, karena di bumi ini tidak ada yang dapat menjelaskan siapa yang mengetahui orang tuanya maka Bhatara Kala-pun sampai bertanya ke sorga Loka. Di sorga Loka itupun diperangi oleh Bhatara Kala. Sorga Loka menjadi heboh dan geger karena ngamuknya Bhatara Kala. Bhatara kala memang sangat tangguh dalam setiap peperangan. Tidak ada senjata yang dapat melukai Bhatara kala.

    Akhirnya Bhatara kala berhadapan dengan Bhatara siwa. Bhatara Kala menanyakan kepada Bhatara Siwa siapa sesungguhnya ayah dan ibunya. Bhatara siwa memberitahu Bhatara kala agar Bhatara Kala memotong terlebih dahulu taringnya yang tajam. Kalau taring yang tajam itu sudah hilang atau datar maka secara otomatis Bhatara Kala akan bertemu dengan siapa yang menciptakannya. Nasehat Bhatara Siwa diikuti oleh Bhatara Kala.

    Setelah Bhattara kala memotong taringnya yang lancip itu Bhatara Kala-pun dengan penciptanya sendiri. Teryata yang menjadi ibu dan ayah sebagai penciptanya adala Dewi Uma dengan Bhatara Siwa sendiri. Ketika Bhatara Kala mengetahui bahwa yang menciptakan dirinya adalah Bhatara Siwa dengan Dewi Uma barulah Bhatara kala berdatang sembah kepada Bhatara Siwa dan Dewi Uma. Dengan Bertemunya Bhatara Kala dengan Bhattara Siwa sebagai penciptanya maka redalah marahnya Bhatara kala.

    Taring Ganesha Patah

    Pada suatu hari raksasa bernama Nilarudraka bertapa memuja Siwa dan bertujuan memohon kesaktian. Begitu khusuknya sang Raksasa bertapa, para dewa menjadi ketakutan, maka dikirimlah bidadari menggoda sang raksasa dan berbagai godaan dilakukan untuk membatalkan tapa Sang Raksasa, tapi hal itu tak mematahkan semangat raksasa Nilarudraka, sehigga berkat kekusukan tpanya akhirnya dia mendapat anugrah seperti yang diharapkan.

    Setelah mendapat anugrah kesaktian, raksasa Nilarudraka menjadi sombong dan menghancurkan segala sesuatau yang dianggap sebagai musuh. Banyak korban telah mati di tangannya, kekuasaan kaum raksasa semakin meluas dan seluruh kerajaan tunduk terhadap Nilarudraka. Kesombongan kemarahan dan gila kekuasaan semakin merajalela, Nilarudraka belum merasa puas dengan apa yang di dapatkannya, akhirnya nilarudraka mengumpulkan seluruh raksasa menyerang sorga dan berkeinginan menguasai sorga tempat para dewa.

    Mendengar sorga akan diserang oleh raksasa yang dipimpin oleh Nilarudraka, dewa Indra sebagai dewa tertiggi mengumpulkan kekuatan untuk menyelamatkan sorga. Tiba waktunya rakasasa Nilarudraka menyerang sorga dan bertempur degan para dewa . Pertarungan sangat hebat, dunia bergetar, sehingga menghancurkan alam semesta. Kekuatan raksasa terus mendesak sorga, sehingga dewa Indra menjadi terpojok kemudian beliau bersama para dewa lainnya, pergi meninggalkan sorga untuk bertemu dengan dewa Siwa kepuncak Gunung Khailasa.

    Mendengar penjelasan dewa Indra tentang keadaan sorga yang diserang Raksasa Nilarudraka, maka dewa siwa akan membantu para dewa, sebab yang dapat mengalahkan Raksasa Nilarudraka adalah putra dari dewa siwa, dnegan kekuatan jananya, manusia berkepala gajah yang memiliki kekuatan yang sangat hebat. Kehadiran Ganesha membuat para dewa menjadi tenang. Pada suatu ketika dewa siwa seddang bermeditasi di puncak gunung hailasa, kemudian beliau di datangi parasurama. Kedatangan parasurama bertemu dengan dewa siwa di halangi oleh Ganesha, karena dewa siwa sedang bermeditasi, sehingga beliau tidak bisa diganggu., maka terjadilah perdebatan dan berakhir dengan peperangan, dalam peperagan tersebut kapak parasurama menjadi taring Ganesha, sehingga taring ganesha menjadi patah, melihat kejadian itu dewi parwati sangat marah dan hampir mengutuk parasurama, namun para dewa membujuk dewi parwati dengan mengatakan patahan taring ganesha tersebut, kelak akan dipuja oleh para dewa dan taring yang patah tersebut dapat mengalahkan raksasa Nilarudraka.

    Berdasarkan mytologi diatas patahnya taring ganesha dan kalahnya raksasa Nilarudraka merupakan symbol filosofis Upacara Potong Gigi, yaitu patahnya taring ganesha pada waktu remaja merupakan symbol kedewasaan atau symbol perubahan status dari masa kanak-kanak menjadi remaja yang di sebut dengan masa akil balik.

    Sedangkan patahan taring ganesha mengalahkan raksasa merupakan symbol perubahan pola pikir remaja dari tidak tahu apa-apa di masa anak-anak menuju pendewasaan diri engan mengedalikan atau megalahkan sifat-sifat raksasa dalam diri manusia atau sering disebut dengan Sad Ripu, dengan pengimplementasian ajaran Tri kaya Parisudha, yaitu mampu mengendalikan pikiran kearah positif, berbuat sesuai dengan ajaran agama dan berkata yang benar sesuai dengan etika yang belaku yang dimlai sejak remaja untuk menghadapi kehhidupan masa depan. Sebab pada masa remaja yang sedang mancari jati diri, tentunya memiliki rasa ingin tahu yang besar.

    Oleh karena itu masa pencarian jati diri ini dimulai sejak dilaksanakanya upacara potong gigi, dengan upacara ini remaja menjadi tahu bahwa dirinya bukan lagi anak-anak, melainkan menjadi orang yang tumbuh dewasa, bahka disaksikan oleh Tri Upasaksi yaitu dewa saksi, manusia saksi dan bhuta saksi sehingga secara psikologis remaja tersebut dengan sendirinya mengetahui bahwa dirinya telah tumbuh dewasa yang tahu mana yang baik dan mana yang buruk.

    Upacara manusia yadnya yang salah satunya adalah potong gigi wajib dilaksanakan bagi seluruh umat hindu. Dalam bahasa bali disebutkan dengan istilah “Nandes” dengan mendapatkan awalan “me” menjadi mepandes. Nandes disini sama artinya dengan Tekanan atau menekan (menekankan) sehingga menjadi mepandes yaitu menekankan. Bukan hanya mnekan akan tetapi di lanjutkan dengan mengasahnya sehingga menjadi rata dan rapi. Sebab ada kemungkinan gigi sebelahnya dalam keadaan pendek, bykannya lantas harus sama.

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar