Google+
Tampilkan postingan dengan label Sekte Saiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekte Saiwa. Tampilkan semua postingan

Saiwa Wisistadwaita

Saiwa Wisistadwaita

Pada abad ke-11 Masehi terdapat usaha-usaha yang dikonsentrasikan dalam menjembatani jurang yang memisahkan Saivisme dan Vaisnavaisme dengan Brahmanisme. Srikantha dan Ramanuja, adalah 2 orang sarjana besar yang mengusahakan tugas ini seperti yang ditunjukkan dalam 2 ulasan mengenai Vedanta Sutra, yaitu;
  1. Brahma-mimamsa bhasya dan
  2. Sribhasya. 
Dalam rangkaian penafsirannya tentang Pasupatadikarana, yang menurut Sankara, menyalahkan filsafat Saiwa Pasupata. Srikantha mengemukakan bahwa tak ada pertentangan antara Veda dengan Saiwagama dan keduanya sama-sama berwewenang. Keduanya telah bertindak dari sumber terakhir dari segala sesuatu, yaitu Brahman atau Para Siva, dan oleh karena itu layak untuk membicarakan Veda juga sebagai “Saiwagama”.

Siwa Lingga dalam Siwa Sidhanta

Siwa Lingga dalam Siwa Sidhanta

Membuat Siwa Lingga sebenarnya merupakan penerapan sekte Pasupata, yang kemudian melebur menjadi satu dalam konsep Siwa Sidhanta atau Saiva siddhanta. Dalam susastra Hindu di Bali banyak dijumpai ajaran Siwa Sidhanta. 
peninggalan Lingga Yoni
Ajaran Saiwa Siddhanta di Bali merupakan kelanjutan dari ajaran Sekte Saiva Gama yang masuk ke Indonesia sekitar abad ke 4. Namun dengan perpaduan antara konsep-konsep Saiva, Tantra, Buddha Mahayana, Trimurthi dan juga paham Waisnawa maka lahirlah konsep Saiva Siddhanta Indonesia. Adapun konsep ajaran Saiva Siddhanta Indonesia lebih banyak berpedoman pada konsep ajaran lokal serta ajaran yang telah berkembang sebelumnya seperti konsep Saiva, konsep Waisnawa, konsep Tantra, konsep Tri Murthi, bahkan konsep Buddha Mahayana yang kesemuanya dipadukan sehingga menghasilkan konsep-konsep yang dituangkan ke dalam lontar-lontar yang kemudian menjadi dasar konsep Saiva Siddhanta Indonesia, konsep-konsep yang dimaksud adalah Bhuwana kosa, Wrhaspati tattwa, Tattwa Jnana, Ganapati tattwa, bhuwana Sang Ksepa, Siwa Tattwa Purana, Sang Hyang Maha Jnana, dan sebagainya. Dari sekian banyak  susastra Hindu di Bali, sesuai dengan sumbernya; maka sangat kaya dengan nilai-nilai filsafat Hindu, terlebih lagi dengan ajaran Saiva Siddhanta.

Sekte Aghori makan mayat

Sekte Aghori makan mayat

Aghoris percaya bahwa Shiva diinduksi terbaik dan terburuk di dunia dan tidak ada yang profan, semuanya sakral bagi mereka. Oleh karena itu, apa sekte Hindu lainnya menganggap tidak dapat diterima atau tabu, yang Aghoris menerimanya – yang 'kekuatan gelap' atau 'kotoran' - membawa mereka ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi. dibali sekte Aghori hampir mirip dengan Sekte Bhairawa hitam, yang didentikan dengan Panca MA-nya. Mari kita melihat sekilas kehidupan di India mengenai Sekte Aghori.
Sekte Aghori Memakan Mayat Dan Menjadikan Tulang Manusia Sebagai Hiasan
kehidupan Sekte Aghori di India
Sepanjang sejarah kehidupan manusia telah ada segudang praktek kultus dan sekte agama yang aneh, membuat teror, unik bahkan menjijikkan. Mereka melakukan ritual aneh, ritual yang mengganggu, atau keyakinan ekstrim, sebagian kelompok ini telah lama melakukan sesuatu yang misterius dan mengancam keselamatan orang di luar kelompoknya. Sebuah kelompok misterius yang yang mempunyai kebiasaan yang menakutkan, menebarkan kebencian, dan horor, adalah suku mistik aneh dan kanibal yang ada di India dan dikenal sebagai sekte Aghori, atau Sadhu Aghori.
Mereka mendandani diri dengan kain kafan dari mayat atau baju yang ditinggalkan oleh keluarga orang mati, mengolesi diri dengan abu mayat sebagai pelindung dari penyakit, merenungkan mayat dan mengkonsumsi segala sesuatu dari manusia atau hewan daging untuk ekskreta, urine, alkohol – semua bagian dari ritual Aghora, yang secara harfiah berarti non-menakutkan, dan Aghoris adalah praktisi.
Para Sadhu Aghori adalah bagian dari sekte pertapa Hindu, khususnya mereka yang beraliran Shaivites,dimana mereka mengabdikan diri untuk Dewa Siwa, Dewa kematian dan kehancuran yang sering digambarkan sebagai Dewa yang paling menakutkan, di dunia barat disebut sebagai "The Destroyer" dan "The Transformer"

Dewa Siwa - Mahadewa dengan Lingga dan Bulan Sabit

Dewa Siwa - Mahadewa dengan Lingga dan Bulan Sabit

Siwa (Dewanagari: शिव; Śiva) adalah salah satu dari tiga dewa utama (Trimurti) dalam agama Hindu. Kedua dewa lainnya adalah Brahma dan Wisnu. Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa adalah dewa pelebur, bertugas melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan kepada asalnya.
lebih lanjut tentang tri murti, silahkan baca: "Tri Murthi: Brahma Wisnu Siwa"
Oleh umat Hindu Bali, Dewa Siwa dipuja di Pura Dalem, sebagai dewa yang mengembalikan manusia dan makhluk hidup lainnya ke unsurnya, menjadi Panca Maha Bhuta. Dalam pengider Dewata Nawa Sanga (Nawa Dewata), Dewa Siwa menempati arah tengah dengan warna panca warna. Ia bersenjata padma dan mengendarai lembu Nandini. Aksara sucinya I dan Ya. Ia dipuja di Pura Besakih. Dalam tradisi Indonesia lainnya, kadangkala Dewa Siwa disebut dengan nama Batara Guru. Adya / Siwa / Pusat / Segala Warna (Cahaya) = peleburan kemanunggalan.

Dewa Siwa memiliki nama lain, diantaranya: Jagatpati, Nilakantha, Paramêśwara, Rudra, Trinetra serta nama lainnya yang dikenal dengan 108 Nama Dewa Siwa. Dalam tradisi Indonesia, kadangkala Siwa disebut Batara Guru atau Hyang Guru.
untuk lebih lengkap tentang ke-108 sebutan Dewa Siwa bisa dibaca di "mantra dewa siwa-108 nama gelar hyang Siwa"
Dewa Siwa memiliki sakti yang bernama Dewi Parwati, dikenal juga dengan sebutan Dewi Sati, Dewi Durga, Dewi Kali. dan dengan wahana (kendaraan) Lembu Nandini.