Google+
Tampilkan postingan dengan label Dasar Kepemangkuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dasar Kepemangkuan. Tampilkan semua postingan

Memantra dan Puja Mantra Pemangku

Memantra dan Puja Mantra Pemangku

Oṁ sahana vavatu sahana bhunaktu
Saha viryam karavavahai
Tejasvināvaditham āstu mā vidviṣā vahai
Ya Tuhan semoga kami dapat belajar bersama, berkembang bersama, memperoleh pengetahuan bersama. Semoga tidak terjadi suatu kesalahpahaman di antara kami. Dan apabila terjadi sesuatu kesalahan secara sengaja atau tidak sengaja, semoga kami dapat saling memaafkan.

Tetikesan Puja Mantra Pemangku

Dalam melaksanakan puja bhakti kepada Brahman, umat Hindu diberikan kebebasan untuk dapat mewujudkan bentuk Śraddhā tersebut. Secara umum bentuk Bhakti umat Hindu dapat dilakukan dengan menggunakan: mantra, yantra, tantra, yajña, dan yoga. 

Kursus Pemangku

Kursus Pemangku

Jro Mangku muput banten
Jro Mangku
merupakan pelatihan tentang kepemangkuan yang diselenggarakan oleh Yayasan Taman Bukit Pengajaran.

Kursus ini bertujuan memperluas pemahaman dan pengetahuan bagi masyarakat umum, para Mangku dan calon Mangku.

Pelajaran yg akan diberikan :

  • Tatwa Agama, 
  • sesana/swadarmaning pemangku, 
  • upacara/upakara, 
  • wariga, 
  • gegelaran Pemangku (tentang tata cara pemujaan dan mantram dalam melaksanakan upacara yadnya/muput upacara), 
  • Yoga Asuci Laksana (praktek yoga untuk meningkatkan kwalitas kesucian diri dan kerahayuan).

Jro Mangku sebutan untuk Pemangku

Jro Mangku sebutan untuk Pemangku

Pada umumnya kita di Bali mendengar kata pemangku (Jro Mangku) memang hal yang sudah biasa, namun perlu kita ketahui apakah yang terkandung tersirat dari makna kata yang terkandung didalamnya pada bagian ini kita akan bahas dari beberapa sumber yang menyebutkan makna dari kata pemangku. 

Menurut Lontar Widhi Sastra kata pemangku diuraikan menjadi:

  • ‘Pa’, bermakna “Pastika pasti”, yang artinya paham akan hakikat kesucian,
  • ‘Mang’ bermakna “Weruh ring titining Agama” artinya paham mengenai pelaksanaan ajaran Agama. Mengingat ‘Mang’ sebagai suku kata aksara suci Dewa Iswara atau Siwa sendiri sebagai guru niskala bagi warga desa, beliau juga dijuluki sebagai Sanghyang Ramadesa. 
  • ‘Ku’ bermakna “Kukuh ring Widhi” yang artinya teguh dan konsisten berpegangan kepada Tuhan/ Ida Sanghyang Widhi.

Kemudian dari kata Widhi, diperoleh suku kata ‘di’ yang artinya “dina” (hari), dari kata ‘dina’ diperoleh suku kata ‘na’ artinya “amertha” (sumber kehidupan) dari kata amertha diperoleh suku kata ‘ta’ artinya “toya” (air), dari kata toya diperoleh suku kayaa ‘ya’ artinya “jati jatining kaweruhan ring kahananing bhuana agung muang bhuana alit (hakikat pengetahuan mengenai bhuana agung dan bhuana alit).


Dalam Lontar Sukretaning Pamangku, dinyatakan bahwa pemangku adalah perwujudan I Rare Angon (Dewa Gembala/Pengangon) yang merupakan perwujudan dari Dewa Siwa seperti dinyatakan sebagai berikut” ‘Ikang sukretaning pamangku ring khayangan, wnang tegesin pamangku kawruhakena kang mawak pamangku ring sariranta. I Rare Angon mawak pamangku ring sariranta’.

Cara Memilih Pemangku

Cara Memilih Pemangku

sebelum memilih seorang Pemangku/Mangku, kita wajib mengetahui, siapa yang boleh menjadi Pemangku.
Pemangku sebagai pelayan Ida Sang Hyang Widhi hendaknya dipilih dari umat yang memiliki budhi luhur, moral dan mental yang tinggi. 
Seorang calon Pemangku hendaknya memiliki jiwa pengabdian yang tulus dan ikhlas serta selalu siap untuk ngayah tanpa memikirkan imbalan apapun. 
Jabatan Pemangku seyogyanya tidak dijadikan sebagai tameng untuk menutupi kelemahan pribadinya yang sesungguhnya kurang baik, sehingga dapat menjadi orang terpandang di masyarakat. Kalau ternyata ada yang bertindak seperti itu, maka yang bersangkutan dapat dikatakan sebagai penipu masyarakat. Karmaphala buruk yang harus ditanggung dikemudian hari tentu akan menjadi lebih besar lagi. 

Demikianlah, maka untuk menetapkan seseorang untuk menjadi Pemangku tidaklah sembarangan.

Yang boleh dipilih menjadi Pemangku adalah mereka yang benar-benar memenuhi syarat. 

Mangku dan Kepemangkuan

Mangku dan Kepemangkuan

Dalam Agama Hindu seorang Pemangku atau Pinandita dinyatakan sebagai rokhaniawan. Rokhaniawan artinya orang yang rokhani atau jiwanya telah disucikan. Karena itu sebagai rokhaniawan, seorang Pemangku seyogyanya mendalami pengertian rokhaniawan, sehingga yang bersangkutan bisa menempatkan diri dan melaksanakan tugas pekerjaannya sesuai dengan tingkat kesuciannya. Berdasarkan tingkat penyuciannya, rokhaniawan Hindu dapat dibedakan dalam dua golongan yaitu :

  • Rokhaniawan yang termasuk dalam golongan atau tingkatan Dwijati seperti Pedanda, Pandita, Sri Bhagawan, Empu, Rsi dan lain-lain yang pada umumnya dinamakan Sulinggih.
  • Rokhaniawan yang termasuk dalam golongan atau tingkatan Ekajati seperti Pemangku, Balian, Mangku Dalang dan lain-lain

Disamping dua golongan tersebut diatas sesungguhnya masih ada satu golongan rokhaniawan yang ketiga yaitu termasuk dalam golongan atau tingkatan Trijati. Yang dimaksud dengan golongan Trijati adalah para sulinggih yang telah berkedudukan sebagai Guru Nabe. Mereka ini dipandang sebagai lahir tiga kali, yakni dari Ibu, dari ilmu pengetahuan dan kemudian diangkat menjadi Guru Nabe. Beliau mempunyai wewenang untuk meningkatkan sisyanya dari calon Pendeta menjadi Pendeta dalam tingkatan Dwijati.