Google+
Tampilkan postingan dengan label Raja Bangli. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Raja Bangli. Tampilkan semua postingan

Para Putra Wang Bang menyebar di Bangli

Para Putra Wang Bang menyebar di Bangli

Diceritakan sekarang para putra raja Baleagung yang tidak wafat, ada yang mengungsi ke jagat Karangasem di Sindhu bernama I Gusti Dauh, disertai oleh Pendeta Manuaba, membawa pusaka I Loting serta pariagem (prasasti). Di sana disambut oleh I Gusti Sidemen. Putra I Gusti Tumenggung bertempat di Pekandelan Baleagung Bangli, di selatan Dalem Bujangga, turun wangsa setelah mengawini perempuan asal Pasek Bendesa menjadi watek Dangin. Serta ada yang berpindah membawa ayam menuju Manikliyu dihaturkan kepada Sanghyang Surya menyembah dengan ancak-ancak ayam, tetapi Dalem Bujangga masih diingat, karena itu di sana ada Pura Ancak.

Keturunan I Gusti Caling Lingker teguh memegang wangsanya tinggal di Bale Agung, memelihara Pura Dalem Bujangga
Putra I Gusti Batan Waringin, ada dua orang:

  1. menjadi pengemong di arca
  2. I Gusti Ngurah Kancing Masuwi, mengungsi menuju sungai Melangit naik ke desa Tambaan tempat kediaman leluhurnya Ida Bang Wayabiya melakukan yoga dahulu. Seterusnya menjadi Arya Bang Tambaan.

Keturunan I Gusti Dangin Pasar, yang pertama:

  1. I Gusti Ngurah Lukluk,
  2. I Gusti Ngurah Demang diam-diam pergi ke daerah Petak. 
  3. I Gusti Demung pergi diam-diam di sebelah barat Bebalang, di desa pulung

Keturunan I Gusti Praupan bernama:

  • I Gusti Wayahan, pergi diam-diam ke hutan Belancan, Kintamani, membawa pusaka berang serta kawitan. Disertai dengan setia oleh rakyatnya I Pasek serta I Bendesa. Lama beliau itu di Plancan Bonyoh, membuat tempat suci bernama Pura Anggarkasih
  • I Gusti Ngurah Anom Tengen, pergi diam-diam ke Bebalang
  • I Gusti ayu Alit. 
  • I Gusti Gede Raka Oka, pergi berdiam di Alas Tugak, disertai oleh pengikutnya I Pasek Bendesa.

Gusti Ngurah Praupan menjadi Raja Bangli

Gusti Ngurah Praupan menjadi Raja Bangli

Pada masa pemerintahan Ida I Gusti Ngurah Praupan, memang benar-benar beliau itu terkenal akan kecakapannnya dalam mengatur tata pemerintahan serta juga mengasihi rakyatnya semua. Itu sebabnya beliau sangat dipuja oleh rakyat semua se kawasan Bangli. Apalagi beliau didampingi oleh Ida Peranda yang bertempat tinggal di Griya Bebalang, sebagai bhagawanta beliau yang memegang kekuasaan, menjadi subur makmur dan sejuk kawasan Singharsa Bangli pada waktu itu .

Diceritakan sekarang raja di Taman Bali yang bernama I Dewa Gede Tangkeban, sentosa kerajaannya. Tetapi tidak lupa pada pertikaiannya dengan penguasa kawasan Singharsa Bangli. 

Pada saat pemerintahan I Gusti Praupan, diceriterakan di Taman Bali ada petugas jaga (gebagan) menginap di istana Taman Bali, mereka disuruh mencuri di Puri Singharsa Bangli. Mereka itu disuruh agar datang diam-diam kemudian membunuh I Gusti Ngurah Praupan beserta tanda mantrinya bernama Ki Arya Batan Waringin. Dan lagi mereka itu diberikan keris. Lalu berangkatlah kedua orang itu . Setibanya di Bangli di Puri Baleagung, dilihatnya di sana I Gusti Ngurah Praupan sedang dihadap di Balai Penghadapan. Lengkap di balai itu, dan semuanya membawa senjata. Saat itu merasa takut keduanya, merasa tidak akan berhasil melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, karena sangat menanggung resiko dan berbahaya untuk menuju tempat I Gusti berdua. 
Kemudian I Gusti Ngurah Praupan melihat kedua orang itu. Lalu segeralah berhatur sembah keduanya karena kehabisan akal, kepada I Gusti Ngurah Praupan. Katanya : 
“Inggih palungguh Gusti, mohon dimaafkan, mohon hidup hamba. Hamba sebenarnya diutus oleh Dewa Taman Bali, agar hamba membunuh palungguh I Gusti. Namun tidak berani hamba kepada tuanku. Sekarang agar tahu tuanku akan daya upaya I Dewa Taman Bali. Karena besar nian iri hatinya kepada tuanku “. 
Demikian atur mereka bedua, menjadi gembiralah I Gusti Ngurah Praupan serta berkata ; 
“Duh engkau utusan dari Taman Bali, memang demikiankah katamu. Kalau memang benar engkau tidak berani padaku, dan juga memang tidak akan berhasil melaksanakan perintah yang ditugaskan kepadamu, nah sekarang aku memberitahu, jika engkau ingin, dengan senang hatilah engkau kembali ke Taman Bali. Bunuhlah tuanmu di Taman Bali. Jika engkau berhasil melaksanakan perintahku ini, jika sudah mati tuanmu olehmu, kuberikan engkau memerintah negara Taman Bali”.