Google+

Tenung dan Usadha

Tenung dan Usadha

Identitas & Posisi Buku

Judul: Tenung dan Usadha: Mengungkap Rahasia Waktu, Pengobatan, dan Transformasi Kehidupan
Penulis: I Wayan B. Mahendra
Halaman: >400 halaman
Terbit: Cetakan I (2024), Cetakan II (2025)
Buku ini secara eksplisit diposisikan sebagai pengantar sistematis untuk memahami tenung (peramalan/analisis waktu & potensi) dan usadha (penyembuhan holistik), dengan orientasi praktis namun tetap filosofis



Kerangka Besar Isi
Buku Tenung & Usadha


1) Landasan Filsafat & Etika

Bagian awal menanamkan dasar karma, dharma, dan kesadaran diri, dengan kutipan Upaniṣad dan Bhagavad Gītā untuk menegaskan bahwa tenung dan usadha tidak berdiri di luar hukum moral. Penekanan kuat: hasil lahir dari tindakan, bukan dari klaim magis

Makna pentingnya:
Tenung diposisikan sebagai alat membaca kecenderungan, bukan alat menakuti atau menghakimi nasib.


2) Definisi Tenung (Diluruskan Sejak Awal)

Buku ini secara tegas menyatakan:

Tenung tidak selalu berhubungan dengan hal-hal gaib, mistis, atau kawisesan.

Tenung dijelaskan sebagai kemampuan analitis berbasis angka, waktu, tanda tubuh, dan respons psikis, sehingga ia dekat dengan numerologi dan psikologi simbolik, bukan perdukunan hitam


3) Sistem Weton & Wewaran (Local Genius Bali)

Bagian terbesar buku jilid awal membahas Weton, Wewaran, Wuku, Sasih, Dawuh, hingga Triodasa Saksi.
Strukturnya jelas:

  • Ekawara hingga Dasawara
  • Pancawara & Saptawara
  • Wuku sebagai siklus besar
  • Prinsip hierarki waktu: wewaran < wuku < sasih < dawuh < Triodasa Saksi 

Ini bukan sekadar hitungan hari, tetapi cara membaca kualitas waktu.


4) Karakter Pancawara, Saptawara hingga Wuku

Setiap hari kelahiran (Umanis, Paing, Pon, Wage, Kliwon; Redite–Saniscara) dibahas lengkap:

  • Dewa naungan
  • Unsur (bayu, teja, apah, pertiwi, akasa)
  • Karakter psikologis
  • Potensi konflik dan kelebihan

Ini menjadikan tenung sebagai alat membaca karakter dan relasi sosial, bukan hanya ramalan nasib.


5) Metode Analisis Kasus

Buku ini tidak berhenti di teori. Ada:

  • Metode 1–5 analisis tenung
  • Contoh kasus nyata
  • Cara membaca tanda “buruk” (sakit, konflik, kegagalan) tanpa jatuh ke tafsir fatalistik

Penulis berulang kali mengingatkan: salah tafsir lebih berbahaya daripada tidak menenung.


6) Integrasi Numerologi Modern

Menariknya, buku ini tidak anti-metode luar.
Numerologi Pythagoras dipakai sebagai pembanding, bukan pengganti sistem Bali.
Disertakan:

  • Makna angka 1–9
  • Kombinasi angka nama & tanggal lahir
  • Formasi angka khusus (isolasi, deret, dominan)
  • Contoh kasus konkret

Ini menunjukkan sikap inklusif tapi terkontrol.


7) Bagian Usadha & Penyembuhan Holistik

Masuk ke jilid berikutnya, fokus bergeser ke penyembuhan:

  • Energi, vibrasi, frekuensi
  • Hukum tarik-menarik (law of attraction) dalam kerangka etis
  • Pikiran, emosi, dan tubuh sebagai satu sistem

8) Sistem Chakra, Nadi, & Mantra

Bagian ini sangat teknis dan padat:

  • Muladhara hingga Sahasrara
  • Nadi Ida–Pingala–Sushumna
  • Bija mantra
  • Mudra
  • Petunjuk meditasi bertahap

Penulis memberi peringatan keras: tidak semua latihan boleh dilompati, terutama bagi pemula


9) BONUS Praktik Energi

Disediakan bagian bonus:

  • Teknik napas Kundalini dasar
  • Metode Rasa & Visual
  • Penanganan abreaksi/kerasukan
  • Catatan etis dan batas latihan

Ini jelas dimaksudkan sebagai jembatan praktis, bukan klaim kesempurnaan spiritual



Kesimpulan isi BUKU TENUNG dan USADHA

Buku Tenung dan Usadha adalah:

  • Buku sistem, bukan buku mantra cepat
  • Pengantar serius, bukan klaim kawisesan
  • Alat membaca kehidupan, bukan penentu nasib

Ia sangat cocok sebagai fondasi awal sebelum pembaca:

  • mendalami lontar tenung Bali,
  • mempelajari usadha tingkat lanjut,
  • atau masuk ke praktik energi dengan disiplin.


📩 Pemesanan buku Tenung dan Usadha

langsung melalui WhatsApp: 0812-9996-9973

Satu pesan singkat bisa menjadi langkah awal untuk belajar dengan cara yang benar: tidak tergesa, tidak sembarangan, tetapi berakar, bertanggung jawab, dan setia pada kedalaman tradisi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar