Google+
Tampilkan postingan dengan label Penyembah Berhala. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyembah Berhala. Tampilkan semua postingan

Guru Palsu: Ketika Manusia dijadikan Tuhan

 Guru Palsu: Ketika Manudia dijadikan Tuhan

Di zaman ini, tak sedikit manusia mengangkat sosok gurunya menjadi Tuhan. Mereka tidak hanya menghormati, tapi juga menyembah , memuja , dan menganggap bahwa gurunya adalah penjelmaan Tuhan itu sendiri . Bahkan di antara para pengikut sekte tertentu seperti Hare Krishna dan pengagum Sai Baba, muncul keyakinan bahwa sang guru tidak hanya membimbing, tetapi juga menggantikan posisi Tuhan di hati mereka .

Saat Murid Menjadi Budak

Hubungan guru dan murid dalam ajaran dharma bukan sekadar hubungan pengagum dan penyembahan berhala. Seorang guru sejati memerdekakan muridnya—bukan mengikatnya. Seorang murid yang bijak menghormati gurunya—bukan menuhankannya. Namun di zaman ini, garis batas itu mulai kabur. Di banyak sekte, guru dipuja layaknya Tuhan , bahkan lebih tinggi dari Tuhan. Fenomena ini mengingatkan kita pada satu kisah klasik dalam Mahābhārata:

Kisah Ekalavya: Murid Hebat yang Menjadi Budak Pemujaan

Ekalavya adalah pemuda dari kalangan Nishada yang bercita-cita menjadi pemanah ulung. Drona Ācārya menolak mengajarinya karena ia bukan dari kasta bangsawan. Namun karena tekadnya yang kuat, Ekalavya membuat patung Drona dan setiap hari berlatih panah di hadapan patung itu, menyembahnya seperti Tuhan.

Berkat kesungguhannya, ia menjadi pemanah luar biasa. Namun, saat Drona mengetahui kehebatan Ekalavya, ia meminta ibu jari notifikasi sebagai guru-dakṣiṇā (hadiah untuk guru) —dan Ekalavya, yang memuja patung itu sebagai guru ilahi, memberikannya tanpa berpikir.

Sejak saat itu, kehebatannya sirna. Ia bukan lagi pemanah unggul, tapi hanya bayangan dari kejayaannya sendiri.

Mengapa ini terjadi?

Karena Ekalavya menyerahkan logikanya kepada simbol yang ia ciptakan sendiri. Ia tidak pernah benar-benar belajar dari sang guru, tetapi menciptakan sekte pemujaan atas nama sang guru. Dan pada akhirnya, “Tuhan-nya” sendiri yang merampas masa depannya.


Kisah Krishna dan Para Guru: Belajar Tanpa Pemujaan Buta

Sebaliknya, lihatlah Kṛṣṇa , perwujudan kebijaksanaan itu sendiri. Dalam berbagai teks, ia tidak pernah menuhankan gurunya. Saat muda, ia berguru kepada Mahārṣi Sāndīpani, dan kemudian mendalami filsafat Atman dari Mahārṣi Angiras (diceritakan dalam Chāndogya Upaniṣad ) dan kepada Mahārṣi Upamanyu dalam kedewataan dan dharma.

Tapi tak ada satupun sloka yang menyatakan Kṛṣṇa membangun altar untuk gurunya , atau menyembah gurunya sebagai wujud Tuhan. Ia menghormati mereka, belajar dari mereka, lalu melampaui mereka .

Karena tujuan guru sejati bukan agar dirinya dipuja, tapi agar muridnya tercerahkan.


Analogi dan Bahaya: Dari Murid Menjadi Robot Fanatik

Menganggap guru sebagai Tuhan membuka pintu kehancuran logika. Murid tidak lagi berpikir, hanya berpendapat. Murid tidak lagi mengejar kebebasan, hanya mengejar restu. Akhirnya mereka berubah menjadi robot spiritual , yang tidak berkembang, hanya mengulang pujian dan mantra untuk sang guru, bukan untuk Atman, bukan untuk Brahman.

Inilah yang tidak pernah diajarkan dalam Mahābhārata, Rāmāyaṇa, atau Purāṇa. Bahkan dalam teks-teks bhakti sekalipun, Tuhan tidak pernah berkata agar seorang guru disembah sebagai Diri-Nya sendiri.


apakah benar ajaran Veda yang murni membenarkan pandangan ini? 


I. TUHAN ADALAH TANPA WUJUD DAN TAK TERBAYANGKAN (Śruti)

1. Rgveda 1.164.46

ekam sad viprā bahudhā vadanti
terjemahannya: "Yang Esa itu disebut dengan banyak nama oleh para bijak."

Sloka ini tidak pernah menyebut “guru” sebagai Tuhan. Ia menyatakan bahwa Realitas Tertinggi adalah satu, tidak berbadan, dan tidak bisa diwakili oleh satu wujud manusia, apalagi dijadikan objek pemujaan pribadi.

2. Atharva Veda 10.8.1

yaḥ sarvāṇi bhūtāni ātmany evānupaśyati...
terjemahannya: "Dia yang melihat semua makhluk dalam dirinya, dan dirinya dalam semua makhluk, itulah yang melihat Kebenaran."

Yang menjadi pusat kenyataan adalah Kesadaran Semesta , bukan tokoh atau individu spiritual, betapa pun karismatiknya mereka.

3. Muṇḍaka Upaniṣad 1.1.6

parīkṣya lokān karmacitān brāhmaṇaḥ... śrotriyaṁ brahmaniṣṭham
terjemahannya: "Seorang pencari sejati setelah menyelidiki dunia dan ritual, datang kepada guru yang memahami Śruti dan berdiam dalam Brahman."

Guru adalah pembuka jalan , bukan objek pemujaan. Ia bukan Tuhan; ia adalah penunjuk arah menuju Tuhan .


II. KRISHNA PUN MENOLAK PEMUJAAN DIRINYA SEBAGAI PRIBADI (Smṛti)

1. Bhagawad Gita 7.24

avyaktaṁ vyaktim āpannaṁ manyante māṁ abuddhayaḥ
terjemahannya: "Orang bodoh berpikir bahwa Aku yang tidak berwujud ini mengambil wujud manusia dan membatasi Diri-Ku."

Krishna sendiri berpendapat bahwa Tuhan mengambil tubuh manusia sebagai bentuk final-Nya. Ini jelas menolak anggapan bahwa guru yang lahir dan mati bisa dianggap sebagai inkarnasi Tuhan.

2. Mahābhārata, Śānti Parva 12.285.4

na jātam na janayiṣyati tulyam
terjemahannya: "Tidak pernah lahir, dan tak akan pernah lahir seseorang yang setara dengan-Nya."

Dengan demikian, menganggap ada guru zaman modern yang sederajat atau lebih tinggi dari Tuhan seperti Krishna adalah kesalahan besar.

3. Harivaṁśa Parva 2.114.9

tvam eva māṁ pratyag-ātmānam ātmānaṁ vettha kevalam
terjemahannya: "Engkau hanya bisa dikenal oleh Diri-Mu sendiri."

Tuhan hanya bisa dikenal oleh dirinya sendiri , bukan oleh klaim orang-orang yang mengatakan "saya adalah Tuhan" atau "guru saya adalah Tuhan."


III. APA KATA UPANIṢAD TENTANG PENYEMBAHAN GURU?

1. Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 1.4.10

ātmā vā are draṣṭavyaḥ śrotavyo mantavyo nididhyāsitavyaḥ
terjemahannya: "Atman harus dilihat, didengar, direnungkan, dan direalisasikan."

Fokusnya adalah pada realisasi Atman , bukan pemujaan pada sosok manusia.

2. Kaṭha Upanisad 1.2.23

nāyam ātmā pravacanena labhyo... yam evaiṣa vṛṇute tena labhyaḥ
terjemahannya: "Atman tidak bisa dicapai dengan ceramah atau ajaran verbal saja. Ia hanya dapat direalisasikan oleh siapa yang dipilih oleh-Nya."

Tak ada satupun yang menyatakan bahwa guru adalah Tuhan. Guru hanyalah instrumen, bukan sumber realitas.


IV. TANDA-TANDA GURU PALSU

A. Mengklaim sebagai Tuhan, titisan Tuhan atau utusan Tuhan.

B. Menuntut pemujaan seperti kepada Tuhan.

C. Menjadikan pengikut fanatik dan anti kritik.

D. Menggantikan Sruti dengan kata-katanya sendiri.

E. Menghalangi jalan kebebasan spiritual dan menggantinya dengan kultus kepribadian.

"
Guru palsu itu bukan hanya manis di bibir dan fasih berfilsafat, tapi juga lihai berjualan sulap, dagang “kitab suci” versi wacananya sendiri, dan tak segan mencaci guru lain demi terlihat paling suci—padahal ia hanya pedagang ego yang berkedok rohani.
"

Semua ini bertentangan dengan ajaran para ṛṣi sejati , dan menyeret pemuja ke dalam māyā kolektif yang memuja manusia sebagai ilahi.

KESIMPULAN: TUHAN BUKAN ARTIS ATAU TOKOH SPIRITUAL

Memuja Tuhan bukan seperti mengidolakan artis atau tokoh agama.
Tuhan bukan selebritas spiritual yang bisa dipanggil “Swami”, disalami, diciumi, atau ditaruh di atas altar.

Tuhan adalah Kesadaran Murni, melampaui tubuh, nama, dan tempat.

yasya nama smaraṇāt muktiḥ , kata smṛti – bahkan hanya mengingat nama-Nya , manusia bisa bebas. Maka mengapa menyembah tubuh guru, yang justru menuntut pemujaan?

Ketika guru dipuja seperti Tuhan, maka ajaran Veda telah dibelokkan menjadi sekte. Ketika Tuhan tiba menjadi tokoh karismatik, maka spiritualitas berubah menjadi fanatisme.

Jangan biarkan Tuhan yang tanpa wujud disempitkan oleh ego manusia yang berbaju spiritual.
Kembalilah kepada Sruti. Hormati guru, tapi sembahlah hanya Brahman.

Mereka menyebut guru, tapi memperlakukannya seperti Tuhan; mereka bilang mencari pencerahan, tapi justru membangun altar bagi manusia yang bisa mati, sakit, dan tidur. Ini bukan bhakti, ini penyembahan berhala spiritual berkedok suci. Mereka menjadikan manusia sebagai pusat semesta dan mengafirmasi setiap kentut sang guru sebagai sabda ilahi. Inilah tragedi zaman: ketika akal diserahkan pada sandal gurunya, dan hati ditambatkan pada jubah yang wangi dupa. Mereka menyebutnya cinta spiritual, padahal itu hanya candu kolektif, tempat di mana asal mula berputar dalam lingkaran pujian, dan logika dicekik atas nama wahyu. 

Kenapa Orang Bali memuja Pretima?

Kenapa Orang Bali memuja Pretima?

inilah pertanyaan "maut" yang sering kita dengar, disaat kita bergaul di lingkungan non-hindu. sebuah pertanyaan yang sangat simple terkesan mudah dijawab, tetapi bilah salah ucap makan kita orang bali akan di-CAP BERHALA.
untuk membantu semeton bali menjawab petanyaan tersebut, saya akan coba menjelaskan pemahaman singkat tentang jawaban untuk pertanyaan tersebut.

apa itu Pratima atau Arca?

Pratima atau Arca merupakan "simbol" Dewa/Bhatara yang dipergunakan sebagai alat untuk memuja Sanghyang Widhi Wasa. Penggunaan Pratima atau arca sebagai alat memuja Tuhan berlangsung sebelum kerajaan Singasari dan Majapahit. Kini penggunaan pratima sudah jarang dilakukan, pratima dan arca saat ini merupakan sebagai pusaka yang dikeramatkan.

Kata arca asalnya dari bahasa sansekerta yang sudah diserap kedalam bahasa indonesia. Nama lain arca adalah murti atau pratima. Dalam bukunya Darshan : Seeing the Divine Image in India, Professor Diana Eck dari Harvard University, Amerika menuliskan sbb:
“just as the term icon conveys the sense of a ‘likeness’ so do the Sanskrit word pratikriti and pratima suggest the ‘likeness’ of the image of the deity it represents. The common word for such image, however, is murti, wich is defined in Sanskrit as ‘anything which has difinite shape and limit, ‘ ‘a form, body, figure,’ ‘an embodiment, incarnation, manifestation. ‘Thus the muti is more than a likeness;it is the deity itself taken ‘form’… The uses of the word murti in the upanisads and the ‘Bhagavad-gita’ suggest thet the form is its essence. The flame is the murti of fire, (etc)…”
Artinya :
“Seperti halnya istilah ikon menunjukkan makna ‘kesurupan’ begitu pula kata-kata pratikrti dan pratima dalam bahasa Sansekerta mengandung makna ‘kesurupan’ antara gambar atau patung dengan dewata yang dilambangkannya. Namun, kata yang umum digunakan untuk menyebut patung seperti itu adalah murti yang didefinisikan sebagai ‘segala sesuatu yang memiliki bentuk dan batas tertentu,’ ‘suatu bentuk, badan, atau figur,’ ‘sebuah perwujudan, penjelmaan, pengejawantahan.’ Jadi murti lebih dari sekedar ‘kesurupan’, melainkan dewata sendiri yang telah mewujud. …Pemakaian kata murti dalam berbagai Upanisad dan ‘Bhavad-gita’ menunjukkan bahwa bentuk atau wujud itu adalah hakekat atau esensinya. Nyala api adalah murti dari api, dan sebagainya…
Sayangnya setelah diserap ke dalam bahasa indonesia, kata arca kemudian dimaknai identik dengan kata patung atau berhala, dan sering berkonotasi negatif.

mengapa melakukan pemujaan pretima?

mengapa seseorang menaruh keyakinan pada kepingan logam, kayu atau batu yang dicetak atau diukir atau dipahat sebagai dewa?
semua itu tidak lebih dari sekedar benda-benda tak bernyawa.

Orang Bali menyembah Patung atau Batu? (hindu memuja berhala)

Orang Bali menyembah Patung atau Batu? (Hindu memuja Berhala)

sebelum kita membahas tentang "Hindu memuja Patung atau Batu", mari kita simak dulu sloka bhagawad gita 4.11
ye yathā mām prapadyante tāms tathaiva bhajāmy aham, mama vartmānuvartante manusyāh pārtha sarvaśah
"Jalan mana pun yang ditempuh seseorang kepada-Ku, Aku memberinya anugerah setimpal. Semua orang mencari-Ku dengan berbagai jalan, wahai putera Partha"

dari ayat bhagawad gita tersebut, muncullah 4 jalan menyembah Tuhan, salah satu diantaranya adalah dengan jalan BAKTI. 
dimana jalan bakti ini diperuntukan bagi umat yang tingkat keyakinannya masih tahap awal, dan pengetahuan tentang agama masih di tahap awal. "makna yang terkantung dalam Ajaran Bakti adalah Cinta Kasih". penganut Bakti Marga ini kemudian dikenal dengan sebutan BAKTA, adapun ciri para penganut jalan BAKTI ini adalah fanatisme, keyakinan berlebihan dan selalu berupaya dekat dengan yang dicintainya (Tuhan) dengan jalan sederhana.
contohnya: Agama dan Kepercayaan yang berkembang sekarang, dimana fanatik dan tidak mau disaingi.
dan ini salahsatunya yang sering dilakukan dan dikatakan orang yang menganut Agama dengan Jalan Bakti
"saya bukan pemuja berhala, saya memuja Tuhan"  - walaupun kenyataan seperti pemuja berhala.
memuja Batu dan Patung
berbagai alasan dan ber-aneka dalil pembenaran bahwa Agama'ku paling sempurna, sehinga tidak mengaku dekat dengan yang namanya Berhala.
berikut ini sedikit gambaran Agama dengan sistim pemujaan Jalan Bakti

Alasan Tak Logis Orang Bali Pindah Agama

Alasan Tak Logis Orang Bali Pindah Agama

akibat pindah agama
alasan tak logis pindah agama hindu
Ada banyak hal yang membuat seseorang akhirnya memutuskan untuk pindah agama. Lalu, apa alasan orang Bali pindah agama?

Disamping kuat dalam memegang tradisi/adat, masyarakat Bali yang mayoritas pemeluk Hindu juga dikenal sebagai masyarakat yang religius dan taat dalam menjalankan agama. Bagaimana tidak, oleh orang asing Bali sampai dijuluki “The Island of thousand temple” (pulau seribu pura) saking banyaknya Pura (tempat pemujaan Tuhan dan segala manifestasinya) yang bisa ditemukan di pulau ini.

Namun, bukan berarti tidak ada orang Bali yang pindah agama. Justru, setidaknya menurut pengamatan saya, orang Bali yang semula pemeluk Hindu lah yang lebih banyak pindah ke agama lain dibandingkan sebaliknya.

Memang, idealnya, sekali memeluk suatu agama selamanya takkan berubah. Sayangnya, kita tidak hidup di dunia yang serba ideal. Ada banyak kondisi yang membuat seseorang — termasuk orang Bali — akhirnya memutuskan untuk pindah agama.

Lalu, apa alasan orang Bali pindah agama?

Inilah 5 alasan orang Bali — yang awalnya beragama Hindu — memutuskan untuk pindah agama, setidaknya yang terungkap ke publik.

  1. Terlanjur Jatuh Cinta
  2. Capek Miskin
  3. Jadi Orang Bali itu Repot dan Berat Di Ongkos
  4. Berprinsip “Semua Agama Sama”
  5. Agama Tidak Penting

berikut ini penjelasan Alasan Orang Bali Pindah Agama