Banten Sebagai Pengganti Mantra
Banten pada awalnya ketika diajarkan pembuatannya di Desa Puakan (Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Bali) oleh Maha Rsi Markandeya kepada penduduk setempat di abad ke-8, bernama “Bali” atau “Wali”.
Lama kelamaan tradisi yang diajarkan itu berkembang ke seluruh pulau, sehingga orang-orang yang bersembahyang menggunakan banten, dinamakan “Orang Bali” dan pulau kecil inipun bernama Pulau Bali.
Banten diajarkan kepada penduduk yang buta huruf, karena mereka tidak bisa mengucapkan mantra-mantra dalam persembahyangan.
Jadi fungsi banten yang utama adalah sebagai “pengganti” ucapan mantra yang kemudian berkembang ke fungsi yang mengikuti, yaitu sebagai simbol kemahakuasaan Tuhan, wujud bhakti, prasadam, dan sarana pensucian roh.
Beberapa jenis banten yang hingga kini digunakan di Bali sebagai pengganti ucapan mantra, misalnya: