Google+
Tampilkan postingan dengan label Bebantenan di Bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bebantenan di Bali. Tampilkan semua postingan

Banten Sebagai Pengganti Mantra

Banten Sebagai Pengganti Mantra

Banten pada awalnya ketika diajarkan pembuatannya di Desa Puakan (Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Bali) oleh Maha Rsi Markandeya kepada penduduk setempat di abad ke-8, bernama “Bali” atau “Wali”.

Lama kelamaan tradisi yang diajarkan itu berkembang ke seluruh pulau, sehingga orang-orang yang bersembahyang menggunakan banten, dinamakan “Orang Bali” dan pulau kecil inipun bernama Pulau Bali.

Banten diajarkan kepada penduduk yang buta huruf, karena mereka tidak bisa mengucapkan mantra-mantra dalam persembahyangan.

Jadi fungsi banten yang utama adalah sebagai “pengganti” ucapan mantra yang kemudian berkembang ke fungsi yang mengikuti, yaitu sebagai simbol kemahakuasaan Tuhan, wujud bhakti, prasadam, dan sarana pensucian roh.

Beberapa jenis banten yang hingga kini digunakan di Bali sebagai pengganti ucapan mantra, misalnya:

Makna Banten di Bali

Makna Banten di Bali

Kalo kita pergi ke Bali sering sekali kita melihat warga Hindu Bali melakukan persembahan yang mereka sebut Banten.
Apakah sebenarnya banten itu?
bagaimana sejarah Banten di Bali?
Apa fungsi Banten?
Terbuat dari apakah banten itu?
Mengapa kita membuat Banten…?
kumpulan banten untuk upakara yadnya sering juga disebut "bebanten". karena sangat banyak jenisnya serta membutuhkan pengorbanan lebih, maka sering juga ada plesetan dalam bahasa bali seperti ini:
  • be banten? (sudahkah upakara yang dibuat itu sesuai aturan banten)
  • beban ten? (apakah upakara ini memberatkan atau tidak?
karena beberapa permasalahan itulah, dalam artikel ini akan dibahas sepintas tentang bebanten atau banten upakara yadnya yang merupakan aplikasi dari ajaran Bakti Marga. Didalam Bhagavad Gita ditentukan banten yang paling sederhana, seperti yang dinyatakan sebagai berikut:
Patram pushpam phalam toyam yo me bhaktya prayacchatitad aham bhakty-upahritam ashnami prayatatmanah. (Bhagavad Gita IX.26)
Artinya :
Siapapun yang sujud kepada-Ku dengan persembahan setangkai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, atau seteguk air, akan Aku terima sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci.