Google+
Tampilkan postingan dengan label mahabharata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mahabharata. Tampilkan semua postingan

Kṛṣṇa sebagai Puruṣottama dalam Mahābhārata: Analisis Filosofis Berdasarkan Adi Parva

Kṛṣṇa sebagai Puruṣottama dalam Mahābhārata: Analisis Filosofis Berdasarkan Adi Parva


Dari Puruṣa ke Puruṣottama

Dalam filsafat Vedānta, dikenal konsep Puruṣa sebagai realitas tertinggi: eksistensi murni yang melampaui atribut, nirguṇa brahman. Namun, Mahābhārata, khususnya Adi Parva, tidak hanya membahas Puruṣa dalam tataran metafisika abstrak. Ia hadir dalam bentuk yang dinamis, personal, dan interaktif dengan dunia. Sosok agung ini kemudian disebut Puruṣottama – "Puruṣa yang paling utama, paling sempurna."

Makalah ini menelusuri bagaimana Adi Parva menyusun kerangka teologis sejak awal narasi, dan menempatkan Kṛṣṇa sebagai Puruṣottama, bukan semata karena kehebatannya dalam perang, tetapi karena ia adalah pengejawantahan tertinggi dari prinsip kosmik itu sendiri.

Menegaskan Hirarki Kosmis

Ādyaṁ puruṣam īśānaṁ puruhūtaṁ puruṣṭtutam
ṛrtam ekākṣaraṁ brahma vyaktāvyaktaṁ sanātanam
(MBh 1.1.20)

"Ia adalah puruṣa pertama (ādyaṁ puruṣam), penguasa tertinggi (īśānaṁ), yang dipuja para dewa (ūpuru-hūtaṁ), yang diagungkan oleh semua (ūpuruṣṭtutam), kebenaran kosmis (ṛrtam), satu aksara OM (ekākṣaram), Brahman yang mencakup yang termanifestasi dan tidak (vyakta–avyaktaṁ), serta kekal abadi (sanātanam)."

Sloka ini memperkenalkan kita pada keberadaan absolut – bukan dewa personal, tapi realitas tunggal yang menyeluruh. Ia adalah nirguṇa brahman yang mengandung semua potensi penciptaan.


Dari Nirguṇa ke Saguṇa: Para Dewa Muncul dari Puruṣa

Maṇgalyaṁ maṇgalaṁ viṣṇuṁ vareṇyam anaghaṁ śucim
Namaskṛtya Hṛṣīkeśaṁ carācaraguruṁ harim
(MBh 1.1.22)

"Yang membawa berkah (maṇgalyaṁ), Viṣṇu yang layak dipuja (vareṇyam), tanpa cela dan murni (anaghaṁ śucim). Aku bersujud kepada Hṛṣīkeśa (penguasa indra), guru dari semua makhluk (carācara-guruṁ), yaitu Hari."

Setelah mendefinisikan Puruṣa dalam bentuk nirguṇa, teks Mahābhārata beralih memperkenalkan Viṣṇu sebagai bentuk saguṇa brahman, realitas ilahi yang dapat didekati dan dipuja. Viṣṇu bukan hanya personifikasi kekuatan, tetapi juga panduan bagi semua makhluk.

Yasmāt pitāmaho jajñe prabhur ekaḥ prajāpatiḥ
Brahmā suraguruḥ sthāṇur manuḥ kaḥ parameṣṭhy atha
(MBh 1.1.30)

"Dari-Nya muncul Pitāmaha (Brahmā), sang prajāpati tunggal, guru para dewa, keteguhan (Sthāṇu/Śva), Manu, Kaḥ (Tuhan yang tak terlukiskan), dan Parameṣṭhin."

Semua entitas agung lahir dari satu asal: Puruṣa. Kaḥ merujuk pada Tuhan dalam bentuk misteri, tak terdefinisi. Ini mengokohkan bahwa Puruṣottama adalah sumber dari segala bentuk eksistensi.


Vāsudeva dan Para Pāṇḍava sebagai Manifestasi Dharma

Vāsudevasya māhātmyaṁ pāṇḍavānāṁ ca satyatām
Durvṛttaṁ dhārtarāṣṭrāṁām uktavān bhagavān ṛṣiḥ
(MBh 1.1.60)

"Sang bhagavān ṛṣiḥ (Vyāsa) menyampaikan keagungan Vāsudeva (Kṛṣṇa), kebenaran dan ketulusan para Pāṇḍava, serta perilaku jahat para keturunan Dhṛtarāṣṭra."

Ini adalah deklarasi moral dan spiritual yang memperkuat bahwa narasi Mahābhārata adalah drama kosmik antara Dharma dan Adharma. Vāsudeva adalah pusat etis dan metafisik cerita.


Kṛṣṇa sebagai Puruṣottama secara Eksplisit

Pratipede mahābāhuḥ saha rāmeṇa keśavaḥ
Vṛṣṇyandhakamahābhojaiṇ saṁvṛtaḥ puruṣottamaḥ
(MBh 1.214.59)

"Keśava (Kṛṣṇa) yang berlengan kuat (mahābāhuḥ), datang bersama Rāma, dikelilingi oleh para Yādava dan disebut sebagai Puruṣottama."

Ete cānye ca bahavo devās tau puruṣottamau
Kṛṣṇa pārthau jighāṁsantaḥ pratīyur vividhāyudhāḥ
(MBh 1.218.37)

"Para dewa dengan berbagai senjata mendekat untuk menyerang dua Puruṣottama: Kṛṣṇa dan Pārtha (Arjuna)."

Kedua sloka ini menyematkan gelar Puruṣottama secara eksplisit pada Kṛṣṇa, dan bahkan dalam konteks perang besar, gelar ini dibagi dengan Arjuna. Dalam konteks ini, Kṛṣṇa adalah Nārāyaṇa, dan Arjuna adalah Nara — pasangan abadi dalam peran ilahi mereka.


Kesimpulan: Mahābhārata sebagai Wahyu tentang Puruṣottama

Adi Parva bukan hanya pengantar cerita. Ia adalah fondasi metafisik dan teologis yang memperkenalkan Puruṣottama sejak awal. Dari Puruṣa yang bersifat nirguṇa, menjadi Viṣṇu yang saguṇa, lalu menjelma sebagai Kṛṣṇa — yang bukan sekadar manusia agung, tetapi realitas tertinggi yang menjelma demi menjaga Dharma.

Dalam filsafat Vedānta, pengenalan Brahman sebagai ekākṣara dan ṛtam dipadukan dalam Mahābhārata dengan narasi epik. Di sinilah spiritualitas dan sejarah menyatu. Dan melalui figur Kṛṣṇa — sang Puruṣottama — Mahābhārata menjadi bukan hanya epos, tetapi juga wahyu agung yang mengajarkan manusia tentang hakikat Ilahi yang hadir di tengah-tengah dunia.


Sang Jarat Karu pesan bagi Anda untuk segera menikah

Sang Jarat Karu pesan bagi Anda untuk segera menikah


Epos Mahabharata dibagi menjadi delapan belas parwa, yang dikenal dengan Astadasaparwa. Parwa-parwa tersebut merupakan prosa yang diadaptasi dari bagian epos-epos dalam bahasa Sanskerta dan juga menunjukkan ketergantungannya dengan kutipan-kutipan dari karya asli bahasa Sanskerta tersebut. Delapan belas parwa tersebut secara berurutan mulai dari: Adiparwa, Sabhapawra, Wanaparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Striparwa, Santhiparwa, Anusasanaparwa, Aswamedhikaparwa, ramaparwa, Mausalaparwa, Mahaprasthanikaparwa, dan Swargarohanaparwa. Delapan belas parwa tersebut, Adiparwa merupakan parwa pertama, di dalamnya mengandung berbagai cerita, salah satunya Carita Jaratkaru yang seringkali dipakai acuan dalam kehidupan masyarakat Bali.

Carita Jaratkaru ini menjadi menarik, karena selain menjadi acuan dalam kehidupan masyarakat Bali, teks-teks parwa (prosa) semacam ini dibaca melalui sajian phalawakya, sebuah pembacaan teks dengan irama menarik (khusus), serta diikuti oleh terjemahan memakai bahasa Bali kepara (umum). Phalawakya adalah pembacaan teks-teks dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno) yang berbentuk parwa (prosa) disertai dengan terjemahan. Pembacaan teks parwa semacam ini telah diwarisi sejak dahulu terutama dalam aktivitas keagamaan, yaitu untuk mengiringi upacara pitra yadnya yang disebut "mamutru".

Kitab Sarasamuscaya

Kitab Sarasamuscaya (sarasamuccaya)

Om A No Bhadrah Kratawo Yantu Wiswatah (Reg Weda I.89.1)
Semoga semua pikiran yang baik datang dari semua penjuru.
Sarasamuscaya pertamakali diterjemahkan kedalam bahasa jawa kuno dan kemudian diterjemahkan pula ke dalam bahasa indonesia, merupakan salah satu kitab suci. pentingnya sarasamuscaya dalam tata kehidupan umat hindu di indonesia karena dalam menilai tata kehidupan umat itu ternyata sejak jaman dahulu dianggap sebagai salah satu sumber dharma atau hukum yang kaedah-kaedahnya masih diperhatikan sebagai panutan oleh masyarakat umumnya.

didalam buku "history of sanskrit literature" terdapat keterangan yang menyatakan bahwa sarasamuscaya ditulis sebagai pujian oleh ratnakara, sedangkan menurut rontal, sarasamuscaya itu sendiri menyebut-nyebut nama Wararuci sebagai penulisnya. bila benar bahwa Wararuci adalah Ratnakara, yang dalam sejarah sastra juga dikenal dengan sebutan Katyayana, salah satu permata kerajaan yang dianggap setara dengan sastrawan besar lainnya. Wararuci, nama lain untuk Katyayana adalah salah satu pujangga, yang hidup sekitar abad ke-5 SM. banyak yang menyebut-nyebut namanya, salahsatunya oleh patanjali, sastrawan raja Wikramaditya.

Pelinggih Taksu di Merajan

Pelinggih Taksu di Merajan/Sanggah

Pada areal sanggah kamulan, ada sebuah pelinggih yang penting yaitu Taksu.
Pelinggih Taksu Agung adalah tempat untuk menghubungkan dan mendekatkan diri kehadapan Sang Hyang Taksu Agung atau Sang Hyang Adi Taksu. Bangunan Pelinggih Taksu ini Berbentuk Gedong dengan tiga kaki penyanga gedong serta anda bangunan dengan dua tiang (saka) didepannya.

Kata Taksu sudah merupakan bahasa baku dalam kosa kata Bali, yang dapat diartikan sebagai daya magis yang menjadikan keberhasilan dalam segala aspek kerja. Misalnya para seniman, pragina, dalang, balian, dalang dll. Mereka berhasil karena dianggap "metaksu".
sehingga kata "Taksu" tersebut bersifat Universal dan merupakan kekuatan profesi masing-masing umat. Setiap manusia memiliki profesionality (wiguna) sesuai dengan konsep "Catur Warna"
Dengan adanya profesi (Guna) memerlukan sekali anugerah Sang Hyang Widhi melalui manifestasinya yaitu Sang Bhuta Kala Raja, beliaulah sebagai sedahan Taksu dengan dewan taksu Sang Hyang Aji Saraswati. Taksu itu seseungguhnya adalah kekuatan magis dari Sang Hyang Widhi, dimana kekuatan tersebut merupakan kekuatan Gravitasi (gaya tarik), dengan kekuatan tersebut menyatu dengaan kekuatan magis manusia serta membangkitkan kekuatan manusia sehingga manusia memiliki kharisma, kekuatan yang menarik dan kemampuan spiritual sesuai dengan profesinya. Dengan demikian bangunan Suci Taksu sangat perlu dibuat sebagai stana Dewa Profesi.

Mantra Wisnu Sahasra Nama - 1000 Nama Tuhan

Mantra Wisnu Sahasra Nama - 1000 Nama Tuhan

Jika dalam Al-Qur’an hanya dikenal 100 Nama Suci Allah, Asmaaa-ul-husnaa, maka Hindu dalam kitab suci Veda mengenal 1000 Nama Suci Tuhan, Visnusahasra-nama.
Visnu-sahasra-nama ini dapat kita jumpai dalam kitab Padma Purana dan juga Mahabharata Anushāsanaparva 149.

Adapun bunyi mantram/slokanya adalah sebagai berikut:

1
vishvam vishnur-vashatkaaro
bhoota-bhavya-bhavat-prabhuh
bhoota-krit bhoota-bhrit bhaavo
bhootaatmaa bhoota-bhaavanah

2
pootaatmaa paramaatmaa cha
muktaanaam paramaa gatih
avyayah purushah saakshee
kshetrajno ‘kshara eva cha

Upacara Yadnya – dalam kehidupan masyarakat Bali Hindu

Upacara Panca Yadnya – dalam kehidupan masyarakat Bali Hindu

Om Swastyastu
Om Anobhadrah krtavoyanthu visvataha (semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru).
Sejarah menyatakan, bahwa pada jaman dahulu kala di wilayah Nusantara Indonesia telah berdiri Kerajaan-Kerajaan Besar seperti salah satu di antaranya adalah Kerajaan Majapahit yaitu sebuah Kerajaan penganut Agama Hindu yang merupakan Kerajaan terbesar yang bisa menyatukan seluruh wilayahnya sampai ke Madagaskar.

Pada jaman itu sudah ada hubungan dagang dengan negara Luar Negeri terutama dengan Negeri Campa, yang saat ini Negara Cina.

Kerajaan ini bertempat di Jawa Timur, yang pada jaman keemasannya dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Hayam Wuruk dengan Patihnya bernama Gajah Mada.

Kajian Nilai dan Makna Filosofis Kisah Mahabharata

Kajian Nilai dan Makna Filosofis Kisah Mahabharata

MAHABHARATA merupakan sastra klasik India yang besar sekali pengaruhnya terhadap khasanah sastra Jawa Kuna, disamping Ramayana. Mahabharata disebut juga Astadasaparwa karena ceritanya dibagi kedalam 18 parwa. kisah Mahabharata, adalah yang terbesar, terpanjang dan salah satu dari dua epos Sansekerta utama dari India kuno, yang lainnya adalah Ramayana. Dengan lebih dari 74.000 ayat, ditambah ayat-ayat prosa yang panjang, atau 1,8 juta kata dalam jumlah, adalah salah satu puisi epik terpanjang di dunia.

Ini berisi delapan belas Parwa (astadasaparwa) atau bagian, yaitu.,
  1. Adi-Parwa =Pendahuluan, kisah Raja Manu dan lahir serta dibesarkan Keturunan Manu (Pandawa-Korawa).
  2. Sabha-Parwa =Pandawa membangun istana indraprasta, permainan judi, dan hidup di pengasingan. Diceritakan pula Saat yudistrira menyelamatkan para saudaranya dari kematian diuji dengan pertanyaan tentang Dharma kehidupan oleh Dewata.
  3. Wana-Parwa Dua belas tahun di pengasingan di hutan
  4. Wirata-Parwa Tahun dalam pengasingan dihabiskan di kerajaan Wirata.
  5. Udyoga-Parwa negosiasi serta Persiapan perang
  6. Bhishma-Parwa Bagian pertama dari pertempuran besar, dengan Bisma sebagai komandan untuk Kaurawa. Dan juga bagian dimana Bhagawad-gita di turunkan oleh Sri Khrisna kepada sang arjuna, yang disaksikan oleh kusir kereta prabu Dhritarastra yang diangkat menjadi mentri raja, beliau bernama Sanjaya.
  7. Drona-Parwa Pertempuran berlanjut, denga n Drona sebagai panglima.
  8. Karna-Parwa Pertempuran lagi, dengan Karna sebagai panglima.
  9. Shalya-Parwa Bagian terakhir dari pertempuran dengan Salya sebagai panglima.
  10. Sauptika-Parwa Bagaimana Ashwattama dan sisanya Kaurawa membunuh tentara Pandawa dalam tidur mereka sehingga meninggalnya Panca kumara putra dari panca Pandawa.
  11. Stri-Parwa Gandari dan para istri ksatria meratapi suami mereka yang meninggal / Orang Mati.
  12. Shanti-Parwa Yudistira menjadi Raja Hastina
  13. Anusasana-Parwa Final instruksi dari Bisma kakek dari Pandawa dan Kowara
  14. Ashwamedhika-Parwa Upacara kerajaan ashwamedha yang dilakukan Oleh Yudistira.
  15. Ashramawasika-Parwa Dretarastra, Gandari dan Kunti pergi ke ashram, dan akhirnya meninggal Di Hutan.
  16. Mausala-Parwa pertikaian antara bangsa Yadawa karena senjata mausala
  17. Mahaprasthanika-Parwa Bagian pertama perjalanan "besar" menuju kematian dari Yudistira dan saudara-saudaranya.
  18. Swargarohana-Parwa Pandawa kembali ke dunia spiritual (swarga).

Buku indah ini disusun oleh Sri Byasa (Krishna Dwaipayana) yang merupakan kakek dari pahlawan epos. Dia mengajarkan epik ini kepada anaknya Suka dan murid Wesampayana beserta murid lainnya. Raja Janamejaya, anak Parikesit, cucu dari para pahlawan kisah, melakukan pengorbanan (yadnya) besar. epik itu dibacakan oleh Wesampayana untuk Janamejaya atas perintah Byasa. Kemudian, Suta membacakan Mahabharata sebagai dilakukan oleh Wesampayana pada Janamejaya, untuk Saunaka dan lain-lain, selama Yadnya yang dilakukan oleh Saunaka di Naimisaranya, yang dekat Sitapur di Uttar Pradesh.

Sangat menarik untuk mengingat pembukaan dan penutupan baris epik ini. ." Ini dimulai dengan: "Byasa menyanyikan tentang kebesaran dan kemegahan tak terlukiskan Tuhan Wasudewa, yang adalah sumber dan dukungan bagi semuanya, yang abadi, tidak berubah, diri bercahaya, yang merupakan yang menjiwai semua makhluk, serta kejujuran dan kebenaran Pandawa. "

Berakhir dengan: "Dengan tangan terangkat, aku berteriak dengan suara keras, tetapi sayangnya, tidak ada yang mendengar kata-kata saya yang dapat memberi mereka kedamaian, kegembiraan dan kebahagian Abadi. orang dapat mencapai kekayaan/kemakmuran dan semua objek keinginan yaitu melalui Dharma (kebenaran). Mengapa orang tidak melakukan Dharma? Seseorang tidak harus meninggalkan Dharma tanpa pengecualian, bahkan dengan risiko hidupnya.. Orang yang tidak melepaskan Dharma keluar dari gairah atau rasa takut atau iri hati atau demi menjaga satu kehidupan. dengan cara ini Bharata Gayatri… Renungkanlah (meditasi) setiap hari, ketika Anda hendak tidur dan ketika Anda bangkit dari tempat tidur setiap pagi. Anda akan mencapai segala sesuatu. Anda akan mencapai ketenaran, kemakmuran, umur panjang, kebahagiaan abadi, perdamaian abadi dan keabadian. "

Nilai yang terkandung dalam Astadasaparwa (Mahabharata)

Adapun nilai-nilai yang terkandung di dalam teks Astadasaparwa diantaranya adalah: Nilai ajaran dharma, nilai kesetiaan, nilai pendidikan dan nilai yajna (korban suci). Nilai-nilai ini kiranya ada manfaatnya untuk direnungkan dalam kehidupan dewasa ini.

Pertama, Nilai Dharma (kebenaran hakiki) ,
inti pokok cerita Mahabharata adalah konflik (perang) antara saudara sepupu (Pandawa melawan seratus Korawa) keturunan Bharata. Oleh karena itu Mahabharata disebut juga Maha-bharatayuddha. Konflik antara Dharma (kebenaran/kebajikan) yang diperankan oeh Panca Pandawa) dengan Adharma (kejahatan/kebatilan ) yang diperankan oleh Seratus Korawa. Dharma merupakan kebajikan tertinggi yang senantiasa diketengahkan dalam cerita Mahabharata. Dalam setiap gerak tokoh Pandawa lima, dharma senantiasa menemaninya. Setiap hal yang ditimbulkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan, menyenangkan hati diri sendiri, sesama manusia maupun mahluk lain, inilah yang pertama dan utama Kebenaran itu sama dengan sebatang pohon subur yang menghasilkan buah yang semakin lama semakin banyak jika kita terus memupuknya. Panca Pandawa dalam menegakkan dharma, pada setiap langkahnya selalu mendapat ujian berat, memuncak pada perang Bharatayuddha. Bagi siapa saja yang berlindung pada Dharma, Tuhan akan melindunginya dan memberikan kemenangan serta kebahagiaan. Sebagaimana yang dilakukan oleh pandawa lima, berlindung di bawah kaki Krsna sebagai awatara Tuhan. " Satyam ewa jayate " (hanya kebenaran yang menang).

Kedua, nilai kesetiaan (satya) ,
cerita Mahabharata mengandung lima nilai kesetiaan (satya) yang diwakili oleh Yudhistira sulung pandawa. Kelima nilai kesetiaan itu adalah: Pertama, satya wacana artinya setia atau jujur dalam berkata-kata, tidak berdusta, tidak mengucapkan kata-kata yang tidak sopan. Kedua, satya hredaya, artinya setia akan kata hati, berpendirian teguh dan tak terombang-ambing, dalam menegakkan kebenaran. Ketiga, satya laksana, artinya setia dan jujur mengakui dan bertanggung jawab terhadap apa yang pernah diperbuat. Keempat, satya mitra, artinya setia kepada teman/sahabat. Kelima, satya semaya, artinya setia kepada janji. Nilai kesetiaan/satya sesungguhnya merupakan media penyucian pikiran. Orang yang sering tidak jujur kecerdasannya diracuni oleh virus ketidakjujuran. Ketidakjujuran menyebabkan pikiran lemah dan dapat diombang-ambing oleh gerakan panca indria. Orang yang tidak jujur sulit mendapat kepercayaan dari lingkungannya dan Tuhan pun tidak merestui.

Ketiga, nilai pendidikan,
sistem Pendidikan yang di terapkan dalam cerita Mahabharata lebih menekankan pada penguasaan satu bidang keilmuan yang disesuaikan dengan minat dan bakat siswa. Artinya seorang guru dituntut memiliki kepekaan untuk mengetahui bakat dan kemampuan masing-masing siswanya. Sistem ini diterapkan oleh Guru Drona, Bima yang memiliki tubuh kekar dan kuat bidang keahliannya memainkan senjata gada, Arjuna mempunyai bakat di bidang senjata panah, dididik menjadi ahli panah.Untuk menjadi seorang ahli dan mumpuni di bidangnya masing-masing, maka faktor disiplin dan kerja keras menjadi kata kunci dalam proses belajar mengajar.

Keempat, nilai yajna (koban suci dan keiklasan) ,
bermacam-macam yajna dijelaskan dalam cerita Mahaharata, ada yajna berbentuk benda, yajna dengan tapa, yoga, yajna mempelajari kitab suci ,yajna ilmu pengetahuan, yajna untuk kebahagiaan orang tua. Korban suci dan keiklasan yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud tidak mementingkan diri sendiri dan menggalang kebahagiaan bersama adalah pelaksanaan ajaran dharma yang tertinggi (yajnam sanatanam).

Kegiatan upacara agama dan dharma sadhana lainnya sesungguhnya adalah usaha peningkatan kesucian diri. Kitab Manawa Dharmasastra V.109 menyebutkan.:
"Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kejujuran (satya), atma disucikan dengan tapa brata, budhi disucikan dengan ilmu pengetahuan (spiritual)"

Nilai-nilai ajaran dalam cerita Mahabharata kiranya masih relevan digunakan sebagai pedoman untuk menuntun hidup menuju ke jalan yang sesuai dengan Veda. Oleh karena itu mempelajari kita suci Veda, terlebih dahulu harus memahami dan menguasai Itihasa dan Purana (Mahabharata dan Ramayana), seperti yang disebutkan dalam kitab Sarasamuscaya sloka 49 sebagai berikut :
"Weda itu hendaknya dipelajari dengan sempurna, dengan jalan mempelajari itihasa dan purana, sebab Weda itu merasa takut akan orang-orang yang sedikit pengetahuannya"


Makna Filosofis Astadasaparwa (Mahabharata)

Tubuh manusia memiliki 10 organ (indriya), yaitu lima organ sensorik ( jinanendriyas) dan lima organ motorik ( karmendriyas), dan sebuah "antahkarana" atau organ/indera internal. Sedangkan organ sensorik dan motorikadalah organ eksternal (bahihkarana). Antahkarana berhubungan langsung dengan tubuh fisik. Antahkarana merupakan bagian intrinsik dari pikiran itu sendiri. Berkat kerja dari bagian inilah pikiran kita bisa merasakan perut yang kosong,dan kemudian merasa lapar. Begitu perut kosong, pikiran mulai mencari makanan, dan hal ini diekspresikan melalui aksi fisik. Jadi terdapat dua bagian, yang satu merupakan bagian intrinsik pikiran, dan satu bagian lagi adalah kesepuluh organ.

Yang mendorong terjadinya aktivitas adalah antahkarana. Antahkarana tersusun atas pikiran sadar (conscious) dan bawah sadar (subconscoius). Maka jika antahkarana menginginkan sesuatu, maka tubuh fisiklah yang bekerja menurut keinginan tersebut.

Dalam Sanskrit dikenal enam arah utama yang dinamakan "disha" atau "pradisha": Utara, Selatan, Timur, Barat, Atas, dan Bawah. Juga terdapat empat sudut yang dinamakan "anudisha": Barat Laut (iishana), Barat Daya (agni), Tenggara (vayu) dan Timur Laut (naerta). Jadi seluruhnya ada sepuluh.

Pikiran sesungguhnya buta. Dengan pertolongan "wiweka" (conscience/hati nurani) maka pikiran bisa melihat dan memvisualisasikan sesuatu. Jadi pikiran dapat dilambangkan dengan Dhritarastra (Seorang raja yg buta dalam kisah Mahabharata), dan daya fisik, yaitu kesepuluh organ dapat bekerja dalam sepuluh arah secara simultan. Jadi pikiran memiliki 10 organ X 10 arah = 100 ekpresi eksternal. Dengan kata lain, ke-100 putra Dhritasastra melambangkan seratus ekspresi eksternal ini.

Bagaimana dengan Pandawa?

Mereka melambangkan lima faktor fundamental dalam struktur manusia.
  1. Sadewa/Sahadeva melambangkan faktor padat, mereprestasikan cakra muladhara (kemampuan untuk menjawab segala sesuatu).
  2. Nakula pada cakra svadhisthana. Nakula berarti "air yang mengalir tanpa memiliki batas". "Na" berarti "Tidak", dan "kula" bararti "batas", melambangkan faktor cair.
  3. Arjuna, melambangkan energi atau daya, faktor cahaya pada cakra manipura, selalu berjuang untuk mempertahankan keseimbangan.
  4. Bhima, putra Pandu, adalah faktor udara "vayu", terdapat pada cakra anahata.
  5. Terakhir adalah Yudhisthira, pada cakra vishuddha, dimana terjadi peralihan dari sifat materi ke sifat eterik.
Jadi pada pertempuran antara materialis dan spiritualis, antara materi kasar dan materi halus, Yudhisthira tetap tak terpengaruh."Yudhi sthirah Yudhisthirah" artinya "Orang yang tetap tenang/diam saat pertempuran dinamakan Yudhisthira".

Krsna terdapat pada cakra sahasrara. Jadi ketika kundalinii (Keagungan yang tertidur) terbangkitkan, naik dan menuju perlindungan Krsna dengan bantuan Pandawa, maka Jiiva (unit diri) bersatu dengan Kesadaran Agung. Pandawa menyelamatkan jiiva dan membawanya ke perlindungan Krsna.

Sanjaya adalah menteri-nya Dhritarastra. Sanjaya adalah wiweka(Nalar/pertimbangan). Dhritarastra bertanya kepada Sanjaya, karena ia sendiri tidak bisa melihatnya, "Oh Sanjaya, katakan padaku, dalam perang Kuruksetra dan Dharmaksetra, bagaimana keadaan pihak kita?"

Keseratus putra Dhritarastra, pikiran yang buta, mencoba menguasai jiiva, yang diselamatkan oleh Pandawa melalui pertempuran. Akhirnya kemenangan ada di pihak Pandawa, mereka membawa jiiva ke perlindungan Krsna. Inilah arti filosofis dari Mahabharata.

Kuruksetra adalah dunia tempat melakukan aksi, dunia eksternal, yang menuntut kita terus bekerja. Bekerja adalah perintah. "Kuru" artinya "bekerja", dan ksetra artinya "medan", Dharmaksetra adalah dunia psikis internal. Disini Pandawa mendominasi.
by cakepane.blogspot - berbagai sumber