Google+
Tampilkan postingan dengan label Sanggah Taksu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sanggah Taksu. Tampilkan semua postingan

Pelinggih Taksu di Merajan

Pelinggih Taksu di Merajan/Sanggah

Pada areal sanggah kamulan, ada sebuah pelinggih yang penting yaitu Taksu.
Pelinggih Taksu Agung adalah tempat untuk menghubungkan dan mendekatkan diri kehadapan Sang Hyang Taksu Agung atau Sang Hyang Adi Taksu. Bangunan Pelinggih Taksu ini Berbentuk Gedong dengan tiga kaki penyanga gedong serta anda bangunan dengan dua tiang (saka) didepannya.

Kata Taksu sudah merupakan bahasa baku dalam kosa kata Bali, yang dapat diartikan sebagai daya magis yang menjadikan keberhasilan dalam segala aspek kerja. Misalnya para seniman, pragina, dalang, balian, dalang dll. Mereka berhasil karena dianggap "metaksu".
sehingga kata "Taksu" tersebut bersifat Universal dan merupakan kekuatan profesi masing-masing umat. Setiap manusia memiliki profesionality (wiguna) sesuai dengan konsep "Catur Warna"
Dengan adanya profesi (Guna) memerlukan sekali anugerah Sang Hyang Widhi melalui manifestasinya yaitu Sang Bhuta Kala Raja, beliaulah sebagai sedahan Taksu dengan dewan taksu Sang Hyang Aji Saraswati. Taksu itu seseungguhnya adalah kekuatan magis dari Sang Hyang Widhi, dimana kekuatan tersebut merupakan kekuatan Gravitasi (gaya tarik), dengan kekuatan tersebut menyatu dengaan kekuatan magis manusia serta membangkitkan kekuatan manusia sehingga manusia memiliki kharisma, kekuatan yang menarik dan kemampuan spiritual sesuai dengan profesinya. Dengan demikian bangunan Suci Taksu sangat perlu dibuat sebagai stana Dewa Profesi.

Tempat Suci didalam Pekarangan Rumah

Tempat Suci didalam Pekarangan Rumah

Tempat Suci didalam Pekarangan Rumah sangatlah penting dalam kaitannya dengan hubungan umat dengan Tuhan. Sering juga umat menanyakan bangunan/pelinggih apa saja yang mesti dibuat dalam pekarangan rumah tersebut. Menurut beberapa sumber, bangunan/palinggih yang harus ada didalam pekarangan rumah adalah sanggah dan tugu Pangijeng/penunggun karang. Berikut penjelasannya;

Sanggah/Merajan

tempat suci untuk memuliakan dan memuja arwah suci para leluhur terutama ibu dan bapak yang sudah tiada dan berada di alam baka (sunia loka) bagi masyarakat Hindu di Bali disebut dengan merajan atau sanggah. Pembuatan sanggah/merajan tidak sekedar hanya hiasan belaka, namun didasari atas landasan sastra yang menaunginya. Landasan sastra dalam membangun sanggah atau merajan banyak terdapat dalam kitab suci, seperti dalam Bhagawad Gita yang menyebutkan:
Samkaro narakayaiva
kulaghnanam kulasya ca
pantati pitaro hy esam
lupta-pindodaka-kriyah
. (Bhagawad Gita I. 42)
Terjemahan:
Keruntuhan moral ini membawa keluarga dan para pembunuhnya ke neraka, arwah moyang jatuh (ke neraka), semua terpana, air dan nasi tidak ada lagi baginya. (Pudja, 2005: 26).
Penjelasan dari arti sloka diatas: