AKU dalam Gītā Bukan Sosok: Membongkar Kesempitan Tafsir yang Menyalahi Veda
Dalam gelombang spiritual kontemporer, banyak yang dengan gegabah mengklaim bahwa “AKU” dalam Bhagavad Gītā hanya dan harus berarti sosok fisik Śrī Kṛṣṇa. Bahkan, tak jarang muncul seruan agresif yang menuduh sesat siapa pun yang tidak menyembah “Kṛṣṇa sebagai Tuhan yang berwujud manusia”.
Tapi, benarkah ini ajaran sejati Veda? Ataukah ini justru penyimpangan dari mahāśāstra (ajaran agung) yang menjunjung tinggi pengetahuan non-dual dan universalitas Brahman?
Siapa pun yang menafsirkan “Aku” bukan sebagai Kṛṣṇa adalah sesat
Mari kita selami lebih dalam.
Kṛṣṇa Menunjukkan Diri, Bukan Menyuruh Menyembah Sosok
Dalam Bhagavad Gītā 11.41–42, Arjuna memohon ampun karena sebelumnya bersikap terlalu akrab kepada sahabatnya, yang kini diketahui sebagai manifestasi kosmik dari Yang Mahatinggi. Tapi momen ini bukan penetapan doktrin penyembahan pribadi, melainkan pencerahan spiritual bahwa yang bersamanya bukan sekadar manusia, melainkan cerminan Brahman itu sendiri.
Yang diungkap Arjuna adalah:
"Aku tidak tahu siapa Engkau sebenarnya. Kini aku sadar—Engkau bukan hanya temanku. Engkau adalah perwujudan yang tak terbatas."
Tapi bagaimana mungkin sosok yang agung itu kemudian dibatasi dalam satu tubuh dan disembah selamanya sebagai pribadi?
Justru Kṛṣṇa berulang kali menolak personifikasi dan menjelaskan bahwa yang sejati adalah:
BG 10.20
“Aham ātmā guḍākeśa sarvabhūtāśayasthitaḥ”
“Akulah Ātman yang bersemayam dalam semua makhluk, wahai Gudākeśa.”
Bukankah ini jelas menyatakan bahwa "Aku" = Kesadaran Ilahi, BUKAN TUBUH KRSNA?
Kebodohan Adalah Menyembah Wujud Lahiriah
Salah satu bantahan paling keras terhadap kultus personalitas datang justru dari Bhagavad Gītā itu sendiri:
BG 7.24
“Avyaktam vyaktim āpannaṁ manyante mām abuddhayaḥ”
“Orang-orang bodoh mengira Aku, Yang Tak Berwujud, menjadi sosok yang berwujud.”
Jadi, siapa yang “sesat”?
Apakah mereka yang menafsirkan Aku sebagai Brahman, atau mereka yang memaksa Tuhan masuk ke dalam tubuh manusia?
Sruti: Menyatakan Atman adalah Tuhan
Ajaran Veda tidak pernah mengkultuskan satu sosok manusia. Ia menegaskan dengan indah:
Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 1.4.10
“Ātman alone is to be meditated upon. All else is perishable.”
Chāndogya Upaniṣad 6.8.7
“Tat tvam asi”
➤ “Itulah engkau”—kamu adalah Brahman itu sendiri.
Dan pada puncaknya:
Aitareya Upaniṣad 1.1.1
“Prajñānam brahma”
➤ Kesadaran itu sendiri adalah Brahman, bukan figur, bukan tokoh, bukan avatāra.
Apa Tujuan Gītā? Menyadarkan Diri, Bukan Menyembah Sosok
Tujuan Gītā bukan membentuk agama pemujaan pada satu figur. Tujuannya adalah membebaskan jiwa dari keterikatan dan mengantarkan kita pada penyatuan dengan Yang Mutlak. Inilah sebabnya Gītā menutup ajarannya dengan:
BG 18.66
“Sarvadharmān parityajya māṁ ekaṁ śaraṇaṁ vraja”
“Tinggalkan semua konsep dharma, dan berlindunglah hanya kepada-Ku.”
Tapi siapa 'Ku'?
Bukan tubuh Kṛṣṇa, karena Śaṅkarācārya menjelaskan bahwa "māṁ" berarti Brahman–Ātman, bukan individu.
Kultus Figur: Kesalahan yang Mengurung Tuhan dalam Bentuk
Sama seperti lilin kecil yang menyangka dirinya matahari, para pemuja tokoh spiritual seperti Sai Baba, Kalki, atau bahkan kultus Hare Kṛṣṇa, menyempitkan Tuhan ke dalam bentuk pribadi dan waktu tertentu. Ini adalah penghinaan terhadap Kemahaluasan Brahman.
Muṇḍaka Upaniṣad 1.1.6
“It (Brahman) cannot be seen, seized, has no name, no form...”
Brahman tidak dapat dikurung oleh nama atau rupa, bahkan oleh nama “Kṛṣṇa” sekalipun.
Jangan Bawa Tuhan Turun Menjadi Tokoh
Jangan hina Brahman dengan menjadikannya manusia.
Jangan klaim kebenaran absolut sambil mengabaikan sruti.
Jangan tuduh sesat mereka yang menyatu dengan ajaran sejati Vedānta.
Yang sesat bukanlah mereka yang menolak menyembah figur,
tapi mereka yang menghentikan perjalanan spiritual hanya pada figur.
Jadilah Pecinta Kebenaran, Bukan Pengikut Figur
Gītā dan Upaniṣad mengajarkan bahwa pembebasan adalah penyadaran diri sebagai Brahman, bukan bersujud pada tubuh atau tokoh.
Jadi bila ada yang berkata:
“Kalau kamu tidak menyembah Kṛṣṇa sebagai Tuhan manusia, kamu sesat!”
Jawablah:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar