Gusti Ngurah Praupan menjadi Raja Bangli
Pada masa pemerintahan Ida I Gusti Ngurah Praupan, memang benar-benar beliau itu terkenal akan kecakapannnya dalam mengatur tata pemerintahan serta juga mengasihi rakyatnya semua. Itu sebabnya beliau sangat dipuja oleh rakyat semua se kawasan Bangli. Apalagi beliau didampingi oleh Ida Peranda yang bertempat tinggal di Griya Bebalang, sebagai bhagawanta beliau yang memegang kekuasaan, menjadi subur makmur dan sejuk kawasan Singharsa Bangli pada waktu itu .
Diceritakan sekarang raja di Taman Bali yang bernama I Dewa Gede Tangkeban, sentosa kerajaannya. Tetapi tidak lupa pada pertikaiannya dengan penguasa kawasan Singharsa Bangli.
Pada saat pemerintahan I Gusti Praupan, diceriterakan di Taman Bali ada petugas jaga (gebagan) menginap di istana Taman Bali, mereka disuruh mencuri di Puri Singharsa Bangli. Mereka itu disuruh agar datang diam-diam kemudian membunuh I Gusti Ngurah Praupan beserta tanda mantrinya bernama Ki Arya Batan Waringin. Dan lagi mereka itu diberikan keris. Lalu berangkatlah kedua orang itu . Setibanya di Bangli di Puri Baleagung, dilihatnya di sana I Gusti Ngurah Praupan sedang dihadap di Balai Penghadapan. Lengkap di balai itu, dan semuanya membawa senjata. Saat itu merasa takut keduanya, merasa tidak akan berhasil melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, karena sangat menanggung resiko dan berbahaya untuk menuju tempat I Gusti berdua.
Kemudian I Gusti Ngurah Praupan melihat kedua orang itu. Lalu segeralah berhatur sembah keduanya karena kehabisan akal, kepada I Gusti Ngurah Praupan. Katanya :
“Inggih palungguh Gusti, mohon dimaafkan, mohon hidup hamba. Hamba sebenarnya diutus oleh Dewa Taman Bali, agar hamba membunuh palungguh I Gusti. Namun tidak berani hamba kepada tuanku. Sekarang agar tahu tuanku akan daya upaya I Dewa Taman Bali. Karena besar nian iri hatinya kepada tuanku “.
Demikian atur mereka bedua, menjadi gembiralah I Gusti Ngurah Praupan serta berkata ;
“Duh engkau utusan dari Taman Bali, memang demikiankah katamu. Kalau memang benar engkau tidak berani padaku, dan juga memang tidak akan berhasil melaksanakan perintah yang ditugaskan kepadamu, nah sekarang aku memberitahu, jika engkau ingin, dengan senang hatilah engkau kembali ke Taman Bali. Bunuhlah tuanmu di Taman Bali. Jika engkau berhasil melaksanakan perintahku ini, jika sudah mati tuanmu olehmu, kuberikan engkau memerintah negara Taman Bali”.