Google+

Bhisma Parwa 1

Mahabharata 6.1

Bhisma Parwa 1

Pada mulanya, sebelum kisah besar itu dibuka, orang-orang bijak menundukkan kepala. Mereka menyebut nama Nārāyaṇa, menyebut Nara—manusia terbaik di antara manusia—dan memanggil Sarasvatī, ibu segala kata. Sebab cerita besar tak boleh dimulai dengan gegabah; ia harus lahir dari penghormatan. Lalu nama Vyāsa pun disebut, sang penenun sejarah, yang melihat masa lalu dan masa depan seperti orang melihat telapak tangannya sendiri. Dari sanalah kisah kemenangan—Jaya—mengalir.

Janamejaya, cucu para raja, mendengarkan dengan mata berbinar. Ia bertanya, seperti cucu yang penasaran pada kisah lama: bagaimana para pahlawan itu bertempur? Bagaimana para raja dari segala penjuru bumi berkumpul, meninggalkan istana dan kemewahan, lalu berdiri berhadapan di satu tanah bernama Kurukṣetra? Bagaimana Bhīṣma memimpin perang yang mengguncang dunia, dan bagaimana pasukan Kaurava berani menghadapi Bhīmasena yang menakutkan?

Vaiśaṃpāyana pun mulai berkisah.

Ia berkata bahwa Kurukṣetra bukan sekadar tanah lapang, melainkan medan suci, tempat tapa dan takdir bertemu. Ke sanalah para Pāṇḍava datang, bersama sekutu-sekutu mereka, dengan langkah mantap dan hati yang sudah siap. Mereka tidak datang untuk bermain-main. Mereka datang dengan satu niat: menang—atau gugur. Mereka adalah para kesatria yang hafal Veda, namun juga mencintai denting senjata. Bagi mereka, hidup dan mati sama-sama mulia bila dijalani dengan wajah menghadap ke depan.

Di satu sisi medan, mereka berdiri menghadap barat. Di sisi lain, pasukan Dhṛtarāṣṭra menghadap timur. Dua lautan manusia saling menatap, dipisahkan oleh tanah yang sebentar lagi akan basah oleh keringat, darah, dan air mata. Yudhiṣṭhira, sang sulung yang berhati lembut namun berpunggung baja, mengatur segalanya dengan rapi. Ribuan perkemahan didirikan. Makanan, minuman, tanda pengenal, sandi rahasia—semua disiapkan, sebab perang sebesar ini tak bisa berjalan tanpa ketertiban.

Saat itu, bumi terasa aneh. Desa-desa sunyi. Jalan-jalan kosong. Yang tertinggal hanya anak-anak dan orang tua. Semua tenaga dunia seakan disedot ke satu titik. Selama matahari masih beredar di langit Jambudvīpa, selama itu pula para raja dan prajurit terus berdatangan, membentuk lingkaran raksasa yang melintasi sungai, gunung, dan hutan.

Duryodhana pun tampak, berdiri megah di tengah ribuan gajah, kepalanya dinaungi payung putih, saudara-saudaranya mengelilinginya. Ketika pasukan Pāṇḍava melihatnya, sorak pun meledak. Kerang ditiup, genderang dipukul, suara-suara itu mengguncang dada. Kṛṣṇa dan Arjuna, berdiri di atas kereta, meniup sangkakala ilahi. Suaranya bukan sekadar bunyi—ia adalah peringatan. Banyak prajurit Kaurava gemetar, seperti rusa yang mendengar auman singa dari balik hutan.

Debu pun bangkit ke udara. Matahari redup, seolah ikut menahan napas. Angin berembus kencang, hujan aneh turun, dan alam seakan ikut menjadi saksi bahwa sesuatu yang besar—terlalu besar untuk manusia—akan segera terjadi. Dua pasukan itu berdiri berhadapan, bergemuruh seperti dua samudra yang hendak bertabrakan di akhir zaman.

Namun sebelum senjata diayunkan, para kesatria membuat kesepakatan. Perang ini harus dijalani dengan aturan. Yang tak bersenjata tak boleh dibunuh. Yang lari tak dikejar. Kereta melawan kereta, gajah melawan gajah. Kusir, peniup kerang, dan pembawa beban dilindungi. Bila perang berhenti, permusuhan pun harus berhenti. Tidak ada dendam di luar medan.

Setelah perjanjian itu diucapkan, mereka saling memandang. Tidak dengan kebencian semata, tapi dengan kesadaran bahwa mereka semua sedang berdiri di ambang cerita besar—cerita yang kelak akan diceritakan kembali, dari mulut ke mulut, dari kakek ke cucu, selama dunia masih mau mendengar.

Dan malam pun turun di Kurukṣetra, dengan ribuan api unggun menyala, sementara takdir bersiap membuka halaman berikutnya.


Bhisma Parwa 1

MB 6.1.0* nārāyaṇaṃ namaskṛtya naraṃ caiva narottamam, devīṃ sarasvatīṃ caiva tato jayam udīrayet, vyāsaṃ vasiṣṭhanaptāraṃ śakteḥ pautram akalmaṣam, parāśarātmajaṃ vande śukatātaṃ taponidhim, vyāsāya viṣṇurūpāya vyāsarūpāya viṣṇave, namo vai brahmanidhaye vāsiṣṭhāya namo namaḥ

Setelah bersujud kepada Nārāyaṇa, kepada Nara—manusia utama di antara manusia—kepada Dewi Sarasvatī, barulah kemenangan (Jaya) dilantunkan.
Aku memuja Vyāsa: cicit Vasiṣṭha, cucu Śakti, putra Parāśara, ayah Śuka, suci tanpa noda, gudang tapa.
Sujud kepada Vyāsa yang berwujud Viṣṇu, dan kepada Viṣṇu yang menjelma sebagai Vyāsa; sujud berulang kepada penyimpan Brahman, keturunan Vasiṣṭha yang agung.


MB 6.1.1 janamejaya uvāca: kathaṃ yuyudhire vīrāḥ kurupāṇḍavasomakāḥ, pārthivāś ca mahābhāgā nānādeśasamāgatāḥ

Janamejaya berkata:
“Bagaimanakah para pahlawan Kuru, Pāṇḍava, dan Somaka bertempur?
Bagaimanakah para raja mulia dari berbagai negeri berkumpul dan beradu di medan perang?”


MB 6.1.1* pratyayudhyanta samare bhīṣmeṇāmitrakarṣiṇā, kathaṃ vā kauravāḥ sarve bhīmasene camūpatau, niveśaṃ cakrire yoddhuṃ tan me śaṃsa mahāmate

“Bagaimanakah mereka saling menyerang di bawah Bhīṣma, penarik musuh ke dalam kehancuran?
Bagaimanakah para Kaurava menyusun barisan melawan Bhīmasena sang panglima?
Ceritakanlah kepadaku semua itu, wahai orang bijaksana.”


MB 6.1.2 vaiśaṃpāyana uvāca: yathā yuyudhire vīrāḥ kurupāṇḍavasomakāḥ, kurukṣetre tapaḥkṣetre śṛṇu tat pṛthivīpate

Vaiśaṃpāyana berkata:
“Dengarkanlah, wahai raja bumi, bagaimana para pahlawan Kuru, Pāṇḍava, dan Somaka bertempur di Kurukṣetra, medan suci tapa.”


MB 6.1.3 avatīrya kurukṣetraṃ pāṇḍavāḥ sahasomakāḥ, kauravān abhyavartanta jigīṣanto mahābalāḥ

Turun ke Kurukṣetra, para Pāṇḍava bersama Somaka menghadang Kaurava, perkasa dan bertekad meraih kemenangan.


MB 6.1.4 vedādhyayanasaṃpannāḥ sarve yuddhābhinandinaḥ, āśaṃsanto jayaṃ yuddhe vadhaṃ vābhimukhā raṇe

Semua terpelajar dalam Veda, semua menyukai peperangan, mengharapkan kejayaan—atau kematian—di hadapan laga.


MB 6.1.4* pūrvabhāge tu kṣetrasya sthitāḥ pratyaṅmukhā yudhi

Di bagian timur medan, mereka berdiri menghadap barat siap bertempur.


MB 6.1.5 abhiyāya ca durdharṣāṃ dhārtarāṣṭrasya vāhinīm, prāṅmukhāḥ paścime bhāge nyaviśanta sasainikāḥ

Mendekati pasukan Dhṛtarāṣṭra yang sulit ditaklukkan, mereka berkemah di sisi barat, menghadap timur, lengkap dengan bala tentara.


MB 6.1.6 samantapañcakād bāhyaṃ śibirāṇi sahasraśaḥ, kārayām āsa vidhivat kuntīputro yudhiṣṭhiraḥ

Di luar Samantapañcaka, Yudhiṣṭhira putra Kuntī memerintahkan pembangunan ribuan perkemahan menurut tata yang benar.


MB 6.1.7 śūnyeva pṛthivī sarvā bālavṛddhāvaśeṣitā, niraśvapuruṣā cāsīd rathakuñjaravarjitā

Bumi seakan kosong, tersisa anak-anak dan orang tua; tanpa kuda dan manusia, tanpa kereta dan gajah.


MB 6.1.8 yāvat tapati sūryo hi jambūdvīpasya maṇḍalam, tāvad eva samāvṛttaṃ balaṃ pārthivasattama

Selama matahari menyinari cakrawala Jambudvīpa, selama itu pula kekuatan para raja terkumpul sepenuhnya.


MB 6.1.9 ekasthāḥ sarvavarṇās te maṇḍalaṃ bahuyojanam, paryākrāmanta deśāṃś ca nadīḥ śailān vanāni ca

Semua varṇa berada di satu tempat, membentuk lingkaran luas bermil-mil, melintasi negeri, sungai, gunung, dan hutan.


MB 6.1.10 teṣāṃ yudhiṣṭhiro rājā sarveṣāṃ puruṣarṣabha, ādideśa savāhānāṃ bhakṣyabhojyam anuttamam

Yudhiṣṭhira, raja terbaik di antara manusia, memerintahkan penyediaan makanan dan minuman yang paling utama bagi seluruh pasukan.


MB 6.1.11 saṃjñāś ca vividhās tās tās teṣāṃ cakre yudhiṣṭhiraḥ, evaṃvādī veditavyaḥ pāṇḍaveyo 'yam ity uta

Ia menetapkan berbagai sandi dan tanda, agar dikenali: “Ini adalah Pāṇḍava.”


MB 6.1.12 abhijñānāni sarveṣāṃ saṃjñāś cābharaṇāni ca, yojayām āsa kauravyo yuddhakāla upasthite

Tanda pengenal dan perhiasan perang diatur bagi semua prajurit ketika saat perang telah dekat.


MB 6.1.13 dṛṣṭvā dhvajāgraṃ pārthānāṃ dhārtarāṣṭro mahāmanāḥ, saha sarvair mahīpālaiḥ pratyavyūhata pāṇḍavān

Melihat puncak panji Pāṇḍava, Duryodhana yang berhati besar bersama para raja menyusun barisan tandingan.


MB 6.1.14 pāṇḍureṇātapatreṇa dhriyamāṇena mūrdhani, madhye nāgasahasrasya bhrātṛbhiḥ parivāritam

Dengan payung putih di atas kepala, berdiri di tengah ribuan gajah, ia dikelilingi saudara-saudaranya.


MB 6.1.15 dṛṣṭvā duryodhanaṃ hṛṣṭāḥ sarve pāṇḍavasainikāḥ, dadhmuḥ sarve mahāśaṅkhān bherīr jaghnuḥ sahasraśaḥ

Melihat Duryodhana, pasukan Pāṇḍava bersukacita; mereka meniup kerang besar dan menabuh genderang ribuan kali.


MB 6.1.15* . . . . . . . . prahṛṣṭavadanaṃ tataḥ, āyodhanaṃ praviviśuḥ . . . . . . . .

Dengan wajah berseri, mereka pun memasuki medan laga.


MB 6.1.16 tataḥ prahṛṣṭāṃ svāṃ senām abhivīkṣyātha pāṇḍavāḥ, babhūvur hṛṣṭamanaso vāsudevaś ca vīryavān

Melihat pasukan mereka bergembira, para Pāṇḍava pun bersuka cita, demikian pula Vāsudeva yang perkasa.


MB 6.1.17 tato yodhān harṣayantau vāsudevadhanaṃjayau, dadhmatuḥ puruṣavyāghrau divyau śaṅkhau rathe sthitau

Kṛṣṇa dan Arjuna, dua harimau di antara manusia, meniup sangkakala ilahi dari atas kereta.


MB 6.1.18 pāñcajanyasya nirghoṣaṃ devadattasya cobhayoḥ, śrutvā savāhanā yodhāḥ śakṛnmūtraṃ prasusruvuḥ

Mendengar gemuruh Pāñcajanya dan Devadatta, para prajurit Kaurava gemetar ketakutan.


MB 6.1.19 yathā siṃhasya nadataḥ svanaṃ śrutvetare mṛgāḥ, traseyus tadvad evāsīd dhārtarāṣṭrabalaṃ tadā

Seperti binatang mendengar auman singa, demikianlah pasukan Dhṛtarāṣṭra diliputi gentar.


MB 6.1.20 udatiṣṭhad rajo bhaumaṃ na prājñāyata kiṃ cana, antardhīyata cādityaḥ sainyena rajasāvṛtaḥ

Debu bumi membubung tinggi, tak ada yang terlihat jelas; matahari pun tertutup oleh debu pasukan.


MB 6.1.21 vavarṣa cātra parjanyo māṃsaśoṇitavṛṣṭimān, vyukṣan sarvāṇy anīkāni tad adbhutam ivābhavat

Awan menurunkan hujan aneh, seakan hujan daging dan darah; seluruh barisan basah olehnya—suatu pertanda yang menggetarkan.


MB 6.1.22 vāyus tataḥ prādurabhūn nīcaiḥ śarkarakarṣaṇaḥ, vinighnaṃs tāny anīkāni vidhamaṃś caiva tad rajaḥ

Angin kencang berembus rendah, menyeret kerikil, menghantam barisan dan menyapu debu perang.


MB 6.1.23 ubhe sene tadā rājan yuddhāya mudite bhṛśam, kurukṣetre sthite yatte sāgarakṣubhitopame

Kedua pasukan bersukacita hendak berperang, berdiri di Kurukṣetra seperti samudra yang bergelora.


MB 6.1.24 tayos tu senayor āsīd adbhutaḥ sa samāgamaḥ, yugānte samanuprāpte dvayoḥ sāgarayor iva

Pertemuan dua pasukan itu sungguh ajaib, laksana dua samudra bertabrakan di akhir zaman.


MB 6.1.25 śūnyāsīt pṛthivī sarvā bālavṛddhāvaśeṣitā, tena senāsamūhena samānītena kauravaiḥ

Bumi kembali terasa kosong, karena seluruh bala tentara telah berkumpul di satu tempat.


MB 6.1.25* tatas te samayaṃ yuddhe syāt prītiś ca parasparam, samantān nagakalpena garjamānena *rvataḥ

Maka ditetapkanlah kesepakatan perang dan saling menghormati, di tengah gemuruh pasukan yang menyerupai kota besar.


MB 6.1.26 tatas te samayaṃ cakruḥ kurupāṇḍavasomakāḥ, dharmāṃś ca sthāpayām āsur yuddhānāṃ bharatarṣabha

Kuru, Pāṇḍava, dan Somaka membuat perjanjian perang dan menegakkan dharma dalam pertempuran.


MB 6.1.27 nivṛtte caiva no yuddhe prītiś ca syāt parasparam, yathāpuraṃ yathāyogaṃ na ca syāc chalanaṃ punaḥ

Bila perang berhenti, hendaklah ada persahabatan kembali; tiada penipuan, segala sesuatu kembali seperti sediakala.


MB 6.1.28 vācā yuddhe pravṛtte no vācaiva pratiyodhanam, niṣkrāntaḥ pṛtanāmadhyān na hantavyaḥ kathaṃ cana

Perang dimulai dengan isyarat, bukan dengan tipu daya; yang keluar dari barisan tidak boleh dibunuh.


MB 6.1.29 rathī ca rathinā yodhyo gajena gajadhūrgataḥ, aśvenāśvī padātiś ca padātenaiva bhārata

Kereta melawan kereta, gajah melawan gajah, kuda melawan kuda, infanteri melawan infanteri.


MB 6.1.30 yathāyogaṃ yathāvīryaṃ yathotsāhaṃ yathāvayaḥ, samābhāṣya prahartavyaṃ na viśvaste na vihvale

Menurut kekuatan, keberanian, usia, dan semangat, setelah saling menantang, barulah menyerang; bukan terhadap yang lengah atau ketakutan.


MB 6.1.31 pareṇa saha saṃyuktaḥ pramatto vimukhas tathā, kṣīṇaśastro vivarmā ca na hantavyaḥ kathaṃ cana

Yang terseret lawan, lalai, membelakangi, kehabisan senjata atau tanpa pelindung, tidak boleh dibunuh.


MB 6.1.32 na sūteṣu na dhuryeṣu na ca śastropanāyiṣu, na bherīśaṅkhavādeṣu prahartavyaṃ kathaṃ cana

Tidak boleh menyerang kusir, pembawa beban, pengangkut senjata, atau peniup genderang dan kerang.


MB 6.1.33 evaṃ te samayaṃ kṛtvā kurupāṇḍavasomakāḥ, vismayaṃ paramaṃ jagmuḥ prekṣamāṇāḥ parasparam

Dengan perjanjian itu, Kuru, Pāṇḍava, dan Somaka saling memandang dengan rasa takjub.


MB 6.1.34 niviśya ca mahātmānas tatas te puruṣarṣabhāḥ, hṛṣṭarūpāḥ sumanaso babhūvuḥ sahasainikāḥ

Setelah berkemah, para kesatria agung itu bersama bala tentaranya menjadi riang dan mantap hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar