Sebelum Membaca Lontar Usadha,
Bacalah Buku Ini
Punggung Tiwas: Ratuning Usadha ditulis justru untuk mengisi ruang yang sering terlewat itu. Buku ini tidak menggantikan lontar, tidak pula mengklaim diri sebagai ajaran rahasia. Perannya lebih mendasar: menyiapkan pembacanya—secara intelektual, etis, dan batiniah—agar tidak salah langkah ketika memasuki wilayah usadha, tenung, dan kawisesan.
Di dalam buku ini, tubuh tidak diperlakukan sebagai objek sakit–sehat semata, melainkan sebagai altar kesadaran. Penyembuhan tidak dipahami sebagai sekadar penghilangan gejala, tetapi sebagai penyelarasan hidup—antara bayu, idep, sabda, dan makna keberadaan. Tradisi pun tidak dibekukan menjadi dogma, melainkan dibaca dengan sikap hormat, kritis, dan bertanggung jawab.
Dengan ketebalan lebih dari 400 halaman, buku ini disusun sebagai fondasi yang utuh dan berlapis. Isinya mencakup:
- materi filsafat tentang kesadaran, puruṣa, tubuh, dan penyembuhan sebagai jalan Dharma,
- alih aksara lontar Punggung Tiwas yang disajikan lengkap: aksara Bali, romanisasi, dan terjemahan dalam bahasa Indonesia,
- serta bonus ilmu energi yang dirancang sebagai jembatan bagi pemula, agar pembaca modern memiliki sarana penataan napas, rasa, dan fokus sebelum mencoba memahami serta mempraktikkan isi lontar Punggung Tiwas secara bertanggung jawab.
Bagian ilmu energi ini bukan klaim ajaran asli lontar, melainkan perangkat pendamping—agar pembaca tidak terjebak pada hafalan teks atau imajinasi spiritual, tetapi benar-benar memiliki kesiapan batin. Dengan cara ini, lontar tidak diperlakukan sebagai formula instan, melainkan sebagai ajaran yang dihayati perlahan dan matang.
Karena itu, buku ini sangat tepat dibaca:
- sebelum mendalami lontar usadha dan tenung,
- sebelum belajar praktik penyembuhan non-ramuan,
- sebelum merasa diri “sudah mengerti” tradisi Bali.
Dan dalam dunia spiritual, justru itulah kualitas yang paling langka—dan paling dibutuhkan.
📩 Pemesanan buku Punggung Tiwas: Ratuning Usadha
Satu pesan singkat bisa menjadi langkah awal untuk belajar dengan cara yang benar: tidak tergesa, tidak sembarangan, tetapi berakar, bertanggung jawab, dan setia pada kedalaman tradisi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar