Google+
Tampilkan postingan dengan label Dagang Ketakutan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dagang Ketakutan. Tampilkan semua postingan

Bayuh Oton atau Dagang Ketakutan?

 BAYUH OTON ATAU DAGANG KETAKUTAN? 

Ketika Ruwatan Massal Dijual Tanpa Ketepatan dan Kompetensi

Jangan menjual kesucian ritual jika dasar pengetahuannya sendiri tidak dipahami.

Jika merujuk pada prinsip yajña dalam tradisi Veda dan pembahasan spiritual dalam Buku Punggung Tiwas: Ratuning Usadha, ritual bukan sekadar rangkaian banten, mantra, dan upacara. Pelaksanaannya menuntut pengetahuan, pemahaman, dan tanggung jawab spiritual. 

Lantas, apa makna sebuah ruwatan jika hanya menjadi paket upacara yang dijual kepada umat, sementara dasar pemilihan ritual dan kemampuan orang yang memuputnya tidak pernah dipertanyakan?

Fenomena promosi Bayuh Oton massal patut dikritisi ketika ritual ditawarkan seolah-olah menjadi jawaban untuk berbagai persoalan, mulai dari penyakit hingga kenakalan remaja, tanpa penjelasan yang memadai mengenai dasar dan tujuan pelaksanaannya. Dalam tradisi Tenung dan Usadha, kelahiran melalui wewaran dan wuku digunakan untuk membaca kecenderungan watak manusia. Namun, pembacaan tradisional semacam itu tidak otomatis membuktikan bahwa perilaku seseorang merupakan takdir mutlak yang tidak dapat berubah. Lebih jauh, ruwatan juga tidak boleh dijanjikan sebagai jaminan bahwa persoalan perilaku atau penyakit pasti terselesaikan.

ruwatan massal

Persoalan menjadi lebih serius apabila ketentuan dalam lontar, termasuk yang dikaitkan dengan Wrespati Kalpa, memang menghubungkan wewaran tertentu dengan kelemahan atau gangguan tertentu serta bayuh yang bersesuaian. Jika hubungan tersebut dijadikan dasar ritual, mengapa penentuan bayuh justru dilakukan tanpa memeriksa kesesuaiannya? Orang yang lahir Kliwon, misalnya, tidak semestinya otomatis menerima Bayuh Oton Kliwon untuk setiap persoalan yang dialaminya tanpa penjelasan tentang dasar pemilihannya. Apalagi jika keluarga hanya ditawari paket banten tanpa diberi tahu alasan ritual itu dianggap tepat.

Di sinilah pertanyaan keras harus diajukan kepada mereka yang mempromosikan ruwatan massal: apakah yang dijual benar-benar pelayanan berdasarkan pengetahuan, atau sekadar paket banten yang dibungkus dengan potongan informasi dari lontar? Jika pemilihan ritual tidak didasarkan pada ketentuan yang relevan, keluarga berisiko mengeluarkan biaya untuk upacara yang hubungannya dengan persoalan mereka tidak jelas. Jika jenis ritual sudah sesuai dengan keyakinan dan ketentuan yang digunakan, tetapi pemuput tidak memahami tata cara serta dasar pelaksanaannya, persoalan kompetensi tetap harus dipertanyakan. Tidak ada alasan untuk menjanjikan kesembuhan hanya karena ritual telah dilaksanakan, apalagi mengklaim bahwa serangkaian upacara pasti mengubah perilaku seseorang.

Jangan sampai umat dibuat mabuk ritual, sementara pedagang banten mendulang keuntungan dari ketakutan mereka. Menjual banten dan menerima imbalan pelayanan bukanlah kesalahan dengan sendirinya. Yang patut dikecam adalah apabila ketakutan terhadap penyakit, nasib buruk, atau masa depan anak dimanfaatkan untuk mendorong pengeluaran, sementara dasar pemilihan ritual, rincian biaya, dan batas manfaatnya tidak dijelaskan secara jujur.

Tradisi tidak perlu dipertahankan dengan membuat umat takut bertanya. Jika Bayuh Oton memang memiliki dasar dalam lontar, tunjukkan dan jelaskan dasar tersebut. Jika suatu ketentuan merupakan penafsiran atau kebiasaan lokal, sampaikan secara terbuka. Jika kemampuan spiritual dan pengetahuan ritual menjadi landasan pelayanan, jangan biarkan gelar, status, atau promosi menjadi pengganti kompetensi. Dan jika persoalan yang dihadapi adalah penyakit, jangan menjadikan ritual sebagai alasan untuk mengabaikan pemeriksaan medis.

Ruwatan bukan sekadar paket dagangan. Lontar bukan alat pemasaran. Keyakinan umat bukan komoditas untuk diperdagangkan melalui ketakutan. Sebelum mengajak umat berbondong-bondong mengikuti Bayuh Oton massal, tanyakan terlebih dahulu: apakah ritualnya tepat, apakah dasarnya jelas, apakah pelaksananya kompeten, dan apakah pelayanan itu benar-benar mengutamakan kepentingan umat?

Sebab, ketika pengetahuan ditinggalkan dan ketakutan dijadikan alat transaksi, yang sedang dipertahankan bukanlah kesucian ritual, melainkan bisnis yang berlindung di balik nama tradisi.

untuk lebih memahaminya, silahkan simak artikel berikut ini:

Semoga pemahaman ini dapat membantu umat memandang ritual Bayuh Oton secara lebih bijaksana, memahami makna dan ketepatannya, serta membedakan antara pengabdian spiritual yang tulus dan praktik ritual yang berpotensi menyimpang dari tujuan luhurnya.