Google+

Bhisma Parwa 4

Mahabharata 6.4

Bhisma Parwa 4

Setelah menyingkapkan rahasia dunia dan tanda-tanda zaman, Vyāsa terdiam sejenak. Sang resi tua itu, yang memahami hakikat hidup seperti orang membaca garis di telapak tangannya sendiri, memandang Dhṛtarāṣṭra—anaknya—dengan iba yang dalam. Lalu ia masuk kembali ke keheningan tapa, seolah menata ulang kata-kata yang paling sulit diucapkan kepada seorang ayah.

Tak lama kemudian, ia berbicara lagi. Suaranya lembut, tetapi tegas, seperti orang tua yang tahu bahwa waktu tak bisa dibujuk. Ia berkata bahwa waktu adalah penguasa sejati: ia memadatkan dunia, menghancurkannya, lalu menciptakannya kembali. Tak ada yang kekal—bukan keluarga Kuru, bukan sahabat, bukan kekuasaan. Semua bergerak, semua berlalu.

Karena itu, Vyāsa menasihati: tunjukkanlah jalan dharma. Jangan biarkan pembunuhan sanak keluarga menjadi pilihan, sebab itu hina dan tak pernah dipuji kitab suci. “Waktu itu sendiri,” katanya lirih, “telah lahir sebagai putramu.” Tetapi walau waktu mendesak, manusia tetap punya pilihan untuk berjalan lurus. Kekuasaan yang membawa penderitaan, seindah apa pun rupanya, sebaiknya dilepaskan. Apa arti kerajaan bila justru menyeret hati ke dalam dosa?

Ia meminta Dhṛtarāṣṭra membuka mata dan menunjukkan dharma kepada putra-putranya. Lebih baik menyerahkan kerajaan kepada Pāṇḍava dan membawa Kaurava menuju ketenteraman, daripada memelihara api yang akan membakar semuanya. Ia bahkan berjanji akan menahan Yudhiṣṭhira dan Bhīma bila perang benar-benar pecah—sebuah janji seorang kakek yang ingin melindungi cucu-cucunya dari kesalahan yang sama.

Dhṛtarāṣṭra mendengar semuanya. Ia menjawab dengan kejujuran yang pahit: ia tahu apa yang benar, tetapi dunia—dan dirinya—sering dibingungkan oleh kepentingan sendiri. Ia memohon belas kasih, mengakui Vyāsa sebagai dharma itu sendiri, sebagai kehormatan, ingatan, dan penopang keluarga. “Lakukanlah apa yang benar,” katanya, “tak ada yang lebih pantas kuikuti selain engkau.”

Vyāsa pun berkata, “Katakanlah apa yang menggelisahkan hatimu.” Dan sang raja bertanya tentang kemenangan—bukan tentang senjata, melainkan tanda-tandanya. Maka Vyāsa menjelaskan dengan sabar, seperti kakek yang mengajarkan cucunya membaca alam: api yang jernih dan harum, suara kerang dan genderang yang mantap, wajah prajurit yang cerah, angin yang mengiringi langkah, burung-burung yang terbang ke arah baik. Kegembiraan para prajurit, katanya, adalah tanda paling pasti. Bukan jumlah pasukan, bukan kilau senjata.

Ia lalu mengingatkan tentang rapuhnya perang. Satu celah kecil bisa merobek pasukan raksasa. Ketika barisan pecah, ketakutan menular seperti api di padang kering. Bahkan pahlawan terbesar tak mampu menyatukan kembali pasukan yang telah tercerai. Karena itu, siasat lebih utama daripada bentrokan; kemenangan karena pertempuran semata adalah yang paling rendah, sebab ia membawa cacat dan kehancuran.

Dan akhirnya, sang kakek menutup kisahnya dengan pelajaran paling sunyi: kemenangan tidak lahir dari banyaknya orang. Takdir selalu ikut berbicara. Bahkan mereka yang menang sering tetap kehilangan sesuatu. Maka yang patut dijaga bukan hanya hasil, melainkan cara—agar ketika cerita ini diceritakan kembali kepada anak cucu, ia menjadi kisah kebijaksanaan, bukan sekadar kisah darah dan air mata.

Bhisma Parva 4

MB 6.4.1 vaiśaṃpāyana uvāca: evam ukto munis tattvaṃ kavīndro rājasattama, putreṇa dhṛtarāṣṭreṇa dhyānam anvagamat param

Vaiśaṃpāyana berkata:
Setelah berkata demikian, sang resi memahami hakikat segala sesuatu; penyair agung itu, wahai raja utama, melihat Dhṛtarāṣṭra—putranya—lalu tenggelam kembali dalam samādhi tertinggi.


MB 6.4.2 punar evābravīd vākyaṃ kālavādī mahātapāḥ, asaṃśayaṃ pārthivendra kālaḥ saṃkṣipate jagat

Sekali lagi sang mahātapā, pengucap hukum waktu, berkata:
“Tanpa ragu, wahai raja bumi, waktu menyusutkan dunia ini.”


MB 6.4.3 sṛjate ca punar lokān neha vidyati śāśvatam, jñātīnāṃ ca kurūṇāṃ ca saṃbandhisuhṛdāṃ tathā

“Ia mencipta kembali dunia-dunia, tak ada yang abadi di sini—baik sanak keluarga Kuru, maupun kerabat dan sahabat mereka.”


MB 6.4.4 dharmyaṃ deśaya panthānaṃ samartho hy asi vāraṇe, kṣudraṃ jñātivadhaṃ prāhur mā kuruṣva mamāpriyam

“Tunjukkanlah jalan yang sesuai dharma, engkau mampu menahan kejahatan ini. Pembunuhan kerabat disebut hina; jangan lakukan sesuatu yang tak kusukai.”


MB 6.4.5 kālo 'yaṃ putrarūpeṇa tava jāto viśāṃ pate, na vadhaḥ pūjyate vede hitaṃ naitat kathaṃ cana

“Waktu itu sendiri telah lahir sebagai putramu, wahai raja; pembunuhan tak pernah dipuji dalam Weda, tak membawa kebaikan sedikit pun.”


MB 6.4.6 hanyāt sa eva yo hanyāt kuladharmaṃ svakāṃ tanum, kālenotpathagantāsi śakye sati yathāpathi

“Yang pantas dibunuh hanyalah ia yang membunuh dharma keluarganya sendiri; jangan menyimpang mengikuti arus waktu bila masih mungkin berjalan di jalan yang benar.”


MB 6.4.7 kulasyāsya vināśāya tathaiva ca mahīkṣitām, anartho rājyarūpeṇa tyajyatām asukhāvahaḥ

“Malapetaka yang menjelma sebagai kekuasaan hendaklah ditinggalkan, karena ia membawa kehancuran keluarga ini dan para raja di bumi.”


MB 6.4.8 luptaprajñaḥ pareṇāsi dharmaṃ darśaya vai sutān, kiṃ te rājyena durdharṣa yena prāpto 'si kilbiṣam

“Engkau telah kehilangan kejernihan oleh pengaruh luar; tunjukkanlah dharma kepada putra-putramu. Apa guna kerajaan yang sukar dijaga, bila justru menyeretmu ke dalam dosa?”


MB 6.4.9 yaśo dharmaṃ ca kīrtiṃ ca pālayan svargam āpsyasi, labhantāṃ pāṇḍavā rājyaṃ śamaṃ gacchantu kauravāḥ

“Dengan menjaga dharma, kehormatan, dan kemasyhuran, engkau akan mencapai surga. Biarlah Pāṇḍava memperoleh kerajaan, dan Kaurava mencapai ketenteraman.”


MB 6.4.9* yudhiṣṭhiraṃ ca bhīmaṃ ca vārayiṣyāmi saṃyuge

“Aku sendiri akan menahan Yudhiṣṭhira dan Bhīma bila perang pecah.”


MB 6.4.10 evaṃ bruvati viprendre dhṛtarāṣṭro 'mbikāsutaḥ, ākṣipya vākyaṃ vākyajño vākpathenāpy ayāt punaḥ

Ketika brahmana utama berkata demikian, Dhṛtarāṣṭra, putra Ambikā, menyela dengan jawaban yang cermat, menempuh kembali jalan kata-kata.


MB 6.4.11 dhṛtarāṣṭra uvāca: yathā bhavān veda tathāsmi vettā; bhāvābhāvau viditau me yathāvat, svārthe hi saṃmuhyati tāta loko; māṃ cāpi lokātmakam eva viddhi

Dhṛtarāṣṭra berkata:
“Apa yang engkau ketahui, aku pun mengetahuinya; ada dan tiada telah kupahami sebagaimana mestinya. Manusia, wahai ayah, memang kerap bingung oleh kepentingan diri; anggaplah aku pun cermin dari dunia ini.”


MB 6.4.12 prasādaye tvām atulaprabhāvaṃ; tvaṃ no gatir darśayitā ca dhīraḥ, na cāpi te vaśagā me maharṣe; na kalmaṣaṃ kartum ihārhase mām

“Aku memohon belas kasihmu, wahai yang bercahaya tiada banding; engkaulah jalan kami dan penunjuk yang bijak. Namun aku tak sepenuhnya berada di bawah kehendakmu, wahai resi; jangan engkau anggap aku layak dicemari dosa.”


MB 6.4.13 tvaṃ hi dharmaḥ pavitraṃ ca yaśaḥ kīrtir dhṛtiḥ smṛtiḥ, kurūṇāṃ pāṇḍavānāṃ ca mānyaś cāsi pitāmahaḥ

“Engkau adalah dharma itu sendiri—kesucian, kehormatan, kemasyhuran, keteguhan, dan ingatan; bagi Kuru dan Pāṇḍava, engkau adalah leluhur yang dimuliakan.”


MB 6.4.13* kuruṣva kāryaṃ yat satyaṃ tvatto mānyo na vidyate

“Lakukanlah apa yang benar; tak ada yang lebih layak dihormati selain dirimu.”


MB 6.4.14 vyāsa uvāca: vaicitravīrya nṛpate yat te manasi vartate, abhidhatsva yathākāmaṃ chettāsmi tava saṃśayam

Vyāsa berkata:
“Wahai raja Vaicitravīrya, apa pun yang ada di hatimu, katakanlah. Aku akan memotong keraguanmu.”


MB 6.4.15 dhṛtarāṣṭra uvāca: yāni liṅgāni saṃgrāme bhavanti vijayiṣyatām, tāni sarvāṇi bhagavañ śrotum icchāmi tattvataḥ

Dhṛtarāṣṭra berkata:
“Wahai Bhagavān, aku ingin mendengar dengan sebenar-benarnya tanda-tanda kemenangan dalam perang.”


MB 6.4.16 vyāsa uvāca: prasannabhāḥ pāvaka ūrdhvaraśmiḥ; pradakṣiṇāvartaśikho vidhūmaḥ, puṇyā gandhāś cāhutīnāṃ pravānti; jayasyaitad bhāvino rūpam āhuḥ

Vyāsa berkata:
“Api tampak jernih dan berseri, lidah apinya berputar ke kanan tanpa asap; aroma persembahan menjadi harum—itulah rupa kemenangan yang akan datang.”


MB 6.4.17 gambhīraghoṣāś ca mahāsvanāś ca; śaṅkhā mṛdaṅgāś ca nadanti yatra, viśuddharaśmis tapanaḥ śaśī ca; jayasyaitad bhāvino rūpam āhuḥ

“Di mana kerang dan genderang bergemuruh dalam-dalam, matahari dan bulan bersinar bening—itulah tanda kemenangan.”


MB 6.4.18 iṣṭā vācaḥ pṛṣṭhato vāyasānāṃ; saṃprasthitānāṃ ca gamiṣyatāṃ ca, ye pṛṣṭhatas te tvarayanti rājan; ye tv agratas te pratiṣedhayanti

“Bila suara burung gagak terdengar dari belakang, mereka yang telah berangkat akan dipercepat jalannya; yang bersuara di depan, justru menghalangi—demikian pertandanya, wahai raja.”


MB 6.4.19 kalyāṇavācaḥ śakunā rājahaṃsāḥ; śukāḥ krauñcāḥ śatapatrāś ca yatra, pradakṣiṇāś caiva bhavanti saṃkhye; dhruvaṃ jayaṃ tatra vadanti viprāḥ

“Burung-burung pembawa suara baik—angsa raja, betet, bangau—bila bergerak ke kanan di medan laga, para brahmana menyatakan: kemenangan telah pasti.”


MB 6.4.20 alaṃkāraiḥ kavacaiḥ ketubhiś ca; mukhaprasādair hemavarṇaiś ca nṝṇām, bhrājiṣmatī duṣpratiprekṣaṇīyā; yeṣāṃ camūs te vijayanti śatrūn

“Pasukan yang bersinar oleh perhiasan, zirah, dan panji, wajah-wajahnya cerah bagai emas, berkilau dan sukar ditatap—merekalah yang menundukkan musuh.”


MB 6.4.21 hṛṣṭā vācas tathā sattvaṃ yodhānāṃ yatra bhārata, na mlāyante srajaś caiva te taranti raṇe ripūn

“Di mana para prajurit bersuara riang dan berhati teguh, untaian bunga tak layu—mereka menyeberangi medan dan menaklukkan lawan.”


MB 6.4.22 iṣṭo vātaḥ praviṣṭasya dakṣiṇā pravivikṣataḥ, paścāt saṃsādhayaty arthaṃ purastāt pratiṣedhate

“Angin yang menyenangkan dari kanan menyertai pasukan yang maju; yang datang dari depan menghalangi, yang dari belakang justru menyempurnakan tujuan.”


MB 6.4.23 śabdarūparasasparśagandhāś cāviṣkṛtāḥ śubhāḥ, sadā yodhāś ca hṛṣṭāś ca yeṣāṃ teṣāṃ dhruvaṃ jayaḥ

“Bila bunyi, rupa, rasa, sentuhan, dan aroma tampak baik dan jelas, dan para prajurit selalu gembira—kemenangan pasti bagi mereka.”


MB 6.4.24 anv eva vāyavo vānti tathābhrāṇi vayāṃsi ca, anuplavante meghāś ca tathaivendradhanūṃṣi ca

“Angin, awan, burung-burung, hujan, bahkan pelangi, mengikuti mereka yang akan menang.”


MB 6.4.25 etāni jayamānānāṃ lakṣaṇāni viśāṃ pate, bhavanti viparītāni mumūrṣūṇāṃ janādhipa

“Itulah tanda-tanda kemenangan, wahai raja; bagi mereka yang akan binasa, tanda-tanda itu muncul terbalik.”


MB 6.4.26 alpāyāṃ vā mahatyāṃ vā senāyām iti niścitam, harṣo yodhagaṇasyaikaṃ jayalakṣaṇam ucyate

“Baik pasukan kecil maupun besar, satu tanda kemenangan yang pasti adalah kegembiraan para prajurit.”


MB 6.4.27 eko dīrṇo dārayati senāṃ sumahatīm api, taṃ dīrṇam anudīryante yodhāḥ śūratamā api

“Satu celah kecil saja dapat merobek pasukan yang amat besar; dan para prajurit paling berani pun akan mengikuti keretakan itu.”


MB 6.4.28 durnivāratamā caiva prabhagnā mahatī camūḥ, apām iva mahāvegas trastā mṛgagaṇā iva

“Pasukan besar yang telah pecah sukar dihentikan; ia mengalir deras seperti air bah, lari ketakutan seperti kawanan rusa.”


MB 6.4.29 naiva śakyā samādhātuṃ saṃnipāte mahācamūḥ, dīrṇā ity eva dīryante yodhāḥ śūratamā api, bhītān bhagnāṃś ca saṃprekṣya bhayaṃ bhūyo vivardhate

“Di tengah pertempuran, pasukan yang telah retak tak bisa dipulihkan; melihat yang gentar dan tercerai-berai, ketakutan pun berlipat ganda.”


MB 6.4.30 prabhagnā sahasā rājan diśo vibhrāmitā paraiḥ, naiva sthāpayituṃ śakyā śūrair api mahācamūḥ

“Bila pasukan tercerai tiba-tiba dan tercerabut ke segala arah, tak seorang pahlawan pun mampu menegakkannya kembali.”


MB 6.4.31 saṃbhṛtya mahatīṃ senāṃ caturaṅgāṃ mahīpatiḥ, upāyapūrvaṃ medhāvī yateta satatotthitaḥ

“Karena itu, raja bijaksana hendaknya memimpin pasukan empat unsur dengan siasat dan kesiagaan.”


MB 6.4.31* śaknoti na samādhātuṃ dīrṇām indrasamo yudhi

“Bahkan yang setara Indra dalam perang tak sanggup merapikan pasukan yang telah pecah.”


MB 6.4.32 upāyavijayaṃ śreṣṭham āhur bhedena madhyamam, jaghanya eṣa vijayo yo yuddhena viśāṃ pate, mahādoṣaḥ saṃnipātas tato vyaṅgaḥ sa ucyate

“Kemenangan melalui siasat adalah yang utama, melalui perpecahan adalah menengah; yang terendah ialah kemenangan lewat perang langsung—karena pertempuran massal penuh cacat dan melahirkan kehancuran.”


MB 6.4.32* paraspareṇa saṃdṛṣṭā surair api mahācamūḥ, naiva sthāpayituṃ śakyā prabhagnā bhayavihvalā

“Pasukan besar yang tercerai dan diliputi ketakutan, bahkan para dewa pun tak mampu menegakkannya kembali.”


MB 6.4.33 parasparajñāḥ saṃhṛṣṭā vyavadhūtāḥ suniścitāḥ, pañcāśad api ye śūrā mathnanti mahatīṃ camūm, atha vā pañca ṣaṭ sapta vijayanty anivartinaḥ

“Lima puluh pahlawan yang saling mengenal dan bersemangat dapat menghancurkan pasukan besar; bahkan lima, enam, atau tujuh dapat menang bila tak gentar.”


MB 6.4.34 na vainateyo garuḍaḥ praśaṃsati mahājanam, dṛṣṭvā suparṇopacitiṃ mahatīm api bhārata

“Garuda pun tak memuji kerumunan besar hanya karena jumlahnya, wahai Bhārata, meski tampak mengesankan.”


MB 6.4.35 na bāhulyena senāyā jayo bhavati bhārata, adhruvo hi jayo nāma daivaṃ cātra parāyaṇam, jayanto hy api saṃgrāme kṣayavanto bhavanty uta

“Kemenangan tidak lahir dari banyaknya pasukan; ia tak pernah pasti. Takdirlah sandaran terakhir—bahkan yang menang pun kerap menuai kehancuran.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar