Google+
Tampilkan postingan dengan label Kerajaan Mataram. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerajaan Mataram. Tampilkan semua postingan

Kesiman Dalam Sejarah Politik dan Ekonomi Abad XIX

Kesiman Dalam Sejarah Politik Abad XIX

Pada tahun 1809-1810 ketika Mengwi berada di bawah kekuasaan I Gusti Agung Ngurah Made Agung, Kerajaan Badung menyerbu Sibang yang merupakan daerah kekuasaan Puri Sibang yang merupakan negara bagian Kerajaan Mengwi. Kerajaan Badung yang dimotori oleh tentara bayaran Belanda mampu menaklukkan Sibang. Kerajaan Mengwi tidak mampu memberikan bantuan kepada Sibang seperti dulu ketika Badung menaklukan Padangluah. Dengan ditaklukkannya Puri Sibang, walaupun tidak seluruh kekuasaannya berhasil dilucuti, namun kerajaan Badung akhirnya memperoleh kuasa untuk melakukan penggalian sebuah saluran tambahan yang mengalirkan air dari sungai Ayung ke daerah persawahan di Badung. Pada periode kepemimpinan Raja I Gusti Agung Ngurah Made Agung itu, Raja Mengwi tidak lebih dari pemimpin satelit dari Raja Badung. Ia harus menyetorkan sebagian dari penghasilan kerajaan untuk dan mengirimkan bahan-bahan yang diperlukan untuk menyelesaikan pembangunan Puri Denpasar dan diharapkan memberikan sumbangan pada upacara pengebenan di Badung. [Nordholt, p.139]

I Gusti Wayahan Pamedekan – Babad Tabanan (-1647)

I Gusti Wayahan Pamedekan – Babad Tabanan (-1647)

Kembali diceritakan, dahulu ketika Sang Prabhu Winalwan Raja IV menyerahkan kerajaan kepada puteranya, maka dilantiklah I Gusti Wayahan Pamedekan bergelar Arya Ngurah Tabanan Natha Singhasana. Adiknya I Gusti Made Pamedekan, yang terkenal sakti dan kebal sebagai pengawal pribadi kakaknya.

I Gusti Wayahan Pamedekan berputera 2 orang:
  1. I Gusti Nengah Mal Kangin
  2. seorang puteri.tidak disebutkan namanya

Raja I Gusti Wayahan Pamedekan, atas perintah Dalem Di Made dari Suwecapura (Gelgel), berangkat ke Blambangan bersama Kyai Ngurah Pacung memimpin laskar Bali menyerang laskar Sultan Agung Mataram. Beliau Berdua tidak berhasil dalam berperang karena kebanyakan musuh, Dalam pertempuran itu pasukan Bali kalah.

Kiyai Wayangan Pemandekan :
"..... Hai adikku, perintahkan seluruh pasukan perang balik ke Bali, biarlah aku menghadapi pasukan perang Mataram seorang diri ....."
Itulah teriakan dan sikap satria
Kiyai Wayahan Pemandekan untuk menghindari korban yang lebih banyak di pihak Bali

Menurut ‘Kidung Pamancanggah” disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Dalem Di Made telah dilakukan pertemuan penting di istana Gelgel yang dihadiri oleh seluruh pemuka pemuka di wilayah Bali yang mana pertemuan tersebut membahas tentang perebutan wilayah Kerajajaan Gelgel didaerah Pasuruan yang dilakukan oleh Kerajaan Mataram di Jawa Tengah.