Mahabharata 6.5
Bhisma Parwa 5
Setelah semua nasihat dan tanda-tanda itu diucapkan, Vyāsa pun pergi dengan langkah tenang, meninggalkan Dhṛtarāṣṭra dalam keheningan. Raja tua itu tidak berkata apa-apa. Kata-kata sang resi masih bergaung di dadanya. Ia pun menutup mata, masuk ke dalam perenungan yang dalam, seolah hendak mencari jawabannya sendiri di lorong-lorong batin yang gelap.
Beberapa saat berlalu. Dhṛtarāṣṭra menarik napas panjang, berulang kali, seperti orang yang memikul beban terlalu berat untuk satu dada. Lalu ia memanggil Sañjaya, kusir setia yang berhati teguh. Dengan suara lirih namun penuh kecemasan, ia berkata bahwa para raja perkasa itu—para pahlawan yang mencintai perang—telah saling menghantam tanpa ragu, menggunakan segala jenis senjata. Demi bumi, katanya, mereka telah meninggalkan nyawa mereka sendiri. Mereka membunuh tanpa henti, seakan tak pernah puas, menambah panen kematian bagi Yama.
“Apa sebenarnya bumi ini, Sañjaya?” tanya sang raja. “Mengapa ia begitu diinginkan, sampai manusia rela saling membinasakan?” Ia tahu bahwa di Kurujāṅgala telah berkumpul jumlah yang tak terhitung—ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan pahlawan dari berbagai penjuru. Ia ingin tahu dari mana mereka datang, seberapa luas negeri-negeri dan kota-kota yang mengirimkan anak-anak terbaiknya ke medan maut itu. Dan ia tahu, Sañjaya bisa menjawab, karena resi Vyāsa telah menganugerahkan kepadanya mata pengetahuan dan cahaya kecerdasan ilahi.
Sañjaya pun mulai bercerita, suaranya tenang seperti guru yang mengajar murid kesayangannya. Ia berkata bahwa di dunia ini ada dua jenis makhluk: yang bergerak dan yang diam. Yang bergerak lahir dengan tiga cara—dari telur, dari kelembapan, dan dari rahim. Di antara semuanya, yang lahir dari rahim adalah yang utama. Dan di antara mereka, manusia dan hewan menempati tempat teratas.
Makhluk-makhluk itu, lanjut Sañjaya, terbagi menjadi empat belas golongan: tujuh penghuni hutan dan tujuh penghuni permukiman manusia. Di rimba hidup singa, harimau, babi hutan, kerbau, gajah, beruang, dan kera. Di desa dan kota hidup sapi, kambing, manusia, domba, kuda, bagal, dan keledai. Keempat belasnya, kata para bijak, adalah penopang kehidupan dan pengorbanan suci. Tanpa mereka, dunia tak akan berjalan.
Di antara yang hidup dekat manusia, manusialah yang utama. Di antara yang hidup liar, singalah yang terunggul. Namun tak satu pun hidup sendirian. Semua saling bergantung, saling menopang, saling hidup dari yang lain—seperti anyaman rumit yang bila satu helai ditarik, seluruhnya ikut terguncang.
Lalu Sañjaya berbicara tentang yang diam: tumbuhan. Ada pohon besar, semak, sulur, tanaman merambat, rerumputan, dan segala yang menyimpan sari kehidupan. Semuanya terhubung dengan unsur-unsur besar alam, membentuk tatanan yang luas, teratur, dan suci—seperti Gāyatrī yang memuat dunia dalam iramanya. Barang siapa memahami tatanan itu dengan benar, katanya, tak akan binasa dalam putaran dunia.
Akhirnya, Sañjaya menutup kisahnya dengan suara yang lembut namun pasti: segala sesuatu lahir dari bumi, dan kepada bumi pula semuanya kembali. Bumi adalah landasan semua makhluk, tujuan terakhir segala perjalanan. Dan karena bumi itulah—karena kerakusan untuk memilikinya—para raja saling membunuh, lupa bahwa tanah yang mereka perebutkan kelak akan menerima mereka semua, tanpa membeda-bedakan mahkota dan debu.
Begitulah, cucuku, kisah itu diceritakan. Bukan untuk menambah ketakutan, tetapi untuk mengingatkan: dunia ini bukan milik siapa pun, dan perang sering lahir ketika manusia lupa bahwa ia hanyalah tamu sementara di atas bumi yang sama.
Bhisma Parva 5
MB 6.5.1 vaiśaṃpāyana uvāca: evam uktvā yayau vyāso dhṛtarāṣṭrāya dhīmate, dhṛtarāṣṭro 'pi tac chrutvā dhyānam evānvapadyata
Vaiśaṃpāyana berkata:
Setelah berkata demikian, Vyāsa pun pergi meninggalkan Dhṛtarāṣṭra yang bijaksana; dan Dhṛtarāṣṭra, setelah mendengar semuanya, tenggelam pula dalam samādhi.
MB 6.5.2 sa muhūrtam iva dhyātvā viniḥśvasya muhur muhuḥ, saṃjayaṃ saṃśitātmānam apṛcchad bharatarṣabha
Beberapa saat ia berdiam dalam hening, menarik napas panjang berulang kali; lalu ia bertanya kepada Sañjaya, yang berhati teguh, wahai terbaik di antara Bhārata.
MB 6.5.3 saṃjayeme mahīpālāḥ śūrā yuddhābhinandinaḥ, anyonyam abhinighnanti śastrair uccāvacair api
“Wahai Sañjaya, para raja itu—pahlawan yang mencintai perang—saling menghantam satu sama lain dengan senjata besar dan kecil.”
MB 6.5.4 pārthivāḥ pṛthivīhetoḥ samabhityaktajīvitāḥ, na ca śāmyanti nighnanto vardhayanto yamakṣayam
“Mereka, demi bumi, telah meninggalkan nyawa mereka; mereka tak jemu membunuh, terus menambah panen Yama.”
MB 6.5.5 bhaumam aiśvaryam icchanto na mṛṣyante parasparam, manye bahuguṇā bhūmis tan mamācakṣva saṃjaya
“Menginginkan kekuasaan duniawi, mereka tak saling menahan diri. Kupikir bumi ini menyimpan banyak keutamaan; jelaskanlah itu kepadaku, Sañjaya.”
MB 6.5.6 bahūni ca sahasrāṇi prayutāny arbudāni ca, koṭyaś ca lokavīrāṇāṃ sametāḥ kurujāṅgale
“Ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, hingga jutaan pahlawan dunia telah berkumpul di Kurujāṅgala.”
MB 6.5.7 deśānāṃ ca parīmāṇaṃ nagarāṇāṃ ca saṃjaya, śrotum icchāmi tattvena yata ete samāgatāḥ
“Jelaskan kepadaku dengan sebenar-benarnya, Sañjaya, luas negeri-negeri dan kota-kota dari mana mereka semua datang.”
MB 6.5.8 divyabuddhipradīpena yuktas tvaṃ jñānacakṣuṣā, prasādāt tasya viprarṣer vyāsasyāmitatejasaḥ
“Engkau telah dianugerahi pelita kecerdasan ilahi dan mata pengetahuan, oleh anugerah resi agung Vyāsa yang bercahaya tanpa batas.”
MB 6.5.9 saṃjaya uvāca: yathāprajñaṃ mahāprājña bhaumān vakṣyāmi te guṇān, śāstracakṣur avekṣasva namas te bharatarṣabha
Sañjaya berkata:
MB 6.5.10 dvividhānīha bhūtāni trasāni sthāvarāṇi ca, trasānāṃ trividhā yonir aṇḍasvedajarāyujāḥ
“Makhluk di dunia ini ada dua macam: yang bergerak dan yang tak bergerak; yang bergerak memiliki tiga asal kelahiran—dari telur, dari peluh, dan dari rahim.”
MB 6.5.11 trasānāṃ khalu sarveṣāṃ śreṣṭhā rājañ jarāyujāḥ, jarāyujānāṃ pravarā mānavāḥ paśavaś ca ye
“Di antara makhluk bergerak, yang lahir dari rahim adalah yang utama, wahai raja; dan di antara mereka, manusia dan hewan adalah yang terunggul.”
MB 6.5.12 nānārūpāṇi bibhrāṇās teṣāṃ bhedāś caturdaśa, araṇyavāsinaḥ sapta saptaiṣāṃ grāmavāsinaḥ
“Mereka beraneka rupa, terbagi menjadi empat belas golongan: tujuh penghuni hutan, dan tujuh penghuni permukiman.”
MB 6.5.13 siṃhavyāghravarāhāś ca mahiṣā vāraṇās tathā, ṛkṣāś ca vānarāś caiva saptāraṇyāḥ smṛtā nṛpa
“Singa, harimau, babi hutan, kerbau dan gajah, beruang dan kera—itulah tujuh makhluk penghuni rimba, wahai raja.”
MB 6.5.14 gaur ajo manujo meṣo vājyaśvataragardabhāḥ, ete grāmyāḥ samākhyātāḥ paśavaḥ sapta sādhubhiḥ
“Sapi, kambing, manusia, domba, kuda, bagal, dan keledai—itulah tujuh makhluk penghuni desa, demikian diajarkan para bijak.”
MB 6.5.15 ete vai paśavo rājan grāmyāraṇyāś caturdaśa, vedoktāḥ pṛthivīpāla yeṣu yajñāḥ pratiṣṭhitāḥ
“Keempat belas makhluk—liar dan jinak—itulah, wahai raja, yang disebut dalam Weda sebagai penopang yajña di atas bumi.”
MB 6.5.16 grāmyāṇāṃ puruṣaḥ śreṣṭhaḥ siṃhaś cāraṇyavāsinām, sarveṣām eva bhūtānām anyonyenābhijīvanam
“Di antara makhluk desa, manusia adalah yang utama; di antara penghuni hutan, singa yang terunggul. Semua makhluk hidup satu sama lain—saling menopang, saling bergantung.”
MB 6.5.17 udbhijjāḥ sthāvarāḥ proktās teṣāṃ pañcaiva jātayaḥ, vṛkṣagulmalatāvallyas tvaksārās tṛṇajātayaḥ
“Yang tak bergerak disebut tumbuhan; mereka terbagi menjadi lima jenis: pohon, semak, liana, sulur, kulit dan sari, serta rumput.”
MB 6.5.18 eṣāṃ viṃśatir ekonā mahābhūteṣu pañcasu, caturviṃśatir uddiṣṭā gāyatrī lokasaṃmatā
“Keseluruhan ini—sembilan belas—berkaitan dengan lima unsur agung; dua puluh empat keseluruhannya, sebagaimana dikenal dalam Gāyatrī yang diterima dunia.”
MB 6.5.19 ya etāṃ veda gāyatrīṃ puṇyāṃ sarvaguṇānvitām, tattvena bharataśreṣṭha sa lokān na praṇaśyati
“Siapa memahami Gāyatrī yang suci ini, lengkap dengan segala keutamaannya, ia, wahai terbaik di antara Bhārata, tak akan binasa di dunia-dunia.”
MB 6.5.20 bhūmau hi jāyate sarvaṃ bhūmau sarvaṃ praṇaśyati, bhūmiḥ pratiṣṭhā bhūtānāṃ bhūmir eva parāyaṇam
“Segala sesuatu lahir dari bumi, dan ke bumi pula segalanya lenyap; bumi adalah landasan semua makhluk, bumi pula tujuan terakhir.”
MB 6.5.21 yasya bhūmis tasya sarvaṃ jagat sthāvarajaṅgamam, tatrābhigṛddhā rājāno vinighnantītaretaram
“Siapa menguasai bumi, menguasai seluruh dunia—yang bergerak dan yang diam; karena kerakusan akan bumi itulah, para raja saling membinasakan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar