Google+
Tampilkan postingan dengan label Dewa Tri Murti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dewa Tri Murti. Tampilkan semua postingan

Dewa dan Bhatara (betara)

Dewa dan Bhatara (betara)

Om Swastiastu, Om Ano Badrah Kratawo yantu wiswatah
Om Awighnamastu Namo Siddham
semoga Ida Hyang Paramakawi memberikan jalan terang bagi kita semua
ada banyak istilah dibali yang membingungkan keyakinan orang bali itu sendiri, salah satunya istilah Dewa dan Bhatara atau yang lebih dikenal dengan istilah betara.
  • sebenarnya apakah dewa dan bhatara itu sama? ataukah beda?
  • semua orang hindu mengetahui arti dari dewa tetapi agak samar dengan istilah bhatara. tetapi orang bali lebih mengenal bhatara/betara dibandingkan dewa, kenapa?
  • mungkin kita semua pernah mendengar istilah betara rambut sedana, betara dalem, betara khayangan tiga dll. apakah betara dalem sama dengan dewa siwa? ataukah betara rambut sedana atau sri sedana sama dengan dewa kuwera/kubera? dan banyak penamaan dewa serta betara lainnya.
 kita mulai dari istilah umum Dewa dan Bhatara

Sastra sebagai alat komunikasi

Sastra sebagai alat komunikasi


Filsafat secara umum dapat diartikan bahwa usaha manusia dengan menggunakan akal, untuk memperoleh pemahaman Jagat Raya dalam memenuhi suatu kepuasan dalam kebijaksanaan, sedangkan aksara adalah simbol (lambang) sebagai alat komunikasi.

Komunikasi menggunakan bahasa akan mengandung unsur simbolik dan emotif, dalam komunikasi ilmiah sebenarnya proses komunikasi itu harus terbebas dari unsur emotif ini, agar pesan yang disampaikan bisa diterima secara reprodukdif, artinya identik dengan pesan yang dikirim. 
Umpamanya jika dalam sebuah komunikasi ilmiah kita mempergunakan akal seperti “epistemology” atau “oftimal” maka kita harus menjelaskan lebih lanjut apa yang kita maksudkan dengan kata-kata itu. Hal ini harus kita lakukan untuk mencegah si penerima komunikasi memberi makna lain yang berbeda dengan makna yang dimaksudkan. Tentu saja kata-kata (simbol) yang sudah jelas dan kecil kemungkinannya untuk disalah artikan dan tidak lagi membutuhkan penjelasan lebih lanjut. (Jujun, 2002:175,181). 

Nama Rudra sering diartikan sama dengan Siwa, sehingga untuk menggambarkan siwa sebagaimana halnya dengan Rudra dihubungkan dengan sebelas aksara sebagai bentuk lingga Atma, menurut Jnana Sidharta: Sing, Tang, Mang, Bang, Ang, Wang, Nang, Ang, Ung, Mang dan Ong.

Selanjutnya dalam Rg.Weda X.36.14. menyebutkan: