Google+
Tampilkan postingan dengan label sanggah mrajan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sanggah mrajan. Tampilkan semua postingan

Banten Piodalan Alit di Sanggah Kemulan (Mrajan Alit)

Banten Piodalan Alit di Sanggah Kemulan (Mrajan Alit)

berikut ini Kramaning Banten Piodalan Alit di Sanggah Kemulan ataupun Merajan Alit. adapun upekaranya:

Banten di Sanggah Surya (Sanggah Pesaksi)

upekara: 

  1. Daksina Peras Ajuman (a soroh)
  2. Canang Lenge-wangi Burat-wangi,
  3. Rayunan Putih Kuning,
  4. Canang Pengrawos,
  5. Toye (air) anyar
  6. Beras Kuning mewadah takir (pewarna kuning dari bahan kunyit)
  7. Pasucian, dan
  8. Canang Sari

Banten Ring Pelingih

Upekara Mungah:

Pelinggih Penglurah atau Ratu Ngurang Agung

Pelinggih Penglurah atau Ratu Ngurang Agung

Ratu Ngurah Agung panglurah
Palinggih Penglurah
dalam sanggah / merajan alit, selain kemulan - taksu, semeton bali diwajibkan membangung panglurah agung. dimana palingih ini berupa bangunan bebaturan seperti tugu dengan batu paras, batu cadas atau batu bata dengan rong satu bertempat di sebelah kiri sanggah kemulan.

Bhatara Ngelurah atau sering disebut Pengelurah. Penglurang asal katanya "Lurah" yang artinya pembantu (pepatih), mendapat awalan pe dan sisipan ng, menjadi kata kerja, jadi pengelurah artinya bertugas menjadi pembantunya para dewa atau dewata (menjadi patihnya) pada setiap pura atau pamerajan.

Bangunan ini merupakan palinggih Bhatara Kala, putra Bhatara Siwa dengan bhiseka Ratu Ngurah yang bertugas sebagai pecalang atau penjaga sanggah pamerajan (Winanti, 2009:42). Dalam Penghayatan agama Immanent ( sekala ) Tugu Panglurah adalah palinggih ( Sthana ) para Lurah, iringan pengawal para Dewa Istadewata Hyang Widhi. Fungsinya adalah sebagai Pengawal Pribadi dari Ista Dewata Hyang Widhi.

Pelinggih Ratu Ngurah
Selain itu makna pelinggih Panglurah ini adalah untuk menstanakan Sang Catur Sanak yang telah suci. Sang Hyang Atma yang telah suci berstana di palinggih pretisentana atau keturunannya yang masih hidup (Wianti, 2009:32). Palinggih Pangrurah ini merupakan manifesatsi dari Sang Hyang Widhi dengan Swabhawa “Bhuta Dewa” yang maksudnya setengah Dewa setengah Bhuta. Beliau memiliki fungsi sebagai penjaga para dewa, disamping itu sebagai juru bicara antara dewa, Dewata dengan manusia dengan umatnya. Dengan kata lain Beliau sebagai penyampai dari sembah bhaktinya umat, dan penyampai anugrah dari para dewa. (Sudarsana, 1998:70).

artikel yang terkait dengan Pelinggih Penglurah atau Ratu Ngurang Agung adalah:


demikian sekilas tentang Pelinggih Penglurah atau Ratu Ngurang Agung. semoga bermanfaat.

Pelinggih Taksu di Merajan

Pelinggih Taksu di Merajan/Sanggah

Pada areal sanggah kamulan, ada sebuah pelinggih yang penting yaitu Taksu.
Pelinggih Taksu Agung adalah tempat untuk menghubungkan dan mendekatkan diri kehadapan Sang Hyang Taksu Agung atau Sang Hyang Adi Taksu. Bangunan Pelinggih Taksu ini Berbentuk Gedong dengan tiga kaki penyanga gedong serta anda bangunan dengan dua tiang (saka) didepannya.

Kata Taksu sudah merupakan bahasa baku dalam kosa kata Bali, yang dapat diartikan sebagai daya magis yang menjadikan keberhasilan dalam segala aspek kerja. Misalnya para seniman, pragina, dalang, balian, dalang dll. Mereka berhasil karena dianggap "metaksu".
sehingga kata "Taksu" tersebut bersifat Universal dan merupakan kekuatan profesi masing-masing umat. Setiap manusia memiliki profesionality (wiguna) sesuai dengan konsep "Catur Warna"
Dengan adanya profesi (Guna) memerlukan sekali anugerah Sang Hyang Widhi melalui manifestasinya yaitu Sang Bhuta Kala Raja, beliaulah sebagai sedahan Taksu dengan dewan taksu Sang Hyang Aji Saraswati. Taksu itu seseungguhnya adalah kekuatan magis dari Sang Hyang Widhi, dimana kekuatan tersebut merupakan kekuatan Gravitasi (gaya tarik), dengan kekuatan tersebut menyatu dengaan kekuatan magis manusia serta membangkitkan kekuatan manusia sehingga manusia memiliki kharisma, kekuatan yang menarik dan kemampuan spiritual sesuai dengan profesinya. Dengan demikian bangunan Suci Taksu sangat perlu dibuat sebagai stana Dewa Profesi.

Aci dan Piodalan di Sanggah Kamulan

Aci dan Piodalan di Sanggah Kamulan

Dalam memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan) dan Leluhur (kawitan) di Sanggah Kamulan dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan cara:

  • Nitya Karya yang dilakukan setiap hari yakni dengan melakukan Tri Sandya dan Muspa. Juga dengan menghaturkan Banten Saiban dan menghaturkan canang.
  • Naimitika Karma dilakukan pada hari-hari tertentu atau rerainan suci.Pada saat ini Umat Hindu melakukan pemujaan dengan sarana bebantenan yang disebut pula dengan Aci-aci.

Kapan Aci-aci itu dilakukan? 
Di bawah ini diuraikan sebagai berikut:

  1. Kajeng Kaliwon dan Purnama-Tilem. Aci yang dihaturkan minimal canang genten, baik juga kalau ajuman, rayunan.
  2. Budha Kaliwon Sinta (Pagerwesi). menghaturkan : Daksina, Pras, Suci asoroh, Panyeneng, Sesayut Panca Lingga, Canang wangi, Raka-raka.
  3. Redite Umanis Ukir (Pujawalinya Ida Bhatara Guru). Wajib menghaturkan piodalan nista, madya, utama. Sedikitnya mesti ada Sesayut Pangambean, Sedah ingapan 25, Kwangen 8 buah.
  4. Soma Pahing Warigadian (pujawalinya Ida Bhatara Brahma). menghaturkan sedah, woh penyertanya minimal Datengan, Ajuman, Rayunan, raka-raka (bayuan), puspa wangi-wangi.
  5. Budha Kaliwon Dungulan (Galungan). menghaturkan aci-aci: Tumpeng penyajan, Penek wakulan, Ajuman, Sedah woh, Kembang payas, wangi-wangi pasucian.

Muput Piodalan Alit di Merajan / Sanggah

Muput Piodalan Alit di Merajan / Sanggah


Byakaonan

Om sadnya astra Mpu sarining wisesa tepung tawar amunahaken segau anglusuraken mala petaka cuntake kabeh.

Durmanggala (Pangastawa)

Om indahta kita sang Kala Purwa, Sang Kala Sakti, Sang Kala Preta, Sang Kala Prajamuka, Sang Kala Ngulaleng, Sang Kala Karogan-Rogan ayua kita pati rorogani, ayuwe kita siligawe iki tadah sajinira penek lawan terasi bang iwak: (bawang jahe/antiga Bekasem /Ayam Ireng) yan manawi kirang tetadahan nira iki amet sarining daksina tukuken ring pasar agung kuwehan anak putun roang sira kinabehan aja sira kari ring kene den kedepsidhirastu Dang Guru Iswara.

Om kala byonamah swaha, Om Bhuta byo namah swaha
Om Durga byo namah swha, om Pisaca byo namah swaha.

Pengulapan (Pangastawa)

Om Mang, Ung Ang, Om Ang Ung Mang, Ah Ah
Om aksaram kertha buwana yadnya dirgayur
Trigunaatmakm Dewa dewi bakti dewam
Jagatnatha ya namah swaha

Banten di sanggah Kemulan

Banten di sanggah Kemulan


Peras dengan tumpeng berwarna putih, ikannya ayam putih dipanggang, dilengkapi dengan ajuman, daksina, pengulapan, pengambeyan, penyeneneng, dan sorohan alit masing-masing sebuah periuk berisi air dan bunga harum untuk memohon pengelukatan.

Pengelukan ring Kamulan.

Om pakulun Sang Hyang Guru Reka
Sang Hyang Kawiswara
Sang Hyang Aji Saraswati,
Suksma Sang Hyang Brahma,Wisnu Iswara
Mekadi Sang Hyang Surya lintang trenggana
Hulun andha nugraha
Sang Hyang Tri Purusa Anglikat
Dasamala lara rogha Wighna Danda
Upadrawa Sang rare
Om Sidhitastu tat astu nama swaha.

Tempat Suci didalam Pekarangan Rumah

Tempat Suci didalam Pekarangan Rumah

Tempat Suci didalam Pekarangan Rumah sangatlah penting dalam kaitannya dengan hubungan umat dengan Tuhan. Sering juga umat menanyakan bangunan/pelinggih apa saja yang mesti dibuat dalam pekarangan rumah tersebut. Menurut beberapa sumber, bangunan/palinggih yang harus ada didalam pekarangan rumah adalah sanggah dan tugu Pangijeng/penunggun karang. Berikut penjelasannya;

Sanggah/Merajan

tempat suci untuk memuliakan dan memuja arwah suci para leluhur terutama ibu dan bapak yang sudah tiada dan berada di alam baka (sunia loka) bagi masyarakat Hindu di Bali disebut dengan merajan atau sanggah. Pembuatan sanggah/merajan tidak sekedar hanya hiasan belaka, namun didasari atas landasan sastra yang menaunginya. Landasan sastra dalam membangun sanggah atau merajan banyak terdapat dalam kitab suci, seperti dalam Bhagawad Gita yang menyebutkan:
Samkaro narakayaiva
kulaghnanam kulasya ca
pantati pitaro hy esam
lupta-pindodaka-kriyah
. (Bhagawad Gita I. 42)
Terjemahan:
Keruntuhan moral ini membawa keluarga dan para pembunuhnya ke neraka, arwah moyang jatuh (ke neraka), semua terpana, air dan nasi tidak ada lagi baginya. (Pudja, 2005: 26).
Penjelasan dari arti sloka diatas: