Mengapa Avatāra adalah Konsep Sastrawi, Bukan Teologi Vedāntik
Ketika Puisi Dianggap Wahyu
Banyak sekte hari ini—terutama Hare Krishna dan pengikut Sai Baba—menyebarkan keyakinan bahwa Tuhan “turun ke bumi” sebagai manusia atau avatāra.
-
Krishna disembah sebagai Tuhan literal karena Bhagavad Gītā dan Purāṇa.
-
Caitanya dianggap Krishna yang lahir kembali.
-
Sai Baba diklaim sebagai Viṣṇu dalam wujud manusia modern.
Tapi mari kita jujur dan tegas:
Konsep avatāra bukan doktrin Sruti. Ia lahir dari sastra mitologis, bukan dari ajaran Vedāntik murni.
Sruti (Upaniṣad) Tidak Pernah Mengajarkan Tuhan Turun ke Dunia
Seluruh Upaniṣad—yang merupakan wahyu tertua dan tertinggi (śruti)—tidak pernah menyebut satu pun tokoh avatāra.
Justru, Tuhan digambarkan sebagai:
-
Tidak lahir:
"na jāyate na mriyate vā kadācin..." – Kaṭha Upaniṣad 2.18
-
Tak berbentuk:
"apāṇi-pādo javano grahītā..." – Śvetāśvatara Upaniṣad 3.19
“Ia tidak memiliki tangan maupun kaki, tapi Ia menjangkau segalanya.”
-
Melampaui nama dan bentuk:
"neti neti" – Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 2.3.6
“Bukan ini, bukan itu.”
Jadi, Tuhan dalam Vedānta bukan figur yang lahir dan mati. Ia adalah Kesadaran Murni yang tak bisa dijadikan objek penyembahan dalam bentuk fisik.
Konsep Avatāra Muncul dalam Smṛti, Bukan Sruti
Mari kita bedakan:
| Sruti | Smṛti |
|---|---|
| Wahyu murni (Upaniṣad, Veda) | Cerita dan ajaran sekunder (Purāṇa, Itihāsa) |
| Non-dual, nirākāra, transenden | Dualistik, penuh bentuk, kisah, dan moralitas |
| Fokus pada penyadaran Ātman = Brahman | Fokus pada kisah dewa-dewi dan avatāra |
Konsep avatāra muncul dalam Viṣṇu Purāṇa, Bhāgavata Purāṇa, dan Mahābhārata, sebagai gaya literasi untuk mengilustrasikan kekuatan ilahi dalam bentuk naratif.
Itu artinya, avatāra adalah simbol puisi teologis, bukan realitas metafisik dalam Vedānta.
Mengapa Vedānta Menolak Tuhan Berwujud (Saguṇa)
Vedānta (khususnya Advaita) menyatakan:
"brahma satyaṁ, jagan mithyā, jīvo brahmaiva nāparaḥ"
“Hanya Brahman yang nyata, dunia ini ilusi, dan jīva tidak berbeda dari Brahman.”
Kalau kamu percaya Krishna sebagai avatāra literal dan menyembah tubuh atau kisahnya, kamu sedang terjebak dalam jagat (dunia) yang sifatnya mithyā (semu).
Sebaliknya, Yoga dan jñāna menuntun kita untuk menyadari bahwa Tuhan bukan “turun”, tapi “dikenali” sebagai Diri Sejati (Ātman).
Avatāra: Alegori Bukan Inkarnasi
Apa fungsi sesungguhnya kisah avatāra?
➡ Alegoris — untuk menggambarkan kekuatan dharma melawan adharma
➡ Sastrawi — untuk memberi semangat dan simbol moral
➡ Instruktif — untuk menginspirasi praktik etis dalam masyarakat
Tapi bukan untuk dijadikan teologi literal bahwa Tuhan beranak-pinak, lahir, makan, bermain seruling, naik vespa, atau mengucap “Aku Tuhan”.
Ketika konsep alegoris ini diambil secara literal, maka muncullah penyimpangan seperti:
-
Pengultusan tokoh sejarah
-
Pemujaan jasad manusia
-
Kepercayaan bahwa hanya tokoh itu yang bisa menyelamatkan dunia
Inilah yang menjadikan ajaran spiritual jatuh ke dalam kultus.
Mengapa Mempercayai Avatāra Literal Adalah Penyesatan Spiritualitas
Ketika kamu percaya bahwa Tuhan lahir sebagai manusia:
-
Kamu menciptakan dualitas abadi antara kamu dan Tuhan
-
Kamu menunda penyadaran bahwa Tuhan adalah Ātman dalam dirimu
-
Kamu menyembah ilusi alih-alih Kesadaran Murni
Itu artinya kamu tidak sedang menuju mokṣa, tapi menguatkan avidyā (ketidaktahuan).
Dan inilah yang diajarkan oleh banyak sekte: Hare Krishna, Sai Baba, dan sebagainya.
Mereka menjual “Tuhan berwujud” untuk memikat batin, tapi menutup jalan menuju Brahman.
Avatāra adalah Fiksi Religius, Bukan Realitas Spiritual
Upaniṣad tidak butuh avatāra.
Vedānta tidak mengenal Tuhan bertubuh.
Yoga tidak membutuhkan figur eksternal.
Yang dibutuhkan adalah:
-
Penyelidikan ke dalam
-
Keheningan batin
-
Pemahaman bahwa kamu adalah Itu (tat tvam asi)
Maka, jika kamu ingin jujur terhadap Sruti, berhentilah percaya bahwa Tuhan turun ke bumi dan berfoto.
Tuhan tidak lahir. Kesadaran tidak punya bentuk. Mokṣa bukan soal ke mana kamu bersujud, tapi ke dalam kamu sadar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar