Mahabharata 6.3
Bhisma Parwa 3
“Kau tahu, Nak,” kata sang kakek, “ada saatnya dunia memberi tanda sebelum ia berubah.”
Vyāsa, orang tua yang rambutnya memutih oleh pengetahuan, melihat tanda-tanda itu satu per satu. Bukan dengan rasa takut, melainkan dengan kesedihan yang tenang, seperti orang yang tahu badai akan datang, tetapi tak bisa lagi memanggil angin agar berhenti.
Ia melihat tatanan alam mulai terbalik. Keledai lahir dari sapi, dan anak-anak bermain seolah semuanya baik-baik saja. Pohon-pohon berbunga dan berbuah di luar musimnya, seakan lupa pada jam alam. Putri-putri raja melahirkan makhluk-makhluk yang mengerikan, burung pemakan bangkai dan binatang liar, seolah rahim manusia pun ikut diguncang oleh keganjilan zaman. Hewan-hewan lahir dengan bentuk yang tak pernah dikenal: berkepala dua, bertanduk ganjil, berkaki lebih atau kurang dari semestinya, bersuara sial sejak pertama kali membuka mulut.
Bahkan di dalam kota, keanehan tak berhenti. Ada perempuan yang melahirkan burung, ada kuda melahirkan anak sapi, anjing melahirkan serigala. Anak-anak yang baru lahir menari dan tertawa, seolah dunia ini permainan, padahal langit sedang runtuh perlahan. Bayi-bayi menyusu bernyanyi di rumah para pencuri, dan anak-anak kecil berlarian sambil membawa tongkat, mengepung kota seperti pasukan perang mini yang digerakkan oleh waktu itu sendiri.
Langit pun tak lagi setia pada jalurnya. Bumi gemetar tanpa henti. Matahari ditelan bayangan, bintang-bintang menyimpang dari tempatnya. Komet berasap berdiri di langit seperti paku kematian yang ditancapkan para dewa. Planet-planet saling menekan, saling menyimpang, dan cahaya bulan serta matahari pun kehilangan ketenangannya. Bahkan bintang yang biasanya menjadi lambang kesetiaan pun berbalik arah, seolah mengatakan: “Apa yang dulu kokoh, kini tak lagi pasti.”
Bumi tampak subur berlebihan—tanaman tumbuh tak wajar, biji-bijian berkepala banyak, hasil panen melimpah namun terasa hampa. Sapi-sapi, penyangga kehidupan manusia, mengeluarkan darah dari ambingnya, dan siapa pun yang melihatnya tahu: ini bukan pertanda rezeki, melainkan perpisahan. Pedang-pedang berkilat sendiri dari sarungnya, senjata seakan sadar bahwa tugasnya telah dekat. Panji-panji berasap, genderang memuntahkan bara, dan udara dipenuhi bau besi dan kematian yang belum terjadi, namun sudah terasa.
Burung-burung berteriak dengan suara yang membuat bulu kuduk berdiri. Ada yang terbang dengan satu sayap, satu mata, satu kaki, memuntahkan darah di malam hari sambil mengeluarkan suara murka. Langit dipenuhi cahaya merah, dua planet menyala menutupi cahaya para resi di rasi bintang, dan seakan-akan kebijaksanaan pun diselimuti api. Guruh menggelegar tanpa awan, dan hujan debu menutup segala arah. Pada waktu yang tak seharusnya, matahari dan bulan sama-sama tertelan bayangan, seolah waktu sendiri kehilangan hitungannya.
Lalu datanglah malam-malam yang paling mengerikan. Hujan daging jatuh dari langit. Sungai-sungai mengalir berlawanan arah dengan air bercampur darah. Sumur-sumur meraung seperti hewan terluka. Meteor jatuh berderai, memecah langit dengan suara kering yang membuat anak-anak menangis dalam tidur mereka. Gunung-gunung runtuh, samudra meluap, angin mencabut pohon-pohon suci dari akarnya, dan desa serta kota bergetar seperti daun kering.
Api persembahan berubah warna dan bau, sentuhan menjadi menyakitkan, rasa dan aroma saling tertukar. Burung bangkai bertengger di istana, di gerbang kota, di pucuk panji-panji raja. Kuda dan gajah menangis, gemetar, merasakan sesuatu yang manusia belum sepenuhnya berani ucapkan. Di rumah-rumah dan ladang, gundukan rayap dan sarang lebah muncul tanpa sebab, kandang-kandang dipenuhi burung, dan dunia seakan tak lagi mengenali dirinya sendiri.
Semua itu, kata Vyāsa, bukan sekadar untuk menakuti. Itu adalah panggilan agar manusia sadar bahwa waktunya telah sampai. Maka ia berkata dengan suara seorang ayah kepada anaknya: “Bertindaklah sesuai waktunya, agar dunia tidak runtuh sepenuhnya.”
Dhṛtarāṣṭra mendengarnya, dan kali ini ia tidak membantah. Ia hanya menarik napas panjang, seperti orang yang akhirnya menerima kenyataan pahit. “Semua ini telah ditetapkan sejak lama,” katanya. “Tak ada keraguan lagi.”
Dan di sanalah kisah itu berbelok, Nak. Dari ketakutan menuju penerimaan. Sang kakek selalu mengakhiri ceritanya dengan lembut: bila para kesatria gugur dengan memegang dharma, mereka tak jatuh sia-sia. Di dunia ini mereka dikenang, di dunia sana mereka berbahagia. Mereka yang menyerahkan nyawa di medan besar tidak kehilangan segalanya—mereka justru memperoleh dua dunia sekaligus.
Begitulah, cucuku. Ketika alam berteriak dan langit retak, bukan hanya kehancuran yang datang, tetapi juga pengingat: hidup ini singkat, dan yang tersisa hanyalah cara kita menjalaninya.
Bhisma Parva 3
MB 6.3.1 vyāsa uvāca: kharā goṣu prajāyante ramante mātṛbhiḥ sutāḥ, anārtavaṃ puṣpaphalaṃ darśayanti vane drumāḥ
Vyāsa berkata:
Keledai lahir dari kawanan sapi, anak-anak bersuka ria dengan induknya; pohon-pohon di hutan menampakkan bunga dan buah di luar musimnya.
MB 6.3.2 garbhiṇyo rājaputryaś ca janayanti vibhīṣaṇān, kravyādān pakṣiṇaś caiva gomāyūn aparān mṛgān
Putri-putri raja yang tengah mengandung melahirkan makhluk-makhluk mengerikan; burung pemakan bangkai, anjing hutan, dan binatang liar lainnya.
MB 6.3.3 triviṣāṇāś caturnetrāḥ pañcapādā dvimehanāḥ, dviśīrṣāś ca dvipucchāś ca daṃṣṭriṇaḥ paśavo 'śivāḥ
Hewan-hewan lahir dengan rupa tak wajar: bertanduk tiga, bermata empat, berkaki lima, berkepala dua, berekor dua, bertaring tajam—pertanda celaka.
MB 6.3.4 jāyante vivṛtāsyāś ca vyāharanto 'śivā giraḥ, tripadāḥ śikhinas tārkṣyāś caturdaṃṣṭrā viṣāṇinaḥ
Ada yang terlahir dengan mulut ternganga, mengeluarkan suara-suara sial; berkaki tiga, berjambul, menyerupai Garuḍa, bertaring empat dan bertanduk tajam.
MB 6.3.5 tathaivānyāś ca dṛśyante striyaś ca brahmavādinām, vainateyān mayūrāṃś ca janayantyaḥ pure tava
Demikian pula tampak perempuan-perempuan lain, bahkan istri para pengucap Brahman, melahirkan burung-burung vainateya dan burung merak di kotamu.
MB 6.3.6 govatsaṃ vaḍavā sūte śvā sṛgālaṃ mahīpate, krakarāñ śārikāś caiva śukāṃś cāśubhavādinaḥ
Kuda betina melahirkan anak sapi, anjing melahirkan serigala, wahai raja; burung krakara, burung śārikā, dan betet mengucapkan suara-suara malapetaka.
MB 6.3.7 striyaḥ kāś cit prajāyante catasraḥ pañca kanyakāḥ, tā jātamātrā nṛtyanti gāyanti ca hasanti ca
Ada perempuan yang melahirkan empat atau lima anak perempuan sekaligus; baru saja lahir, mereka menari, menyanyi, dan tertawa.
MB 6.3.8 pṛthagjanasya kuḍakāḥ stanapāḥ stenaveśmani, nṛtyanti parigāyanti vedayanto mahad bhayam
Anak-anak orang kebanyakan, masih menyusu, menari dan bernyanyi di rumah para pencuri, menyampaikan rasa takut yang besar.
MB 6.3.9 pratimāś cālikhanty anye saśastrāḥ kālacoditāḥ, anyonyam abhidhāvanti śiśavo daṇḍapāṇayaḥ, uparundhanti kṛtvā ca nagarāṇi yuyutsavaḥ
Sebagian orang melukis arca-arca bersenjata, didorong oleh waktu yang kejam; anak-anak berlarian saling menyerang dengan tongkat di tangan, mengepung kota-kota seperti hendak berperang.
MB 6.3.10 padmotpalāni vṛkṣeṣu jāyante kumudāni ca, viṣvagvātāś ca vānty ugrā rajo na vyupaśāmyati
Teratai dan bunga kumuda tumbuh di pepohonan, angin kencang berembus dari segala arah, dan debu tak juga mereda.
MB 6.3.11 abhīkṣṇaṃ kampate bhūmir arkaṃ rāhus tathāgrasat, śveto grahas tathā citrāṃ samatikramya tiṣṭhati
Vyāsa berkata:
Bumi bergetar tanpa henti, Rāhu menelan matahari; planet putih pun berdiri melampaui Citrā, tak pada tempat semestinya.
MB 6.3.12 abhāvaṃ hi viśeṣeṇa kurūṇāṃ pratipaśyati, dhūmaketur mahāghoraḥ puṣyam ākramya tiṣṭhati
Ia melihat dengan jelas kebinasaan Kuru, sebab komet berekor asap, amat mengerikan, menindih Puṣya
dan bertahan di sana.
MB 6.3.13 senayor aśivaṃ ghoraṃ kariṣyati mahāgrahaḥ, maghāsv aṅgārako vakraḥ śravaṇe ca bṛhaspatiḥ
Planet besar akan menimpakan malapetaka pada kedua pasukan; Aṅgāraka menyimpang di Maghā, dan Bṛhaspati terganggu di Śravaṇa.
MB 6.3.14 bhāgyaṃ nakṣatram ākramya sūryaputreṇa pīḍyate, śukraḥ proṣṭhapade pūrve samāruhya viśāṃ pate, uttare tu parikramya sahitaḥ pratyudīkṣate
Bintang keberuntungan tertekan oleh putra Matahari; Śukra naik di Proṣṭhapada Timur, wahai raja, lalu berputar di Proṣṭhapada Utara, menunggu dengan gerak tak wajar.
MB 6.3.15 śyāmo grahaḥ prajvalitaḥ sadhūmaḥ sahapāvakaḥ, aindraṃ tejasvi nakṣatraṃ jyeṣṭhām ākramya tiṣṭhati
Planet gelap menyala, berasap, disertai api, menekan nakṣatra Indra yang bercahaya—Jyeṣṭhā—dan menetap di sana.
MB 6.3.16 dhruvaḥ prajvalito ghoram apasavyaṃ pravartate, citrāsvātyantare caiva dhiṣṭhitaḥ paruṣo grahaḥ
Dhruva pun menyala dengan ngeri, bergerak menyimpang dari putaran wajar; di antara Citrā dan Svātī
planet kasar itu berdiam.
MB 6.3.16* rohiṇīṃ pīḍayaty evam ubhau ca śaśibhāskarau
Demikian pula Rohiṇī tertekan, dan kedua cahaya—Bulan dan Matahari—terganggu
MB 6.3.17 vakrānuvakraṃ kṛtvā ca śravaṇe pāvakaprabhaḥ, brahmarāśiṃ samāvṛtya lohitāṅgo vyavasthitaḥ
Dengan gerak berliku dan menyimpang di Śravaṇa, bercahaya seperti api, planet merah berdiam, mengepung rasi Brahma.
MB 6.3.18 sarvasasyapraticchannā pṛthivī phalamālinī, pañcaśīrṣā yavāś caiva śataśīrṣāś ca śālayaḥ
Bumi tertutup tanaman hingga penuh buah, namun jelai berkepala lima tumbuh, dan padi beratus kepala—pertanda tak wajar.
MB 6.3.19 pradhānāḥ sarvalokasya yāsv āyattam idaṃ jagat, tā gāvaḥ prasnutā vatsaiḥ śoṇitaṃ prakṣaranty uta
Sapi-sapi—penopang dunia, tempat kehidupan bergantung—mengalirkan darah dari ambingnya bersama anak-anaknya.
MB 6.3.20 niścerur apidhānebhyaḥ khaḍgāḥ prajvalitā bhṛśam, vyaktaṃ paśyanti śastrāṇi saṃgrāmaṃ samupasthitam
Pedang-pedang menyala keluar dari sarungnya, berkilat hebat; senjata-senjata seakan melihat dengan jelas bahwa perang telah dekat
MB 6.3.21 agnivarṇā yathā bhāsaḥ śastrāṇām udakasya ca, kavacānāṃ dhvajānāṃ ca bhaviṣyati mahān kṣayaḥ
Kilau senjata dan air tampak berwarna api; zirah dan panji-panji akan mengalami kehancuran besar.
MB 6.3.21* pṛthivī śoṇitāvartā dhvajoḍupasamākulā, kurūṇāṃ vaiśase rājan pāṇḍavaiḥ saha bhārata
Bumi berpusar oleh darah, penuh panji dan bintang, menuju pembantaian Kuru, wahai raja, bersama Pāṇḍava, wahai Bhārata.
MB 6.3.22 dikṣu prajvalitāsyāś ca vyāharanti mṛgadvijāḥ, atyāhitaṃ darśayanto vedayanti mahad bhayam
Di segala penjuru, binatang dan burung dengan wajah menyala berbicara ganjil, menunjukkan bahaya yang berlebihan dan menanamkan ketakutan besar.
MB 6.3.23 ekapakṣākṣicaraṇaḥ śakuniḥ khacaro niśi, raudraṃ vadati saṃrabdhaḥ śoṇitaṃ chardayan muhuḥ
Burung śakuni bermata, bersayap, dan berkaki satu terbang di malam hari, berkata garang dalam amarah, memuntahkan darah berulang ka
MB 6.3.24 grahau tāmrāruṇaśikhau prajvalantāv iva sthitau, saptarṣīṇām udārāṇāṃ samavacchādya vai prabhām
Dua planet berjambul tembaga-merah menyala seakan terbakar, menutupi cahaya para Saptaṛṣi yang luhur.
MB 6.3.25 saṃvatsarasthāyinau ca grahau prajvalitāv ubhau, viśākhayoḥ samīpasthau bṛhaspatiśanaiścarau
Kedua planet menyala itu bertahan selama setahun penuh, berdiri dekat Viśākhā—Bṛhaspati dan Śanaiścara.
MB 6.3.26 kṛttikāsu grahas tīvro nakṣatre prathame jvalan, vapūṃṣy apaharan bhāsā dhūmaketur iva sthitaḥ
Planet ganas menyala di Kṛttikā, nakṣatra pertama, merampas wujud dengan cahayanya, berdiri seperti komet berasap.
MB 6.3.26* viṣamaṃ vedayanty eta ākrandajananaṃ mahat
Semua ini menunjukkan ketidakteraturan, melahirkan jerit ratap yang besar.
MB 6.3.27 triṣu pūrveṣu sarveṣu nakṣatreṣu viśāṃ pate, budhaḥ saṃpatate 'bhīkṣṇaṃ janayan sumahad bhayam
Di tiga nakṣatra timur sekaligus, wahai raja, Budha jatuh berulang kali, menimbulkan ketakutan yang amat besar.
MB 6.3.28 caturdaśīṃ pañcadaśīṃ bhūtapūrvāṃ ca ṣoḍaśīm, imāṃ tu nābhijānāmi amāvāsyāṃ trayodaśīm
Hari keempat belas, kelima belas, dan keenam belas pernah terjadi sebelumnya; tetapi Amāvāsyā pada hari ketiga belas ini tak pernah kukenal.
MB 6.3.29 candrasūryāv ubhau grastāv ekamāse trayodaśīm, aparvaṇi grahāv etau prajāḥ saṃkṣapayiṣyataḥ
Bulan dan Matahari keduanya tertelan dalam satu bulan, pada hari ketiga belas; gerhana di luar waktu ini akan memusnahkan umat manusia.
MB 6.3.30 rajovṛtā diśaḥ sarvāḥ pāṃsuvarṣaiḥ samantataḥ, utpātameghā raudrāś ca rātrau varṣanti śoṇitam
Seluruh penjuru tertutup debu, hujan pasir turun dari segala arah; awan pertanda yang mengerikan menurunkan hujan darah di malam hari.
MB 6.3.31 māṃsavarṣaṃ punas tīvram āsīt kṛṣṇacaturdaśīm, ardharātre mahāghoram atṛpyaṃs tatra rākṣasāḥ
Vyāsa berkata:
Hujan daging kembali turun dengan dahsyat pada malam keempat belas bulan gelap; tengah malam itu amat mengerikan, para rākṣasa pun tak pernah kenyang olehnya.
MB 6.3.32 pratisroto 'vahan nadyaḥ saritaḥ śoṇitodakāḥ, phenāyamānāḥ kūpāś ca nardanti vṛṣabhā iva, patanty ulkāḥ sanirghātāḥ śuṣkāśanivimiśritāḥ
Sungai-sungai mengalir berlawanan arah, airnya bercampur darah; sumur-sumur berbuih dan meraung seperti banteng mengamuk. Meteor-meteor berjatuhan dengan dentuman, disertai petir kering yang memecah langit.
MB 6.3.33 adya caiva niśāṃ vyuṣṭām udaye bhānur āhataḥ, jvalantībhir maholkābhiś caturbhiḥ sarvatodiśam
Pagi hari baru saja merekah, namun matahari telah terluka, dihantam empat meteor raksasa yang menyala dari segala penjuru.
MB 6.3.34 ādityam upatiṣṭhadbhis tatra coktaṃ maharṣibhiḥ, bhūmipālasahasrāṇāṃ bhūmiḥ pāsyati śoṇitam
Para resi yang berdiri menghadap matahari berkata:
“Bumi akan meminum darah ribuan raja dan penguasa.”
MB 6.3.35 kailāsamandarābhyāṃ tu tathā himavato gireḥ, sahasraśo mahāśabdaṃ śikharāṇi patanti ca
Dari Kailāsa dan Mandara, juga dari pegunungan Himālaya, puncak-puncak gunung runtuh dengan suara menggelegar, ribuan jumlahnya.
MB 6.3.36 mahābhūtā bhūmikampe caturaḥ sāgarān pṛthak, velām udvartayanti sma kṣobhayantaḥ punaḥ punaḥ
Keempat samudra bergolak hebat oleh gempa bumi yang dahsyat, ombak-ombak melampaui batas pantainya, terus-menerus mengamuk.
MB 6.3.37 vṛkṣān unmathya vānty ugrā vātāḥ śarkarakarṣiṇaḥ, patanti caityavṛkṣāś ca grāmeṣu nagareṣu ca
Angin kencang berembus liar, mencabut pepohonan dan menyeret batu; pohon-pohon suci pun tumbang di desa-desa dan kota-kota.
MB 6.3.37* ābhagnāḥ sumahāvātair aśanībhiḥ samāhatāḥ
Semua itu patah dan hancur oleh angin besar dan sambaran petir.
MB 6.3.38 pītalohitanīlaś ca jvalaty agnir huto dvijaiḥ, vāmārciḥ śāvagandhī ca dhūmaprāyaḥ kharasvanaḥ, sparśā gandhā rasāś caiva viparītā mahīpate
Api persembahan berubah warna—kuning, merah, dan biru—nyalanya condong ke kiri, berbau bangkai,
berasap tebal dan bersuara kasar. Sentuhan, bau, dan rasa pun terbalik, wahai raja.
MB 6.3.39 dhūmāyante dhvajā rājñāṃ kampamānā muhur muhuḥ, muñcanty aṅgāravarṣāṇi bheryo 'tha paṭahās tathā
Panji-panji para raja berasap dan berguncang terus-menerus; genderang dan tambur memuntahkan hujan bara api.
MB 6.3.40 prāsādaśikharāgreṣu puradvāreṣu caiva hi, gṛdhrāḥ paripatanty ugrā vāmaṃ maṇḍalam āśritāḥ
Di puncak istana dan di gerbang kota, burung-burung bangkai beterbangan ganas, mengitari arah kiri yang membawa alamat celaka.
MB 6.3.41 pakvāpakveti subhṛśaṃ vāvāśyante vayāṃsi ca, nilīyante dhvajāgreṣu kṣayāya pṛthivīkṣitām
Burung-burung menjerit keras, seolah berseru “masak—busuk”; mereka hinggap di pucuk panji-panji, alamat kehancuran para raja di bumi.
MB 6.3.42 dhyāyantaḥ prakirantaś ca vālān vepathusaṃyutāḥ, rudanti dīnās turagā mātaṅgāś ca sahasraśaḥ
Kuda-kuda gemetar, mengibaskan ekornya dengan ketakutan, menangis pilu; gajah-gajah pun meraung ribuan jumlahnya.
MB 6.3.42* gṛhakṣa[?kṣe]trakhalādyeṣu valmīkā madhukāni ca, hastyaśvarathaśālās tu [?su] kapotāś cāśritās tathā, ete cānye ca bahava utpātā ghoradarśanāḥ, pṛthivīpālalokānāṃ sarve vai nāśakārakāḥ, evaṃvidhaṃ durnimittaṃ kṣayāya pṛthivīkṣitām, bhaumaṃ divyaṃ cāntarikṣaṃ trividhaṃ jāyate 'niśam
Di rumah-rumah, ladang, dan halaman, gundukan rayap dan sarang lebah bermunculan; kandang gajah, kuda, dan kereta dipenuhi burung merpati. Ini dan banyak pertanda lain yang mengerikan menjadi alamat kebinasaan para penguasa bumi. Pertanda buruk itu muncul tanpa henti—dari bumi, langit, dan angkasa, tiga lapis sekaligus.
MB 6.3.43 etac chrutvā bhavān atra prāptakālaṃ vyavasyatām, yathā lokaḥ samucchedaṃ nāyaṃ gaccheta bhārata
Mendengar semua ini, hendaklah engkau mengambil keputusan pada waktunya, agar dunia tidak melaju menuju kehancuran total, wahai Bhārata.
MB 6.3.44 vaiśaṃpāyana uvāca: pitur vaco niśamyaitad dhṛtarāṣṭro 'bravīd idam, diṣṭam etat purā manye bhaviṣyati na saṃśayaḥ
Vaiśaṃpāyana berkata:
Mendengar kata-kata ayahnya itu,
Dhṛtarāṣṭra berkata:
“Aku tahu, semua ini telah ditetapkan sejak dahulu; tanpa ragu, semua ini akan terjadi.”
MB 6.3.45 kṣatriyāḥ kṣatradharmeṇa vadhyante yadi saṃyuge, vīralokaṃ samāsādya sukhaṃ prāpsyanti kevalam
Jika para kesatria gugur sesuai dharma kesatria di medan perang, mereka akan mencapai alam para pahlawan dan menikmati kebahagiaan sejati.
MB 6.3.46 iha kīrtiṃ pare loke dīrghakālaṃ mahat sukham, prāpsyanti puruṣavyāghrāḥ prāṇāṃs tyaktvā mahāhave
Di dunia ini mereka meraih kemasyhuran, di dunia sana kebahagiaan besar dan panjang; para harimau manusia itu, setelah mengorbankan nyawa di pertempuran dahsyat, akan memperoleh keduanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar