Google+

Upakara dan Upacara Manusa Yadnya

Upakara dan Upacara Manusa Yadnya

Manusa yadnya adalah korban suci yang bertujuan untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir bathin manusia mulai dari sejak terwujudnya jasmani di dalam kandungan sampai pada akhir hidup manusia itu. Pembersihan lahir bathin manusia selama hidupnya dianggap perlu agar dapat menerima ilham atau petunjuk suci dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga selama hidupnya tidak menempuh jalan yang sesat, melainkan dapat berpikir, berbicara, berbuat yang benar dan akhirnya setelah meninggal roh/atmannya menjadi suci bisa bersatu kembali kehadapan Tuhan, setidak-tidaknya mendapat tempat disisinya.

Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan bathinnya pembersihan itu dapat dilakukan sendiri, yaitu dengan melakukan yoga semadhi yang tekun dan disiplin. Sebaliknya mereka yang merasa belum mampu melaksanakan hal tersebut akan memerlukan alat serta bantuan orang lain misalnya, melaksanakan upacara yang pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dengan upakara (banten), besar atau kecilnya disesuaikan dengan keadaan.

Unsur-unsur pembersihan di dalam Upacara Manusa Yadnya dapat di ketahui dengan adanya upakara-upakara seperti tirtha panglukatan atau tirtha pembersihan dan lain sebagainya. Tirtha-tirtha ini adalah air suci yang telah di berkati oleh sang sulinggih pandita (pendeta), sehingga air suci tersebut mempunyai “twah“ (wasiat), yang secara spiritual dapat menimbulkan adanya kebersihan (kesucian) itu.

Prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam berYadnya yaitu keikhlasan, kesucian dan pengabdian tanpa pamrih.
Aphalakaanksibhir yadnyo
Vidhi drsto ya ijyate,
Yastavyam eveti manah
Samaadaya sa saatvikah (Bhagavad Gita, XVII.11)
Maksudnya:
Yadnya yang dilakukan menurut petunjuk kitab suci (vidhi drstah), dilakukan dengan ikhlas, yang sepenuhnya dipercaya bahwa yadnya itu sebagai suatu kewajiban suci. Yadnya yang demikian itu tergolong Satvika Yadnya.
Kata “upacara” berasal dari bahasa Sansekerta artinya “mendekat”. Sedangkan "yadnya" artinya ikhlas berkorban untuk tujuan yang benar dan suci. Jadi, upacara yadnya adalah upaya spiritual dengan bentuk ritual dengan tujuan mendekatkan diri pada Tuhan dengan landasan bhakti.

Bhakti pada Tuhan itu lebih lanjut didayagunakan untuk meningkatkan keluhuran moral dan daya tahan mental untuk memelihara kesejahteraan alam serta mengabdi pada sesama manusia dengan landasan punia. Asih dan punia itulah sebagai wujud bhakti kita kepada Tuhan. Jika bhakti itu tanpa rnenyayangi alam Iingkungan dan mengabdi pada sesama dengan tulus maka bhakti akan sia-sia saja. Selanjutnya upacara yadnya itu ada upakaranya. Kata upakara dalam bahasa Sansekerta artinya melayani. Karena itu dalam Lontar Yadnya Prakerti bentuk-bentuk upakara itu sebagai lambang pelayanan kepada Tuhan, kepada sesama manusia dan juga pelayanan kepada alam atau bhuwana. Dari pemahaman tersebut dapat dinyatakan bahwa suksesnya suatu upacara yadnya apabila ada secara nyata upaya melestrikan alam lingkugan, adanya perhatian yang nyata pada nasib sesama sehingga hubungan manusia dengan manusia semakin harmonis, dinamis dan produktif secara spiritual dan meterial.

Perlunya penyucian dalam hidup manusia disebutkan dalam beberapa kitab suci, misalnya : Cilakrama, Weda Smerti sebagai berikut:
Adbhir gatrani cudhyanti
Manah satyena cudhyanti
Widyatapobhyam bhrtatma
Buddhir jnanena cuddhyanti (Manawa Dharmasastra V.109)
Artinya:
Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, Roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa, Akal dibersikan dengan kebijaksanaan.

Waidikaih karmabhih punyair
Nisekadirdwijamanam
Karyah sarirah samskarah
Pawanah pretya ceha ca
(Manawa Dharmasastra II.26)
Artinya:
Sesuai dengan ketentuan-ketentuan pustaka Weda, upacara-upacara suci hendaknya dilaksanakan pada saat terjadi pembuahan dalam rahim ibu serta upacara kemanusiaan lainnya bagi golongan triwangsa, yang dapat mensucikan dari segaladosa dalam hidup ini maupun setelah meninggal.

Garbhairhomairjatakarma
Caudamaujini bandhanah
Baijikam garbhikam caino
Dwijanamapamrjyate
(Manawa Dharmasastra II.27)
Artinya:
Dengan upacara membakar bau-bauan harum pada waktu sang ibu hamil, dengan upacara jatakarma (bayi waktu lahir), upacara Cauda (upacara Gunting rambut pertama) dan upacara Maunji bandhana (upacara memberi kalung) maka kekotoran yang di dapat dari orang tua akan terhilang dari Tri wangsa.

Dalam sumber tersebut dinyatakan pula adanya upacara jatakarma (bayi lahir), namadeya (pemberian nama) dan upacara-upacara seperti yang dilaksanakan oleh umat Hindu Bali serta daerah lainnya. Pada dasarnya upacara tersebut dapat dibagi menjadi dua yaitu:
  1. Upacara penyucian terhadap hal yang kurang baik di sebabkan oleh orang tua (ayah-ibu). Yang tergolong dalam upacara ini adalah upacara penyucian selama dalam kandungan, kelahiran bayi, pemberian nama, gelang serta perhiasan dan upacara lain sampai pada penggundingan rambut pertama.
  2. Upacara penyucian terhadap hal-hal yang kurang baik disebabkan oleh diri sendiri semasa hidup yang lampau ataupun sekarang. Yang tergolong dalam upacara ini adalah: Peringatan hari kelahiran, meningkat dewasa, potong gigi dan perkawinan.

Di dalam Manusa yadnya, pada dasarnya terdapat empat rangkaian upacara yang satu dengan yang lainnya tidak dapat di pisahkan. Adapun upacara-upacara teresbut antara lain adalah 

  • Upacara Mabhyakala ( Mabhyakaonan ), 
  • Upacara Melukat ( Mejaya-jaya ), 
  • Upacara Natab ( Ngayab ), dan 
  • Upacara Muspa. 
Masing-masing upacara ini mempunyai maksud dan tujuan-tujuan tertentu.

Proses upacara Manusia Yadnya dalam Ajaran Agama Hindu

Manusa Yadnya adalah persembahan suci kehadapan sesama (manusia). Tujuan melaksanakan korban suci ini adalah untuk pembersihan lahir batin. Pembersih lahir batin ini dilakukan setiap hari, setiap saat dan berkelanjutan. Dengan demikian diharapkan pada akhirnya agar atma dapat manunggal dengan parama atma.

Berdasarkan tujuan dan pengertian Manusa Yadnya yang telah diuraikan di atas, maka satu putaran hidup manusia dapat dilihat berkali-kali dilaksanakan upacara Manusa Yadnya terhadap seseorang itu. Boleh jadi pembersihan bayi sejak dalam kandungan, sampai bayi lahir, dan menjadi dewasa, serta sampai mengakhiri hidupnya. Weda Parikrama menjelaskan, tubuh dibersihkan dengan air, pkiran dibersihkan dengan kejujuran, roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa dan akal dibersihkan dengan kebijaksanaan.Berkaitan dengan hal ini berarti kita membersihkan diri terhadap semua hal di atas.

Agama Hindu dalam prakteknya yang berkaitan dengan pembersihan roh jasmani dan roh rohani tidak bias terlepas dari  menggunakan banten sebagai  wujud korban dan berkaitan dengan Manusa Yadnya. Hal ini sangat bersifat spiritual. Pelaksanaan Manusa Yadnya dalam kehidupan sehari-hari dapat berwujud material dan juga spiritual. Misalkan uang, nasi, air atau hal-hal yang temasuk dalam sandang, pangan dan papan. Kemudian pemberian ilmu pengetahuan, nasihat, petunjuk, jasa dan sejenisnya adalah yang bersifat spiritual. Sifat pemberian seperti di atas, bila didasarkan atas ketulusan hati menurut lontar slokantara disebut Stvikdana. Bila pemberian itu dikaitkan dengan unsur pamrih, walaupun sedikit adanya dalam batas wajar disebut Rajasikdana. Bila suatu pemberian mempunya ikatan pamrih keuntungan yang banyak hal ini disebut Tamasikdana.

Kembali pada pelaksanaan Manusa Yadnya dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan sarana banten, dilaksanakan dalam masa-masa transisi. Masa sekarang ini dipandang mempunyai nilai baik untuk dibuatkan pembersihan spiritual.

Adapun waktu-waktu yang dipandang baik untuk melaksanakan upacara itu adalah ketika:
  1. bayi dalam kandungan dibuatkan upacara pagedong-gedongan.
  2. bayi baru lahir dibuatkan upacara mapag rare.
  3. bayi tatkala kepus puser dibuatkan upacara kepua puser.
  4. bayi dua belas hari dibuatkan uapacara lepas hawon
  5. bayi berumur 42 hari dibuatkan upacara kambuhan
  6. bayi berumur tiga bulan dibuatkan upacara nyambutin
  7. bayi berumur enam bulan dibuatkan upacara oton.
  8. bayi baru tumbuh gigi dibuatkan uapacara ngampugin.
  9. anak giginya tanggal untuk pertama kalinya dibuatkan upacara makupak
  10. anak sudah meningkat remaja dibuatkan upacara ngraja.
  11. anak menjadi dewasa dibuatkan upacara matatah.
  12. bila ia ingin mendalami ilmu kerohanian maka dibuatkan upacara mawinten.
  13. bila ia ingin membentuk rumah tangga maka dibuatkan upacara pawiwahan.
Dengan demikian sudah jelas bahwa satu putaran hidup menjadi manusia banyak sekali dibuatkan upacara Manusa Yadnya. Di zaman perkembangan umat Hindu sekarang ini, Manusa Yadnya yang diberikan pada anak akan lebih berguna bila peningkatan sumber daya manusia itu diantisipasi dengan lebih awal. Oleh karena itulah agar anak-anak merasa lebih mandiri dan berdaya guna nanti ia patut diberikan jaminan hidup yang cukup, fasilitas pendidikan dan terdidik
 
Untuk mengetahui makna yang terkandung dalam pelaksanaan upacara Manusa Yadnyaakan diuraikan satu persatu secara singkat, yaitu:

a. Upacara Pagedong-gedongan (Garbha Wedana atau Upacara Bayi dalam Kandungan)

Upacara ini bertujuan memohon kehadapan Hyang Widhi agar bayi yang ada di dalam kandungan itu di berkahi kebersihan secara lahir bathin. Demikian pula ibu beserta bayinya ada dalam keadaan selamat dan dikemudian setelah lahir dan dewasa dapat berguna di masyarakat serta dapat memenuhi harapan orang tua. Di samping perlu adanya upacara semasih bayi ada di dalam kan-dungan, agar harapan tersebut dapat berhasil, maka si ibu yang sedang hammil perlu melakukan pantangan-pantangan terhadap perbuatan atau perkataan-perkataan yang kurang baik dan sebaliknya mendengarkan nasehat-nasehat serta membaca membaca buku-buku wiracarita atau buku lain yang mengandung pendidikan yang bersifat positif. Sebab tingkah laku dan kegemaran si ibu di waktu hamil akan mempengaruhi sifat si anak yangmasih di dalam kandungan.

b. Upacara Bayi Lahir.

Upacara ini merupakan cetusan rasa gembira dan terima kasih serta angayu Bagia atas kelahirannya si bayi kedunia dan mendoakan agar bayi tetap selamat serta sehat walafiat. Pada saat bayi lahir, yang perlu juga di perhatikan adalah upacara perawatan Ari-ari. Ari-ari ini di cuci dengan air bersih atau air kumkuman, kemudian di masukkan ke dalam sebutir kelapa yang di belah dua dengan Ongkara ( pada bagian atas ) dan Ahkara pada bagian bawah. Kelapa tersebut di bungkus dengan kain putih kemudian di pendam ( di tanam ) di muka pintu rumah ( yang laki di sebelah kanan dan yang perempuan di sebelah kiri ). Setelah di tanam pada bagian atasnya hendaknya di isi daun pandan yang berduri dengan tujuan untuk menolak gangguan dari kekuatan-kekuatan yang bersifat negatif.

c. Upacara Kepus Puser.

Upacara ini juga di sebut Upacara Mapanelahan. Setelah puser itu putus maka puser tersebut di bungkus dengan secarik kain, lalu di masukkan ke dalam sebuah tipat kukur yang di sertai dengan bumbu-bumbu dan kemudian tipat tersebut di gantungkan di atas tempat tidur si bayi. Mulai saat inilah si bayi di buatkan Kumara, yaitu tempat memuja Dewa Kumara sebagai pelindung anak-anak.

d. Upacara Bayi berumur 42 hari.

Upacara ini disebut juga upacara tutug kambuhan. Pada usia 42 hari bayi di buatkan upacara “ Macolongan “. Tujuannya adalah memohon pembersihan dari segala keletehan ( kekotoran dan noda ), terutama si ibu dan bayinya di beri tirtha pangklutan pabersihan, sehingga si ibu dapat memasuki tempat-tempat suci seperti Pura, Merajan dan sebagainya.

e. Upacara Nyambutin.

Upacara Nyambutin ini diadakan setelah bayi tersebut berumur 105 hari. Pada umur ini si bayi telah di anggap suatu permulaan untuk belajar duduk, sehingga di adakan upacara Nyambuitn di sertai dengan upacara “ Tuwun di pane “ dan mandi sebagai penyucia atas kelahirannya di dunia. Upacara ini bertujuan untuk memohon kehadapan Hyang Widhi agar jiwatman si bayi benar-benar kembali kepada raganya.

f. Upacara Satu Oton.

Upacara satu oton atau yang di sebut dengan Otonan ini di lakukan setelah bayi berumur 210 hari, dengan mempergunakan perhitungan pawukon. Upacara ini bertujuan agar segala keburukan dan kesalahan-kesalahan yang mungkin di bawa oleh si bayi dan semasa hidupnya terdahulu dapat di kurangi atau di tebus, sehingga kehidupan yang sekarang benar-benar merupakan kesempatan untuk memperbaiki serta meningkatkan diri untuk mencapai kehidupan yang sempurna. Serangkaian pula dengan Upacara Otonan ini adalah upacara pemotongan rambut yang pertama kali, yang bertujuan untuk membersihkan ubun-ubun ( Ciwa Dwara ). Pelaksanaan upacara satu oton ini juga di maksudkan untuk memohon kehadapan Ibu Pertiwi agar ikut mengasuh si bayi sehingga si bayi tidak mendapatkan kesulitan, selamat dan tumbuh dengan sempurna. Untuk ini di adakan pula upacara turun tanah yang di injakkan untuk pertama kalinya di beri gambar bedawang nala sebagai lambang dasar dunia, sedangkan si bayi di tutupi dengan sangkar yang di sebut sudamala.

g. Upacara Meningkat Dewasa (Munggah Daa).

Upacara ini bertujuan untuk memohon kehadapan Hyang Widhi agar yang bersangkutan di berikan petunjuk atau bimbingan secara gaib sehingga ia dapat mengendalikan diri dalam menghadapi masa pancaroba. Upacara ini pada umumnya di titikberatkan pada anak perempuan. Hal ini mungkin di sebabkan karena wanita di anggap kaum yang lemah serta lebih banyak menanggung akibat pertimbangan-pertimbangan. Di samping itu, menurut Hindu bahwa kaum wanita dapat di anggap sebagai barometer tingi rendah atau baik dan buruknya martabat dari suatu keluarga dan lain-lain.

h. Upacara Potong Gigi.

Upacara ini dapat di lakukan baik terhadap anak laki-laki maupun anak perempuan yang sudah menginjak dewasa. Dalam Upacara potong gigi ini, maka gigi yang di potong ada 6 ( enam ) buah, yaitu empat buah gigi atas dan dua buah lagi gigi taring atas. Secara rohaniah pemotongan terhadap ke enam gigi tersebut merupakan simbolis untuk mengurangi ke enam sifat Sad Ripu yang sering menyesatkan dam menjerumuskan manusia ke dalam penderitaan atau kesengsaraan. Sifat-sifat Sad Ripu yang di maksud adalah nafsu birahi, kemarahan, keserakahan, kemabukkan, kebingungan dan sifat iri hati. Tetapi secara lahiriah, pemotongan gigi itu dapat pula di anggap untuk memperoleh keindahan, kecantikan dan lain sebagainya. Pelaksanaan Upacara Potong gigi ini bertujuan, di samping agar yang bersangkutan kelak nanti setelah mati dapat bertemu dengan para leluhurnya dan bersatu dengan Hyang Widhi, juga agar yang bersangkutan selalu sukses dalam segala usaha, terhindar dari segala penyakit serta dapat mengendalikan diri dan mengusir kejahatan.

i. Upacara Perkawinan.

Upacara perkawinan merupakan suatu persaksian, baik kehadapan Hyang Widhi Wasa maupun kepada mayarakat luas, bahwa kedua mempelai mengikat dan mengikrarkan diri sebagai pasangan suami istri yang sah. Di samping itu, di tinju dari segi rohaniah, upacara perkawinan ini merupakan pembersihan diri terhadap kedua orang mempelai, terutama terhadap benih atau bibit baik laki maupun perempuan ( Sukla dan Swanita ), apabila bertemu agar bebas dari pengaruh-pengaruh buruk sehingga dapat di harapkan atman yang akan menjelma adalah atman yang dapat memberi sinar dan mempunyai kelahiran yang baik dan sempurna. Upacara perkawinan, pada umumnya dapat di bagi atas dua bagian, yaitu Upacara Makala-kalaan dan Natab. Upacara Makala-kalaan sebagai rangkaian dari upacara perkawinan merupakan kebahagiaan tersendiri, karena secara Samskara kedua mempelai ini di hadapkan kepada Hyang Widhi mohon pembersihan dan persaksian atas upacara yang di laksanakan. Sedangkan upacara Natab bertujuan untuk meningkatkan pembersihan, memberi bimbingan hidup dan menentukan status kedua mempelai.


silahkan baca artikel yang terkait Upakara dan Upacara Manusa Yadnya:
demikian sekilas  Upakara dan Upacara Manusa Yadnya, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar