Google+
Tampilkan postingan dengan label Bhagawad Gita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bhagawad Gita. Tampilkan semua postingan

Pengantar Bhagavad Gita

Pengantar Bhagavad Gita

oleh IWB Mahendra
Di India kuno, sekitar 3200 tahun yang lalu, konflik antara Pandawa yang saleh dan Korawa yang tidak saleh mencapai titik yang tidak dapat dikompromikan. Ketidakadilan yang dilakukan terhadap lima Pandawa dan istri mereka, Draupadi, oleh Raja Korawa, Duryodhana, telah melampaui batas toleransi. Dewa Krishna, yang selalu berpihak pada Dharma (kebenaran dan kewajiban moral), berusaha untuk mencegah perang dengan menyarankan perdamaian. Krishna memohon kepada Raja Dhritarashtra dan putranya, Duryodhana, untuk memberikan Pandawa hak mereka yang sah atas setengah dari kerajaan Hastinapura.

Namun, keinginan untuk perdamaian gagal, dan perang Mahabharata (atau Kurukshetra) pun ditakdirkan untuk terjadi.

Dalam Dharma-Yuddha (perang untuk kebenaran) ini, terjadi sebuah episode di mana Arjuna, sang pejuang yang hebat dan pemberani, mendapati dirinya tiba-tiba diliputi perasaan depresi mental, kesedihan, dan ketakutan. Ia menyadari bahwa ia harus bertarung melawan kerabat dekatnya — saudara laki-laki, paman, dan guru — yang kini menjadi musuh. Arjuna sangat terganggu dengan kehancuran dan kematian yang pasti akan terjadi akibat perang. Ia berpikir lebih baik mundur ke hutan daripada membunuh orang-orang yang dekat dan disayanginya.

Latar yang dramatis itulah yang menjadi pembuka Bhagavad Gita. Prajurit pemberani Arjuna, dengan Tuhan Krishna sebagai kusirnya, berdiri di antara dua pasukan yang berbaris siap untuk memulai pertempuran. Dalam kegelisahannya, Arjuna meletakkan senjatanya, Gandiva, dan memohon untuk mundur dari medan perang. Gemetar karena gugup dan cemas, ia tidak mampu mengangkat busurnya yang perkasa. Emosinya yang penuh cinta terhadap orang-orang terdekatnya, serta kebingungannya tentang tugas dan Dharma, membuatnya tidak dapat menemukan jalan yang benar dalam situasi yang menegangkan ini.

Arjuna berkata kepada Krishna:
"Bagaimana aku bisa membunuh mereka? Bukankah lebih baik menyerahkan seluruh kerajaan ini, yang berbau darah saudara-saudaraku sendiri, dan pensiun ke hutan dengan damai? O Krishna, aku tidak dapat memutuskan rencana tindakanku selanjutnya. Aku menyerahkan diriku di kaki suci-Mu. O Tuhan, mohon bimbinglah aku melalui ketidakpastian yang sulit ini karena aku adalah murid-Mu dan Engkau adalah Guruku."

Mendengar kegelisahan ini, Krishna memberi teguran keras kepada Arjuna:
"O Yang Berani, mengapa tergila-gila pada saat ini! Mengapa engkau menyerahkan dirimu pada kehinaan dan kepengecutan ini? Jangan berpikir bahwa dengan 'omonganmu yang tinggi tentang pelepasan keduniawian dan pensiun ke hutan' orang-orang akan memujamu dan menyebutmu pemberani dan cerdas. Sebaliknya, selama berabad-abad yang akan datang orang akan menyalahkanmu karena melarikan diri dari medan perang. Dari generasi ke generasi, orang-orang akan menertawakanmu dan mengolok-olok pelarianmu yang tidak jantan."

Shrimad Bhagavad-Gita, Bab II, Ayat 2 dan 3
"Dalam krisis seperti ini, dari mana datangnya kekesalan ini, wahai Arjuna, yang tidak seperti Arya, memalukan, dan bertentangan dengan pencapaian surga?"
"Jangan menyerah pada kehinaan, wahai putra Kunti! Sungguh malang nasibmu. Buanglah sifat pengecut yang kejam ini dan bangkitlah, wahai penghangus musuhmu."

Mendengar teguran ini, Arjuna menenangkan dirinya, dan dialog lebih lanjut antara Dewa Krishna dan Arjuna berlangsung di bab-bab berikutnya. Gita, yang terdiri dari delapan belas bab dan 700 ayat, dimulai dengan konflik internal Arjuna yang menggambarkan pertarungan spiritual manusia dalam menghadapi dilema moral yang besar.

Menurut IWB Mahendra, seorang spiritual kontemporer, Bhagavad Gita bukan sekadar kitab suci yang mengatur aspek moral atau etika, tetapi juga menyajikan sebuah model kehidupan spiritual yang bersifat universal dan timeless. Ia menekankan bahwa Bhagavad Gita adalah dialog batin antara diri yang lebih rendah dengan diri yang lebih tinggi. Bagi IWB Mahendra, Krishna bukan hanya berfungsi sebagai teman atau guru bagi Arjuna, tetapi juga sebagai penuntun jiwa yang membawa Arjuna keluar dari kebingungannya untuk menyadari hakikat sejatinya—Atman (Diri Yang Abadi).

Mahendra menjelaskan bahwa Arjuna dalam pertempuran Kurukshetra, lebih dari sekadar seorang ksatria yang harus bertarung, melainkan ia menggambarkan manusia sejati yang terjebak dalam dilema antara tugas duniawi dan tanggung jawab spiritual. Dalam konteks ini, Arjuna tidak hanya berjuang di medan perang, tetapi juga berjuang melawan ketidaktahuan dan keraguan batin yang ada dalam dirinya. Ini adalah refleksi dari kondisi manusia dalam perjalanan spiritual mereka, di mana kita harus memilih untuk bertindak sesuai dengan Dharma kita, meskipun jalan tersebut penuh dengan tantangan.


Yoga dalam Bhagavad Gita

Arjuna mengajukan banyak pertanyaan kepada Krishna tentang tujuan hidup, hakikat kelahiran manusia, tugas dan kerja (Karma), serta Diri (Atman). Krishna mengajarkan berbagai jenis Yoga, yang meliputi Jnana-Yoga, Raja-Yoga, Karma-Yoga, dan Bhakti-Yoga.

Bab II hingga IX membahas Karma-Yoga — Yoga tindakan tanpa pamrih — berlawanan dengan Jnana-Yoga, Yoga pengetahuan. Krishna menasihati Arjuna untuk berperang tanpa memikirkan akibatnya. Krishna berkata:
"Tugasmu adalah, dan kamu hanya berhak, untuk berperang; kamu tidak memiliki kendali atas hasilnya."
Ini adalah inti dari Karma-Yoga: melakukan pekerjaan tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan hasil.

Orang yang menjalani Karma-Yoga bertugas melakukan pekerjaan sebagai pemujaan, tanpa menginginkan hasil yang pasti darinya. Pekerjaan yang dilakukan dengan sepenuh hati dan kesempurnaan adalah cara terbaik bagi seseorang untuk menyadari Atman, atau Diri yang sejati.

Namun, bagi orang-orang yang tidak memiliki kecenderungan untuk monastisisme atau pelepasan duniawi, Krishna menganjurkan Nishkam Karma (Karma tanpa pamrih) sebagai jalan yang lebih sesuai. Melalui Karma-Yoga, seseorang membersihkan pikiran dan bertumbuh secara spiritual, menuju penyadaran Diri yang lebih tinggi.


Inkarnasi Ilahi (Avatar) dan Dharma

Konsep Inkarnasi Ilahi (Avatar) sangat penting dalam ajaran Gita. Krishna menjelaskan bahwa setiap kali Dharma terancam dan Adharma (ketidakbenaran) merajalela, Tuhan berinkarnasi untuk menegakkan keseimbangan kosmik.

Bab IV, Ayat 7 dan 8 menyatakan:
"O Arjuna, setiap kali ada kemunduran kebenaran, dan ketidakbenaran berada di atas, maka Aku akan membentuk Diri-Ku sendiri."
"Demi perlindungan orang-orang yang berbudi luhur, untuk penghancuran para pelaku kejahatan, dan untuk menegakkan Dharma (kebenaran) di atas landasan yang kokoh, aku dilahirkan dari zaman ke zaman."

Konsep ini menjelaskan bahwa Avatar (inkarnasi Tuhan) datang untuk melindungi yang baik dan menghancurkan kejahatan, serta untuk menegakkan kebenaran di dunia. Dalam konteks ini, Dharma bukan hanya tentang kebenaran moral, tetapi juga pencarian spiritual yang lebih tinggi.


Bhakti Yoga dan Penyerahan Diri

Dalam Bab XII Bhagavad Gita, Arjuna bertanya kepada Krishna tentang Bhakti Yoga (jalan pengabdian):
"O Tuhan, para penyembah,
i) yang pikirannya selalu tertuju kepada-Mu, memuja-Mu sebagai pribadi yang berwujud dan memiliki sifat,
ii) dan mereka yang hanya memuja Brahman yang tidak dapat binasa dan tidak berwujud, di antara mereka yang paling mengetahui Yoga?"

Krishna menjawab bahwa kedua jalur ini dapat membawa seseorang kepada-Nya, namun jalan yang melekat pada Tuhan yang berwujud lebih mudah dijalani. Ia berkata:
"Di sisi lain, mereka yang hanya mengabdikan diri kepada-Ku, dan menyerahkan semua tindakan kepada-Ku, memuja-Ku — sang ilahi yang nyata — terus-menerus bermeditasi kepada-Ku dengan pengabdian yang tulus; mereka ini, wahai Arjuna, akan segera Kuselamatkan dari lautan kelahiran dan kematian."
(Bhagavad Gita, XII, Ayat 6-7)

Krishna menjelaskan bahwa penyembah yang bebas dari niat jahat, yang ramah dan penuh belas kasih, yang bebas dari keegoisan dan gangguan duniawi adalah yang paling disayangi oleh-Nya. Mereka yang melaksanakan Bhakti Yoga dengan sepenuh hati, tanpa pamrih, akan menemukan kedamaian dan pencerahan.


Kesimpulan Bhagavad Gita

Bhagavad Gita adalah ringkasan dari ajaran-ajaran Veda dan Upanishad, yang mengajarkan kita untuk menjalani hidup dengan prinsip Dharma dan Karma yang benar. Dalam Gita, Krishna mengajarkan kepada Arjuna tentang jalan Karma-Yoga (tindakan tanpa pamrih), Bhakti-Yoga (pengabdian tanpa syarat), dan Jnana-Yoga (pengetahuan spiritual) sebagai sarana untuk menyadari Atman, atau Diri yang lebih tinggi.

Krishna juga mengajarkan bahwa penyerahan diri kepada Tuhan tidak hanya berarti pengabdian kepada sosok yang berwujud, tetapi juga pengenalan diri kita yang lebih tinggi melalui kesatuan dengan Brahman. Dengan Bhakti dan Jnana, kita dapat melampaui ego kecil kita dan mencapai Kesadaran Kosmik yang lebih besar.

Akhirnya, Gita mengajarkan bahwa melalui tindakan yang benar, pengabdian yang tulus, dan pengetahuan yang dalam, kita dapat mencapai Pembebasan (Moksha) dan hidup dalam keselarasan dengan alam semesta.

Sloka Veda berkaitan dengan Narkoba dan Prostitusi

Sloka Veda berkaitan dengan Narkoba dan Prostitusi


A. NARKOBA

Ragadi musuh maparo
Rihatya tonggwanya
Tan madoh ring awak ( Ramayana I. 4)
Artinya :
Nafsu, kemarahan, iri, dengki, angkuh dan kegelapan Adalah musuh terdekat dalam diri manusia dihatilah tempatnya tiada jauh dari diri.

Korelasi Catur Warna dengan Catur Marga Yoga

Korelasi Catur Warna dengan Catur Marga Yoga

seperti telah diketahui bahwa warna (profesi) dalam hidup ini ada empat yang utama. itu Artinya warna menjadi bagian tersendiri yang tiada dipisahkan pada kehidupan yang sosial. Dikatakan pula pada Manawa Dharmasastra Bab II pasal 18, dikatakan bahwa:
tasmidece ya acarah parampyakramagatah,warnamam santralanam sa sadacara ucyate.
Artinya:
Adat istiadat yang diturunkan dalam urutan yang wajar dari sejak dulu kala diantara empat golongan utama masyarakat serta suku-suku campruran yang ada,dinamai “Adat istiadat orang-orang Bijaksana”
Jadi dengan demikan berarti bahwa tidak ada suatu ketidakbijaksaan bagi para leluhur yang menciptakan adat istiadat tersebut sebaai sesuatu yang memiliki kharisma tersendiri.

Namun batasan terpenting dari empat golongan itu,sangatlah universal adanya, maka tercantum di sarasamuscaya bahwa itu melibatkan tanggung jawab yang sangat besar dan beban itu selayaknya disetujui diri sebagai kebenaran. Kitab Sarasamuscaya 61 menyatakan bahwa:

Jnana Marga Menyebarkan Pengetahuan adalah yadnya utama

Jnana Marga Mengajarkan Ilmu adalah yadnya utama

Bekerja serta berbuat untuk sesama (Karma Marga) dan menyayangi mengasihi berbakti (bakti marga) tanpa didasarkan pada ilmu pengetahuan (jnana marga) yang benar akan sia-sia. Lebih-lebih pada zaman modern ini apa pun yang kita lakukan kalau tanpa pengetahuan yang jelas akan menjadi sia-sia. Melakukan kegiatan beragama tanpa didasarkan pada ilmu pengetahuan yang telah ditentukan dapat menimbulkan penyimpangan.

Dalam kehidupan ini ilmu pengetahuan (jnana) tersebut demikian pentingnya. Karena itu, beryadnya dengan ilmu pengetahuan dinyatakan dalam Sloka Bhagawad Gita yang dikutip dalam tulisan jauh lebih utama daripada beryadnya dengan harta benda dalam bentuk apa pun. seperti yang disebutkan dalam Bhagawad Gita Bab IV ayat 33 yang menyebutkan:
srayan dravyamayad yajnajjnanayajnah paramtapasarvam karma ‘khilam parthajnane perisamapyate (Bhagawad Gita IV.33)
artinya:
Persembahan berupa ilmu pengetahuan, Parantapa, lebih bermutu daripada persembahan materi; dalam keseluruhannya semua kerja ini berpusat pada ilmu pengetahuan, oh Parta.
Karena itu, dalam Manawa Dharmasastra III.70 dinyatakan, 
Adhyapanam brahma yajnah, pitr yajnastu tarpanam, homo daiwo balibhaurto, nryajno'tithi pujanam (Manawa Dharmasastra III.70)
maksudnya: belajar dan mengajar dengan keikhlasan disebut Brahma Yadnya. Karena proses belajar dan mengajar itu bertujuan untuk memberikan orang ilmu pengetahuan untuk menopang hidupnya mendapatkan kebahagiaan. 

Tradisi belajar dan mengajar dalam masyarakat Hindu di Bali pernah mandek karena salah dalam memahami istilah ayuwa wera. Pada hal konsep "ayuwa wera" itu adalah baik. Artinya, janganlah menyebarkan dengan sembarangan sastra agama tersebut.

Orang Bali menyembah Patung atau Batu? (hindu memuja berhala)

Orang Bali menyembah Patung atau Batu? (Hindu memuja Berhala)

sebelum kita membahas tentang "Hindu memuja Patung atau Batu", mari kita simak dulu sloka bhagawad gita 4.11
ye yathā mām prapadyante tāms tathaiva bhajāmy aham, mama vartmānuvartante manusyāh pārtha sarvaśah
"Jalan mana pun yang ditempuh seseorang kepada-Ku, Aku memberinya anugerah setimpal. Semua orang mencari-Ku dengan berbagai jalan, wahai putera Partha"

dari ayat bhagawad gita tersebut, muncullah 4 jalan menyembah Tuhan, salah satu diantaranya adalah dengan jalan BAKTI
dimana jalan bakti ini diperuntukan bagi umat yang tingkat keyakinannya masih tahap awal, dan pengetahuan tentang agama masih di tahap awal. "makna yang terkantung dalam Ajaran Bakti adalah Cinta Kasih". penganut Bakti Marga ini kemudian dikenal dengan sebutan BAKTA, adapun ciri para penganut jalan BAKTI ini adalah fanatisme, keyakinan berlebihan dan selalu berupaya dekat dengan yang dicintainya (Tuhan) dengan jalan sederhana.
contohnya: Agama dan Kepercayaan yang berkembang sekarang, dimana fanatik dan tidak mau disaingi.
dan ini salahsatunya yang sering dilakukan dan dikatakan orang yang menganut Agama dengan Jalan Bakti
"saya bukan pemuja berhala, saya memuja Tuhan"  - walaupun kenyataan seperti pemuja berhala.
memuja Batu dan Patung
berbagai alasan dan ber-aneka dalil pembenaran bahwa Agama'ku paling sempurna, sehinga tidak mengaku dekat dengan yang namanya Berhala.
berikut ini sedikit gambaran Agama dengan sistim pemujaan Jalan Bakti

jalan mencari Tuhan - Catur Marga

jalan mencari Tuhan - Catur Marga

Agama berasal dari kata “a” dan “gam”. A artinya tidak, gam artinya pergi, Parisada Hindu Dharma Pusat (1967 ; 9). 
Jadi Agama mengandung pengertian "langgeng dan tidak pergi kemana-mana". 
Konsep agama adalah suatu ajaran yang tetap langgeng, kekal, tidak dipengaruhi oleh tempat dan waktu. Jadi ajaran agama akan tetap ada selama manusia eksis di muka bumi ini. Hal itu disebabkan oleh agama diperlukan oleh manusia untuk menjadi penuntun hidup dari kegelapan atau awidya.

Dari pernyataan tersebut dapat dijelaskan bahwa agama adalah suatu ajaran yang akan selalu siap mengantarkan kita keluar dari suatu keadaan kegelapan atau awidya. Dalam konteks ajaran Hindu Dharma bahwa agama akan mengantarkan kita kembali bersatu dengan Tuhan. Konsep Tuhan dalam ajaran Hindu merupakan salah satu dari intisari konsep Hindu yaitu Panca Srada :
  1. Percaya dengan adanya Tuhan (Brahman)
  2. Percaya dengan adanya Atma (Atman)
  3. Percaya dengan adanya Hukum Karama Phala
  4. Percaya dengan adanya Samsara (Reinkarnasi / Punarbhawa)
  5. Percaya dengan adanya Moksa, 

Ajaran moksa adalah tujuan akhir setiap Umat Agama Hindu seperti dinyatakan dalam Buku Pengantar Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi bahwa tujuan agama adalah untuk mendapatkan kesejahteraan di dunia dan moksa di akherat. Atau diistilahkan dengan “Mokshartham Jagadhita ya ca iti dharma”. Dalam sara kita akan dapati bahwa dharma itu diumpamakan sebagai jalan atau alat bahkan diibaratkan sebagai perahu (alat untuk menyebrang) dari dunia yang tidak kekal ini ke pulau harapan yaitu sorga, Cudamani (1987;14).

Weda memberikan empat buah jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai tujuan moksatam-jagathita. Keempat ini sama utamanya,

Apa makna catur marga?

Catur marga berasal dari dua kata yaitu catur dan marga. Catur berarti empat dan marga berarti jalan/cara atapun usaha.

Bhagavad Gita I.4

Bhagavad Gita I.4

Mengamati tentara di medan Pertempuran Kurukṣetra


atra śūrā maheṣv-āsā
bhīmārjuna-samā yudhi
yuyudhāno virāṭaś ca
drupadaś ca mahā-rathaḥ

sinonim katanya Bhagavad Gita 1.4

atra-sini; surah-pahlawan; maheṣvāsāḥ-perkasa pemanah, Bhima-arjuna-Bima dan Arjuna, Samah-sama, yudhi-dalam perjuangan;yuyudhānaḥ-Yuyudhāna, virāṭaḥ-Wirata, ca-juga, drupadaḥ-Drupada, ca-juga, mahārathaḥ-besar tempur.

arti sloka Bhagavad Gita 1.4:

Di sini dalam tentara ini ada pemanah heroik yang sama dalam berjuang untuk Bhima dan Arjuna, ada juga pejuang besar seperti Yuyudhāna, Wirata, dan Drupada.

Bhagavad Gita I.2

Bhagavad Gita I.2

Mengamati tentara di medan Pertempuran Kurukṣetra


sañjaya uvāca
dṛṣṭvā tu pāṇḍavānīkaṁ
vyūḍhaṁ duryodhanas tadā
ācāryam upasaṅgamya
rājā vacanam abravīt

sinonim katanya Bhagavad Gita 1.2

sañjayaḥ - Sanjaya, 
uvāca - kata; 
dṛṣṭvā - setelah melihat, 
tu - tapi, 
Pandawa anīkam - tentara Pandawa,
vyūḍham - diatur dalam militer; 
duryodhanaḥ - Raja Duryodana, 
Tada - pada saat itu, 
ācāryam - guru, 
upasaṅgamya - mendekati sekitarnya; 
raja - raja, 
vacanam - kata, 
abravīt - berbicara.

arti sloka Bhagavad Gita 1.2:

Sanjaya mengatakan: Wahai Raja, setelah melihat dari atas tentara dikumpulkan oleh anak-anak Pandu, Raja Duryodana pergi ke gurunya dan mulai berbicara kata-kata berikut:

Bhagavad Gita I.3

Bhagavad Gita I.3

Mengamati tentara di medan Pertempuran Kurukṣetra


paśyaitāṁ pāṇḍu-putrāṇām
ācārya mahatīṁ camūm
vyūḍhāṁ drupada-putreṇa
tava śiṣyeṇa dhīmatā

sinonim katanya Bhagavad Gita 1.3

Pasya - lihatlah,
Etam - ini;
Pandu putrāṇām - putra dari Pandu,
Acarya - O guru,
mahatīm - besar;
camūm - kekuatan militer,
vyuḍham - diatur,
Drupada putreṇa - oleh putra Drupada,
tava - Anda,
śiṣyeṇa - murid;
dhīmatā - sangat cerdas.

arti sloka Bhagavad Gita 1.3:

Wahai guru saya, lihatlah tentara besar anak-anak Pandu, jadi ahli diatur oleh murid cerdas Anda, putra Drupada.

Bhagawad Gita - AM I A HINDU

berikut adalah lanjutan resume dari buku 

AM I A HINDU ( Apakah Saya Hindu ? ) 

dimana dibawah ini dijelaskan tentang "Bhagawad Gita" buku ini di tulis oleh Ed. Viswanathan (Diterjemahkan oleh NP Putra) 

 

APAKAH NAMA DARI KITAB SUCI HINDU? 

Mayoritas orang Hindu menganggap Bhawagad Gita adalah kitab suci Hindu. Konon dikatakan dalam salah satu kitab suci bahwa bila Upanishad-Upanishad adalah lembu, Bhagawad Gita dianggap sebagai susu. Sesungguhnya, Bhagawad Gita adalah saripati dari Weda-Weda. Ia memang adalah penyajian terakhir dari Upanishad-Upanishad. 

Adi Sankara - AM I A HINDU

berikut adalah lanjutan resume dari buku 

AM I A HINDU ( Apakah Saya Hindu ? ) 

dimana dibawah ini dijelaskan tentang "Adi Sankara" buku ini di tulis oleh Ed. Viswanathan (Diterjemahkan oleh NP Putra) 

 

AYAH, AKU TAHU ANDA SANGAT TERTARIK DENGAN ADI SANKARA. AKU INGIN TAHU LEBIH BANYAK MENGENAI DIA.

Ya, anakku. Aku memang memuja dia bagaikan pahlawan. Dia pendiri dari filsafat Advaita. Dia adalah seorang suci dengan pengaruh seperti Kristus, tapi ia terkenal karena pendekatan filsafatnya dalam menafsirkan Weda-weda.

AM I A HINDU ( Apakah Saya Hindu ? )

berikut adalah resume dari buku 

AM I A HINDU ( Apakah Saya Hindu ? ) 

dimana dibawah ini dijelaskan tentang pengantar buku "pengantar kepada agama hindu" buku ini di tulis oleh Ed. Viswanathan (Diterjemahkan oleh NP Putra)

 

AYAH, BOLEHKAN AKU BERTANYA KEPADAMU? AKU AKAN MENGAJUKAN BANYAK PERTANYAAN KEPADA AYAH MENGENAI AGAMA KITA

Silahkan ajukan pertanyaan yang kamu inginkan

 

DARIMANA SAYA HARUS MULAI? 

Mulai dengan pertanyaan pertama yang muncul dalam pikiranmu

 

OK. APAKAH AKU, SEORANG HINDU?

Upacara Yadnya – dalam kehidupan masyarakat Bali Hindu

Upacara Panca Yadnya – dalam kehidupan masyarakat Bali Hindu

Om Swastyastu
Om Anobhadrah krtavoyanthu visvataha (semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru).
Sejarah menyatakan, bahwa pada jaman dahulu kala di wilayah Nusantara Indonesia telah berdiri Kerajaan-Kerajaan Besar seperti salah satu di antaranya adalah Kerajaan Majapahit yaitu sebuah Kerajaan penganut Agama Hindu yang merupakan Kerajaan terbesar yang bisa menyatukan seluruh wilayahnya sampai ke Madagaskar.

Pada jaman itu sudah ada hubungan dagang dengan negara Luar Negeri terutama dengan Negeri Campa, yang saat ini Negara Cina.

Kerajaan ini bertempat di Jawa Timur, yang pada jaman keemasannya dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Hayam Wuruk dengan Patihnya bernama Gajah Mada.

Kajian Nilai dan Makna Filosofis Kisah Mahabharata

Kajian Nilai dan Makna Filosofis Kisah Mahabharata

MAHABHARATA merupakan sastra klasik India yang besar sekali pengaruhnya terhadap khasanah sastra Jawa Kuna, disamping Ramayana. Mahabharata disebut juga Astadasaparwa karena ceritanya dibagi kedalam 18 parwa. kisah Mahabharata, adalah yang terbesar, terpanjang dan salah satu dari dua epos Sansekerta utama dari India kuno, yang lainnya adalah Ramayana. Dengan lebih dari 74.000 ayat, ditambah ayat-ayat prosa yang panjang, atau 1,8 juta kata dalam jumlah, adalah salah satu puisi epik terpanjang di dunia.

Ini berisi delapan belas Parwa (astadasaparwa) atau bagian, yaitu.,
  1. Adi-Parwa =Pendahuluan, kisah Raja Manu dan lahir serta dibesarkan Keturunan Manu (Pandawa-Korawa).
  2. Sabha-Parwa =Pandawa membangun istana indraprasta, permainan judi, dan hidup di pengasingan. Diceritakan pula Saat yudistrira menyelamatkan para saudaranya dari kematian diuji dengan pertanyaan tentang Dharma kehidupan oleh Dewata.
  3. Wana-Parwa Dua belas tahun di pengasingan di hutan
  4. Wirata-Parwa Tahun dalam pengasingan dihabiskan di kerajaan Wirata.
  5. Udyoga-Parwa negosiasi serta Persiapan perang
  6. Bhishma-Parwa Bagian pertama dari pertempuran besar, dengan Bisma sebagai komandan untuk Kaurawa. Dan juga bagian dimana Bhagawad-gita di turunkan oleh Sri Khrisna kepada sang arjuna, yang disaksikan oleh kusir kereta prabu Dhritarastra yang diangkat menjadi mentri raja, beliau bernama Sanjaya.
  7. Drona-Parwa Pertempuran berlanjut, denga n Drona sebagai panglima.
  8. Karna-Parwa Pertempuran lagi, dengan Karna sebagai panglima.
  9. Shalya-Parwa Bagian terakhir dari pertempuran dengan Salya sebagai panglima.
  10. Sauptika-Parwa Bagaimana Ashwattama dan sisanya Kaurawa membunuh tentara Pandawa dalam tidur mereka sehingga meninggalnya Panca kumara putra dari panca Pandawa.
  11. Stri-Parwa Gandari dan para istri ksatria meratapi suami mereka yang meninggal / Orang Mati.
  12. Shanti-Parwa Yudistira menjadi Raja Hastina
  13. Anusasana-Parwa Final instruksi dari Bisma kakek dari Pandawa dan Kowara
  14. Ashwamedhika-Parwa Upacara kerajaan ashwamedha yang dilakukan Oleh Yudistira.
  15. Ashramawasika-Parwa Dretarastra, Gandari dan Kunti pergi ke ashram, dan akhirnya meninggal Di Hutan.
  16. Mausala-Parwa pertikaian antara bangsa Yadawa karena senjata mausala
  17. Mahaprasthanika-Parwa Bagian pertama perjalanan "besar" menuju kematian dari Yudistira dan saudara-saudaranya.
  18. Swargarohana-Parwa Pandawa kembali ke dunia spiritual (swarga).

Buku indah ini disusun oleh Sri Byasa (Krishna Dwaipayana) yang merupakan kakek dari pahlawan epos. Dia mengajarkan epik ini kepada anaknya Suka dan murid Wesampayana beserta murid lainnya. Raja Janamejaya, anak Parikesit, cucu dari para pahlawan kisah, melakukan pengorbanan (yadnya) besar. epik itu dibacakan oleh Wesampayana untuk Janamejaya atas perintah Byasa. Kemudian, Suta membacakan Mahabharata sebagai dilakukan oleh Wesampayana pada Janamejaya, untuk Saunaka dan lain-lain, selama Yadnya yang dilakukan oleh Saunaka di Naimisaranya, yang dekat Sitapur di Uttar Pradesh.

Sangat menarik untuk mengingat pembukaan dan penutupan baris epik ini. ." Ini dimulai dengan: "Byasa menyanyikan tentang kebesaran dan kemegahan tak terlukiskan Tuhan Wasudewa, yang adalah sumber dan dukungan bagi semuanya, yang abadi, tidak berubah, diri bercahaya, yang merupakan yang menjiwai semua makhluk, serta kejujuran dan kebenaran Pandawa. "

Berakhir dengan: "Dengan tangan terangkat, aku berteriak dengan suara keras, tetapi sayangnya, tidak ada yang mendengar kata-kata saya yang dapat memberi mereka kedamaian, kegembiraan dan kebahagian Abadi. orang dapat mencapai kekayaan/kemakmuran dan semua objek keinginan yaitu melalui Dharma (kebenaran). Mengapa orang tidak melakukan Dharma? Seseorang tidak harus meninggalkan Dharma tanpa pengecualian, bahkan dengan risiko hidupnya.. Orang yang tidak melepaskan Dharma keluar dari gairah atau rasa takut atau iri hati atau demi menjaga satu kehidupan. dengan cara ini Bharata Gayatri… Renungkanlah (meditasi) setiap hari, ketika Anda hendak tidur dan ketika Anda bangkit dari tempat tidur setiap pagi. Anda akan mencapai segala sesuatu. Anda akan mencapai ketenaran, kemakmuran, umur panjang, kebahagiaan abadi, perdamaian abadi dan keabadian. "

Nilai yang terkandung dalam Astadasaparwa (Mahabharata)

Adapun nilai-nilai yang terkandung di dalam teks Astadasaparwa diantaranya adalah: Nilai ajaran dharma, nilai kesetiaan, nilai pendidikan dan nilai yajna (korban suci). Nilai-nilai ini kiranya ada manfaatnya untuk direnungkan dalam kehidupan dewasa ini.

Pertama, Nilai Dharma (kebenaran hakiki) ,
inti pokok cerita Mahabharata adalah konflik (perang) antara saudara sepupu (Pandawa melawan seratus Korawa) keturunan Bharata. Oleh karena itu Mahabharata disebut juga Maha-bharatayuddha. Konflik antara Dharma (kebenaran/kebajikan) yang diperankan oeh Panca Pandawa) dengan Adharma (kejahatan/kebatilan ) yang diperankan oleh Seratus Korawa. Dharma merupakan kebajikan tertinggi yang senantiasa diketengahkan dalam cerita Mahabharata. Dalam setiap gerak tokoh Pandawa lima, dharma senantiasa menemaninya. Setiap hal yang ditimbulkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan, menyenangkan hati diri sendiri, sesama manusia maupun mahluk lain, inilah yang pertama dan utama Kebenaran itu sama dengan sebatang pohon subur yang menghasilkan buah yang semakin lama semakin banyak jika kita terus memupuknya. Panca Pandawa dalam menegakkan dharma, pada setiap langkahnya selalu mendapat ujian berat, memuncak pada perang Bharatayuddha. Bagi siapa saja yang berlindung pada Dharma, Tuhan akan melindunginya dan memberikan kemenangan serta kebahagiaan. Sebagaimana yang dilakukan oleh pandawa lima, berlindung di bawah kaki Krsna sebagai awatara Tuhan. " Satyam ewa jayate " (hanya kebenaran yang menang).

Kedua, nilai kesetiaan (satya) ,
cerita Mahabharata mengandung lima nilai kesetiaan (satya) yang diwakili oleh Yudhistira sulung pandawa. Kelima nilai kesetiaan itu adalah: Pertama, satya wacana artinya setia atau jujur dalam berkata-kata, tidak berdusta, tidak mengucapkan kata-kata yang tidak sopan. Kedua, satya hredaya, artinya setia akan kata hati, berpendirian teguh dan tak terombang-ambing, dalam menegakkan kebenaran. Ketiga, satya laksana, artinya setia dan jujur mengakui dan bertanggung jawab terhadap apa yang pernah diperbuat. Keempat, satya mitra, artinya setia kepada teman/sahabat. Kelima, satya semaya, artinya setia kepada janji. Nilai kesetiaan/satya sesungguhnya merupakan media penyucian pikiran. Orang yang sering tidak jujur kecerdasannya diracuni oleh virus ketidakjujuran. Ketidakjujuran menyebabkan pikiran lemah dan dapat diombang-ambing oleh gerakan panca indria. Orang yang tidak jujur sulit mendapat kepercayaan dari lingkungannya dan Tuhan pun tidak merestui.

Ketiga, nilai pendidikan,
sistem Pendidikan yang di terapkan dalam cerita Mahabharata lebih menekankan pada penguasaan satu bidang keilmuan yang disesuaikan dengan minat dan bakat siswa. Artinya seorang guru dituntut memiliki kepekaan untuk mengetahui bakat dan kemampuan masing-masing siswanya. Sistem ini diterapkan oleh Guru Drona, Bima yang memiliki tubuh kekar dan kuat bidang keahliannya memainkan senjata gada, Arjuna mempunyai bakat di bidang senjata panah, dididik menjadi ahli panah.Untuk menjadi seorang ahli dan mumpuni di bidangnya masing-masing, maka faktor disiplin dan kerja keras menjadi kata kunci dalam proses belajar mengajar.

Keempat, nilai yajna (koban suci dan keiklasan) ,
bermacam-macam yajna dijelaskan dalam cerita Mahaharata, ada yajna berbentuk benda, yajna dengan tapa, yoga, yajna mempelajari kitab suci ,yajna ilmu pengetahuan, yajna untuk kebahagiaan orang tua. Korban suci dan keiklasan yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud tidak mementingkan diri sendiri dan menggalang kebahagiaan bersama adalah pelaksanaan ajaran dharma yang tertinggi (yajnam sanatanam).

Kegiatan upacara agama dan dharma sadhana lainnya sesungguhnya adalah usaha peningkatan kesucian diri. Kitab Manawa Dharmasastra V.109 menyebutkan.:
"Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kejujuran (satya), atma disucikan dengan tapa brata, budhi disucikan dengan ilmu pengetahuan (spiritual)"

Nilai-nilai ajaran dalam cerita Mahabharata kiranya masih relevan digunakan sebagai pedoman untuk menuntun hidup menuju ke jalan yang sesuai dengan Veda. Oleh karena itu mempelajari kita suci Veda, terlebih dahulu harus memahami dan menguasai Itihasa dan Purana (Mahabharata dan Ramayana), seperti yang disebutkan dalam kitab Sarasamuscaya sloka 49 sebagai berikut :
"Weda itu hendaknya dipelajari dengan sempurna, dengan jalan mempelajari itihasa dan purana, sebab Weda itu merasa takut akan orang-orang yang sedikit pengetahuannya"


Makna Filosofis Astadasaparwa (Mahabharata)

Tubuh manusia memiliki 10 organ (indriya), yaitu lima organ sensorik ( jinanendriyas) dan lima organ motorik ( karmendriyas), dan sebuah "antahkarana" atau organ/indera internal. Sedangkan organ sensorik dan motorikadalah organ eksternal (bahihkarana). Antahkarana berhubungan langsung dengan tubuh fisik. Antahkarana merupakan bagian intrinsik dari pikiran itu sendiri. Berkat kerja dari bagian inilah pikiran kita bisa merasakan perut yang kosong,dan kemudian merasa lapar. Begitu perut kosong, pikiran mulai mencari makanan, dan hal ini diekspresikan melalui aksi fisik. Jadi terdapat dua bagian, yang satu merupakan bagian intrinsik pikiran, dan satu bagian lagi adalah kesepuluh organ.

Yang mendorong terjadinya aktivitas adalah antahkarana. Antahkarana tersusun atas pikiran sadar (conscious) dan bawah sadar (subconscoius). Maka jika antahkarana menginginkan sesuatu, maka tubuh fisiklah yang bekerja menurut keinginan tersebut.

Dalam Sanskrit dikenal enam arah utama yang dinamakan "disha" atau "pradisha": Utara, Selatan, Timur, Barat, Atas, dan Bawah. Juga terdapat empat sudut yang dinamakan "anudisha": Barat Laut (iishana), Barat Daya (agni), Tenggara (vayu) dan Timur Laut (naerta). Jadi seluruhnya ada sepuluh.

Pikiran sesungguhnya buta. Dengan pertolongan "wiweka" (conscience/hati nurani) maka pikiran bisa melihat dan memvisualisasikan sesuatu. Jadi pikiran dapat dilambangkan dengan Dhritarastra (Seorang raja yg buta dalam kisah Mahabharata), dan daya fisik, yaitu kesepuluh organ dapat bekerja dalam sepuluh arah secara simultan. Jadi pikiran memiliki 10 organ X 10 arah = 100 ekpresi eksternal. Dengan kata lain, ke-100 putra Dhritasastra melambangkan seratus ekspresi eksternal ini.

Bagaimana dengan Pandawa?

Mereka melambangkan lima faktor fundamental dalam struktur manusia.
  1. Sadewa/Sahadeva melambangkan faktor padat, mereprestasikan cakra muladhara (kemampuan untuk menjawab segala sesuatu).
  2. Nakula pada cakra svadhisthana. Nakula berarti "air yang mengalir tanpa memiliki batas". "Na" berarti "Tidak", dan "kula" bararti "batas", melambangkan faktor cair.
  3. Arjuna, melambangkan energi atau daya, faktor cahaya pada cakra manipura, selalu berjuang untuk mempertahankan keseimbangan.
  4. Bhima, putra Pandu, adalah faktor udara "vayu", terdapat pada cakra anahata.
  5. Terakhir adalah Yudhisthira, pada cakra vishuddha, dimana terjadi peralihan dari sifat materi ke sifat eterik.
Jadi pada pertempuran antara materialis dan spiritualis, antara materi kasar dan materi halus, Yudhisthira tetap tak terpengaruh."Yudhi sthirah Yudhisthirah" artinya "Orang yang tetap tenang/diam saat pertempuran dinamakan Yudhisthira".

Krsna terdapat pada cakra sahasrara. Jadi ketika kundalinii (Keagungan yang tertidur) terbangkitkan, naik dan menuju perlindungan Krsna dengan bantuan Pandawa, maka Jiiva (unit diri) bersatu dengan Kesadaran Agung. Pandawa menyelamatkan jiiva dan membawanya ke perlindungan Krsna.

Sanjaya adalah menteri-nya Dhritarastra. Sanjaya adalah wiweka(Nalar/pertimbangan). Dhritarastra bertanya kepada Sanjaya, karena ia sendiri tidak bisa melihatnya, "Oh Sanjaya, katakan padaku, dalam perang Kuruksetra dan Dharmaksetra, bagaimana keadaan pihak kita?"

Keseratus putra Dhritarastra, pikiran yang buta, mencoba menguasai jiiva, yang diselamatkan oleh Pandawa melalui pertempuran. Akhirnya kemenangan ada di pihak Pandawa, mereka membawa jiiva ke perlindungan Krsna. Inilah arti filosofis dari Mahabharata.

Kuruksetra adalah dunia tempat melakukan aksi, dunia eksternal, yang menuntut kita terus bekerja. Bekerja adalah perintah. "Kuru" artinya "bekerja", dan ksetra artinya "medan", Dharmaksetra adalah dunia psikis internal. Disini Pandawa mendominasi.
by cakepane.blogspot - berbagai sumber

Tempat Suci didalam Pekarangan Rumah

Tempat Suci didalam Pekarangan Rumah

Tempat Suci didalam Pekarangan Rumah sangatlah penting dalam kaitannya dengan hubungan umat dengan Tuhan. Sering juga umat menanyakan bangunan/pelinggih apa saja yang mesti dibuat dalam pekarangan rumah tersebut. Menurut beberapa sumber, bangunan/palinggih yang harus ada didalam pekarangan rumah adalah sanggah dan tugu Pangijeng/penunggun karang. Berikut penjelasannya;

Sanggah/Merajan

tempat suci untuk memuliakan dan memuja arwah suci para leluhur terutama ibu dan bapak yang sudah tiada dan berada di alam baka (sunia loka) bagi masyarakat Hindu di Bali disebut dengan merajan atau sanggah. Pembuatan sanggah/merajan tidak sekedar hanya hiasan belaka, namun didasari atas landasan sastra yang menaunginya. Landasan sastra dalam membangun sanggah atau merajan banyak terdapat dalam kitab suci, seperti dalam Bhagawad Gita yang menyebutkan:
Samkaro narakayaiva
kulaghnanam kulasya ca
pantati pitaro hy esam
lupta-pindodaka-kriyah
. (Bhagawad Gita I. 42)
Terjemahan:
Keruntuhan moral ini membawa keluarga dan para pembunuhnya ke neraka, arwah moyang jatuh (ke neraka), semua terpana, air dan nasi tidak ada lagi baginya. (Pudja, 2005: 26).
Penjelasan dari arti sloka diatas: